Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 13


__ADS_3

Vivi membanting vas bunga yang ada di sudut rumah. Mendengar itu, Maria segera berlari ke arah sumber suara.


"Ada apa lagi, Sayang?" Maria mendapati Vivi yang tengah ngamuk dengan wajah cemberut.


"Rencana Mama, gatot, alias gagal total!" keluh Vivi seraya menyilangkan kedua tangan di depan dada.


"Kok bisa?" pekik Maria yang tak percaya dengan penuturan putrinya. Vivi pun bercerita panjang lebar.


"Tenang Sayang, masih ada hari esok. Kamu juga, rajin perawatan biar tak kalah cantik dan seksi dengan si OG itu!"


Mendengar penuturan Maria, Vivi sedikit terhibur.


"Iya, Ma, terima kasih sudah membantuku!" Vivi mengusap pipinya sambil tersenyum. Dendamnya pada Lula sudah sejak SMP dulu, ditambah sekarang Lula sudah menjadi istri dari pacarnya menjadi semakin menumpuk rasa bencinya.


Vivi sudah lama menjaga pola makan. Bahkan saat ingin makan coklat pun ia tahan. Dia benar -benar tersiksa namun itu harus demi sebuah cinta. Dan saat SMA pun tubuhnya terbentuk sangat indah hingga dia berhasil menjadi seorang model.


Sementara Alula setelah mendapatkan hadiah dari seorang pengusaha sukses dia memborong berbagai cemilan, tak lupa ia berbagi pada beberapa rekan kerjanya. Awalnya ia ragu dan menolak lantaran dia sama sekali tak melakukan apa pun.


"Sudahlah, rejeki memang tak bisa dihindari!" ujarnya dalam hati. Alula meski sudah mendapat uang bulanan dari Kevin, ia tetap bisa menyisihkan dan tak lupa berbagi kebahagian.


"Gaji kamu habis dong?" tanya Emi yang penasaran, karena Lula hampir memborong cemilan satu kios.


"Enggak, kamu tenang saja. Aku baru saja dapat rejeki nomplok. Makan saja, nih!" Lula menyodorkan snack yang baru saja dia buka bungkusnya.


Emi menurut dan tak banyak bertanya. Setelah selesai membagi -bagi snack, Lula membawa pulang sisa snack sebanyak satu keresek besar.


Sesampai di apartemen dia dikejutkan dengan sosok pria karismatik yang berdiri di ambang pintu kamarnya.


"Senang kamu, sekarang?" Kevin melepaskan tangannya yang sejak tadi dilipat, berjalan ke arah Lula.


"Biasa saja." sahut Lula dingin dan mengabaikan suaminya.


Lula tak langsung masuk ke kamar, dia menjejer semua snack di atas meja di depan televisi.


"Itu semua untukku?" Kevin mendekati Lula lagi. Istri nya seakan menghindar. Dia juga tahu tadi Lula berbagi snack.


"Kalau kamu mau, ambil saja. Aku juga masih punya banyak di kulkas." sahut Lula seraya menjatuhkan bobot tubuhnya di atas sofa. Kepalanya sedikit ia sandarkan untuk menghilangkan rasa penat.


"Jangan banyak ngemil, nanti kamu gemuk lagi!" protes Kevin yang mengakui kalau Lula seksi dengan penampilannya yang sekarang.


"Suka-suka aku dong!" sahut Lula sewot.


"Kelihatannya kamu capek banget, mulai besok ke kantornya bareng aku saja ya," tawar Kevin tanpa basa basi, kali ini ia tulus.


"Pasti ada maunya."


"Enggak, aku ikhlas kok!"


Lula tak menyahut lagi, dia beranjak melewati Kevin yang mematung masuk ke kamar, mandi dan ganti baju.

__ADS_1


Sementara Kevin berkutat di dapur, malam ini dia ingin membuat sesuatu atas dasar keinginannya sendiri. Tentu saja kalau bukan ingin meluluhkan hati sang istri. Kevin menyalakan kompor dengan menggunakan api ukuran sedang. Beberapa bahan sudah tersaji di atas meja, tinggal tuang saja. Tentu semua orang pasti bisa, tapi ini kali Kevin mencobanya.


Dua porsi mie kuah yang masih mengepul asapnya sudah tersaji di atas meja.


"Hmm, dari aroma nya saja enak, apalagi rasanya, Lula pasti suka!" Kevin dengan bangganya telah berkreasi menuju pintu kamar sang istri. Setelah mengetuk beberapa kali, Lula pun keluar.


"Hmm," Lula yang baru saja menyisir rambut terlihat natural tapi tetap cantik.


"Kamu sudah makan?" tanya Kevin berharap istrinya bersedia diajaknya makan.


Lula hanya menggelengkan kepala pelan, "Kalau hanya itu yang kamu tanyakan, lain kali jangan mengetuk pintu kamarku. Aku capek, mau istirahat!" mendengar itu Kevin menelan salivanya.


"Bukan itu maksudku, aku baru saja selesai membuat mie rasa ayam bawang, mumpung masih hangat, ayo kita makan!" ajaknya penuh harap. Dia tahu Lula menyukai itu karena secara diam -diam Kevin tahu ada bungkus mie kuah rasa ayam bawang di keranjang sampah.


Lula terdiam seolah memikirkan sesuatu. "Sebenarnya aku belum lapar, tapi terlanjur kamu yang membuatnya sendiri tak apalah." Lula melewati Kevin menuju meja makan. Kevin tersenyum dan terlihat begitu bahagia, segera dia menyusul istri nya.


Lula menatap dua mangkuk mie kuah.


"Ini serius kamu yang bikin?"


"Tentu, dan kamu wajib mencobanya karena ini adalah kali pertama aku membuatnya."


"Pasti tak enak." tukas Lula, padahal dia demen banget.


"Dicoba dulu, entar kalau rasanya nggak enak aku buatkan yang baru." Kevin mencoba bertahan dengan sikap istri nya.


"Sama saja dong," Lula menarik kursi dan mulai menyendok.


"Bagaimana, Lula, enak kan?" tanya Kevin sungguh penasaran.


Karena gangguan Bulimia Nervosa yang masih melekat, dalam satu menit saja dia bisa menghabiskan semangkuk mie.


"Enggak enak." sahut Lula datar dan beranjak pergi masuk ke kamar lagi.


Kevin melongo menatap kepergian istri nya. Setelah sadar beberapa detik kemudian dia melihat mangkuk yang kosong.


"Dia bilang enggak enak, tapi kok habis," gumam Kevin sambil menggaruk kepalanya. Padahal niatnya tadi ingin makan bersama, nyatanya Lula habis duluan dengan durasi waktu yang sangat cepat. Kevin memakan mie dengan suasana hati senang campur sedih.


***


Santi menemui Kevin di apartemennya.


"Vin, Lula mana?" tanya Santi.


"Ada Ma, di kamarnya. Mungkin sedang mandi. Mama sendiri ngapain pagi-pagi ke sini." Kevin yang baru bangun pun sedikit kaget dengan kedatangan ibunya. Rambut yang berantakan dan nafas yang bau, sudah terbiasa Santi lihat dari putra sulungnya ini.


"Kamu belum mandi, nggak ke kantor?"


"Belum, ya nanti setelah sarapan."

__ADS_1


Tak lama kemudian Lula keluar dengan penampilan yang belum pernah Santi lihat sebelumnya. Mengenakan dress selutut namun tetap cantik.


"Lula, apakah itu kamu, kamu sangat cantik sekali!" Santi tak berhenti menatap menantunya bak permadani indah itu.


"Mama, sejak kapan mama datang?" bukan nya menyahut, Lula balik bertanya.


"Sengaja pagi ini mama mampir ke sini, sudah setengah bulan kamu tak berkunjung. Mama kangen!"


Alula terperangah, tak menyangka mertuanya sangat perduli padanya.


"Mama mau sarapan apa, biar aku yang buatkan!"


"Tidak perlu Lula, eum, di sini ada dua kamar?" Santi melihat Lula keluar dari kamar lain. Sementara Kevin baru saja masuk ke kamar lain juga.


Lula bingung mau menjawab apa.


Santi berinisiatif mengecek sendiri kebenaranya. Santi membuka pintu kamar Lula. Dan jelas ada peralatan wanita yang membuktikan kalau Lula tidur di sini. Santi keluar dan mengetuk pintu kamar Kevin. Kevin yang akan masuk ke kamar mandi tak jadi dan membuka pintu.


"Mama!" alangkah kagetnya dia. Dia lupa kalau tak sekamar dengan Lula.


"Kamu dan Lula tidur terpisah?" Santi seakan tersulut emosi namun sebisa mungkin meredanya.


Kevin dan Lula saling menatap, meminta penjelasan. Kevin pun memberanikan diri.


"Iya, Ma, kami tidur terpisah." sahut Kevin lalu menundukkan kepalanya.


"Lula, apa kamu tak suka dengan pernikahan ini, katakan dengan jujur ?" Santi menyerang hati Lula. Lula sendiri tak ingin berbohong, tapi dia takut penuturannya malah menyakiti mertuanya.


"Aku dan Kevin belum ada ketertarikan, kami memutuskan tidur terpisah sampai kami benar -benar bisa menerima satu sama lain." ucapan Lula tak bisa ditebak. Kevin yang sejak tadi ketar ketir, merasa takut jika Lula mengadu semuanya ke ibunya. Pada akhirnya Lula menutupi kenyataan sebaik mungkin.


"Lula, terima kasih kamu sudah bisa sabar sejauh ini untuk bisa bersama Kevin. Aku yakin kedepannya rumah tangga kalian akan baik-baik saja."


Setelah ketahuan Santi, Lula dan Kevin terdiam. Mereka berdua mendapatkan ceramah hingga satu jam lamanya.


"Alula, kamu adalah istri seorang CEO sebuah perusahaan besar, mama meminta kamu untuk berhenti menjadi office girl. Bukannya mama tak menghargai profesi kamu, tapi mama ingin kamu lebih maju lagi. Cari pekerjaan lain."


"Aku hanya lulusan SMA, Ma, mana ada perusahaan yang menerimaku." Alula merendah.


"Ada perusahaan film yang mungkin bisa menerimamu. Mama tahu lokasinya, jika kamu bersedia mama akan mengantarkan kamu ke sana."


"Kevin tak setuju Ma." celetuk Kevin.


"Apa kamu bisa menjamin memberi kebahagian pada Lula, tidak kan? Biarkan Lula yang memilih nasib nya. Kamu jadi suami tak becus, istri tetep saja dibiarkan kerja jadi tukang bersih -bersih," omel Santi.


"Apa yang dikatakan mama, ada benarnya juga," batin Lula.


"Bagaimana Lula?" Santi memberi pilihan.


"Baik, Ma, aku setuju."

__ADS_1


"Anak pintar, baiklah kita pergi sekarang dari pada berlamaan di sini bersama orang yang payah!" Santi memicingkan mata pada putranya. Kevin yang merasa tersudutkan memilih pergi ke kantor.


Santi mengantar Lula. Di sana Alula diterima, karena kemampuannya dia pun menjadi pemeran utama  dalam film tersebut.


__ADS_2