Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 62


__ADS_3

Pagi hari setelah sarapan, Vivi bersama Nabil menjemput Gibran di rumah sakit. Maria sudah menceritakan kalau yang menolong mereka adalah Nabil, temannya Vivi. Nabil yang menanggung semua biaya rumah sakit dan pengobatannya. Ini semua ia dasari rasa solidaritas saja tidak lebih.


"Selamat pagi Om!" sapa Nabil dengan santun.


Melihat sikap nya yang sopan membuat Gibran langsung menyukainya dan berniat menjodohkan dia dengan Vivi. Gibran melengkung senyum, "Pagi, Nabil!"


"Bagaimana keadaan Om Gibran sekarang?"


"Baik. Terima kasih atas bantuan dari Nak Nabil. Aku tak bisa membalas semua kebaikanmu."


"Yang terpenting adalah kesehatan Anda yang nomor satu. Urusan itu bisa dipikirkan lain kali. Bagaimana, Anda sudah siap untuk pulang?"


Gibran menundukkan kepala merasa malu akan hal ini. Maria sejak tadi sibuk berkemas kini berdiri di samping ranjang pasien. Menghibur dan menyiapkan kursi roda.


Mendadak ponsel Nabil berdering, ia meminta izin ingin mengangkat ponselnya. Kemudian dia pergi ke luar ruangan.


Setelah Nabil tak terlihat, Gibran yang sudah berada di atas kursi roda menepuk bahu Vivi.


Vivi yang sedari tadi sibuk membenahi pakaian papanya berhenti dan menoleh.


"Vi, sepertinya dia cocok untukmu?" goda Gibran.


Sebenarnya Vivi tahu siapa yang dimaksud papanya, "Siapa?" kemudian Vivi berdiri.


"Nabil, kamu pacaran saja sama dia, dari pada sama Andho, kamu sudah ditelantarkan setelah tahu keluarga kita jatuh."


Vivi mendesah, terlihat kesal dan merah, "Aku bisa mengurus masalah percintaan ku sendiri dan Papa tidak perlu ikut campur!"


Maria melerai keduanya yang sedang berseteru, "Sudahlah Pa, biarkan Vivi memilih pasangannya sendiri. Lebih baik Papa memikirkan kesehatan Papa."


Sebenarnya Vivi tidak ingin berseteru dengan papanya yang sedang sakit itu. Karena merasa tersudutkan jadi ia membela diri.

__ADS_1


Nabil masuk dan membuat Vivi menjaga sikap nya.


"Bagaimana, sudah siap?"


"Sudah!" Maria mendorong kursi roda.


Melihat itu Nabil berinisiatif menggantikan Maria, "Biarkan saya saja Tante yang mendorongnya,"


Maria melepas tangannya, "Baiklah kalau kamu yang meminta!"


Mereka semua keluar dari rumah sakit menuju mobil Nabil. Meski mobil Nabil tak sebagus milik Gibran dulu, tapi setidaknya ia merasa terharu sekali sudah mendapatkan pertolongan sebanyak ini. Gibran banyak mengucapkan kata terima kasih hingga membuat Nabil merasa tak enak.


Dilain sisi, Alula tengah sibuk di dapur. Ia sedang memasak kesukaan suaminya, masakan rendang. Ada sedikit daging di kulkas jadi ia memasaknya. Dia juga tak lupa membuat susu untuk dirinya sendiri. Saat akan membuatkan kopi, tiba - tiba suaminya masuk ke dapur dan memeluknya dari belakang.


"Mas Kevin, kamu mengagetkan aku!" pekik Alula sambil menyentil punggung tangan suaminya. Kevin melepas tangannya sambil menyengir.


"Kamu masak apa Sayang?" Kevin tak menyerah, ia kembali memeluk istrinya. Mengusap perutnya yang masih rata.


"Rendang. Awas, Mas, air nya sudah mendidih! Aku mau membuatkan kopi untukmu."


Mendengar itu Alula bertanya, "Kenapa? Bukanlah kamu pencinta kopi,"


"Iya, itu dulu. Sekarang tidak lagi."


Alula tak merasa curiga dan segera mengecilkan api lalu mematikan kompor.


"Baiklah! Ayo, kita sarapan! Kami sudah lapar." Alula mengusap perutnya menunjuk bahwa bukan dirinya saja yang lapar, janinnya juga.


Kevin mengulum senyum, dan segera beranjak ke meja makan. Keduanya sarapan bersama.


Pagi ini Kevin terlihat buru-buru sekali datang ke kantor. Ia ingat obat nya berada di laci meja kerjanya. Setelah tiba di ruangannya, ia segera meminum obatnya. Keadaan nya mulai membaik meski masih ada sedikit nyeri di dada.

__ADS_1


Dia kembali berkutat dengan pekerjaannya yang menumpuk. Membuka laptop dan mulai mengetik. Memasukkan data yang ada.


Tak terasa hari menjelang sore dan ia segera pulang lebih awal dari jam biasanya. Tak lupa ia membawa obatnya. Memasukkan dalam saku jasnya.


Sesampainya di rumah. Ia segera mandi. Alula yang baru saja kembali dari dapur menemukan jas suaminya tergeletak begitu saja di lantai. Mungkin terjatuh saat Kevin menggantungkan di dinding.


Alula memungut jas tersebut. Saat memegang nya ia merasakan ada benda kasar di saku jas tersebut. Tidak mungkin itu ponsel, karena ukurannya hanya sekepalan tangan. Buru-buru Alula merogoh nya dan mendapati benda kasar itu adalah obat yang terbungkus plastik.


Alula memandangi lekat obat itu, "Mas Kevin menyimpan obat, obat apa ini?"


Seketika itu juga Kevin selesai mandi dan memergoki Alula menemukan obat nya. Mata Kevin membulat sempurna. "Alula!"


Alula menoleh sambil tetap membawa obat itu. Rasa penasarannya bangkit, "Ini punya kamu Mas?"


Kevin kelabakan. Tidak mungkin ia menceritakan penyakitnya. Kondisi Lula sedang hamil. Ia tidak ingin merusak suasana hatinya.


"I-iya, obat itu punyaku." sahutnya gagap.


"Kok kamu minum obat ini. Kamu sakit?" tanya Alula.


"Tidak. Aku sehat. Itu hanya obat biasa untuk penambah vitamin saja. Apa kamu mau mencobanya. Di jamin kamu akan ketagihan di atas ranjang."


Mendengar itu Alula merasa malu dan memberikan obat pada yang punya. "Ambil saja. Aku sudah punya obat sendiri untuk ibu hamil."


Kevin merasa lega karena alibi nya kuat. Ia harus ekstra hati - hati apabila ingin meminumnya.


Alula membawa jas beserta pakaian suaminya yang kotor ke belakang.


Selesai makan malam Kevin meminum obatnya.


"Mas, kalau vitamin masa minum nya banyak amat! Aneh." Alula melihat suaminya menelan tiga butir obat sekaligus dengan seteguk air.

__ADS_1


Kevin tercengang mendengar perkataan istrinya.


"Ini ...."


__ADS_2