
Ketika mobil pengawal membawa Alula ke sebuah mall dan berhenti di tempat parkir, beberapa orang sadar kalau wanita cantik yang baru turun dari mobil itu adalah seorang artis.
"Lihat, itu Alula! Ayo kita minta foto dengan nya!" teriak salah satu penggemar Lula agar yang lain melihat ke arah apa yang ia lihat barusan.
Pengawal dengan gesit melindungi tuannya dari kerumunan yang mungkin bisa menyebabkan kekacauan. Merentangkan tangan hingga membuat semua orang merasa enggan untuk mendekat.
"Biarkan mereka berfoto denganku!" ujar Lula hingga pengawal menurunkan tangannya.
"Baik, Nona Lula!"
Beberapa penggemarnya tak hanya minta berfoto bersama, ada juga yang meminta tanda tangannya.
Selesai itu, terlihat seorang gadis yang sebaya dengannya setengah berlari ke arahnya sambil meneriaki namanya.
Setelah begitu dekat dengan Lula, gadis itu mengatur nafasnya sebelum membuka mulut untuk bicara.
"Nona Lula, bolehkah aku meminta nomor ponselmu?" tanya gadis itu yang tidak lain bernama Intan. Intan dengan cepat mengeluarkan ponsel dan mendekatkan ke arah Lula. Lula sendiri sedikit ragu untuk berbagi namun ia tak ingin membuat penggemarnya kecewa.
"Baiklah, sini!" Alula menerima ponsel Intan dan mengetikkan 12 digit.
"Terima kasih Nona, aku adalah pengemar berat mu!" Intan sedang mengeluarkan sesuatu dari dalam tas ranselnya. Memperlihatkan betapa banyak foto dan poster milik Lula.
"Lihatlah Nona, ini adalah bukti aku penggemar kamu. Bisakah kamu membubuhkan tanda tanganmu di sini?" Intan menunjuk sisi dibagian tepi dari kertas foto.
Alula merasa trenyuh dengan gadis bernama Intan itu. Dengan segera dia memberikan tanda tangannya.
"Sekali lagi terima kasih, Nona Lula!" Alula hanya mengangguk dan kemudian masuk ke dalam mall. Intan sendiri segera mencari nomor seseorang dan mengabarkan kalau usahanya berhasil.
Banyak pakaian yang ia borong sore ini di mall itu. Sengaja tadi ia memilih satu kemeja berwarna hijau botol untuk ia berikan pada suaminya. Setelah melakukan transaksi pembayaran Lula dikejutkan dengan dua orang berwajah asing. Mereka berdua mengenakan setelan jaket dan celana hitam.
"Maaf dengan saudari Alula Farhah ?" tanya salah satu pria bertubuh kurus dan berkumis tipis.
Alula terkejut dan sedikit merasa cemas. Untuk apa mereka mencarinya?
"I-iya benar, dengan saya sendiri." sahut Alula dengan sedikit bergetar suaranya.
__ADS_1
"Anda harus ikut kami untuk melakukan pemeriksaan! Ada sebuah laporan kalau Anda sedang menggunakan narkoba." ujar pria yang lain yang sejak tadi sibuk menelepon.
"Narkoba? Saya tidak memakainya!" Sentak Lula pada dua pria itu hingga semua orang yang ada di sekitarnya menoleh untuk memperhatikannya.
"Anda bisa menjelaskan ini di kantor polisi!" terang pria yang salah satunya bertubuh gempal dan sedikit botak.
"Saya tidak mau karena saya tidak merasa menggunakan barang haram itu!" suara Alula meninggi. Kini ia menjadi pusat perhatian.
Tidak hanya diam, orang -orang mulai mencibir dan bahkan merekam kejadian itu.
"Kalau begitu, izin kan saya untuk menggeledah tas Anda!" merasa tak menggunakan barang haram itu, Lula dengan senang hati memberikan tas kecilnya.
Tak butuh waktu lama, setelah menggeledah tas milik Lula, pria botak itu telah mengeluarkan sebungkus benda serbuk berwarna putih berukuran dua jari. Melihat apa yang dikeluarkan pria botak itu, mata Alula membulat hampir copot.
"Itu bukan punyaku! Aku tak menggunakan barang haram itu!" Sentak Lula seketika. Namun dua pria itu tak percaya dan langsung membawa Lula ke kantor polisi untuk diselidiki.
Alula tampak ketakutan karena belum pernah berurusan dengan polisi. Dia mencoba menghubungi nomor Kevin, namun Kevin yang sedang meeting sengaja meninggalkan ponsel di laci meja kerjanya.
"Ayo mas, angkat ponselmu!" Lula sudah mulai gusar dan tak tenang. Namun sudah tiga puluh menit lamanya, Kevin pun belum mengangkat ponselnya. Lula menyerah.
"Kenapa tak terpikirkan olehku," Alula teringat dengan sahabatnya, Arjun.
"Ada apa Lula, suaramu terdengar bergetar?"
"Arjun, aku tak bisa menceritakan kronologi kejadiannya sekarang. Aku difitnah seseorang dan sekarang aku ada di kantor polisi. Bergegaslah kemari!"
Mendengar sahabatnya sedang ditimpa musibah, Arjun yang sedang sibuk melayani pengunjung yang kebetulan ramai di salonnya terpaksa pergi.
Arjun sudah sampai di tempat tujuan. Rasa khawatir bercampur takut menguasai pikirannya. Dia segera menghampiri Lula yang sedang duduk meringkuk di pojok.
"Alula, kamu tidak apa -apa kan?" terlihat jelas kecemasan di wajah pria itu. Merasa penolongnya datang, Alula respon memeluk dan terisak.
Mendapati hal demikian, pikiran Arjun melayang. Seketika itu ia sadar, ia segera menepis pikirannya. Alula memeluknya sebatas sebagai teman bukan yang lain.
Alula belum menjawab dan semakin keras tangisannya. Mengetahui sahabatnya terpuruk, Arjun melepas pelukannya dan menegakkan agar Alula duduk dengan benar.
__ADS_1
"Ceritakan, apa yang terjadi?" desak Arjun yang sejak tadi menunggu Lula untuk bercerita.
Alula menghentikan tangisannya dan menyapu air matanya.
"Telah ditemukan narkoba di dalam tasku." terang Lula yang berhasil membuat Arjun menganga tak percaya. Alula masih bergetar, Arjun sebisa mungkin menenangkannya.
Setelah mendapat keterangan dari Lula, Arjun beranjak untuk menemui polisi yang tadi menahannya.
"Maaf Pak, Anda mungkin salah tangkap. Teman saya tidak mungkin melakukan perbuatan keji seperti menggunakan narkoba itu. " Arjun mencoba bernegoisasi.
Polisi itu terlihat tenang dan sudah biasa menangani kasus seperti ini. Menegakkan punggungnya sehingga terlihat kewibawaannya.
"Ada laporan. Ada bukti. Jadi, ini jelas mengharuskan saudara Lula ditahan di sini."
"Pasti pelapor itu seseorang yang membenci Lula. Anda tahu posisi ini bisa menghancurkan karirnya yang sedang melonjak?" Arjun seakan kehabisan kata-kata untuk membela Lula karena bukti yang sangat kuat menyudutkan Lula.
Selang beberapa menit kemudian, Kevin bersama Nabil datang.
"Sayang, kamu tidak apa-apa kan?" begitu Kevin datang langsung memeluk istrinya. Mengetahui Kevin datang, senang nya bukan main hati Lula dan membalas pelukan dengan sangat kuat. Memperlihatkan betapa takutnya dia.
"Mas, tolong aku! Aku difitnah. Aku sama sekali tidak menggunakan narkoba." terang Lula sebisa mungkin ia mencoba untuk tenang tapi tetap saja tubuhnya bergetar.
Kevin mengalihkan pandangan dan jatuh pada sosok Arjun yang ternyata lebih awal datang.
Kevin tadi setelah selesai meeting dan akan beranjak tiba-tiba mendapat kabar mengejutkan dari Nabil kalau Lula ditahan polisi. Kevin segera ke ruangannya dan mengecek ponsel yang ia simpan di dalam laci. Tertera 20 panggilan tak terjawab dari istrinya. Kevin segera meminta Nabil menghubungi pengacara terhebat untuk mengatasi masalah ini.
"Tenang Sayang, semua akan baik-baik saja!" Kevin mengelus rambut Lula lalu beranjak dan berjalan ke arah Arjun.
"Kamu sudah bisa meninggalkan tempat ini." ucap Kevin begitu dingin.
Arjun yang sadar posisi nya segera undur diri.
Pengacara pun datang dan segera menindaklanjuti masalah Lula. Hampir dua jam dan Lula sudah mendapatkan pemeriksaan akhirnya Lula bebas dari tahanan polisi.
Kevin segera membawa pulang istrinya ke apartemen. Sebelumnya meminta Nabil untuk segera membersihkan nama Lula sebelum beredar hal negatif lainnya.
__ADS_1
"Terima kasih, Mas, kamu sudah menolongku!" ujar Lula yang kini sudah tampak tenang. Dia dan Kevin kini tinggal satu ranjang, lebih tepatnya berada di kamar Kevin. Lula melingkarkan tangannya di pinggang suaminya. Kevin masih merekam di otaknya tentang keberadaan Arjun yang lebih dulu tiba di kantor polisi tadi. Seakan Kevin tak merespon, Lula mengencangkan pelukannya hingga membuat Kevin tersadar dari lamunan.
Tangan Kevin meraih tangan Lula, melonggarkan pelukannya. Lula terhenyak dengan sikap dingin suaminya.