Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 19


__ADS_3

Vivi terlihat sangat kesal malam ini, bahkan dia tak mau keluar kamar. Maria merasakan kesedihan yang dialami putri semata wayangnya. Dia mencoba mengetuk pintu untuk mengajak bicara, namun Vivi enggan untuk membuka pintu. Saat makan malam pun Vivi tak beranjak dari kamarnya.


"Pa, lakukan sesuatu agar Vivi mau makan!" Maria merasa cemas jika terjadi sesuatu pada putrinya.


"Vivi itu sudah besar Ma, biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri. Toh jika dia lapar akan mencari makanan sendiri. Sudah, ayo makan, papa sudah sangat lapar ini!" Gibran tak menghiraukan kegelisahan istrinya. Tanpa Maria suguhkan, Gibran menyiduk nasi sendiri. Seharian bekerja membuat energi nya terkuras habis.


"Papa ini, jangan keras sama anak sendiri, kalau Vivi berbuat yang aneh-aneh apa Papa mau menanggung resiko? Vivi itu anak kita satu-satunya Pa, sembilan bulan mama mengandung dan dua tahun menyusui, terasa jelas jika dia sekarang sedang sedih. Mama bisa merasakan itu. Kalau Papa nggak mau bertindak jangan minta jatah dari mama ya!" ancam Maria seraya memalingkan muka.


"Iya, nanti papa akan turun tangan, sebaiknya isi perut mama dulu biar nggak ngomel terus! Papa punya kenalan yang bisa diandalkan. Mama tenang saja!" ujar Gibran agar tak terlalu cemas sembari mengunyah makanan, dia makan begitu lahap. Wajar saja pria berusia 56 tahun ini terlihat buncit perutnya karena doyan makan.


"Janji ya Pa!"


"Iya, Mama!"


Kedua pasangan paruh baya ini pun menikmati makan malam tanpa Vivi. Selesai makan mereka berdua segera beranjak.


"Langkah pertama, coba Mama panggil Vivi untuk ke ruangan keluarga, papa akan ke sana!" saran Gibran seraya melangkahkan kaki.


Maria mengangguk paham dan bergegas menuju kamar Vivi. Setelah hampir 20 menit dibujuk, Vivi pun keluar kamar dan menuju ruang tamu. Terlihat jelas wajahnya yang sembab dan kelopak matanya yang kendur.


"Hm, kamu akan jelek jika terlalu lama menangis. Reputasi mu juga akan menurun. Apa itu yang kamu harapkan setelah sekian lama prestasi yang kamu dapatkan bisa membawamu sejauh ini? Jika hal itu yang kamu harapkan lebih baik mundur dari dunia fashion sekarang. Dan menangislah sampai air matamu habis, karena jika kamu hanya berdiam dan menangis saja tidak akan merubah apa pun." Gibran mencoba menggertak Vivi.


"Vivi sudah hancur sejak Kevin menyatakan putus denganku, ditambah munculnya bintang baru bernama Lula yang sok cantik itu. Aku benci diriku sendiri!" umpat Vivi.


"Kamu harus bisa berpikir realistis. Jika kamu begini terus malah dengan mudah dia membumbung tinggi. Kamu harus bisa mengembalikan keadaan dan seharusnya kamu paham itu! Kamu kan kaya tentu bisa melakukan banyak hal bukan?"


"Untuk saat ini Vivi tak bisa berpikir jernih. Vivi masih sakit hati Pa!"


"Cih, kamu seperti bukan Vivi yang papa kenal. Baik, urusan bintang baru biar papa yang urus, kamu jaga penampilan dan jangan mudah menangis, tugas kamu buat Kevin agar jatuh cinta padamu lagi."


"Caranya Pa?"


"Ya seperti biasa, rayu dia atau apalah !"


"Sudah Pa, tapi Kevin selalu menghindar, dan Papa tahu, Kevin diam -diam sudah menikah dengan bintang baru itu." Vivi merasa sakit hati jika mengingat saat Kevin menyatakan putus padanya.


Gibran tersentak tak percaya dan bahkan penasaran seperti apa wajah bintang baru yang Vivi maksudkan.


"Masih ada satu cara yang sudah Vivi siapkan, tapi sepertinya Kevin tak terpengaruh."


Gibran mencoba memahami itu dan memberi kebebasan pada Vivi.


"Berusahalah, papa yakin kamu akan berhasil dan pesan papa padamu sebagai model, penampilan itu nomor satu." setelah memberikan petuah, Gibran pergi.


Maria datang dan tak henti -hentinya memberikan semangat pada putrinya. Vivi pun sudah tak sedih lagi.


Keesokan harinya, Gibran sudah menghubungi seseorang untuk menyerang Lula.


Sementara Lula sudah bersiap untuk pergi ke lokasi syuting. Dia menyambar tas kecilnya di atas meja rias.


"Lula, kamu sudah siap?" Kevin sejak tadi sengaja berdiri di depan pintu kamarnya untuk menunggu istrinya keluar.

__ADS_1


"Aku bisa berangkat sendirian." Lula terlihat acuh dan melenggang begitu saja melewati Kevin.


Kevin tak tahan dengan sikap dinginnya, dia menarik lengan Lula dan sontak memegang kedua pipinya, memberikan kecupan panas tepat di indra mengecap.


Lula membulat sempurna kedua matanya, tangannya terasa gatal dan setelah berhasil memberontak melepaskan diri dia melayangkan tamparan di pipi kanan suaminya.


Seketika tamparan Lula membuat sudut bibir Kevin berdarah.


Lula tak sengaja melakukan itu, sebuah respon karena belum pernah mendapatkan perlakuan seperti itu dari pria. Padahal dia punya mimpi berciuman di tempat romantis bersama sang kekasih hati.


Lula mematung sembari menatap telapak tangannya yang memerah.


Kevin mengusap sudut bibirnya dengan ujung jempol. Rasa pedih ini tak ia hiraukan.


"Apa aku pantas mendapatkan perlakuan ini darimu? Jika itu membuatmu senang dan bisa membalas sakit hatimu padaku lakukan lagi hingga hatimu merasa baik. Tapi ku mohon, jangan diamkan aku seperti ini!" Kevin ingin meraih tangan Lula, tapi secepatnya Lula menepis.


"Maaf, aku reflek melakukannya! Dan tolong biarkan aku sendiri! Karena kesendirian tanpa mu, rasanya seakan lebih baik." Lula pun pergi.


Kevin tak ingin menyerah dan mengejar Lula. Dia ingin mengungkapkan rasa cinta yang sudah lama terpendam namun, belum bisa mengatakannya. Lula sudah pergi dengan taksi. Kevin tak tinggal diam dan bergegas mengejar Lula, untuk menghindari kemacetan Kevin memilih menaiki motor yang selama ini jarang dia gunakan.


Lula tampak berhenti di sebuah toko, dia sedang membeli air mineral dan beberapa tisu di pinggir jalan yang lebih efisien dia jangkau. Saat menunggu sopir yang izin pergi ke toilet, tiba-tiba sekelompok orang tak dikenal menghampiri Lula.


Lula panik, kekuatannya untuk meninju orang tak sekuat dulu saat badan masih gemuk. Sekelompok orang itu menyeret paksa Lula agar masuk ke dalam mobil. Dan membawa Lula pergi. Kevin yang sejak tadi kehilangan jejak berhenti di perempatan lampu merah. Terdengar wanita berteriak histeris di dalam sebuah mobil hitam yang berada di sampingnya.


Di waktu yang sama seorang pengamen berhenti ke mobil hitam tersebut. Penumpang yang ada di dalam menurunkan kaca mobil untuk memberikan uang receh. Kevin sekilas melihat itu adalah istrinya.


Lampu hijau menyala, mobil hitam melesat dengan kecepatan tinggi.


Tampak beberapa orang berpenampilan sangar keluar dari dalam mobil.


"Lepaskan wanita yang ada do dalam!" teriak Kevin.


Mereka tak menyahut. Salah satunya sedang menggulung lengan baju. Dan tanpa banyak bicara, mereka langsung menyerang Kevin. Adu hantam pun terjadi.


Lula melihat Kevin sedang berkelahi mempertaruhkan nyawa untuk menolongnya. Kevin yang bertubuh atletis seketika itu robek di bagian dada karena sebuah benda tajam yang penjahat pegang. Lula berteriak histeris ketika melihat darah segar mengucur. Lula dengan semua tenaga nya melakukan perlawanan, menggigit tangan penjahat dan berhasil keluar dari mobil. Penjahat berusaha menangkap Lula, dengan cekatan Lula melayangkan tendangan ala Ronaldo hingga mengenai alat vitalnya. Penjahat meraung kesakitan. Lula mengambil ponsel dan mencari bantuan. Dengan aplikasi di ponselnya, Lula membesarkan volume suara sirine mobil polisi.


Semua penjahat yang mendengar itu takut dan bergegas pergi.


Lula menghampiri Kevin. Terlihat jelas kekawatiran yang mendalam. Bulu kuduknya merinding.


"Apa kamu baik-baik saja ?" Lula menegang, mendekat dan ingin melakukan sesuatu.


Kesempatan ini Kevin gunakan dengan baik. Meski terasa perih bekas sayatan benda tajam itu, sebagai pria sebenarnya dia bisa menahan. Tapi kali ini untuk mendapatkan simpati istri nya Kevin pura-pura merasakan sakit yang sangat. Meraung dan mendesis.


"Lula, sakit banget sepertinya aku akan mati!" tukas Kevin yang bercanda ingin mengetes perasaan istrinya.


"Jangan, ku mohon bertahanlah! Aku akan membawamu ke rumah sakit." setelah berteriak minta tolong, sejumlah pengendara yang melintas mengantar mereka ke rumah sakit. Kevin segera mendapatkan perawatan. Untung saja lukanya tak begitu dalam hingga tak perlu di jahit. Tapi Kevin memberontak agar pihak medis menjahit lukanya. Agar terlihat serius di mata Lula. Dengan menahan rasa sakit, Kevin pun merasakan kulitnya tertusuk jarum. Pengorbanan yang besar harus mendapatkan imbalan yang besar pula, batinnya bersemangat meski rasa sakit ia rasa.


Lula masuk dan mendapati Kevin sedang tidur.


"Maafkan aku, gara -gara menolongku kamu harus menderita seperti ini." Alula sebelumnya meminta cuti untuk tidak syuting selama beberapa hari kedepan.

__ADS_1


Lula meniup bekas jahitan di dada Kevin, berharap lukanya tak benar-benar terasa sakit. Kevin yang pura-pura tidur membuka mata perlahan, bahkan suaranya pun ia buat manja.


"Lula, kamu di sini?" tanya Kevin basa-basi.


"Iya, aku sudah minta cuti agar bisa merawatmu. Apa kamu memerlukan sesuatu?" tanya Lula cemas yang membuat Kevin bersorak ria dalam diam.


"Bisakah kamu memelukku,"


"Apa!" pekik Lula seperti sedang dikerjai.


"Sepertinya aku merasa kedinginan, padahal AC nya sudah mati. Mungkin efek dari luka jahitan."


Lula yang dasarnya lugu pun menurut saja. Kebahagiaan jelas berpihak padanya, selain rasa sakit ada rasa senang juga.


Setelah pelukan Lula berikan, seorang perawat datang membawakan makan dan obat.


"Bisakah kamu menyuapi ku, tanganku sedikit gemetar saat melakukan sesuatu!" pinta Kevin dengan manisnya.


"Iya," Lula tak menolak dan melakukan dengan sangat baik.


Karena tak ada luka yang serius Kevin diperbolehkan pulang.


Sesampainya di apartemen, Lula bergegas menyiapkan makan malam untuk Kevin.


"Ayo makan mumpung masih hangat!" ujar Lula seraya menyodorkan sendok siap untuk menyuapi lagi.


"Apa kau akan menyuapi ku lagi?" tanya Kevin ragu, padahal dia tak meminta. Lula hanya tersenyum dan mengangguk. Sungguh senyuman yang selama ini tak pernah ia lihat. Begitu cantik dan teduh.


"Sepertinya aku perlu pengawal untuk menjagaku. Apa kamu keberatan ? Setidaknya untuk menghindari hal seperti ini." terang Lula tanpa Kevin pikir kan. Padahal dia kalau tak terluka ingin menjadi pengawal pribadinya. Namun Lula meragukan kemampuan suaminya.


Kevin semakin tak ingin jauh darinya, padahal dulu dia sangat membenci gadis yang ia anggap buih itu.


"Iya, jika itu membuatmu merasa nyaman."


Kevin menahan tangan Lula saat akan menyuapinya. Lula memperhatikan wajah yang sejak tadi menatapnya.


"Beri aku kesempatan untuk memperbaiki pernikahan kita. 6 bulan aku akan mencobanya." tawar Kevin setelah mencari celah yang tepat inilah saatnya mengungkapkan isi hati.


"Aku sungguh jatuh cinta padamu, Alula Farhah. Ku mohon jadilah istriku selamanya!"


Alula membisu seakan kehabisan kata-kata untuk menyangkal, bukan kah ini yang ia harapkan?


"Aku akan berubah dan tolong aku untuk menjadi yang lebih baik lagi!"


"Eum, 6 bulan terlalu lama, aku tak bisa menjamin." balas Lula.


"4 bulan?"


"Masih terlalu lama."


"Baik, beri aku kesempatan selama 2 bulan."

__ADS_1


Alula tak menyahut dan memilih melanjutkan menyapu Kevin.


__ADS_2