Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 24


__ADS_3

Malam ini terasa malam yang sangat indah. Bagaimana tidak, dua insan yang masih berstatus pengantin baru sedang memadu kasih di atas ranjang. Melepaskan untuk yang pertama kali.


"Aku sangat mencintaimu, Alula Farhah!"


"Aku juga Mas Kevin Aluwi,"


"Juga apa?"


"Iya, juga sama apa yang kamu katakan padaku."


"Apa?"


"Iya, tadi,"


"Aku pengen denger, kamu juga mengatakan cinta padaku!"


Seketika Alula membelalakkan mata, bagaimana tidak lidahnya terasa kelu untuk sekedar mengatakan cinta. Entahlah dia sendiri juga bimbang, meski sudah menyerahkan kesucian tapi masih ada sedikit keraguan di hatinya.


"Kok malah ngelamun? Buruan!" paksa Kevin seraya menunggu kata cinta dari mulut istrinya yang mungil.


"A-ku, juga cinta kamu." meski sedikit kaku, akhirnya Lula berhasil mengucapkan itu. Sontak Kevin memeluk tubuh istrinya yang polos.


"Aku bahagia, Sayang, sangat bahagia! Terima kasih sudah menerima ku kembali!"


"Iya Mas!"


Keduanya pun bangkit untuk membersihkan diri masing -masing.


Pagi ini Kevin berencana pergi untuk membeli sebuah cafe. Dengan sisa tabungan yang ia punya, ia akan memulai usahanya dari nol lagi.


"Sayang, bagaimana pendapatmu tentang aku yang bukan seorang CEO lagi?" tanya Kevin sebelum Alula berangkat.


"Eum, kamu mau jawaban yang bagaimana?"


"Apa maksudmu dengan yang bagaimana?" Kevin balik bertanya.


"Pilihan A jika kamu mau yang jawaban pahit. Pilihan B jika kamu mau jawaban manis. Pilihan terakhir jika kamu tak mau keduanya."


"Seperti itu? Aku mau pilih jawaban B saja."

__ADS_1


"Jika kamu bukan seorang CEO, itu tak masalah bagiku, pernikahan kita di awal tidak berdasarkan karena materi melainkan karena keterpaksaan dari mama. Jadi, dengan demikian aku harus bisa menerima kamu apa adanya." terang Alula seraya menyambar tas hendak berangkat.


"Tidak terlalu manis, tapi terdengar melegakan juga. Kalau aku pilih jawaban A, seperti apa aku?"


"Ini terlalu pahit, kamu takkan sanggup mendengarkan!" Alula terdengar meremehkan.


"Tenang saja, aku kuat kok, katakan!" Kevin merasa tak sabar.


"Jika kamu bukan seorang CEO itu sebenarnya karena kesalahan kamu sendiri yang terlalu menjunjung tinggi penampilan orang bukan dari hati nya. Sehingga dengan begitu mudah kamu digulirkan dari posisimu, terlebih itu oleh seorang wanita. Jika aku menjadi kamu. Aku akan berambisius untuk mempertahankan posisiku. Karena dengan begitu orang takkan lagi memperalatku. Satu lagi. Sebenarnya bukan aku alasanmu untuk keluar dari perusahaan, tapi rasa percaya dirimu yang kurang." setelah memberi ceramah panjang lebar, Alula pergi dengan para pengawalnya menuju lokasi syuting.


Kevin tak bergeming dari pijakan, semua yang dikatakan Alula itu benar. Pecundang sejati itu adalah dirinya. Setelah merenung beberapa menit, dia tampak sibuk sedang menghubungi seseorang.


"Batalkan perjanjian. Aku tidak jadi membeli cafe!" ujar Kevin pada seseorang di arah seberang.


Setelah memutus sambung telepon dia mengambil kunci mobil dan keluar apartemen menuju kantor. Dengan semua keberanian yang ia kumpulkan akan melawan wanita yang telah merebut kekuasaannya.


Tak butuh waktu lama kedatangan Kevin mengejutkan seisi kantor. Meski sudah lama tak ke sana, semua orang masih bersikap hormat padanya.


"Bos Kevin!" sapa beberapa karyawan secara bergantian. Biasanya Kevin selalu bersikap cuek, namun kali ini ia bersikap ramah dan menghargai bawahannya.


"Selamat pagi!" seru Kevin pada karyawan tersebut. Sontak para karyawan mengangguk dan menyahut sapaan Kevin.


"Selamat pagi juga, Bos!"


"Bos Kevin telah kembali! Dan lebih ramah pada kita ketimbang hari biasanya." ujar karyawan yang tampak senang dengan kemunculan Kevin.


Ternyata selama si model itu berkuasa tak jarang para karyawan mendapatkan amukan karena baginya tak becus dalam bekerja. Kepemimpinan Vivi disambut dingin oleh para karyawan yang jujur sangat tak menyukai sikapnya di awal datang ke kantor.


"Kamu benar, semoga bos Kevin memimpin kembali di perusahaan ini!" sahut yang lain. Tanpa mereka sadari obrolan mereka terdengar oleh Nabil.


"Apa maksud kalian berkata demikian?" tanya Nabil yang baru saja datang sambil membawa setumpuk berkas yang harus ia serahkan pada Vivi. Semua pekerjaan berat dilimpahkan padanya, karena Vivi tak mau tahu dan hanya mau memerintah saja.


"Pak Nabil, ada berita bagus Pak!"


Nabil mengernyitkan dahi mendengar ucapan bawahannya.


"Cepat katakan, jangan membuatku semakin penasaran!" desak Nabil yang sudah mulai gusar.


"Baru saja bos Kevin lewat sini dan berjalan menuju lantai 5. Itu artinya bos Kevin kembali memimpin perusahaan ini."

__ADS_1


"Kamu bercanda?" Nabil seakan tak percaya, biasanya Kevin akan menghubungi dia terlebih dahulu kalau ada apa-apa.


"Benar Pak!"


Nabil segera memasuki lift menyusul Kevin.


Kevin terlebih dahulu mengetuk pintu ruangannya.


"Masuk!" ujar suara seorang pria dari dalam.


Kevin memegang handel dan baru satu langkah maju betapa kagetnya dia siapa seseorang yang duduk di kursi kebesarannya.


"Andho!" pekik Kevin tak percaya.


"Sayang, kamu sudah mengetik apa yang aku katakan tadi?" ucap Vivi, ia berjalan sambil membaca berkas jadi tak tahu kalau Kevin ada di sana.


Andho memberi kode ke arah pintu. Vivi langsung menoleh dan membulatkan mata tak percaya.


"Kevin!" seru Vivi dan segera menghambur ke arahnya, dengan cepat Kevin menepis tangan Vivi.


"Aku ingin bertanya padamu, bagaimana kamu bisa duduk di kursiku!" tunjuk Kevin pada Andho yang sontak berdiri dari kursi bos.


Andho hendak menyangkal tapi keduluan Vivi.


"Bukankah, Andho sangat mahir mengoperasikan pekerjaan ini dari pada kamu. Buktinya, penjualan produk sangat laris di minggu terakhir." Vivi menunjukan berkas yang sejak tadi ia bawa. Kevin sontak merebut berkas itu dengan kasar dan membaca sekilas.


"Kamu gila! Harga yang kamu tawarkan ke konsumen sangat rendah. Itu bisa menghancurkan omset perusahaan." Kevin terlihat murka karena perusahaan yang ia bangun menjual produk yang begitu murah.


"Justru dengan begitu barang akan cepat laku!" sanggah Vivi.


"Kamu tak tahu apa-apa tentang bisnis. Dan sekarang biarkan aku yang kembali di posisi ini!" ujar Kevin seraya berjalan ke arah Andho.


"Dan kamu Andho, apa yang sedang kamu kerjakan?" Kevin menatap layar dan betapa terkejutnya ia, membatalkan kerja sama dengan investor dalam negeri dan malah memilih investor luar negeri.


"Kamu bisa menghancurkan perusahaan ini! Kamu tahu, investor asing justru akan memberikan syarat saat berinvestasi. Mereka masuk dengan menggunakan produk mereka sendiri. Akibatnya produk dalam negeri tidak dipakai dan pengusaha dalam negeri tidak memiliki pasarnya di negeri sendiri. Itu akan merugikan negara kita!" ujar Kevin, dia menatap tajam atas dalang dari semua ini.


Vivi seakan kesulitan bernafas. "Aku tak tahu jika serumit ini. Aku fikir justru mereka akan memberikan keuntungan yang besar."


"Kevin, lagi pula ini kan sudah bukan jadi tanggung jawabmu. Biarkan ini menjadi urusan kami." ujar Andho seakan mengusir Kevin.

__ADS_1


"Kami? Sejak kapan kamu bersekongkol dengan dia, kamu lebih mendukung Vivi dari pada aku! Aku sahabatmu!" Kevin sangat menyayangkan persahabatan yang sudah lama terjalin.


"Sejak kamu meninggalkan Vivi demi wanita lain." jawab Andho, ia akan mengakhiri hubungan persahabatan dengannya.


__ADS_2