
Hai reader semuanya, jangan lupa kasih like, vote dan hadiahnya serta komentarnya juga ya ...
***
Nabil mengambil berkas itu dan segera membawanya pergi. Setelah melihat biodata Alula, ia berpikir tidak ada yang aneh dengan nama lengkapnya. Sesuai dengan permintaan Maria, Nabil membawa berkas itu pulang. Sebelum pulang ia berniat ingin mengunjungi sahabatnya.
Sesampainya di tempat parkir, suara seorang gadis mengejutkannya.
"Hai Kak Nabil!"
Nabil menoleh setelah namanya di panggil. "Viona!"
"Oh iya, kak Sam ada kan?" tanya Viona.
Nabil menautkan kedua alisnya tampak berpikir, "Jika Viona bertanya tentang keberadaan Kevin, berarti dia dan keluarganya pasti belum tahu juga."
"Kak Nabil kok malah bengong sih,"
"Eh, iya, kenapa kamu nggak telepon langsung saja?"
"Ponselnya mati. Makannya aku langsung datang ke sini saja."
"Kamu nggak sekolah?" Nabil mencoba mengalihkan.
"Sudah pulang kok, buruan jawab?"
"Apa nya, emang tadi kamu nanya?"
"Ih, Kak Nabil nyebelin deh! Kak Kevin ada kan?"
"Nah kebetulan, aku mau ke tempat Kevin nih, kamu mau ikut?"
"Ke tempat kak Kevin? Lah emangnya dia nggak di sini?"
"Udah, jangan banyak nanya, buruan jadi ikut nggak?" Nabil melengos masuk ke dalam mobil yang segera diikuti Viona.
Nabil menyalahkan mesin sambil menegur Viona yang asyik bermain ponsel. "Sabuk pengamannya jangan lupa!"
"Iya, bawel," bibir Viona sedikit manyun.
Mobil Nabil meninggalkan parkiran.
"Emang kakakmu nggak pernah cerita tentang apa gitu?" Nabil mencoba mengorek informasi, barangkali dia pernah menceritakan tentang penyakitnya.
Viona mengingat, "Nggak pernah tuh, pulang aja jarang kok!"
Nabil mengambil kesimpulan kalau rahasia penyakit Kevin dalam keluarganya belum terbongkar. Dia tak bisa tinggal diam kali ini. Biar Viona melihat sendiri keadaan saudaranya.
__ADS_1
Nabil bersenandung, "Oh,"
"Emang ada apa Kak?" Viona menatap sang pengemudi.
"Eh, nggak ada, cuman setelah kamu tahu sendiri nanti, terserah kamu mau bertindak seperti apa."
Viona semakin tak mengerti dengan ucapan Nabil.
Mobil Nabil membawa Viona memasuki area rumah sakit hingga membuat Viona bertanya, "Loh, kita kok ke rumah sakit ? Siapa yang sakit Kak?"
Nabil mengangkat bahu, "Ayo, kita turun!" bukannya menyahut dia malah memerintah.
Nabil turun dahulu dan Viona mengikuti langkah Nabil.
Sampai di bangsal kamar Kevin, Nabil langsung masuk. Ia tadi sudah konfirmasi ke Alula akan menjenguk dia, jadi Nabil sudah tahu kamar Kevin.
Viona menatap seseorang yang meringkuk tertutup selimut di atas ranjang pasien.
"Siapa yang sakit Kak?" tanya Viona sedikit berbisik, takut suara nya membangun kan pasien.
"Kita akan tahu jika mendekat, ayo!" Nabil meraih tangan Viona dan membawanya mendekati ranjang Kevin.
Betapa kagetnya ia setelah tahu kalau pasien yang meringkuk itu adalah saudaranya. "Kak Kevin!"
Viona menjerit hingga pemilik nama Kevin itu terbangun dari tidurnya.
"Kak Kevin, sebenarnya apa yang terjadi Kak ? Kakak sakit apa?" Viona mulai sesenggukan. Ia tak mengira jika saudaranya yang selalu menjahilinya bisa jatuh sakit. Padahal tubuhnya sangat kekar.
Kevin tersenyum, "Pasti Nabil yang memberi tahumu?" lalu melirik Nabil.
Nabil tak mau disalahkan dan mengangkat tangannya, "Aku tak mengatakan apa pun."
Viona berbalik dan gantian menatap Nabil, "Sebenarnya kakakku sakit apa?"
Nabil melirik Kevin, seolah meminta persetujuan. Kevin mengangguk pelan.
"Ada sedikit masalah dengan jantungnya."
"Kak Kevin sakit jantung!" Viona berbalik menghadap kakaknya.
"Kamu tak perlu khawatir seperti ini Vi, aku akan segera sembuh." ujar Kevin dengan tubuh lemahnya.
Pintu bangsal terbuka, Alula bersama Arjun datang.
"Viona ! Nabil ! " Alula sedikit panik dan terkejut dengan kedatangan mereka.
Viona menghampiri iparnya, dan memprotes. "Kok Mbak Lula diam saja, nggak ngasih tahu kami!"
__ADS_1
Alula menelan ludah, "Aku bingung Vi, mas Kevin juga menyembunyikan penyakit ini dariku. Aku juga baru tahu. Bahkan dokter bilang, nyawanya tidak lama lagi." Alula mulai berurai air mata.
Mendengar itu, mata Viona membelalak tak percaya.
Kevin membenahi posisinya, suaranya yang lemah menjadi pusat perhatian. "Sudah, Vi, jangan salahkan Alula. Maafkan aku yang tak jujur pada kalian semua. Karena kalian sudah mengetahui ini, jadi aku akan mengungkapnya. Jantung ku ini sudah lama rusak. Dan aku pikir dokter sedang bercanda padaku. Aku mengabaikan nasehatnya dan tak menjaga kesehatan ku. Jadi, wajar jika aku mengalami keterpurukan akibat ulahku sendiri."
Viona menggeleng, "Jika Kak Kevin memberi tahu sebelumnya, pasti ada cara untuk mencegahnya bukan?"
Kevin tersenyum kecil, "Semua sudah terlambat. Tidak perlu ada penyesalan di sini. Aku akan menerima konsekuensi atas perbuatan yang telah aku lakukan."
Arjun yang sejak tadi diam hanya menyimak, kini berani membuka suara. "Dokter bilang, ada 1 cara untuk menyelamatkan nyawanya."
Semua orang menoleh dan memperhatikan Arjun.
"Transplantasi jantung. Tapi, dokter bilang, jantung Kevin sangat langka dan hanya 5 persen saja seseorang yang memiliki tingkatan sama dengannya."
"Transplantasi jantung ? Bagaimana bisa kita mendapatkan nya?" Alula seolah mendapat harapan cerah.
"Kita cari seseorang yang mau melakukan itu, kita beri uang yang banyak." imbuh Viona.
"Jangan ngacau kamu! Orang hidup tidak bisa melakukan transplantasi jantung." tukas Nabil yang memang benar.
"Semoga saja ada keajaiban." ujar Arjun yang sedikit mencairkan suasana.
Viona undur diri dan meminta Nabil untuk mengantarnya pulang. Viona akan menyampaikan kabar ini pada orang tuanya. Siapa tahu dengan begini, nyawa saudara segera tertolong dan mendapatkan pendonor yang cocok.
Nabil kini sudah sampai di rumahnya dan memperlihatkan apa yang ia bawa pada Maria. Kebetulan Vivi sudah tidur. Mereka berdua bertemu di balkon.
Maria membuka berkas Alula dan menelitinya dengan detail. Memang benar, di data itu tertera nama terang Alula Farhah. Maria membulat setelah tahu foto berukuran 3 x 4 di pojok file tersebut.
"Nak Nabil, foto siapa ini?" Maria menyodorkan foto Alula yang belum transformer waktu itu.
Nabil memperhatikan yang ditunjuk Maria.
"Itu foto Alula sebelum langsing." sahut Nabil dengan santainya.
Maria mengangguk paham dan menyimpan file itu. "Terima kasih Nak Nabil, aku akan memperlihatkan foto Alula ini pada suamiku. Supaya jelas, apakah benar Alula ini anak kandung nya atau bukan."
Nabil mengangguk, setelah itu Maria pergi.
Di balik koridor seseorang menguping pembicaraan mereka. Merasa aneh dan menahan diri untuk tidak bertanya dulu. Vivi muncul dan mengejutkan Nabil.
"Vivi?"
Vivi tersenyum simpul dan membuka bibirnya, "Kamu sudah pulang?"
Nabil menekan alisnya, "I-iya, baru saja."
__ADS_1
"Maaf Vi, aku belum mandi dan bau keringat. Aku ke kamar dulu!" pamitnya untuk segera menghindar. Ia tahu jika kebenaran terungkap, Vivi pasti belum terima jika memiliki saudara yang lain.