Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 9


__ADS_3

Arjun tersanjung dengan apa yang Lula lakukan.


"Sudahlah, aku tidak apa-apa kok, kamu mau mampir atau langsung balik nih!" Arjun menunda pekerjaannya sejenak.


"Bentar ya Mbak!" ucap Arjun pada pelanggannya.


"Sepertinya aku tak bisa lama-lama di sini, si playboy itu sedang sakit. Kalau begitu aku balik ya. Trims, make up yang kamu beri kemarin nyaman banget dipakai, enggak bikin lengket di kulit." ujar Lula.


Arjun pun memperhatikan wajah Lula sekilas, "Make up apa pun yang kamu gunakan sekarang akan selalu membuat kamu cantik."


Lula tersipu malu dengan pujian itu. "Aku pulang, dah!"


Arjun menatap kepergian Lula, terasa ada sesuatu yang hilang. Setelah itu Lula mengayuh sepedanya hingga sampai ke apartemen sebelum pukul lima sore.


Sementara Kevin sudah mempersiapkan aneka menu di atas meja. Mendengar pintu apartemen nya terbuka, Kevin bergegas lari kecil menuju kamarnya. Pintu kamarnya juga sengaja tak ia kunci.


Lula setelah membersihkan diri dan berganti pakaian dia ragu untuk menanyakan kabar ke suaminya.


"Eum, apa sebaiknya aku tengok dia ya," Gumam Lula tampak berpikir. Sejenak kemudian Lula selesai menyisir rambut dan make up tipis -tipis. Sedikit ragu dia berjalan menuju kamar Kevin.


Berdehem untuk menetralkan suaranya.


"Kamu sedang tidur?" tanya Lula di balik pintu. Kevin mendengar tapi pura -pura tidur. Lula memegang handel pintu, merasa tak dikunci ia pun memberanikan masuk.


Kevin menggeliat dan membuka mata.


"Kamu sudah pulang?" tegurnya seraya bangkit.


"Pintu nya tak terkunci, eum, jika kamu ingin tidur lagi aku akan keluar!" Lula tampak canggung yang memasuki kamar tanpa seizinnya. Padahal berniat ingin menengok saja. Dia dengan cepat membalikkan badan.


"Tolong, ambilkan aku air putih!" Baru kali ini dia sangat sopan, bahkan menambahkan kata tolong saat meminta. Biasanya ia akan membentak dengan kasar.


"Baik," Lula segera pergi ke dapur dan kembali dengan segelas air putih. Menyimpan gelas itu di atas meja. Kevin menyembunyikan senyum, melirik istrinya yang terlihat malu-malu.


Kevin yang pura-pura merintih itu tak mampu menjangkau meja. Dengan sigap Lula mendekatkan gelas.


"Terima kasih, Lula!" Kevin meneguk air hingga gelas itu terlihat kosong.


Dari cara minum saja, Kevin sudah terlihat keren dimata Lula. Lula segera menyadari dan mengingat semua perkataan yang pernah Kevin lontarkan.


"Aku hanya sebagai buih dalam hidupmu, aku sadar yang tak pantas bersamamu." batin Lula miris mengingat betapa kasarnya Kevin padanya dulu.


"Kamu ingin sesuatu?" tawar Lula yang peduli hanya sebagai makhluk sosial saja.


"Kamu akan melakukan sesuatu yang aku minta?" Kevin terlihat sangat gembira.


"Iya, setiap hari juga seperti itu kan, kamu menyuruh aku untuk melakukan ini itu. Cepat katakan, apa yang kamu inginkan !"


"Wah, enak juga kalau bisa mengerjai dia seperti ini!" Gumam Kevin sembari mencari ide.


"Sepertinya lenganku agak keseleo," tutur Kevin yang dengan sigap Alula mampu menangkap kemana arah bicaranya.


"Lima menit saja." sahut Alula, dengan segera dia duduk di pinggir ranjang. Kevin menyembunyikan senyum lagi. Menyodorkan kedua lengannya. Alula menarik panjang nafasnya dan membuang pelan.


Alula mulai memijat bahu, perlahan dan tentu saja sedikit canggung. Ini kali pertama dia menyentuhnya. Selesai sudah ia memijat, Lula beranjak berdiri.


"Cepet amat?" protes Kevin yang ternyata menikmati pijatan itu.


"Kan udah lima menit," sahut Lula yang mulai geram.


"Kalau tak ada hal berat lagi yang bisa aku lakukan, aku mau makan," ujar Lula yang ingin segera menjauh dari Kevin. Jika terlalu lama dekat, dia tak kan mampu mengontrol asmara nya.


"Oh, jadi yang tadi itu berat?"


"Ya iyalah, secara aku kan bukan Lula yang dulu, energiku juga tak sekuat dulu. Sudah, aku mau keluar."


"Baguslah, aku juga belum makan sejak pagi tadi." Kevin berbohong agar Lula melunak.


"Kenapa, bukankah sebelum minum obat kamu harus makan sesuatu dulu?"

__ADS_1


"Eum, Nabil bilang ada obat yang nggak perlu nunggu makan, bisa langsung diminum." Kevin mencari alasan.


Alula tak curiga, dia mendesah pelan dan hendak keluar kamar namun Kevin mencegahnya.


"Kalau kamu mau makan, aku temani ya," Alula tak menyahut, bagi Kevin itu pertanda dia tak menolak.


Sesampai di meja makan, Lula membulat sempurna kedua bola matanya.


"Ini semua kamu yang pesan?" Alula mendapati berbagai menu di meja, salah satunya lobster bakar.


"Selama kita menikah, aku sudah lama tak menyantap seafood, jadi sengaja aku membeli on line tadi. Kamu nggak suka?" Kevin menilik wajah istri nya yang semakin hari semakin enak dipandang.


"Emang enak?" jujur saja, Alula tak pernah makan makanan mahal seperti itu. Sedikit ada rasa penasaran juga ingin mencicipi.


"Jelas enaknya, duduklah! Aku akan mengambilkan untuk mu!" Kevin menarik kursi dan mengisyaratkan agar Lula duduk.


"Kamu kan lagi sakit, aku bisa sendiri!"


"Setelah kamu pijat, mendadak sakitnya hilang." Kevin dengan cekatan mengambil daging lobster di atas piring Lula.


Selesai berdoa Lula segera makan, nyaris tak ada perbincangan diantara keduanya. Lula begitu syukur dan menikmati makanan itu.


"Aku boleh bertanya?" Kevin menyudahi makan nya begitu pula dengan Lula.


"Tergantung." sahut Lula sedikit risih juga dengan suaminya yang kian aneh bin cerewet.


"Kenapa kamu bisa dekat dengan perias itu?"


"Wajib kah aku menjawabnya?" Lula masih enggan untuk terbuka meski Kevin sedikit berubah.


"Ya, jika kamu tak keberatan,"


"Sayangnya aku sangat keberatan untuk menjawab itu." Lula beranjak dan pergi menuju kamarnya, Kevin sekali lagi hampir mati kutu dibuatnya tak berkutik.


Setelah makan malam, Kevin pergi keluar sebentar untuk membeli tinta. Ponselnya tertinggal di meja. Lula yang ingin mengambil cemilan di kulkas dikejutkan dengan suara dering ponsel milik Kevin. Lula masih enggan untuk memanggil Kevin, nyaris dia juga belum pernah menyebut namanya. Lula mengetuk pintu kamarnya, namun tak ada sahutan.


"Lama banget, angkatnya. Gimana, jadi tidak kita ke club malam ini, Intan nanyain kamu terus." Nabil tak tahu kalau pendengar ocehannya adalah Lula. Lula pun tak habis akal.


"Maaf, tuan Kevin sedang tidak ada, beliau lupa membawa ponselnya, dan beliau tadi kurang enak badan."


"Masa, perasaan tadi pulang dari kantor baik-baik saja!"


"Bukankah Anda yang memberinya obat tadi?"


"Obat apaan, Kevin sehat kok!" Lula langsung menutup panggilan, sementara Kevin sudah berada di depannya.


"Kamu mencoba berbohong padaku?" jelas ini bukan sebuah pertanyaan, Lula menyorot tajam suaminya.


"Aku bisa menjelaskan semua itu padamu." Kevin maju beberapa langkah.


"Belum puas kamu mengerjaiku!" Sentak Lula, sebisa mungkin dia menahan air matanya. Bisa-bisanya Kevin mempermainkan hatinya yang mudah sekali melunak itu.


Kevin hendak berucap, namun Lula tak ingin mendengar dan memilih masuk ke kamar.


"Hedeh, bagaimana ini, aku ketahuan bohong, padahal niatku kan baik," Gerutunya sembari masuk ke kamar. Dia melanjutkan pekerjaan kantor yang tertunda tadi, gara -gara pura -pura sakit.


Keesokan harinya, Lula tak membuat sarapan seperti biasa. Untuk menghindari bertemu suaminya yang aneh, Lula berangkat lebih awal.


"Lula, nasi goreng untuk ku mana?" teriak Kevin yang merasa tak punya salah. Setelah membuka tudung saji yang kosong, dia mengetuk pintu kamar Lula dengan sopan, padahal sebelumnya dia menggedor pintu saat ingin memerintah Lula.


Merasa tak ada sahutan dari dalam, Kevin pun melangkah ke dapur. Dapur masih rapi belum terlihat bekas memasak.


"Yah, dia sudah pergi!" keluhnya terduduk lemas di depan meja.


Saat sarapan dengan menu kemarin, entah mengapa dia baru sadar lagi kalau sepi tanpa istrinya yang sudah banyak mengalami perubahan fisik itu. Kevin segera membersihkan diri dan ingin menjemput Lula di kantor.


Pagi ini, Kevin sudah ada di kantor. Dia meminta Nabil untuk membatalkan semua rapat siang nanti.


"Kenapa mendadak Bos?" Nabil yang baru datang dibuat nya sangat sibuk.

__ADS_1


"Aku ada kencan siang ini."


"Pacaran melulu, yang profesional dong!"


"Ini masalah kelangsungan hidupku,"


Nabil menunjukkan mimik muka tak suka dengan sikap Kevin.


Kevin segera keluar mencari Lula.


"Kiki, apa kamu tahu Lula ada di mana?" tanya Kevin saat melihat Kiki melintasinya.


"Pagi Bos, saya tadi masih melihat dia di lantai 1, pekerjaannya akhir-akhir ini sangat ceroboh. Saya .... "


"Pagi juga dan terima kasih!" Kevin memutus ucapan Kiki yang belum selesai. Padahal ini kesempatan dia untuk memperolok Lula.


"Lula, kita harus bicara, ayo ikut denganku!" Kevin menemui Lula di lantai 1, dia tengah mengepel.


"Tidak bisa, aku sedang bekerja !" ujar Lula tanpa memperdulikan atasannya.


"Ini perintah!" Sentak Kevin yang membuat Lula menghentikan kegiatannya. Sudah menjadi sarapan dia bentakan seperti ini, baik di apartemen atau pun di kantor.


"Anda ini seorang bos, sepatutnya menghargai waktu. Jika seorang office girl seperti saya sedang bekerja dan Anda memerintahkan untuk meninggalkan pekerjaan itu, lantas siapa yang akan membersihkan lantai ini? Anda? Tidak kan, jadi biarkan saya bekerja dan jangan ganggu saya!" Lula melanjutkan mengepel lagi.


Emi tanpa sengaja melintas dan ingin mengepel ruangan lain.


"Berikan benda itu padaku!" Kevin menggerakkan jarinya memberi kode pada Emi.


"Bos, untuk apa Bos memerlukan benda ini?" Emi khawatir kalau bosnya marah lantaran terlihat memarahi Lula tadi.


"Sekarang kamu boleh pergi!" usir Kevin.


"Baik Bos."


"Lula, kamu nggak apa-apa kan?" Emi sedikit berbisik, Lula hanya mengangguk.


Kevin menggulung lengan kemejanya. Dan tanpa banyak bicara dia meniru gerakan Lula.


"Apa yang sedang Anda kerjakan di sini?" Seketika itu Lula berhenti.


"Kamu bilang kalau aku ingin mengajakmu pergi, aku harus menggantikan pekerjaan kamu kan,"


Lula melanjutkan lagi pekerjaannya, dia tahu bosnya itu seperti apa, dia takkan bertahan dengan pekerjaan ini. Hampir satu jam sudah Kevin mengepel lantai.


"Apa kamu tak malu melakukan ini?" tanya Kevin seraya mendekatkan dirinya, sementara Alula fokus mengepel.


"Ini pekerjaan halal, buat apa malu. Sepertinya Anda juga cocok, apakah jika ada orang lain tahu dengan apa yang Anda kerjakan di sini akan membuat Anda malu?" Lula menyerang balik.


"Buat apa malu, istriku saja tak malu." sontak membuat Lula mematung serta melirik tajam suaminya yang masih mengepel. Kevin tahu kalau istrinya itu tengah menatap dirinya.


Jantung Lula berdetak kencang, ucapan itu terdengar nyata tapi pada kenyataannya lain, dia adalah buih.


"Selesai. Sekarang kamu ikut aku!" Kevin memicingkan mata. Lula yang merasa kalah pada akhirnya menurut juga.


Kevin mengajak dia ke taman, membeli dua buah es krim.


"Untukmu," Kevin menyodorkan es krim rasa vanila. Dengan ragu Lula menerimanya, ini adalah kesukaannya.


Kevin duduk di sebelah Lula seraya menjilat es krim miliknya.


"Kamu suka?" tanya Kevin. Lula hanya mengangguk, ada rasa malu yang bertumpuk.


Kevin begitu romantis, Lula sangat menyukai sikapnya ini. Namun, dia harus ekstra hati-hati jika jatuh pada pelukan si playboy ini. Jangan sampai hatinya dipermainkan, ibarat kata habis manis sepah dibuang. Lula ingin menunjukkan kalau buih itu juga manusia, layaknya dihargai.


"Kamu masih marah?"


"Sedikit,"


"Jangan! Jangan marah-marah, nanti kamu lekas tua!"

__ADS_1


__ADS_2