
Alula hampir saja terpejam, tapi mendadak ponselnya berdering. Alula segera membuka pintu untuk keluar, agar saat mengangkat panggilan itu Kevin tak terbangun.
Setelah melihat nomor kontak asing, Alula mulai ragu untuk mengangkatnya. Ponselnya tak berhenti berdering, merasa itu ada hal penting, ia segera mengangkat panggilan itu.
"Iya hallo, maaf dengan siapa ini?"
"Apakah Anda Alula Farhah?" suara berat seorang pria di ujung seberang.
"Iya, benar, dengan saya sendiri." Alula merasa cemas saat nama nya disebut, bahkan secara lengkap.
"Apa Anda kenal dengan saudara Arjun Anaufal Okta?" Sipir itu menemukan Arjun dalam keadaan hampir sekarat.
"Iya, saya adalah sahabatnya, apa yang sedang terjadi padanya, Pak?" kecemasan Alula semakin meningkatkan. Sebelumnya dia sudah merasakan tak enak di ulu hatinya dan ternyata benar ini berkaitan dengan sahabatnya, Arjun.
"Begini Nona, saya seorang sipir yang menemukan saudara Arjun Anaufal Okta dalam kecelakaan mobil. Dan saudara Arjun ingin menemui Anda sekarang juga. Saya membawa saudara Arjun ke rumah Sakit Assyifa. Segera saya tunggu di sana sebelum semuanya terlambat."
"Ba-baik, Pak, saya segera berangkat sekarang!" Alula tergagap dan tubuhnya mendadak lemah. Dia merasakan area mata yang panas dan ia pun menangis.
"Arjun, semoga tidak terjadi apa -apa denganmu. Ya Tuhan, selamatkan sahabatku!" Alula mengusap pipinya dan kembali masuk ke dalam kamar, melihat Kevin sudah pulas, Alula mengendap mengambil tasnya.
Saat Alula berbalik tubuhnya hampir bertabrakan dengan Nabil yang kebetulan datang ingin berjaga.
"Astaga! Nabil kamu membuatku kaget!" sentak nya sambil berbisik.
"Kenapa?" belum sempat Nabil bertanya, tangannya di tarik paksa Alula pergi ke luar.
"Kenapa kamu tarik ..."
"Sssttt ... jangan kencang -kencang!" Alula membungkam mulut Nabil. Alula menoleh ke kaca kamar Kevin memastikan Kevin masih tidur.
Dirasa aman, Alula menarik cepat tangan nya.
Nabil bisa bernafas lega. Lalu dia memperhatikan wajah Alula yang terlihat sembab. "Kamu habis nangis?" ucapnya pelan.
"Kebetulan kamu datang, antar aku ya!"
"Kemana, ini sudah malam Lula?"
"Aku baru saja mendapat telepon dari seorang sipir, Arjun kecelakaan dan dia sedang ada di rumah sakit Asyyifa."
Nabil merasa tak percaya, "Alah, itu modus kali!"
"Jangan mudah percaya, sekarang musim penipuan online!"
"Tidak Nabil. Aku sebelumnya merasakan perasaan yang tak enak entah itu apa, jika kamu tak sudi menemani ku pergi ke sana, baik, aku pergi sendiri saja." Alula melangkah pergi dengan cepat.
__ADS_1
Nabil tak bisa berkutik dan akan merasa bersalah jika Alula pergi sendiri di malam hari, apalagi dia sedang mengandung.
Nabil mengejar Lula, "Baik. Aku akan mengantar kamu!"
Mereka menuju mobil, Nabil menyalakan mesin dan mengarahkan mobil ke utara. Jarak kedua rumah sakit itu sekitar satu jam.
Tepat pukul setengah sepuluh malam, mobil mereka tiba. Alula turun dari mobil. Ia melihat sekelompok polisi. Alula mendekat dan bertanya, "Saya Alula Farhah, ada seorang sipir yang memanggil saya agar datang ke sini." Alula menjelaskan kedatangannya.
Seorang pria menoleh dan berteriak. "Sipir Wahyu, seseorang yang baru Anda telepon sudah datang!"
Sipir Wahyu menyahut, "Baik." dan berjalan mendekat.
"Mari saya antar ke ruangan saudara Arjun!"
Alula mengangguk, Nabil mengekor di belakang.
Sesampainya di ruangan Arjun, Alula melihat Arjun tergolek tak berdaya. Wajahnya penuh darah dan luka. Selain Arjun di sana juga ada sepasang suami istri
"Arjun ...!" jerit Lula. Arjun tersenyum simpul. Meski sudah terasa sakit, melihat Lula seakan sakitnya sudah hilang.
"Apa kamu Alula Farhah?" tanya Rita.
"Iya Tante, Tante siapa?" Alula menjabat tangan wanita itu.
Rita menjawab dengan santun, "Aku ibunya Arjun, Rita. Dan ini ayah nya Arjun, Diko."
Alula merasa tak enak dengan kedua orang tua Arjun. Dan perihal apa yang ingin Arjun sampaikan?
Rita menepuk bahu Alula dan berkata dengan lembut. "Alula, putra semata wayangku sudah berwasiat kepada kami," Rita menumpahkan air matanya.
"Tante Rita, kenapa Anda menangis, dan untuk apa Arjun berwasiat, dia pasti sembuh kan?"
Rita tak sanggup berkata -kata dan membungkam mulut nya. Dito meraih pundak istrinya, "Jika Mama tak bisa mengatakan nya, biar aku saja,"
Rita menggeleng dan mencoba menguatkan batinnya yang masih tak terima.
"Arjun berwasiat, ingin mendonorkan jantungnya pada Kevin."
Mendengar itu, Alula mendadak bergetar hebat tubuhnya dan hampir saja roboh. Untung ada Nabil yang menyangganya dengan kuat.
"Aula, kamu baik-baik saja?"
Alula tak kuasa mendengar ini, air matanya mengucur deras. Begitu pula dengan pasangan suami istri itu.
Suasana hening hanya terdengar isak tangis.
__ADS_1
Nabil yang melihat pemandangan ini menjadi haru, tak terasa air matanya menitik juga.
Alula melepaskan pegangan tangan Nabil, mengisyaratkan kalau dia kuat. Alula mengusap pipinya dan berjalan mendekati Arjun.
"Kenapa kamu melakukan semua ini?"
Arjun pun menitikkan air mata. Mulutnya bergetar dan membuka, "Karena kamu sahabatku."
Sebenarnya Arjun ingin mengatakan kalau Alula adalah wanita yang amat ia cintai. Tapi, lidahnya tak kuat mengatakan itu.
Alula meraih tangan Arjun yang bersimpah darah, membawanya dan menciumnya. "Sahabat macam apa yang kamu katakan, kamu mau pergi meninggalkan aku,"
Arjun membelai rambut Lula dengan tangan yang satunya, "Baik aku ada atau tidak di dunia ini, aku akan tetap menjadi sahabat kamu, Alula Farhah."
"Dengan kamu mendonorkan jantung kamu?"
"Itu akan sangat berarti bagiku dan tentu akan membuat kamu bahagia bisa hidup dengan suami kamu."
"Tidak Arjun. Kamu tidak perlu melakukan ini untuk kebahagian orang lain. Pikir kan sendiri juga kebahagiaan kamu."
"Kebahagiaan ku adalah membuat orang yang aku cintai bahagia,"
"Arjun?"
"Maafkan aku, Alula, waktu ku tidak banyak. Aku sudah menyerahkan ini semua pada dokter yang akan melakukan operasi transplantasi jantung. Segera bawa Kevin ke sini, atau semuanya terlambat sia-sia!"
Alula tercengang seketika dan tak mampu berkata -kata.
Orang tua Arjun sudah pasrah dan bersedia melaksanakan wasiat putra mereka.
Nabil mendapat perintah untuk menjemput Kevin dan mengabarkan berita ini ke semua anggota keluarga.
Dokter Shodiq ikut juga dalam operasi ini.
Satu jam setelah pemeriksaan yang dokter lakukan pada jantung Arjun, ternyata memiliki kecocokan dengan jantung Kevin. Dan hal ini sangat langka.
Jika saja kedua jantung itu tidak cocok, tentu saja transplantasi jantung tidak bisa dilakukan.
Entah ini rahasia Tuhan seperti apa yang dengan kebetulan sekali jantung dua pria yang pernah memperebutkan satu wanita bisa sama.
Kevin tak diberitahu siapa pendonor jantungnya. Jika saja ia tahu, pasti ia akan menolaknya. Sebelum hal ini terjadi, kedua pria itu pernah berseteru.
Arjun ingin menatap Lula untuk yang terakhir kalinya, sebelum ia memejamkan mata selama -lamanya.
Alula masih sesenggukan, menyibakkan poni di kepala Arjun. Alula mendekatkan wajahnya dan mencium keningnya.
__ADS_1
Setelah itu, Alula membuka bibirnya, "Selamat jalan, wahai sahabatku!"
Arjun tersenyum puas. Kemudian para suster mendorong kasur Arjun masuk ke dalam ruangan operasi.