Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 64


__ADS_3

Vivi membawa Nabil pergi jauh dari lokasi itu. Karena Nabil pingsan tak sadarkan diri, akhirnya Vivi yang menyetir.


Selama perjalanan pulang Vivi tampak khawatir dengan kondisi Nabil. Deringan ponsel Nabil membuat Vivi terkejut dan melihat ponsel Nabil siapa yang menghubunginya. Ternyata itu dari Kevin.


Vivi menepikan mobil dan tanpa seizin yang punya ponsel dia mengangkat panggilan itu. Mengatakan kalau Nabil sedang pingsan.


Kevin dari arah seberang terdengar kaget dan menuduh Vivi, "Apa yang baru saja kamu kasih ke dia, kamu sadar dengan apa yang telah kamu perbuat!"


Vivi tahu jika Kevin mengira kalau Vivi akan menjebaknya, "Tenang Vin, ini tidak seperti yang kamu duga. Aku nggak ngapa -ngapain dia kok. Justru dia menolongku dari seseorang yang mau melecehkan aku tadi. Bukannya bantuin malah menuduh yang bukan-bukan!"


Kevin menggosok pelipis nya, mencoba percaya apa yang dikatakan mantan pacarnya. "Baik. Sekarang kamu ada di mana?"


Vivi menarik nafasnya merasa lega karena Kevin tak memperpanjang masalah ini. "Aku sedang di jalan. Aku akan membawanya ke rumah sakit terdekat. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya. Dia telah menyelamatkan aku."


"Aku akan menyusulmu." Kemudian Kevin menutup panggilannya dan segera pergi menuju rumah sakit.


Vivi sudah tiba terlebih dahulu di rumah sakit Nirmala. Setelah Nabil diperiksa, dokter mengatakan tidak ada luka yang serius hanya memar di area wajah saja.


Mendengar keterangan dokter, Vivi merasa lega dan sangat bersalah atas peristiwa ini.


Selang beberapa menit kemudian setelah dokter itu pergi, Kevin datang. "Bagaimana keadaan Nabil?" tanyanya penuh kekhawatiran. Bagaimana tidak, selain sebagai asisten dia adalah sahabat baiknya.


Vivi berdiri dari kursi dan menjelaskan semuanya.


"Nabil tak pernah bercerita padaku jika dia dekat denganmu,"


"Meskipun Nabil bercerita tentang masalah pribadinya, kamu juga tidak akan perduli terhadapnya. Kamu kan sibuk dengan istri mu." ledek Vivi yang masih memiliki rasa pada Kevin. Tentu saja, dulu bahkan mereka hampir saja melanjutkan hubungan yang lebih serius lagi.


"Kamu jangan bawa-bawa istriku!" Kevin tak suka jika istrinya disangkut pautkan.


Vivi memutar bola matanya jengah.


Seketika itu juga Nabil tersadar. "Kepalaku," keluhnya seraya bangkit memijat kepalanya.

__ADS_1


Kevin dan Vivi serentak menoleh, "Nabil!"


Kevin mendekat ke ranjang pasien, "Bagaimana keadaan kamu?"


Nabil tak menyahut dan balik bertanya, "Dimana aku?"


Vivi mendekat dan menjawab, "Sekarang kamu ada di rumah sakit. Kata dokter, tidak ada luka yang serius."


Nabil mendesah lega, dan beralih menatap Kevin, "Bagaimana kamu bisa ada di sini?"


Kevin sedikit kecewa, "Berani kamu mengatakan itu setelah apa yang kamu lakukan?"


Nabil menggaruk kepalanya, "Kenapa kamu marah, dan apa yang aku lakukan hingga kamu marah seperti itu,"


Kevin berdehem, "Kamu tak menceritakan padaku hubungan kamu dengan Vivi? Aku tak ingin kamu terjebak olehnya."


Merasa namanya disebut, Vivi mendelik ke arahnya dan menunjuk dirinya, "Seburuk itu kah aku!"


Nabil mengangkat kedua tangannya untuk melerai mereka, " Kenapa malah kalian yang ribut, aku hanya menolong keluarganya saja. Tidak lebih."


Nabil tersenyum, "Beberapa hari yang lalu aku sudah mengatakan padamu, kalau keluarga Gibran bangkrut. Tapi kamu hanya acuh saja."


Kevin mendengar persoalan itu, tapi ia tak mendengar lagi bagaimana keadaan keluarga Gibran setelahnya. Ia merasa karena sudah tidak ada lagi hubungan apa pun dengan Vivi.


Kevin bersenandung dengan santai, "Oh, yang waktu itu, aku lupa untuk bertanya."


Mendengar ejekan Kevin, Vivi hanya menyebik.


Nabil tanpa menutup -nutupi apa pun menceritakan keadaan keluarga Vivi sekarang.


Kevin terbelalak mendengar cerita Nabil. "Kalian tinggal satu rumah!"


"Tenang saja, aku takkan menggoda Nabil. Lagi pula dia juga bukan seleraku." Vivi dengan gamblang nya berkata demikian.

__ADS_1


Nabil hanya menyengir kuda.


"Baguslah. Jangan rusak kehidupan Nabil oleh ulahmu!" sindir Kevin.


"Kau ini, pedas sekali bicaranya!"


Setelah semua baik -baik saja, mereka keluar dari rumah sakit.


Kevin dan Nabil kembali bekerja, sementara Vivi kembali pulang untuk merenungi nasib buruknya.


Dia merencanakan sesuatu untuk membalas sakit hatinya pada Andho yang telah mencampakkan dirinya.


Sebelum Vivi dan Andho berpisah, Vivi mengorek informasi yang sangat berharga darinya. Bahwa Kevin tengah sakit. Mengalami kerusakan pada kinerja jantung dan membutuhkan donor jantung secepatnya untuk bertahan hidup. Ia memiliki rencana.


Di lain sisi, Alula baru saja selesai syuting untuk terakhir kalinya. Setelah itu ia akan ambil cuti hingga melahirkan nanti.


Dia mengobrol sedikit dengan Arjun, "Bagaimana keadaan kamu dan anak kamu?"


Alula tersenyum manis mendengar pertanyaan itu, "Sehat. Dan terima kasih sudah menanyakan hal itu."


Arjun tampak berpikir, dan bertanya pada Lula, "Lalu suami kamu?"


Alula menyipitkan matanya, "Tumben kamu menanyakan dia?"


"Ah, tidak juga, sekedar ingin tahu saja."


"Terima kasih sudah menanyakan kabar dia. Meski aku tahu hubungan kalian tidak bagus. Mas Kevin sehat, bahkan dia terlihat rajin minum vitamin."


Arjun heran dan bertanya, "Vitamin?"


"Ia, mas Kevin mengkonsumsi vitamin yang ia peroleh dari dokter pribadinya."


Arjun curiga apa yang dikatakan Alula tentang obat itu adalah bukan vitamin, melainkan obat pereda nyeri.

__ADS_1


"Kamu yakin itu vitamin?"


__ADS_2