Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 52


__ADS_3

Malam ini semua orang berkerumun di sebuah hotel ternama bernama Grand Hyatt Jakarta. Grand Hyatt Jakarta merupakan salah satu hotel bintang 5 terbaik di Jakarta yang fleksibel dan dapat memfasilitasi berbagai jenis acara berskala besar yang salah satunya adalah Fashion Show. Dari kapasitas tempat, Grand Ballroom sendiri dapat menampung kapasitas sampai lebih dari 800 orang dan dilengkapi dengan audiovisual & lightning terbaik. Grand Hyatt sendiri menyediakan berbagai macam technical support sebagai techonology concierge dan tim Event dan Marketing profesional yang siap membantu mempersiapkan acara.


"Aku deg-degan banget nih," Lula terlihat resah dan tangannya meremas ujung gaun pemberian Kevin.


Arjun yang sedang menepikan mobil mematikan mesin dan menoleh ke arah Lula.


"Tenang, nggak usah gugup! Aku yakin kamu akan tampil terbaik di atas panggung nanti." Arjun mengusap bahu Lula sambil tersenyum.


Sejak menjemput Lula tadi, Arjun tak berhenti mengagumi kecantikan Lula dalam diam. Ia sempat mencuri pandang juga saat menyetir.


Arjun membuka pintu mobil dan berputar ke arah Lula. Membuka kan pintu untuknya.


Arjun menyodorkan lengannya. Tentu Lula tak menolak, ia melingkarkan tangan pada lengan Arjun. Berjalan dengan sedikit grogi. Belum sampai di pintu hotel, mereka berdua dikejutkan dengan sekelompok reporter.


"Itu Alula Farhah!" pekik salah satu reporter yang haus akan berita. Semua orang menoleh ke arah Lula dan mulai mengerumuni nya.


"Anda tidak datang dengan suami Anda?" tanya salah satu dari mereka.


"Siapa pria tampan yang bersama Anda ini?"


Alula mendelik mendengar pertanyaan itu dan menatap Arjun. Arjun menanggapi tak begitu serius pertanyaan itu.


"Setelah mengikuti acara fashion show, apakah Anda tertarik untuk beralih menjadi seorang model?"


Arjun memasang wajah geram dan berkata dengan lantang. "Menyingkir kalian! Biarkan Nona Alula mengikuti fashion show dengan tenang. Jika acara ini kacau karena kalian. Aku tidak segan -segan membuat kalian kehilangan perkerjaan kalian!"


Semua orang yang mengerumuni Lula menjadi takut hanya sekali gertakan saja. Mereka memberi jalan agar pasangan itu lewat.


Arjun menarik tangan Lula. Lula tak berusaha melepaskan pegangan itu. Ia berjalan mengikuti Arjun.


Resepsionis wanita dengan seragam lengkap berwarna hitam menyambut mereka dengan sopan.

__ADS_1


"Bukankah Anda Alula Farhah, suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda secara langsung. Bolehkah saya berfoto dengan Anda sebelum acara dimulai?" ujar resepsionis cantik itu sedikit ragu.


Alula terdiam beberapa detik kemudian berkata, "Baiklah, Arjun tolong foto kan kami!"


Wanita itu dengan sedikit malu menyerahkan ponsel pada Arjun. Dan Arjun segera mengambil gambar mereka.


"Terima kasih, Nona!"


Alula hanya tersenyum dan segera masuk.


Tamu undangan yang hadir tentu saja dari berbagai artis dan model terkenal lainnya. Desainer ternama juga ada di sana.


Acara ini untuk memperingati ulang tahun Jakarta dan memajukan produk-produk dalam negeri.


"Aku kira kamu tak kan datang ke tempat ini!" suara Vivi mengejutkan pasangan yang baru datang.


Vivi yang berdiri di samping Andho memperhatikan pasangan yang bersama Lula.


Arjun berbisik mengatakan sesuatu di telinga Lula lalu segera pergi.


Alula menoleh dan memperhatikan wanita yang bertanya tadi.


"Vivi!" Alula bersikap biasa meski sedikit kaget. Bagaimana tidak, Vivi dulu nya adalah seorang model yang tentu saja pengalamannya di atas catwalk tentu lebih banyak.


"Biasa saja, tak usah terkejut seperti itu, mantan babu!" Vivi menampilkan senyum mengejek dan mengucapkan itu dengan penuh penekanan. Dan berkata lagi sambil menilai penampilan lawan bicaranya."Mungkin kamu tak terbiasa dengan tempat megah seperti ini. Kalau kamu merasa ragu pulang saja!"


Alula diam bukan berarti ia takut, ia hanya menjadi pendengar dan malas meladeni mulut pedasnya. Bisa-bisa penampilannya nanti kacau jika ia terbawa emosi.


"Terima kasih atas saran kamu. Tapi maaf, ini adalah tampilan perdana ku jadi aku takkan menyiakan kesempatan ini." Alula membalas senyuman Vivi dengan tatapan tajam. Kemudian dia berbalik setelah seseorang memanggil namanya.


Seorang pria dengan tampilan kasual menghampirinya. Pria tersebut berumur sekitar setengah abad dan berbicara cukup serius dengan nya. Ternyata dia adalah salah desainer yang datang di acara ini.

__ADS_1


Sekilas perbincangan mereka mendapat tanggapan sinis dari Vivi yang berkesan tak menyukai Lula.


"Lula, kamu sudah siap? Segeralah ke ruangan ganti!" pinta Arjun yang muncul dari balik kerumunan.


"Iya," sahut Lula dan dengan segera pergi ke ruangan ganti.


Kali ini ada 24 model yang ikut show dan akan memperagakan 10-48 baju.


Lula sudah memasuki ruangan Waiting Stage, hampir semua model masuk ke ruangan itu, karena desainer hanya memiliki waktu singkat untuk memakaikan baju mereka yang terkadang memiliki kerumitan tinggi. Rata-rata mereka akan menghabiskan waktu selama 10-15 menit di ruang Waiting Stage.


Riasan wajah siap, rambut tertata rapi, kostum pun sudah dipakai. Selanjutnya para model akan diarahkan ke ruang Final Stage. Ruangan ini berhubungan langsung dengan runway. 


Para model yang sudah mengenakan pakaian karya desainer di ruangan ini tidak boleh duduk. Alasan itu karena para desainer tidak mau pakaian yang mau ditampilkannya kusut.


Tidak hanya model yang sibuk di ruangan itu. Para desainer masih memperhatikan sentuhan terakhir baju yang hendak diperagakan para model-modelnya. Desainer pun ada yang membantu memperbaiki beberapa detail baju para modelnya.


Lula pun merasa jantungnya berdebar cukup cepat. Tangan satunya memegang dada dan tangan satunya bergerak seperti kipas. Dia terlihat gugup.


Melihat itu, Vivi tersenyum kecut.


"Kamu pasti tidak akan sanggup berjalan di atas catwalk, karena ini bukan tempatmu!" gumam Vivi seraya berjalan mengikuti arahan menuju runway. Sempat ia dengan sengaja menyenggol Lula dan menarik salah satu tali di belakang punggungnya.


Vivi dengan cepat mengangkat kedua tangannya dan mengatakan, "Ups, maaf, sengaja!" kemudian dia berjalan mendahului Lula.


Lula yang tak merasa ada kesalahan di baju nya mengikuti langkah Vivi tanpa merasakan kecemasan lagi.


Vivi berada pada barisan terdepan sedangkan Lula barisan paling akhir. Vivi mendapat sambutan sangat meriah dari para tamu.


Kini giliran Lula yang berjalan. Ia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan perlahan sebelum ke tengah runway.


Pengalaman ini kali pertama baginya. Lula menyemangati dirinya dan berkata, "Aku harus bisa!"

__ADS_1


Fashion show tengah berlangsung sekarang. Lula tak menyadari bajunya melorot dan bagian dadanya hampir terekspos. Wajahnya sangat merah. Kedua tangannya sibuk memegangi dadanya.


"Bagaimana ini?" Gumam Lula dan hampir menangis.


__ADS_2