
Alula membenahi posisi duduknya dengan meluruskan kedua kakinya. Rentetan kejadian hari ini membuat seluruh sendinya terasa kaku. Meski sangat lelah ia berusaha tegar agar Kevin tak mengkhawatirkan dirinya. Ia paham betul jika suaminya itu selain pencemburu juga mudah sekali cemas.
Kevin membuka pesan Lula dan memutar pesan suara tersebut. Alangkah terkejutnya ia dengan kabar itu. Ia bingung harus bereaksi seperti apa, senangkah atau malah sebaliknya. Matanya menatap Lula tak percaya ini. Inikah yang membuat Lula bersikap lain tadi?
"Eum, Lula, jujur saja, aku, aku tau kalau aku tak melakukan itu dengan Intan, dan sekarang kamu sendiri yang membuktikan kalau aku benar kan?" Kevin tampak ragu apakah pernikahan nya masih bisa diselamatkan?
"Dan semua ini juga rencana Andho."
"Andho? Ya, dia itu sepupunya Intan." Kevin tak percaya dengan teman nya bernama Andho itu.
"Ku rasa dia lah dalang di balik sandiwara Intan, mantan pacarmu itu!"
"Jangan begitu Lula, aku miris mendengar penekanan yang kamu lontarkan. Setahu ku Andho hanya bekerja sama dengan Vivi."
Lula tak merespon.
"Bisa jadi, perampokan yang kamu alami pagi tadi itu ulah Andho," terka Kevin.
"Kamu benar, Mas. Dia merebut ponselku untuk melenyapkan bukti. Yang sebenarnya bukti itu sudah aku kirim padamu."
"Kamu pintar Lula," puji Kevin seraya mengusap pucuk kepala istrinya.
"Itu masih satu wanita, lantas bagaimana dengan mantan kamu yang lain? Aku tak tahu kamu berlaku adil atau tidak padaku, mungkin saja di belakang ku kamu masih bermain wanita lagi." Lula mulai sulit untuk mudah percaya, jadi dia akan mencoba mengambil pelajaran dari peristiwa ini. Tidak mudah gegabah dalam mengambil keputusan.
"Sungguh, tiada wanita lain lagi selain kamu, Lula, demi Allah." terang Kevin tegas, ia meraih jemari Lula dan mendekapnya. Sorotan matanya menunjukkan keseriusan yang mendalam.
"Baik. Aku percaya padamu." Lula menanggapi dengan reaksi datar. Ia terlihat bingung sendiri dengan keputusan nya. Namun, dalam lubuk hatinya yang terdalam masih ada rasa meski secuil. Dan dia mencoba membenahi kembali rumah tangganya yang mulai koyak.
__ADS_1
"Terima kasih Lula. Eum, bagaimana dengan surat gugatan cerai yang katanya ingin kamu berikan padaku?" masih saja Kevin mengingat itu, karena jujur saja ia sangat takut kehilangan istrinya. Jadi, ia memastikan sendiri kalau Lula benar-benar akan menggagalkan gugatan itu.
"Karena kamu sudah berjanji untuk mengubah perilakumu yang mudah sekali menyakiti hati wanita. Aku memberi kesempatan lagi padamu. Aku akan membatalkan gugatan cerai itu." akhirnya Lula melunak.
Kevin tak karuan bahagianya. Dia langsung melompat ke arah Lula dan mendekapnya. Mencium di semua sisi.
"Lepas Mas!" pekik Lula seraya menahan mulut Kevin yang sudah siap melahap bibirnya.
"Kenapa Sayang? Aku sudah rindu banget!" Kevin melonggarkan dekapan nya.
"Kamu bau asem." Lula mengerucut kan bibirnya, hingga membuat Kevin tergoda untuk segera melahapnya. Sebenarnya dia bisa saja memberikan layanan ekstra, tapi dia harus menjaga egonya agar tak terlihat murahan.
Kevin mengendus sendiri bau tubuhnya. "Iya, bau keringat." Dia beranjak dan melepas kemejanya.
"Kok malah dilepas?"
"Ogah!" tolak Lula cuek.
"Loh, kenapa, bukankah kita sudah baikan?" Kevin menatap tajam istrinya. Kecemasan mulai datang menerka.
"Aku capek mau tidur." Tanpa memperdulikan suaminya yang sudah mengeras di bawah sana, Lula lebih memilih untuk membaringkan tubuhnya. Ia segera memejamkan mata.
"Sabar, masih ada session nanti malam." batin Kevin menghibur.
Sore hari, Nabil sudah ada di depan pintu apartemen Kevin. Ia sudah janji akan datang untuk menikmati nasi goreng buatan Lula.
Kevin mengetahui Nabil datang dan segera membangun kan Lula.
__ADS_1
"Lula, Sayang, ayo bangun, sudah sore!" Kevin mengguncang bahu Lula. Terdengar hanya suara erangan saja.
"Lula, aku sudah berjanji pada Nabil malam ini. Kalau aku menawarinya makan nasi goreng buatanmu." ujar Kevin yang membuat Lula sontak bangun dengan ekspresi kaget.
"Apa, Mas!" pekik Lula dengan suaranya yang kenceng.
Kevin membungkam mulut istri nya.
"Ssttt, makanya, ayo buruan bangun!" Kevin membantu Alula berdiri dan mendorongnya untuk lekas mandi.
"Tunggu, Mas! Ini tak seperti yang kamu bayangkan. Kamu tak boleh seenaknya begitu, menawarkan orang lain makan di sini." Lula menahan tubuhnya. Kevin melepas tangannya.
"Kan dia sahabat aku." pangkas Kevin seenaknya.
"Mau sahabat kek, mantan pacar kek, pokoknya tidak boleh!"
"Kenapa, ada yang salah?"
"Bukannya ada yang salah, Mas, tapi ...." Alula menggantung ucapannya. Hatinya tak enak mengatakan ini pada suaminya yang terlalu percaya diri sekali. Alula menarik nafasnya dalam-dalam dan mulai berbisik.
"Nasi goreng yang kamu makan kemarin itu bukan buatanku. Aku sengaja membelinya di warung depan. Hehehe ...." Lula memperlihatkan dua jari tangan nya tanda damai.
Kevin menepuk jidat. Ia segera menemui Nabil di luar dan mencoba menerangkan masalah ini.
"Nabil, ternyata Lula tak pandai membuat nasi goreng. Kamu kembali saja!" usir Kevin seraya mendorong tubuh Nabil menjauh.
"Enggak mau, enak saja!" pekik Nabil tak suka.
__ADS_1