Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 32


__ADS_3

Vivi sedang tertawa sekarang, keceriaan nya telah kembali. Pria yang sedang bersama nya kini merelakan setiap waktu untuk menghiburnya. Meski terlahir bukan dari kalangan elit, Andho dapat menyesuaikan pergaulannya dengan siapa pun termasuk Vivi.


"Andho, aku tak percaya kamu sangat romantis. Bahkan Kevin kalah, dia tak seganas dirimu saat bermain di atas ranjang. Aku sangat puas. Puas sekali!" ujar Vivi. Dia sedang meneguk anggur merah di sebuah cafe.


"Sayang, bisakah kamu tak menyebut nama pria lain saat kita sedang bersama?" protes Andho yang tak suka dibandingkan dengan mantan kekasihnya.


Vivi tersenyum dan hanya mengangguk.


"Aku paham sekarang, kamu begitu pencemburu." sebenarnya ia tak jujur mengatakan semua itu, ia mengambil hati Andho agar mau melakukan semua keinginannya.


"Agar aku tak seperti itu, ayo kita segera menikah, bagaimana?" tawar Andho yang sudah siap lahir batin. Meski gajinya per bulan tak seberapa tapi ia tipe pria yang suka bekerja keras. Ia tengah membangun sebuah vila dan rencananya setelah menikahi Vivi, bisa segera menempati vila tersebut.


"Aku belum ingin menikah sebelum melihat kehidupan artis kampungan itu hancur." tolak Vivi, sebenarnya dia hanya memanfaatkan kebaikan Andho.


"Aku khawatir kamu mengingkari ucapanmu." terka Andho yang sudah terlanjur cinta mati padanya.


"Sepicik itukah aku di matamu?" Vivi merasa pikirannya terbaca. Tapi dia harus pandai menyembunyikan faktanya.


"Aku akan segera membuat mereka hancur, dan kita bisa segera menikah. Bahkan aku bisa segera melenyapkan Kevin dari muka bumi ini." Mendengar itu Vivi menjadi gusar.


"Jangan!" responsnya cepat membuat Andho mengernyitkan dahi.


"Kenapa, apa kamu masih menyimpan rasa padanya?" selidik Andho.


"Bukan. Bukan seperti itu maksud ku. Jika kamu membunuhnya, kamu bisa dipenjara. Aku tak mau itu terjadi." sanggah Vivi yang tak sengaja keceplosan.


"Benar juga, tapi kamu tak usah khawatir. Saat ini aku sudah menyuruh sepupuku untuk berpura -pura hamil dan mengandung anak Kevin. Dan hasilnya, kamu tahu ... Alula menggugat cerai Kevin."

__ADS_1


"Bagus!" mendengar kabar itu, ekspresi Vivi sangat bahagia. Andho mampu menangkap hawa negatif dari reaksi itu. Tapi, ia menahan untuk tetap diam. Merancang rencana cadangan jika sewaktu -waktu dia gagal mendapatkan cinta Vivi.


Sementara Kevin sedang terlihat sibuk di jalan. Ia bahkan sudah menelusuri setiap gang, namun apa yang ia cari tak berhasil ditemukan. Matahari semakin terik membuat dia kehausan. Dia mampir ke sebuah toko untuk membeli air mineral. Selesai meneguk dan saat akan masuk ke dalam mobil pergerakan nya tertahan oleh suara pria.


"Kevin Aluwi!" sapa seorang pria berkumis tipis terdengar geram. Seketika itu Kevin menoleh dan ...


Brukk!


Bogem mentah mendarat di wajahnya hingga membuat hidungnya berdarah.


"Sial!" decak Kevin tak suka. Tubuhnya terhuyung hingga dia mundur beberapa langkah.


"Om Gibran!" pekik Kevin seraya menegakkan posisinya. Tak sampai di situ, pria bernama Gibran itu menarik kuat kerah bajunya. Kalau saja lawannya ini bukan orang tua sudah dari tadi ia melawannya.


"Dasar pria brengsek kamu! Sudah lama kan kamu memacari anakku, tapi ujung-ujungnya apa! Kamu malah menikah dengan wanita lain." umpat Gibran. Selesai menurun kan Lula tadi, Gibran melajukan mobilnya pulang. Tapi saat melihat sosok Kevin, amarahnya meledak, segera turun dari mobil dan tanpa banyak kata ia langsung menghajar mantan pacar putri nya itu.


"Cih, keparat kamu!" Gibran melayangkan tinju ke arah sasaran. Namun dengan sigap Kevin bisa menangkis serangan itu. Mencengkeram kuat tangan yang hampir berkerut itu. Gibran memberontak tapi kalah tenaga.


"Mau Om apa sih! Sudahlah, terima kenyataannya!" Kevin ingin mengakhiri masalah ini.


"Enak saja kamu bilang, kamu pikir aku tak tahu kelakuan kamu selama pacaran? Kamu sudah mengobok -obok barang dan setelah mendapat pengganti baru kamu mau membuangnya begitu saja, hah!"


"Om Gibran nggak sadar bicara begitu, itu karena anak Om murahan dan mau begitu saja. Atau mungkin dia biasa melakukan hal itu tak hanya denganku." sangkal Kevin yang tak mau disalahkan.


Mendengar ucapan Kevin, darah Gibran serasa mendidik dan tak terima putrinya di hina.


"Kamu bilang anakku murahan! Dasar brengsek kamu, nyesel aku sudah kasih izin sama kamu waktu dulu untuk pacaran dengan Vivi! Aku takkan tinggal diam dan bakal kasih pelajaran buat wanita yang telah merebut pacar anakku."

__ADS_1


"Om, dengar ya! Aku sudah berubah dan bukan Kevin yang playboy seperti dulu. Aku mencintai satu wanita yakni istriku. Dan bilang sama anak Om agar tak mengejarku lagi. Dia cantik dan bisa mencari penggantiku yang lebih baik." setelah selesai cek cok dengan Gibran, Kevin masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin dan segera menghilang dari pandangan Gibran.


"Sial!" umpat Gibran.


Kevin mulai tak konsentrasi mengemudi, lamunan nya terus tertuju pada Lula. Dia mengambil ponsel dan mencari kontak Lula.


"Kemana kamu Lula, nomor kamu juga sulit aku hubungi." ujar Kevin dengan rasa resah. Sudah dua jam ia mengitari kota hingga merasakan lelah yang sangat. Pukul 13.00 ia memutuskan untuk pulang ke apartemen. Sesampainya ia segera memasuki kamar dan betapa terkejutnya dia.


"Alula, istriku!" pekiknya girang sambil menghambur ke arah sana. Lula duduk berjongkok seraya mengemasi semua pakaiannya. Lula menepis tangan Kevin saat ingin memeluk tubuhnya dari arah belakang. Kevin melihat sebuah koper hitam dekat istri nya.


"Kamu mau kemana, Sayang?" tanya Kevin baik -baik seolah tak terjadi apa pun. Alula cuek dan tak menyahut. Sudah sekian kali Alula memberikan peringatan pada suaminya untuk tidak bermain wanita namun ternyata ia melanggar dan ancaman tak membuatnya jera.


"Kamu sudah makan belum, ayo kita keluar untuk membeli makanan pecel lele kesukaanmu." tawar Kevin antusias.


"Atau mungkin kamu mau minum yang seger -seger, kita bisa beli es krim di luar." imbuh Kevin.


"Alula, Sayang! Bicaralah, jangan diam seperti ini!" Kevin tak berhenti membujuk istri nya agar bicara.


Selesai memasukkan semua baju ke dalam koper. Dia mendongak menatap Kevin dan mulai ambil suara.


"Kau lupa atau pura-pura lupa? Aku sudah muak mendengar bualanmu, yang hanya omong kosong saja. Lebih baik kita putus hubungan saja! Aku ...." belum selesai Lula bicara terdengar suara barang jatuh dari balik pintu.


Kevin menoleh memperkirakan barang apa yang jatuh. Seingatnya tak ada perabot yang bersuara seperti tadi jika terjatuh. Kevin segera keluar kamar untuk mengecek suara apa tadi.


"Mama!" teriak Kevin histeris dan berlari menyusur lantai.


Maria tengah terbaring dalam keadaan tak sadarkan diri. Dahinya sedikit lecet membentur meja.

__ADS_1


__ADS_2