Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 40


__ADS_3

Alula memutar rekaman otak nya saat duduk di bangku SMP dulu. Ia ingat betul kalau Vivi dan teman-temannya memperlakukan dirinya dengan sangat hina. Tapi ia bukanlah tipe yang pemarah yang seperti Vivi kira. Alula menepuk tangannya hanya sekali tepukan saja. Sekelompok media langsung berdatangan untuk meliput acaranya. Yakni, makan malam bersama teman lama. Vivi membelalakkan mata tak percaya dengan rencana Alula. Ini sebuah jebakan untuk menjatuhkan nama baik.


Alula mengatakan pada media kalau temannya ini sedang mengajak nya makan di restoran yang paling mewah, menceritakan bahwa ketika ia datang langsung mendapatkan serangan cacian yang menusuk hati.


"Teman lamaku ini, dulu sering mengajakku ke belakang sekolah. Setelah tiba di sana, tanpa tahu kesalahanku aku langsung disiram dengan air comberan. Aku tidak membalas perlakuan mereka, karena aku tak memiliki kekuasaan. Aku diam bukan berarti takut. Melainkan memberikan kesempatan padanya untuk bisa menghargai orang lain yang berwajah jelek seperti ku. Dan sekarang di hadapan kalian semua, aku tak ingin membalas hinaan yang ia lontarkan padaku. Apa aku salah jika berlaku demikian?" mendengar itu para media memberikan tepuk tangan atas kebijakan yang Alula buat.


"Anda sangat mulia sekali, Nona Alula Farhah!" ujar salah satu media yang mengekspose wajahnya. Alula memamerkan senyum membuat Vivi merasa muak.


"Alula, kamu!" Vivi tak berpindah tatapannya.


"Tenang Vivi, aku bisa memberi tahu mereka untuk menghapus video yang sudah mereka rekam. Asalkan kamu bersedia meminta maaf padaku. Hanya satu kata yang aku pinta darimu, mudah kan!" tawar Lula.


"Cih, sampai kiamat pun aku tak sudi meminta maaf padamu. Lagi pula aku tidak merasa bersalah memperlakukan kamu seperti itu. Dan aku sangat membencimu!" Sentak Vivi sembari mengambil gelas dengan cepat dan ingin menyiramkan ke wajah Lula. Tindakan demikian sudah terdeteksi lebih dulu oleh Lula karena ia tahu betul sifat Vivi saat marah seperti apa. Menyiram lawannya dengan minuman. Alula menangkis serangan itu dan menyerang balik. Mengguyur wajah Vivi dengan minuman yang tadi.


"Ups, maaf tidak sengaja!" Alula mengangkat kedua tangannya.


Rambut Vivi yang ditata rapi tampak berantakan dan sedikit basah. Penampilannya sudah tak rapi. Make up nya yang tebal pun terlihat memudar.


"Alula!" teriak Vivi. "Kamu ternyata licik juga ya, tidak hanya penampilan kamu yang berubah, sikap kamu juga!" Vivi tampak bergetar, kini semua media tahu tabiat nya seperti apa. Vivi tak kuasa menahan luapan emosi saat Alula menumpahkan air. Ia geram dan segera pergi membawa rasa malu.


Saat sampai di depan parkir, Vivi dikejutkan dengan ketidakadilan terhadap dirinya. Seolah alam semesta sedang marah padanya.


"Di mana mobilku!" teriaknya histeris.


Seorang satpam datang dengan tergopoh setelah mendengar jeritan nya.

__ADS_1


"Ada apa ya, Nona?" tanya satpam itu dengan sopan.


"Ada apa-ada apa, kamu tak lihat mobilku hilang!" Sentak Vivi, nadanya melonjak.


Satpam itu tampak celingukan mencari mobil yang Vivi maksud.


"Nona tadi parkir di sebelah mana, mungkin Anda lupa?" satpam itu masih sabar melayaninya.


"Kamu kira aku ini sudah pikun, tentu saja aku memarkir mobilku di sini!" ujar Vivi sambil menunjuk area parkir itu. Satpam sedang menghubungi seseorang di seberang sana dan mengangkat bahu. Seperti sedang ditanya juga.


"Maaf Nona, banyak mobil pengunjung, jadi saya tidak hafal mobil Anda!" satpam itu terlihat menyerah. "Saya juga sudah meminta bagian CCTV tapi katanya tak melihat gerak -gerik orang yang mencurigakan di tempat parkir ini."


Vivi membentaknya hingga satpam itu pergi. Dia menghentakkan kedua kakinya sambil tersedu. Beberapa menit kemudian dia pergi mengendarai taksi.


Sementara itu Alula merasakan kemenangan yang hakiki. Tentu saja tadi adalah ulah Alula. Alula meminta seseorang untuk mencuri mobil Vivi. Meski ini terdengar kriminal, tapi dia sekedar iseng melakukan itu. Di kemudian hari nanti, Alula berjanji pada dirinya akan mengembalikan mobil itu jika Vivi sudah mengatakan maaf padanya.


Di tengah gerimis hujan dan disertai hawa udara malam yang mengikis kulit. Alula segera memesan taksi. Dia berencana akan belajar menyetir mobil sendiri besok.


Di dalam apartemen, seorang pria sedang duduk menunggu di depan televisi. Tidak ada tayangan yang membuatnya fokus. Sejak satu jam yang lalu, ia hanya memutar chanel saja. Suara gesekan pintu membuatnya terperanjat.


"Sayang, dari mana saja kamu? Ponsel kamu sulit aku hubungi." rentetan kekhawatiran Kevin mulai muncul.


"Ponselku sepertinya sedang dalam gangguan sinyal. Tenang, aku keluar menemui teman lama." ujar Lula sambil duduk di sebelah Kevin. Kevin ikut duduk kembali.


Belum habis Kevin berfikir yang bukan-bukan, Alula segera melanjutkan bicaranya.

__ADS_1


"Aku bertemu dengan Vivi." sambung Lula yang membuat suaminya merasa sedikit lega.


"Untuk apa? Aku kira hubungan kalian tidak cocok,"


"Bukan soal penting. Oh, iya, Mas, aku besok setelah syuting ingin pergi ke dialer. Aku ingin memilih satu unit mobil yang mungkin cocok denganku." ujar Lula teringat dengan keinginannya. Tangannya melingkar di tubuh Kevin. Terlihat kalau dia sangat manja.


Sudah hampir sepekan ini Alula belum menemukan pengawal yang pas untuknya setelah pengawal yang lama mengundurkan diri. Memang tak mudah mencari seorang pria yang bisa dipercaya.


"Terserah apa pun keinginan kamu, asal kamu bahagia!" Kevin merespon dengan senyum. Mencium pucuk kepalanya.


"Sudah tiga bulan lamanya, Alula belum menunjukkan gejala orang hamil. Apa sebaiknya aku tanya langsung saja ya?" batin Kevin yang merasa gusar.


"Eum, Sayang, kamu sudah telat datang bulan belum?" tanya nya lugas.


"Kenapa?" ekspresi Lula mendadak pucat, seperti tak suka membicarakan masalah yang tabu itu. Kevin menarik nafasnya sebelum menjawab.


"Kurasa sudah saatnya kita memikirkan soal anak." meski pernah playboy, Kevin termasuk pria yang berakal untuk memiliki momongan dari pasangan yang ia yakini bisa membuatnya bahagia. Usianya sudah matang dan sangat pantas bergelar seorang ayah. Sejujurnya ia tak ingin memaksa, tapi setelah pengaruh dari Nabil kemarin ia mendadak ingin sekali punya anak.


"Kamu ingin aku segera hamil?" dari nada sahutan Lula seperti tak suka. Kevin lebih memilih untuk mengurungkan niatnya bertanya lagi.


"Eum, jika kamu belum siap tidak apa-apa kok, Sayang, kamu jangan marah ya," Kevin merendah, sebisa mungkin ia menjaga perasaan istri nya. Kevin terlalu takut untuk mengakui kalau dirinya mulai melemah jika berhadapan dengan Lula.


"Tidak semua pasangan suami-istri langsung dikarunia anak dengan cepat. Hal ini bahkan sudah terjadi sejak zaman nabi, dalam sejarah Islam ada 2 orang Nabi pilihan Allah Swt yang memiliki kisah lama diberi keturunan yakni nabi Ibrahim as dan Nabi Zakaria as. Kedua Nabi ini sama-sama baru mendapatkan momo­ngan setelah puluhan tahun menanti dan berdoa pada Allah Swt." Alula mulai menceramahi suaminya. Ia tahu kalau pria yang baru empat bulan nikahi itu sangat menginginkan anak. Kevin menelan salivanya, mencoba sabar untuk sekian kali. Dia duduk dengan anteng tak mengubah posisi nya seakan mendengarkan ceramah sungguhan.


"Banyak orang yang pingin mempunyai anak, dengan segala daya dan upaya berusaha untuk mendapatkan keturunan, tetapi jika Allah belum menghendaki, maka tidak akan mendapatkan keturunan yang mereka inginkan. Tetapi sebaliknya, banyak orang yang dikasih banyak keturunan hampir setiap tiga tahun dapat melahirkan seorang anak akan tetapi ada sebagian dari mereka menyia -nyiakan, ada yang dibuang, ada yang dibunuh dan ada yang ditelantarkan." sambung Lula, pemikirannya panjang, ia tak ingin melahirkan anak di saat keadaan lingkungan belum cukup baik. Ia berencana anaknya kelak memiliki kehidupan yang layak, mengingat kehidupan dulunya yang begitu memprihatinkan. Ia ingin mencari keberadaan Gibran Farhah untuk meminta pertanggungan jawabannya sebagai seorang ayah yang telah menelantarkan putri dan ibunya.

__ADS_1


Kevin menutup wajahnya dengan tangan sebelah, "Maafkan aku, memang seharusnya kita mempersiapkan kehadiran calon anak kita dengan sebaik mungkin. Aku akan sabar menanti hingga sang Khaliq memberi."


__ADS_2