
Lula segera menyimpan bukti itu dengan aman. Memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Lula berdiri membalikkan badan mengarah meja mereka.
"Pagi!" sapa Lula dengan senyum terpaksa. Intan dan Andho menoleh ke arahnya. Mereka berdua tertangkap basah membuka topeng mereka sendiri. Andho seakan menganga dengan pemandangan yang ada di depannya. Hatinya merasa berbunga -bunga saat ini. Wanita cantik yang sedang berdiri di depannya mengalahkan bayangan Vivi sekarang.
"Ini mimpi atau bukan, cantik banget bidadari ini, beda banget sama yang ada di foto!" gumamnya sambil seluruh syarafnya menegang. Ia pun juga berpikir untuk segera bisa memilikinya.
"Lu-la?"ujar Intan sedikit gagap seraya membelalakkan mata sangking kagetnya. Yang sedang jadi korban ternyata ada di dekatnya.
Alula melipat tangan di depan dada."Bagus sekali rencana jahat kalian ! Dengan berpura -pura hamil dan mau melakukan USG palsu, dengan begitu kamu bisa menghancurkan pernikahan ku? Kamu jangan mimpi, Intan! Aku akan menyeretmu ke meja hijau." Gertakannya membuat Intan kesulitan bernafas.
"Kamu pasti salah dengar, aku sedang membicarakan USG teman aku. Ya, temanku yang ada di luar kota." Intan menyangkal. Andho memutar otak untuk mencari akal agar bisa kabur dari sini.
Sementara Arjun yang sedari tadi menyaksikan reaksi Lula masih terlihat tenang. Mengawasi dari jauh.
"Nona Lula," Andho ikut berdiri,mengulurkan tangan dengan wajah mesumnya. Memandangnya saja Lula merasa jijik. Ia ingat pria ini adalah teman suaminya yang dulu ikut mabuk saat membawa suaminya pulang ke apartemen.
Lula tak merespon dan hanya memincingkan mata. Merasa terabaikan Andho menurunkan tangannya dengan berat hati.
"Ternyata Anda lebih cantik dari yang ada di foto. Saya sangat mengagumi reputasi Anda." ujar Andho tak berhenti begitu saja.
"Terima kasih! Tapi basa-basi kalian tidak akan mempengaruhi ku untuk bertindak. Kalian berdua pasangan yang sama-sama tak punya malu, suka sekali mengganggu kehidupan orang lain." Emosi Lula mulai membludak.
Andho melirik pria yang tadi duduk bersama Lula.
"Seharusnya Anda bercermin dulu sebelum mengatakan itu pada kami." ucapan Andho membuat Lula tersudutkan, sambil melirik Arjun ia menarik nafas dalam-dalam.
"Aku tidak sama dengan kalian!" tegas Lula yang membuat Andho semakin menggila, batinnya yang nakal berpikir kalau tipikal wanita garang seperti ini patut di uji di atas ranjang.
Andho terkekeh. Suami Anda pasti sangat marah jika melihat istri cantik nya berduaan bersama pria lain. Aku bisa mengatakan itu pada Kevin." nada bicara Andho seperti mengancam.
Lula tak takut. Meski hubungan dengan suaminya sedang tak baik-baik saja kalau pun ia tahu dirinya sedang bersama pria lain itu pasti tak masalah baginya.
__ADS_1
"Kamu jangan mengalihkan masalah. Jika kamu mau melaporkanku padanya, silahkan! Aku tak takut. Aku punya bukti yang kuat untuk menjatuhkan harga diri wanitamu ini." Lula menunjuk Intan yang sejak tadi bungkam seribu bahasa. Andho menahan jari Lula sambil tersenyum masam. Merasa kalah kalau ancamannya tak mempan.
Mengetahui kalau Andho ingin berbuat kasar, Arjun segera menghampiri mereka.
"Lepaskan tangannya!" Sentak Arjun yang membuat Andho menoleh ke arahnya, sedikit rasa iri setelah melihat wajah tampannya. Andho melepaskan tangannya.
"Wah, pahlawan kamu datang, Lula!" pujian Andho terdengar mengejek.
"Diam kamu! Aku tidak ada urusan denganmu. Sejak tadi kamu banyak bicara, seolah ingin mengulur waktuku. Arjun, mari kita pergi ke kantor polisi sekarang!" perintah Lula yang sebelum beranjak menatap tajam ke arah Intan. Intan sendiri tak bisa berkutik. Hanya ketakutan yang ia rasakan sekarang. Lula terlihat begitu menakutkan.
Setelah Lula dan Arjun pergi, Intan mulai angkat suara sambil merengek.
"Bagaimana ini, aku tidak mau masuk penjara, Andho, lakukan sesuatu!"
"Lula pasti merekam pembicaraan kita. Aku akan menyuruh anak buahku untuk merebut bukti itu." Andho mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang.
"Cegat dia, dan bawa kemari bukti itu!" Andho menyimpan kembali ponselnya.
Di tengah perjalanan, mobil mereka terhadang oleh beberapa pengendara sepeda motor. Tak banyak bicara, terjadilah baku hantam. Arjun kalah, dan dibuat oleh mereka babak belur wajah tampannya.
"Arjun!" pekik Lula histeris seraya menghambur ke arahnya.
Para penjahat itu berhasil merebut tas Lula dan mengambil ponsel miliknya lalu pergi.
Arjun terkulai lemas di atas pangkuan Lula. Lula berteriak namun belum ada satu orang pun yang mendengar.
Sementara Kevin masih berada di ruangan meeting. Kliennya ini akan memberikan keuntungan yang besar untuk kelancaran bisnisnya. Jadi Kevin sangat proporsional mulai dari menyambut hingga kepulangan klien.
"Nabil, kita akan untung besar kali ini!" seru Kevin bahagia.
"Benar Bro, aku juga sangat salut padamu, presentasi hari ini terlihat sangat memuaskan mereka. Kamu harus merayakan ini." Nabil sang asisten merangkap sebagai sahabat ini sangat suka sekali berpesta.
__ADS_1
"Itu urusan kecil. Aku akan mentraktir kamu makan kali ini."
"Aku tidak mau makan di cafe." tolak tegas Nabil Alauna.
"Bukankah itu tempat favoritmu?"
"Aku ingin makan nasi goreng buatan istri mu yang pernah kamu katakan padaku waktu itu." tawar Nabil yang membuat Kevin tercengang.
Pernah waktu itu Kevin mencurahkan kebahagiaan nya pada Nabil, saat Lula membuatkan nasi goreng untuknya. Padahal waktu itu Lula nggak sempat masak. Dia beli di warung sebelah.
"Tebang Bro, kalau kamu tak suka jangan marah!"
"Kamu tenang saja, aku akan menghubungi istriku sebentar untuk menyiapkan semua." Kevin mencari ponselnya di saku jas dan celana namun, tak ada.
"Dimana ponselku?" Kevin beranjak dari kursi menuju ruangannya. Setelah sampai di sana ia mendapati ponselnya dalam keadaaan mati.
"Aku lupa untuk mengisi baterai tadi." gumamnya. Setelah mengisi daya baterai ia baru tahu kalau Alula beberapa jam yang lalu telah menghubunginya.
Kevin menghubungi nomor Lula, namun panggilan gagal hingga membuat dirinya cemas.
"Ayo, angkat ponselmu, Lula!" Kevin mondar-mandir menunggu sahutan dari seberang.
Kini Lula berhasil membawa Arjun ke tempat klinik terdekat.
"Maaf kan aku, Arjun! Kali ini kamu harus mengalami memar gara-gara aku lagi." Lula merasa bersalah.
"Ini tidak seberapa, kamu nggak apa-apa kan?"
"Iya, aku baik -baik saja, tapi ponselku ...." Lula tampak murung.
"Aku tahu ini situasi yang sangat sulit. Bukti yang kamu simpan untuk membuka kejahatan mereka telah hilang. Kita bisa mencari cara lain." Arjun mencoba menghibur.
__ADS_1
"Kamu salah teman. Aku tidak bodoh. Aku sudah mengirim rekaman suara mereka ke beberapa orang. Jadi, aku pasti menang." Lula terlihat tak murung lagi.