
Dokter Afif membuka bibirnya yang membuat Alula ketakutan. Alula segera menahan nya.
"Dokter,"
Dokter itu meliriknya dan tersenyum seakan tahu rasa kekawatiran Lula, "Saudara Kevin, seseorang yang telah mendonorkan jantungnya untuk kamu sebenarnya tak ingin disebut namanya. Jadi, jangan kamu bertanya lagi perihal itu. Baik, aku ada jadwal operasi sekarang. Permisi!" Dokter Afif pun pergi.
Alula bisa bernafas lega sekarang. Kekhawatirannya sudah menghilang. Alula tampak sedang gelisah, "Mungkin mas Kevin lambat laun akan tahu juga, tapi tidak untuk sekarang. Jika tahu yang sebenarnya, mas Kevin pasti sangat shock dan dia baru saja operasi tentu akan terganggu kesehatannya." batin Lula.
Kevin ngedumel sendiri, "Mana ada peraturan begitu. Tinggal sebut nama saja apa susahnya sih,"
"Lula, kok kamu diam saja?"
"Eh, enggak kok!"
"Ada yang kamu sembunyikan dariku?"
"Tidak ada." sahut Lula singkat sambil melambaikan tangan.
Lula tahu ini salah, tapi demi kebaikan ia rela berbohong.
.
.
.
Kevin sudah rapi dengan setelan kaos dan celana jean. Penampilan sederhana tapi tetap memberikan efek keren pada pria berhidung mancung itu.
Alula baru saja selesai mengurus administrasi dan menemui suaminya.
"Selamat tinggal rumah sakit, aku sudah kapok kamu kurung di sini." kemudian melihat ke arah istrinya yang baru datang.
"Bagaimana, apa ada masalah?"
Alula tersenyum kecil, "Semuanya beres. Mari pulang!"
Nabil membantu membawakan tas menuju bagasi mobil. Membukakan pintu untuk nyonya Kevin dan Tuan Kevin.
Begitu semua sudah masuk, Nabil menyalakan mesin dan tancap gas.
"Lega rasanya bisa menghirup udara segar." sambil menarik nafasnya. Kemudian pandangannya tertuju pada si sopir. "Nabil, apa perkerjaan di kantor baik-baik saja?"
Nabil yang sedang mengemudi mengangguk, "Tenang, tidak ada masalah selama ada aku!"
"Good job, Nabil. Karena aku sudah keluar dari rumah sakit, aku akan memberikan kamu waktu untuk libur. 4 hari mungkin cukup untukmu. "
Mata Nabil membulat sempurna mendengar ada kabar baik, "Libur? Kamu tak salahkan mengatakan itu?"
"Kamu kira aku ini manusia terbuat dari apa? Aku juga punya hati tahu, mau aku cabut lagi kata-kataku?"
__ADS_1
Dengan cepat Nabil menjawab, "Jangan, aku senang mendengar nya! Aku dan pacar aku akan mengambil liburan secepatnya."
Kevin menatap Nabil dan mulai menggoda, "Pacar? Kamu punya pacar?"
Nabil tak terima jika dia disebut pria tak laku, "Aku pria tampan, sebenarnya banyak wanita yang menyelubungiku, tapi aku mengabaikan mereka."
Alula tak mau ketinggalan dan menyela pembicaraan dua pria di dalam mobil. "Siapa wanita yang berhasil mendapatkan hatimu?"
Nabil melihat Lula melalui kaca spion, "Eum, kamu kenal dia kok!"
"Iya, siapa, katakan, jangan pelit gitu,"
Nabil sedikit malu mengakuinya, dengan lirih dia mengatakan, "Vivi,"
"Vivi?" Kevin dan Lula kompak menyahut.
"Kamu pacaran dengan Vivi, sejak kapan?" Kevin menjadi kepo.
Nabil terdesak tapi dia tak mau mengaku, "Ah, sudahlah, kalian tak perlu mencampuri urusan pribadiku."
Alula tak menolak hubungan mereka dan malah mendukung nya, "Selamat buat kamu, Nabil. Sebenarnya Vivi orangnya baik kok, meski terkadang rada jutek."
Nabil mengangguk membenarkan perkataan Lula.
Tak terasa mobil mereka sudah berada di parkiran rumah Aluwi.
Satria dan Santi sudah menunggu kedatangan mereka.
"Iya Ma, ini semua juga berkat doa Mama." Kevin menepuk punggungnya. Kebahagiaan yang hampir saja hilang.
Satria mendekat dan memeluk putranya, "Selamat atas kesembuhan kamu!"
"Terima kasih Pa!"
Alula juga merasa terharu dengan peristiwa penyambutan ini. Alula mengambil tas dari tangan Nabil. Membawanya masuk.
"Ma, Pa, aku taruh barang -barang mas Kevin ke belakang dulu," pamit Lula.
Santi mencegahnya, "Jangan Lula, kamu nggak boleh bawa barang yang berat-berat! Biar Nabil yang membawanya."
Santi menoleh ke arah Nabil. Untungnya Nabil belum pulang, jadi bisa disuruh -suruh.
Merasa ada yang menyebut namanya, Nabil mendekat. "Ada apa Tante?"
"Nabil, kamu tuh pria, masa tega wanita hamil kamu biarkan bawa barang berat!"
Nabil nyengir kuda dan mengambil alih tas yang diminta Lula tadi, segera membawanya ke belakang.
Santi sudah menyiapkan makanan, "Kalian pasti sudah pada lapar, ayo kita sarapan dulu!"
__ADS_1
"Viona mana Ma?" tanya Kevin yang sejak kedatangannya ke rumah tak melihat adiknya.
"Lagi nginep di rumah teman. Katanya ada tugas kelompok."
Mendengar itu Satria jadi ingat, "Kok Mama nggak melarang Viona, kan bahaya membiarkan anak gadis di luar sana."
"Kan Viona nggak kemana-mana Pa, cuman pamit nginep."
"Tapi tetap saja Mama yang salah, kalau terjadi sesuatu sama Viona gimana?"
Alula dan Kevin saling pandang tak memberi komentar.
Tak lama kemudian Viona muncul dengan suara langkahnya yang khas. "Pagi semuanya!"
"Tuh, anaknya sudah pulang!" tunjuk Kevin menghentikan perdebatan orang tuanya.
"Eh, ada Kak Kevin dan Mbak Viona, Kak Kevin kapan keluar dari rumah sakit?"
"Baru saja tiba."
Satria langsung mencegat Viona saat mau lewat, "Kamu dari mana saja? Pasti keluyuran tak jelas."
"Apaan sih Papa ini, menuduh anak baik-baik dengan yang buruk. Viona tuh semalam begadang bikin ini nih!" Viona menunjukkan miniatur rumah kaca.
Santi membela Viona, "Tuh, iya kan, Papa terlalu negatif thinking!"
Selesai sarapan di kediaman Aluwi Nabil segera undur diri pergi ke kantor. Menyelesaikan beberapa berkas sebelum ia tinggal liburan. Ia bersemangat sekali dan tak lupa juga mengabari Vivi.
Vivi sudah bisa menerima keadan. Dia berkata pada Nabil, "Bisakah Kamu mengantarku untuk menemui Lula?"
"Pasti bisa. Setelah pekerjaan kantor selesai, aku akan menjemput mu."
Nabil merasa senang dengan hati Vivi yang cepat melunak. Jadi ia bersemangat sekali hari ini.
Selesai dengan urusan kantor, Nabil segera mengakhiri pekerjaan nya dan pulang.
Sesampai nya di rumah, Nabil melihat Vivi sedang berbicara dengan kedua orang tuanya.
"Pa, Ma, aku mengakui kalau aku salah di masa lalu. Dan di masa depan aku berharap kalian merestui hubungan ku dengan Nabil."
"Nabil, apa kamu serius, Nak?" Maria memastikan itu.
"Iya, Tante!"
"Syukurlah, kita segera punya mantu Ma!" seru Gibran kegirangan.
Vivi belum selesai dengan kalimatnya. "Dan sekarang aku ingin menemui Lula untuk minta maaf."
Gibran merasa lega mendengar penuturan anaknya dan mendukung sekali.
__ADS_1
Alula merasa kaget dengan kedatangan Vivi, Vivi mengambil tangan Lula dan berkata, "Alula, saudariku, maafkan atas kesalahan baik sengaja atau tidak di masa lalu. Aku mengatakan ini tulus dari hati dan tidak ada paksaan dari orang lain. Bersediakah kamu memaafkan aku?"
Alula terharu mendengar pengakuan ini, ia langsung memeluk Vivi. "Iya, saudariku aku memaafkan kamu."