Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 75


__ADS_3

Semua keadaan menjadi hening tanpa kata. Tak ada sesuatu yang harus diucapkan juga. Orang-orang masih dalam kesedihan yang mendalam. Meski tak ada isak tangis, tapi terlihat jelas di raut muka masing -masing.


Rita dan Dito setelah kematian Arjun mereka jelas tidak memiliki keturunan lagi. Dan satu -satunya pewaris telah tiada. Sebelum mereka kembali ke Bandung, mereka ingin melihat Kevin. Seseorang yang telah menerima bagian tubuh dari putranya.


Meski hari sudah siang, Kevin belum juga terbangun. Pasangan suami istri itu perlahan memasuki kamar Kevin.


"Pa, itu orangnya!" seru Rita sambil menunjuk Kevin.


Dito mengangguk pelan, "Iya Ma,"


Rita membuka bibirnya lagi, "Wajah nya juga tampan, tak kalah dengan putra kita. Meski pun demikian, Alula memilih dia. Dia orang yang beruntung, mungkin ini alasan putra kita memilih dia."


Dito menggosok bahu dan bergumam dengan lirih, "Sudahlah, ini sudah menjadi suratan illahi." Dito seorang pria yang sabar dan bertanggung jawab. Sebisa mungkin ia menerima kenyataan ini. Tapi, siapa yang rela nantinya melihat istri terus-terusan bersedih.


Perlahan Kevin membuka mata, terbangun karena mendengar suara sayup-sayup mereka berdua.


"Eum, siapa kalian?" tanya Kevin setelah sepenuhnya sadar.


Rita dan Dito saling pandang. Bisa saja mereka meminta kembali jantung Arjun, tapi terdengar seperti kriminal saja. Arjun sudah berwasiat jadi ini tidak ada gunanya lagi jika meminta sesuatu yang sudah diberikan.


Rita berdehem, menetralkan tenggorokan nya yang terasa serak.


"Aku Rita dan ini suamiku Dito, kami bukan siapa -siapa kamu. Maafkan atas kelancangan kami yang masuk ruangan kamu dan mengganggu istirahat kamu. Sepertinya kami salah kamar."


Dito memberi isyarat agar segera pergi, Rita dan Dito berbalik namun Kevin menahan mereka.


"Tidak mungkin kalian salah kamar. Sebenarnya siapa kalian?" pertanyaan Kevin membuat mereka berbalik.


Dito dan Rita tidak punya kewajiban untuk memberi kabar tentang jantung siapa yang Kevin gunakan saat ini. Untuk menghindari itu, Dito berbohong. "Kami sedang mencari seseorang untuk kami adopsi menjadi anak kami. Kami kira ini ruangan anak-anak. Ternyata bukan."


"Putraku semata wayang baru saja meninggal dan tanah makam nya masih basah. Aku sangat kehilangan putraku." imbuh Rita yang menahan rasa sesak.


Kevin tersenyum simpul dan sedikit rasa empati pada mereka, "Oh bagitu, semoga kalian segera menemukan kamar anak itu!"


Rita mengangguk, "Terima kasih, semoga kamu juga cepat sembuh!"


Kevin menyahut dengan anggukan.


Rita dan Dito segera pergi meninggalkan Jakarta.


***


Alula sudah siap untuk melepas Arjun selama-lamanya. Ia membuka cermin make up nya dan melihat pantulan dirinya di depan cermin. Memoles wajahnya agar tak terlihat pucat saat menemui suaminya nanti. Namun, kenangan setiap hari bersama Arjun masih sangat melekat membuat Alula menitikkan air mata lagi.


"Arjun, maafkan aku ...!"


Alula menarik nafasnya panjang -panjang dan membuangnya perlahan. "Aku harus segera pergi sebelum mas Kevin curiga." ujarnya yang segera memoles wajahnya lagi.

__ADS_1


Satu jam sudah Alula mempersiapkan diri untuk menemui suaminya.


Santi dan Satria terlebih dahulu mengunjungi Kevin.


"Kevin, kamu sudah sadar?" Santi membelai rambut putra nya dengan penuh kasih.


"Syukurlah, kamu sudah sadar!" seru Satria.


"Iya, Pa, Ma, oh iya, suster bilang saudara Alula meninggal, siapa?" tanya Kevin yang membuat Santi dan Satria saling pandang.


Santi mengulum senyum, "Oh, kami dengar dari ayahnya, hanya saudara jauh, tidak penting juga, sudah, kamu jangan memikirkan itu!"


Santi ketar-ketir juga mau menjawabnya.


Tak begitu lama, Alula membuka pintu dan mendapati kedua mertuanya menjaga Kevin.


"Pa, Ma, maafkan aku datang terlambat."


Santi semakin cemas melihat raut menantunya yang semakin pucat.


"Iya, nggak apa-apa kok!"


"Ma, Alula kan sudah datang, kita cari makan yuk!" ajak Satria yang ingin memberi kesempatan berdua saja pada anaknya.


"Alula, kamu sudah makan?"


Alula menggeleng.


Alula mengangguk lagi.


Santi dan Satria pergi.


Alula mendekat ke arah suaminya.


"Saudara kamu sakit apa?" tanya Kevin menatap kesedihan istrinya.


Alula membelalakkan mata kaget, saudara yang mana yang suaminya maksud kan. Dia tidak memiliki saudara lain selain Vivi.


"Saudara?" Alula mengulang pertanyan Kevin seraya berpikir.


"Iya, suster bilang saudara kamu meninggal."


Alula baru paham, suster sengaja berbohong untuk mengelabuhi suaminya. "Oh, itu, iya benar,"


Lula mengarang cerita tentang saudara, dan Kevin menyimak tanpa banyak bertanya lagi.


"Terus siapa sebenarnya yang mendonorkan jantung untukku?"

__ADS_1


Pertanyaan Kevin ini sangat mudah untuk dijawab, tapi menyampaikan nya sangat sulit dan butuh mental yang kuat.


"Aku tidak tahu." sahut Lula singkat dan saat menjawab ia memalingkan muka.


Walau demikian Kevin perlahan akan tahu pendonor jantungnya tapi tidak harus sekarang ia tahu kebenaran itu. Meski kebenaran adalah hak baginya. Alula dan semua orang akan menjaga rahasia ini sebisa mungkin.


Kevin juga bercerita tentang sepasang suami istri yang baru saja masuk ke ruangannya. "Mereka ingin mengadopsi anak, tapi salah masuk kamar."


Alula tak terkejut dan merespon sewajarnya saja.


"Mereka bilang, anaknya meninggal karena kecelakaan dan baru saja pulang dari makam." imbuh Kevin yang membuat Alula melemas. Bagaimana tidak, cerita itu mirip dengan keadaan yang sedang ia alami.


"Siapa mereka?"


"Namanya, Rita dan Dito."


Dan benar saja Alula langsung terduduk lemas.


Kevin mengusap bahu Lula dan bertanya, "Kamu nggak apa-apa kan? Apa kamu kenal mereka?"


Alula segera menyingkirkan rasa sesak yang akan mengakibatkan dia menangis. Dia tidak boleh menangis di depan suaminya.


"Ti-dak,"


"Lalu kenapa kamu kaget begitu?"


"Mungkin aku terlalu lelah."


"Itu benar. Kamu baru saja pulang dari makam. Sebaiknya kamu istirahat dulu."


Alula mengangguk dan merasa lega, karena suaminya tak curiga.


Ada apa dengan Rita dan suaminya menemui Kevin? Apakah mereka meminta ganti rugi? Begitu saat dokter datang, Lula segera menepis prasangka negatif itu.


Kevin berada di rumah sakit lain, di luar kekuasaan dokter Shodiq. Dokter baru yang menangani Kevin ini adalah teman Arjun, bernama Dokter Afif.


Dokter yang masih single itu memeriksa keadaan Kevin. Kevin dinyatakan sudah boleh pulang besok pagi. Tentu hal ini membuat dirinya sangat senang, selain bisa menghirup udara segar dia bisa lebih menguasi Alula.


Senyumnya yang penuh arti dan hanya dirinya yang tahu, "Terima kasih Dokter!"


Dokter Afif baru saja berbalik menuju pintu keluar, suara Kevin membuat dia berbalik ke arahnya.


"Ya,"


"Bolehkah aku bertanya?"


"Silahkan?"

__ADS_1


"Apakah Dokter tahu siapa pendonor jantung ku?"


Dokter Afif terlihat datar mendengar pertanyaan itu, tapi berbeda dengan reaksi Alula.


__ADS_2