
Karena terjebak macet, Alula tak jadi ke kantor suaminya. Ia ingat kalau susu ibu hamil miliknya tinggal sedikit. Jadi, ia mampir ke indomart untuk membeli produk susu.
Setelah itu ia segera pulang ke apartemen untuk beristirahat. Tubuhnya mendadak mudah lelah dan ingin tidur.
Alula meletakkan hell nya di rak dan berjalan telanjang kaki menuju kamar Kevin. Melempar tas ke samping ranjang lalu menjatuhkan dirinya ke ranjang dengan pelan, mengingat dirinya sedang berbadan dua.
Pikiran nya melayang pada orang tua laki-lakinya yang tergeletak di rumah sakit. Merasa tak tega dan hendak mengakhiri semua ini, namun ia ingat kembali bagaimana dulu papanya memperlakukan dia dan ibunya secara tidak adil.
Memikirkan ini terlalu panjang membuat dirinya tertidur.
***
Nabil kembali ke kantor, membuka pintu ruangan Kevin dan melihatnya sedang melamun.
Nabil berjalan ke arahnya dan mengejutkannya, "Hai!"
Kevin terperanjat dan menoleh kesal, "Sial kamu, mengagetkan aku saja, kalau penyakit ku kambuh kamu mau bertanggung jawab?"
"Sorry Bos, lagian siang -siang begini melamun," Nabil meletakan berkas lalu menarik kursi di depan meja Kevin.
"Sudah selesai?"
Nabil hanya berdehem, awalnya ia ingin menyampaikan tentang kabar mantan pacarnya, Vivi, namun masih tertunda. Melihat suasana hati Kevin, meskipun dia mendengarnya pasti juga tidak akan bereaksi. Secara mereka berdua sudah putus dan tidak ada hubungan apa pun lagi. Dan lagi pula hati Kevin sudah terisi oleh istrinya yang tengah mengandung anaknya. Jadi, Nabil tidak akan menceritakan kalau Vivi ada di rumahnya.
Ketika Nabil akan beranjak, Kevin menahannya dan bertanya, "Apakah kamu punya berita tentang kecelakaan hari ini?"
Mendengar itu, Nabil berpikir sambil mengernyitkan dahinya, "Berita kecelakaan?"
Kevin mengangguk.
"Sepertinya akhir-akhir ini orang-orang takut mati, jadi mereka semua mematuhi rambu - rambu lalu lintas dengan tertib. Dan lagi pula untuk apa kamu memerlukan informasi itu?" selidik Nabil.
Kevin melongo mendengar sanggahan itu, awalnya ia berpikir jika bertanya padanya mungkin mendapat solusi. Ini bukannya solusi malah sebuah ledekan.
Kevin menampakkan wajah murung nya, "Sudahlah, kamu pergi sana!" usirnya kemudian.
__ADS_1
Sebelum Nabil pergi ia menangkap suatu kecurigaan dengan pertanyaan atasannya, dia bergumam dalam hati, "Aneh,"
Kevin mengambil berkas yang Nabil serahkan tadi. Membaca sekilas kemudian mengambil pena. Membubuhkan beberapa tanda tangannya kemudian memberinya stempel perusahaan.
Selesai dari berkas itu, ia meregangkan otot -otot tangan dan mengambil ponsel untuk menghubungi Nabil. Ia meminta secangkir kopi mocca agar tak terlalu suntuk di ruangan nya.
Setelah lima menit kemudian, Nabil datang membawa nampan berisi secangkir kopi. Meletakkan kopi itu di meja seberang sambil berkata, "Aku dengar kopi tidak terlalu bagus untuk penderita penyakit jantung. " kemudian tanpa menunggu reaksi atasannya Nabil berbalik dan pergi.
Kevin menatap cangkir itu. Memikirkan perkataan Nabil, "Setidaknya sedikit saja pasti tidak masalah." Dia bangkit menuju meja do seberang. Tangan nya terulur menarik cangkir dan menyeruput nya beberapa, setelah itu meletakkan kembali. Rasa kantuknya sedikit memudar. Ia menarik laci dan mengeluarkan beberapa dokumen dan mempelajarinya.
Tak terasa waktu sudah sore. Ia segera mengemasi beberapa lembar pekerjaan dan akan membawanya pulang.
Alula menikmati tidur siangnya dan baru terbangun setelah merasa ada yang menyentuh pipinya.
"Sudah bangun?" Kevin mengangkat kepala, barusan dia mencium pipi Alula.
Alula menggeliat dan bangkit perlahan, "Aku seperti seorang bayi, tidur sangat pulas sekali, bahkan aku tak mendengar kamu pulang."
Kevin tersenyum sambil membelai rambut istrinya, "Sudah sore, pergilah mandi!"
Sebelum Alula turun dari ranjang, Kevin menarik tangan Lula dengan cepat hingga Lula berbalik.
Alula melihat tangannya, "Ada apa?"
Kevin memperlihatkan senyum nakal nya, "Aku janji tidak akan melakukan itu sering -sering. Bagaimana kalau kita mandi bersama."
Alula bengong mendengar permintaan suaminya, "Mandi bersama?"
Kevin mengangguk yakin.
Alula benar -benar sangat malu. Ia melepaskan tangannya dari pegangan Kevin dan menuju kamar mandi. Setelah tiba di muka pintu, Alula berbalik dan berkata, "Katanya mau mandi bersama, jadi tidak, kalau tidak jadi aku segera tutup pintu nya!"
Mendengar Alula berkata tanpa penolakan, Kevin merasa menang dan berjalan cepat ke arahnya, "Tentu saja jadi."
Kevin menatap lekat istrinya, "Kenapa dilihat in terus?" Alula menunduk menyembunyikan wajah merahnya.
__ADS_1
"Kamu sangat cantik."
"Tentu saja, aku kan perawatan. Coba bayangkan jika aku Alula yang dulu, gendut dan jelek. Kamu pasti tidak akan berkata demikian."
Kevin tak menyangka jika mendengar jawaban seperti itu. Padahal niatnya tadi sekedar memuji bukan mengejek. "Maksud aku bukan begitu, kamu memang sudah cantik tapi butuh beberapa sentuhan seperti ini." Kevin mengecup bibir merah istrinya.
Membuat Lula berhenti menyangkal. Memukul dada bidang suaminya hingga Kevin melepaskan dan terbatuk.
Alula panik, ia tak sengaja melakukan ini, "Maaf, aku tak bermaksud menyakiti kamu!"
Kevin terus terbatuk dan mengangkat tangan sebelahnya, "Aku tidak apa-apa, sepertinya acara mandi bersama kita lakukan lain kali saja. Aku keluar dulu."
Kevin menarik handel pintu dan keluar.
"Mas Kevin!" panggil Lula namun keburu pintu tertutup kembali.
Alula merasa bersalah karena merusak suasana hati suaminya.
Kevin lupa belum mengkonsumsi obatnya. Ia segera mengambil tas dan mencari obatnya di kamar. Namun tak ketemu, "Di mana obat ku?"
"Pasti tertinggal di kantor." Ia segera mengambil kunci mobil tapi terjeda sesaat. Ia bergumam lagi, "Tidak mungkin aku mengambilnya, Alula pasti curiga." Kevin kembali masuk ke dalam kamar.
Alula telah selesai mandi dan mendapati suaminya sedang menunggunya di meja makan. Mengayunkan tangan memanggil Lula, "Makanlah dulu, sengaja aku memesan makanan tadi saat kamu mandi!"
Alula tersenyum dan merasa tersentuh dengan sikap lembut suaminya yang amat dirindukan, "Iya, kamu mandi lah dulu, biar aku yang menyiapkan makan malamnya."
Kevin mengangguk dan bangkit, saat akan menuju kamarnya, Alula memanggil namanya. "Mas Kevin, maaf kan atas sikapku tadi, tidak seharusnya aku menyinggung kamu."
Kevin paham dan tidak marah, melambaikan tangan dan berkata, "Sudahlah, aku sudah melupakan tadi! Lagi pula itu juga tidak penting."
Selesai mandi dan makan malam keduanya sibuk dengan urusan pribadi masing -masing.
Alula menuju meja riasnya untuk mengenakan sceencare dan peralatan kecantikan lainnya. Setelah beberapa menit melepas masker, tampak wajahnya yang cantik terlihat lebih glowing. Dan meratakan handbody ke tangan dan kakinya.
Melihat suaminya menyalakan laptop, Alula menemaninya dengan rebahan di pinggir ranjang. Sesekali Kevin menatap istrinya yang sangat cantik malam ini. Karena sibuk, Kevin seharian ini tak mengkonsumsi obatnya.
__ADS_1