Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 15


__ADS_3

"Aneh, tak seperti biasa dia mengurung diri di kamar kalau sedang marah. Apa aku cek saja ya dia di kamarnya, ah nanti justru dia yang kegeeran." Alula mengurungkan niatnya dan langsung masuk ke kamar, mandi dan merapikan diri. Setelah magrib, Lula baru keluar kamar teringat dengan nasi goreng yang baru saja ia beli sore tadi.


"Yah, sudah dingin, aku hangat kan lagi aja," Lula membuka dua bungkus wadah dan menuangnya ke wajan kecil.


"Tumben dia tak keluar kamar, biasanya kalau aku tengah masak dia muncul." Selesai menghangat kan nasi goreng, dia menaruhnya di piring. Satu untuk si playboy dan satu untuk dirinya.


"Hm, nasi goreng ini enak banget, aku makan ah!" suara Lula sengaja ia tinggi kan agar si playboy mendengarnya dan segera keluar. Tapi sudah sepuluh menit Lula menunggu, Kevin tak muncul juga.


"Ah, aku makan sendiri saja, keburu laper!" dengan kekuatan super yang ia miliki, belum ada satu menit piring nya sudah bersih.


"Alhamdulillah, kenyang," ujar Lula mengusap perutnya yang buncit.


Merasa tak tega, Lula pun berjalan menuju pintu kamarnya. Mengetuk beberapa kali namun tak ada sahutan.


"Ih, nyebelin banget, minta di gedor pintu ini!" omel Lula dengan melengkingkan suaranya.


"Kamu kenapa tak keluar kamar, marah, hah?"


Lula mondar mandir di depan pintu sampai sepuluh kali putaran. Merasa ada yang janggal, Lula pun mendobrak pintu itu. Ternyata tak di kunci, jadi dia bisa masuk dengan mudah.


Kevin terlihat meringkuk di atas kasur berselimutkan kain tebal.


"Eum, ada apa denganmu?" Lula awalnya mengira Kevin hanya iseng ingin mengerjai dia. Namun, setelah mendekat dan mengecek keadaannya Lula tahu kalau Kevin sedang tak enak badan.


Kening Kevin terasa sangat panas, bahkan telur ayam pun jika diletakkan di sana akan cepat matang.


"Kamu demam?" Lula menurun kan tangannya setelah meraba dahinya.


Kevin tak menyahut karena dia memejamkan mata. Merasa ada suara seseorang yang kini melekat di hati nya, Kevin akhirnya membuka mata meski terasa berat.


"Lu -la," suara Kevin terdengar berat dan parau. Dia menggeliat, Lula membantu dia menyandarkan tubuhnya pada dipan. Wajahnya tak setampan biasanya, terlihat pucat dan bibirnya kering.


"Kamu sudah minum obat?" Kevin menggeleng.


"Aku tak tahu kalau kamu sedang sakit, mengapa tak memanggil ku?" Lula merasa kesal dan bersalah, sebagai istri plus pembantu seharusnya ia lebih peka.


"Bagaimana bisa aku memanggilmu, kamu sedang marah padaku." suara Kevin melemah.


Alula tak menyahut, sejujurnya benar kalau suasana hatinya sedang tak bahagia. Dia keluar kamar dan kembali dengan membawa baki berisi satu porsi nasi goreng dan teh hangat.

__ADS_1


"Makanlah dulu, setelah itu minum parasetamol atau mungkin aku mengantarmu ke rumah sakit!"


Kevin menggeleng, "Aku tak suka mencium bau rumah sakit."


"Ya sudah, nih!" Lula mendekatkan piring, dengan tangan sedikit bergetar Kevin menerimanya. Hampir saja piring itu jatuh, Lula sigap menahannya.


"Kamu nggak kuat, sini biar aku yang suapi, tapi jangan geer, ini rasa sebagai makhluk sosial!" ujar Lula sedikit menahan malu. Jujur saja, ini kali pertama dia menyuapi pria terlebih pria yang sedang meringkuk ini adalah suami yang dulu sangat ia idolakan.


Meski terasa sakit semua badannya, Kevin masih bisa tersenyum tipis.


"Kenapa kamu tersenyum?" ucap Lula saat menatap Kevin yang mengunyah makanan.


"Kamu baik,"


"Baru tahu, kalau aku ini orangnya baik dan tidak sombong?"


Kevin tersedak mendengar penuturan Lula, spontan Lula meraih gelas dan menyodorkan ke mulut nya. Seketika itu juga, tangan mereka bersentuhan.


Lula yang merasa grogi ingin menarik tangannya, namun Kevin belum puas untuk minum. Sudah seharian ini tenggorokannya kering bak pandang pasir. Setelah puas minum, Lula meletakkan kembali gelas itu.


"Haus banget ya?" Lula kembali menyendokkan nasi goreng. Kevin hanya mengangguk, dia sedang menikmati suapan demi suapan yang diberikan Lula. Meski terasa pahit di lidah namun terasa manis di hati.


"Tidurlah, aku akan kembali ke kamarku dan beristirahat! Besok aku harus kembali ke lokasi syuting." Lula beranjak dan belum sempat pergi tangannya tertahan Kevin.


Seketika itu Lula menoleh menatap tangannya dan memindai ke arah suaminya.


"Lula, terima kasih untuk hari ini. Bolehkah kita tidur dalam satu kamar?" pinta Kevin tanpa rasa malu dan sedikit menurunkan egonya.


Lula terperangah, mau menolak rasanya sulit. Bukankah ini yang selama ini ia harapkan? Menjadi pasangan suami istri yang harmonis.


"Tenang saja, aku tidak akan meminta hak ku kok, sampai benar -benar kamu menyerahkan sendiri padaku." sambung Kevin.


"Aku tidak yakin itu, sejauh ini aku tak merasakan apa pun lagi padamu." ujar Lula, sengaja dia mengatakan itu untuk melihat reaksi suaminya menanggapi dia.


"Aku akan sabar menunggu sampai hatimu luluh lagi padaku. Maaf,"


"Maaf untuk apa?"


"Atas sikap ku yang kasar selama ini."

__ADS_1


"Sudahlah, cepat tidur! Aku sudah sangat lelah." Lula meski sedikit grogi naik ke atas ranjang dan berbaring membelakangi Kevin.


Kevin tersenyum puas, beruntung sekali jika dia sakit. Lula begitu memperhatikannya meski dalam bentuk kecil, bagi Kevin itu adalah sebuah celah untuk memperbaiki hubungannya yang mulai retak.


Lula dengan cepat memejamkan matanya. Hari ini pertama kali bekerja begitu menguras tenaga nya.


Kevin tak tidur lagi, seharian tidur membuat dia terjaga malam ini. Selimut yang menutupi kakinya, ia tarik hingga menutupi tubuh Lula. Matanya tak jemu -jemu memandang wajah cantik istrinya.


"Ternyata dia sangat cantik, beruntung mama menikah kan aku dengannya." Kevin memegang dahinya, demamnya sudah lumayan turun. Dia beranjak ingin mengganti pakaian setelah itu kembali tidur.


"Selamat tidur permadani cantikku!" Kevin mengecup sekilas dahi Lula. Takut ketahuan, Kevin pun langsung memejamkan mata.


Keesokan paginya, Lula dikejutkan dengan pemandangan yang indah. Kevin memeluknya begitu erat bak guling. Perlahan Lula mengangkat tangan Kevin dan setelah terlepas, Lula segera ke kamarnya.


Selesai masak dan menyiapkan sarapan serta obat, Lula langsung berangkat ke lokasi syuting.


Saat berada di depan apartemen, Lula dikejutkan dengan sosok yang menyentuh pundaknya dari belakang.


"Kamu mengejutkan aku!" pekik Lula saat membalikkan badan melihat sosok itu adalah senior nya, Kiki.


"Nyonya Alula Farhah, kamu berhati baik dan cantik." ujar Kiki tulus dari hati.


"Iya, semua orang juga mengakui itu." sahut Lula sedikit jutek.


Kiki langsung bersimpuh di kaki Lula, membuat Lula risih.


"Apa-apaan ini, lepaskan tanganmu dari kakiku!" hardik Lula tak suka.


"Nyonya Lula, aku sudah sangat lama bekerja sebagai office girl dan kamu sebagai anggota baru pasti sangat tak suka dengan sikap ku. Sebenarnya aku iri dengan pribadimu yang energik, kedatanganku kemari untuk meminta maaf padamu. "


"Iya, tapi bukan seperti ini caranya, berdirilah!" Kiki menatap Lula, lalu berdiri dibantu Lula.


"Aku tak mau kehilangan pekerjaan ku, aku menyesal atas sikapku yang kasar padamu. Aku akan melakukan apa pun asal kamu mau memaafkanku."


"Sungguh, apa pun?" Lula tak percaya bisa menyuruh Kiki, seniornya yang super galak itu.


"Apa pun!"


Lula tersenyum lalu pergi. Kiki merasa lega bisa mendapatkan maaf darinya. Kiki kembali ke kantor. Sikap nya menjadi lebih ramah terhadap semua rekannya.

__ADS_1


__ADS_2