Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 16


__ADS_3

Kevin menggeliat, didapati istrinya sudah tak ada di sana. Karena pengaruh obat dia tidur nyenyak sekali hingga tak tahu kalau hari sudah pagi. Matanya melirik jam di dinding, jarum pendek menunjukkan angka 6.


"Ah, aku seperti bangun dari mimpi saja. Aku ingin malam ini dia tidur lagi di sini. Hihihi ...." kelakar Kevin seraya beranjak. Dia keluar kamar sekedar bertanya pada Lula, namun yang dicari ternyata sudah pergi.


"Sepertinya dia sangat sibuk, bekerja apa dia di sana, aku jadi penasaran?" ujarnya seraya mengusap perutnya yang keroncongan. Berharap mendapat makanan pagi ini. Kevin membuka tudung saji dan benar saja, ada makanan semangkuk bubur nasi yang masih terasa hangat.


Lula menulis pesan di selembar kertas.


...Maaf, aku harus berangkat pagi. Ini ada bubur nasi yang agak lembek, jika kamu tak suka jangan dimakan!...


Kevin tersenyum setelah membaca tulisan Lula. Jujur saja meski tak suka dengan makanan lembek karena yang membuat adalah istrinya, ia segera mengambil sendok dan memakan bubur nasi.


Setelah selesai mandi dan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggang, ia dikejutkan dengan kedatangan Vivi.


"Astaga, kamu mengagetkan aku saja!" pekik Kevin seraya melotot.


"Sayang, aku kangen banget sama kamu!" Vivi hendak memeluk tubuh Kevin yang masih basah.


"Berhenti kamu di situ!" tolak Kevin seraya menunjukkan telapak tangannya.


"Jangan munafik kamu, setelah malam panas yang sering kita lalui, apa sekilas kamu mengingatnya, tentu tidak kan? Betapa lihainya aku memuaskanmu, dan sekarang kamu menyuruhku untuk berhenti setelah aku memberikan kenikmatan padamu. Kamu lebih memilih pembantu itu ketimbang aku."


"Sudah ku katakan padamu kalau kita sudah putus. Kamu mendengar atau tuli, hah! Keluar kamu dari sini!" bentak Kevin. Vivi amat kesal dengan penolakan Kevin. Padahal dulu setiap Vivi menyuguhkan bagian tubuhnya yang tertutup, Kevin langsung merespon dan mengajak nya tidur. Kali ini penolakan Kevin sungguh membuatnya marah. Vivi sangat ambisius, dia sudah mempersiapkan hal buruk yang akan menimpanya. Dia mengalah tapi untuk menyusun rencananya agar Kevin kembali dalam pelukannya.


"Kamu mengusirku, Sayang? Kamu lupa jika kita terikat dengan kontrak perjanjian?" Vivi mengeluarkan map dari dalam tasnya.


Kevin mengernyitkan dahi seolah mengingat apa saja yang pernah ia janjikan pada Vivi.


"Bacalah, dengan begitu kamu akan kembali paham! Mungkin kebersamaan mu dengan pembantu itu membuat kamu melupakan segalanya." ucap Vivi dengan penuh penekanan.


Kevin menerima dan membaca sekilas isi dalam map itu.


Aku Kevin Aluwi yang dalam keadaan sadar telah berjanji untuk menikahi Vivi Mustika Sari. Dan apabila melanggar janji itu, aku sebagai CEO di PT CAHAYA INDO LESTARI akan kehilangan aset perusahaan sebesar 75 persen.


"Bagaimana, Sayang, kamu mengingat itu kan?"


"Sial, mengapa aku begitu bodoh sampai bisa diperalat begini. Jika aku kehilangan sebagian aset perusahaan, papa pasti akan membatalkan kontrak kerja denganku. Aku akan bangkrut. Dan jika itu terjadi, Lula pasti akan lebih mudah meninggalkan aku dengan cepat. Bagaimana ini?" gumamnya dalam kegundahan.


Satria, ayah Kevin memiliki perusahaan sendiri yang cukup besar juga. Kevin sudah lima tahun ini mengelola cabang perusahaan ayah nya dan belum pernah mengalami kegagalan. Jika Satria tahu tentang aset yang Kevin obral, pasti dia takkan hidup lama. Satria sangat tegas dan disiplin, ia tak mendidik putranya untuk hidup dalam bergelimang harta. Jadi Satria meminta Kevin untuk berdiri sendiri.


Bagai makan buah simalakama, Kevin tampak murung dan mencoba mencari solusi dari masalah yang ia timbulkan sendiri.


"Beri aku waktu untuk berfikir!" ucap Kevin datar.

__ADS_1


"Baik, jangan terlalu lama, aku mudah bosan menunggu!" Vivi berjalan mendekat dan sekilas mengecup pipi Kevin. Kevin sendiri tak merespon, pikirannya melayang memikirkan kehidupan kedepannya tanpa Alula yang bagaikan permadani itu.


Kevin menghubungi Nabil untuk mengurus pekerjaannya yang terbengkalai kemarin akibat tak enak badan.


Langkah pertama yang ia lakukan adalah menemui Siska. Kevin mengirim pesan pada Siska untuk bertemu di cafe tempat biasa nongkrong.


" Apa kamu mengajak ku untuk membahas pernikahan kita?"


"Tidak akan ada pernikahan di antara kita."


Siska mengernyitkan dahi heran dengan keputusan Kevin yang sepihak. Mencoba sebisa mungkin untuk tenang, Siska meneguk minuman dinginnya.


"Beri satu alasan padaku, mengapa kamu menghancurkan harapanku yang begitu tinggi?"


Siska adalah seorang bidan yang sangat cantik, kadangkala dia juga bisa bersikap bijaksana.


"Aku sudah menikah." satu kalimat terlontar dari mulut Kevin yang membuat hati Siska teriris sembilu.


"Beruntung sekali wanita itu, apakah punya dia lebih besar dan menggoda dari pada aku?" Siska masih tampak tenang, padahal hatinya sedang tak baik-baik saja.


"Sekali pun aku belum pernah menyentuhnya."


"Lalu?"


"Kamu dengan mudahnya berkata demikian tanpa menanyakan bagaimana perasaanku sekarang. Kevin, aku sangat mencintai kamu tanpa peduli apa pun statusmu."


"Maaf kan aku, Siska. Aku harus pergi untuk menjemput istriku." pamit Kevin dan segera meninggalkan cafe.


Di lokasi syuting, Alula didandani begitu cantik. Aura nya terlihat seperti bintang besar.


Dia mulai berakting. Tak butuh waktu lama satu season pun selesai. Sutradara meminta semua kru untuk istirahat.


"Alula, sungguh luar biasa! Kamu hari ini sangat energik dan semangat. Aku suka dengan cara kerjamu!"


"Terima kasih Om Yuda, aku hanyalah pemula tentu butuh pembelajaran yang lebih banyak dari para senior. Jadi, jangan sungkan untuk mengeritik dan menegur ku jika aku salah."


Sutradara itu mengangguk dan tersenyum.


Setelah istirahat selesai, semua kru kembali bekerja.


Sementara Kevin sudah berada di lokasi syuting, mencari sosok Lula namun tak ketemu. Kevin belum tahu kalau Alula menjadi artis.


Kali ini ada adegan mesra, Lula sedang berakting dengan seorang aktor, ia ingin mencobanya meski ia sendiri tak tahu seperti apa.

__ADS_1


Sang aktor mulai memegang tangan dan sedang beradegan memarahi lawan main. Setelah bertengkar pemain akan saling memaafkan dan berpelukan.


Kevin seolah mendapat hantaman batu dari atas gunung. Tak menyangka pemain wanita itu adalah Lula, istrinya. Kevin sempat pangling dengan riasan wajahnya. Rasa cemburu menyergap hatinya. Kevin mengepalkan tangan dan meremas dengan tangan satunya.


Alula menyadari kalau Kevin ada di sana, dia semakin tak ragu lagi beradegan di depan layar mencoba membalas sakit hati pada suaminya yang dulu pernah mengumbar kemesraan di depannya. Alula tampak lihai berakting. Bahkan dia tidak keberatan jika ada adegan bermesraan lagi.


Selesai season kedua, Alula tampak mengeluarkan peluh karena matahari sungguh terik.


Kevin langsung menyambar tangan istri nya.


"Lula, ku kira kamu bekerja apa di tempat ini? Nyatanya kamu malah bermesraan dengan pria lain!" umpat Kevin tak suka kalau Lula menjadi artis.


"Apa urusanmu?"


"Jelas ini menjadi urusanku sekarang, aku ini suamimu dan berhak melarang kamu untuk keluar dari pekerjaan ini!"


"Cih, kamu lupa dengan perjanjian kita? Dilarang mengurusi privasi! Lebih baik kamu urus semua pacar kamu sana!" usir Alula tegas.


"Aku sudah putus dengan Vivi, Lula,"


"Siapa bilang pacar kamu hanya Vivi, lalu Siska dan Intan kamu kemanakan?"


Sebelumnya, Alula sudah tahu siapa saja wanita yang dekat dengan suaminya ini melalui Emi.


"Aku sudah tidak ada hubungan apa pun dengan mereka. Jadi, ayo kita pulang!" ajak Kevin seraya mengulurkan tangannya.


Alula membuang muka, cuek dan tak peduli.


Yuda datang mendekat dan meraih tangan Kevin.


"Perkenalan saya adalah Yuda Syarief. Saya sutradara di sini. Terlihat Anda sedang menganggu aset berharga saya. Siapakah Anda?" tanya Yuda yang merasa kehadiran Kevin membuat mood Lula berubah.


"Kevin Aluwi, suami dan sekaligus pemilik aset berharga yang Anda banggakan." sahut Kevin yang tak suka dengan om-om di depannya.


"Oh, saya baru tahu dari dekat, Anda pernah membintangi iklan sampo kan?" Kevin hanya mengangguk, seolah obrolan dengan pria di depannya tidaklah berharga.


"Saya tidak suka istri saya beradegan mesra seperti tadi." sambung Kevin yang langsung pada intinya. Seketika Lula menoleh menatap suaminya.


"Alula saja tak keberatan kenapa Anda justru melarangnya?"


"Iya, kamu ini tahu apa, sana cepatlah pergi, aku gerah terlalu lama di sini!" pekik Lula yang secara intinya mengusir Kevin.


Kevin seperti hilang harga dirinya, dia pun beranjak dan pergi.

__ADS_1


__ADS_2