Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 67


__ADS_3

Alula menatap lekat dokter itu dengan kecemasan yang tinggi. Meski kedua mata bertemu, namun Shodiq mendesah pelan seraya membuka bibirnya, "Saudara Kevin beruntung masih bisa tertolong. Jika Anda telat satu menit saja, saya sudah angkat tangan untuk menanganinya."


"Apa ada yang serius dengan luka yang dialami suami saya, Dok?"


Dokter Shodiq menggeleng, seharusnya ia bisa berkata jujur dengan keadaan kevin yang memburuk, tapi karena permintaan Kevin, dia menurut saja dan mengatakan kalau Kevin baik-baik saja.


Mata Alula berbinar, "Jadi, suami saya selamat?"


Dokter itu mengangguk dan membuka bibirnya lagi, "Baiklah, karena keadaan saudara Kevin sudah membaik, saya tinggal dulu untuk memeriksa pasien yang lain. "


Dengan cepat Alula menyahut, "Terima kasih Dokter!"


Kemudian Alula mendorong pintu masuk ruangan Kevin, begitu pula Arjun mengikutinya dari belakang.


Kevin sedang tertidur sekarang. Terdengar dengkuran halus dari mulut nya.


Arjun menepuk pundak Lula dan menghiburnya, "Kevin tidak apa-apa, dan sekarang biarkan dia istirahat dulu. Kamu ku lihat belum makan sejak siang tadi, kasihan bayi kamu jika kelaparan. Ayo kita keluar cari makanan!"


Sebenarnya Lula merasa berat untuk meninggalkan suaminya dan lebih memilih untuk menemaninya. Tapi, karena dia sudah berbadan dua dan harus mencukupi semua kebutuhan kehidupan di dalam perutnya , terpaksa ia menurut ajakan Arjun.


Alula mengangguk pelan. Sebelum Lula menutup pintu, ia menoleh ke arah Kevin. Memperhatikan lalu berharap, kalau semua ini akan baik-baik saja. Mereka berdua keluar dari rumah sakit menuju warteg.


"Kamu mau makan apa, Lula?" Arjun memperhatikan menu dan melirik Lula.


Pandangan Lula tertuju pada ikan lele. "Aku mau makan pecel lele." sahutnya kemudian. Air liurnya seakan menetes kalau saja ia tak segera menutup mulutnya.


Entah mengapa, sejak hamil ia pingin banget makan lele. Dan kali ini baru terpenuhi.

__ADS_1


Arjun menemui penjual dan memesan makanan.


"Kamu mau minum teh panas?" tawar Arjun yang mengetahui kesukaan Alula.


Alula menggeleng cepat, mengangkat kedua tangan dan menggoyangkan nya, "Tidak, air putih saja. Dokter bilang, air teh tidak bagus untuk seseorang yang sedang mengandung." ujar Alula memberitahu.


Arjun mengangguk paham dan segera memesan minuman.


Selesai mengisi perut mereka kembali ke ruangan di mana Kevin di rawat.


Alula membelalakkan mata tatkala melihat suaminya meregang merasakan sakit di bagian dada.


"Mas Kevin, kamu kenapa Mas!" pekik Alula dengan panik.


"Ada apa Lula?" tanya Arjun yang segera berlari ke arah Lula.


Arjun melihat sendiri kondisi Kevin, "Jangan panik, aku akan memanggil dokter!" kemudian dia berlari keluar.


Kevin menjerit kesakitan sambil menekan dadanya, "Aarggkk!"


"Bertahanlah Mas!" Alula semakin panik.


Dokter seketika datang, "Permisi!"


Alula menggeser posisinya dan suster


menuntun dia agar menunggu di luar.

__ADS_1


Dokter segera memeriksa keadaan pasien. Serta memastikan kalau dia harus mendapatkan donor jantung secepatnya jika ingin selamat.


Di luar kamar, Arjun menenangkan Lula yang masih menangis. "Tenanglah, semua akan baik-baik saja!"


Alula masih terisak, "Aku tak tahu, sebenarnya apa yang terjadi padanya ? Preman -preman itu hanya memukulnya, tidak mungkin jika mengalami rasa sakit seperti yang kamu lihat tadi."


Arjun sendiri jadi bingung ingin memberi tahu Lula tentang penyakit jantung yang Kevin derita, tapi lidahnya terasa kelu.


Alula menyeka air matanya, dan tak lama dokter bersama suster ke luar.


"Apa yang terjadi Dok? Bukankah tadi Dokter bilang suami saya baik-baik saja. Lalu kenapa tiba-tiba suami saya merasakan seperti kesakitan yang luar biasa?" tanya Alula sambil menyorot tajam.


Dokter Shodiq sudah tak bisa menyimpan rahasia ini, dia menarik nafasnya dan menghembuskan kasar. "Sebenarnya ini sudah lama terjadi. " Dokter itu menggantung kalimatnya.


Alula jadi semakin tak mengerti, namun ia berpikir biasa saja.


Kemudian dokter Shodiq membuka bibirnya, "Saudara Kevin mengalami gangguan jantung. Dan hidupnya sudah tak lama lagi.


Mendengar itu Alula sangat kaget. Matanya membulat, urat -uratnya seakan ingin putus, bahkan jantung nya hampir berhenti berdetak.


Ia menyusur ke lantai jatuh terduduk , "Tidak ...!!"


Arjun menghambur ke arah Lula. Mencoba menenangkan. "Alula, kamu harus kuat. Tidak selamanya perkataan dokter itu benar. Dia bukan malaikat maut, yang seenaknya memvonis hidup orang. Aku menjamin kalau Kevin akan segera sembuh."


Alula seakan tuli mendengar, tatapannya kosong. Mengapa kebahagian yang baru saja ia rasakan tiba-tiba harus terengut seperti ini.


Air matanya jatuh dan tangisannya pecah. Ia berdiri dan menuju ranjang Kevin. "Kenapa Mas Kevin melakukan ini padaku? Tahu kah engkau jika sebentar lagi kita berdua akan menjadi sepasang orang tua yang paling bahagia di dunia ini. Tapi mengapa kamu malah ingin pergi dariku Mas!"

__ADS_1


Tak lama setelah mengatakan itu, Alula pingsan dan hampir saja jatuh jika Arjun tak segera menangkapnya.


__ADS_2