Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 6


__ADS_3

Meski peluh bercucuran, Alula tetap mencoba untuk bersikap tenang. Ia merasa ada mata yang mengamati. Kevin mengalihkan pandangan tatkala Lula menatap ke arahnya.


"Pasti dia sedang mencurigai aku dengan sikapku seperti ini. Aku memang sangat sulit menghindari gangguan Bulimia Nervosa ini, namun aku akan tetap mencoba untuk rileks saat makan." Gumam Lula dalam hati.


Untuk menetralkan suasana yang terasa canggung Lula pun membuka obrolan.


"Ma, masakan Mama sungguh enak! Lain kali aku diajari cara membuatnya ya ...." Alula menyudahi makannya, mengambil tisu dan mengusap pelan mulutnya.


"Benarkah, padahal tadi kebanyakan loh kasih garamnya. Kamu suka?" balas Santi yang juga sudah selesai makannya.


Alula mengangguk, "Meski aku tak pandai memasak setelah belajar pasti bisa." Lula tersenyum mendapati respon mertuanya yang kalem itu.


"Bagaimana kalau kalian menginap saja malam ini, jadi besok mama bisa ajarkan kamu memasak?"


Lula tentu sangat senang mendapat tawaran seperti ini, dari pada di apartemen hawanya kesal melulu mending dia di sini bisa belajar masak. Tapi berbeda dengan Kevin, seakan dia ingin berkata tidak mau, dan jika berani membangkang tahu sendiri akibatnya, mamanya sangat suka sekali mengancam. Kevin memutar otak untuk menolak.


"Tapi Ma, sepertinya Kevin nggak bisa, besok ada acara pagi sekali. Jarak rumah ke kantor lebih jauh, beda kalau aku berangkat dari apartemen."


"Ya kamu pulang sendiri saja, aku mau kok menginap di sini!" usir Lula secara halus.


"Hore, Mbak Lula nginep di sini, entar bantuin aku mengerjakan PR ya," Viona terlihat antusias sekali. Jujur adiknya Kevin ini sangat menyukai sosok Lula yang baik dan sabar, idaman dia sejak dulu punya kakak perempuan.


Seketika mata Kevin melotot tak suka dengan perkataan adiknya. Seakan kedatangan Lula adakah berkah bagi keluarganya.


"Hei, anak kecil, kerjakan saja sendiri tugas kamu!" bentak Kevin pada adiknya.


"Loh, aku ini sudah SMA lo, masa tetep dipanggil anak kecil, Syifa kali ...." balas Viona tak mau kalah.


Kedua kakak beradik itu terlihat tak akur tapi sebenarnya mereka saling menyanyangi, cuman semenjak kehadiran Lula membuat Kevin iri akan kehangatan keluarga saat ini. Santi begitu menyanyangi Lula, begitu pula Viona.


"Yang dikatakan Lula benar juga, Kevin, kamu kan sangat sibuk sebaiknya kamu pulang saja tak apa. Sebelumnya antar istrimu ke kamar, pasti dia sangat lelah." ujar Santi yang begitu paham betul.


Mendengar tuturan mamanya seketika hati Kevin memanas, dia benar -benar sudah diabaikan.


"Mama mengusirku?"


"Loh, bukannya kamu sendiri yang bilang tadi sibuk." Santi beranjak meninggalkan meja makan.


"Sini Ma, biar aku saja yang bawa piringnya!" Lula berdiri sambil membawa piring kotor. Sekilas dia mencibirkan mulut ke arah suaminya.


"Nggak usah, ada bi Surti yang akan membereskan semua. Kamu kalau capek istirahat saja di kamar. Kevin, ajak istrimu ke kamar!" Santi menahan pergerakan tangan Lula dan menyuruhnya untuk duduk kembali.


Mata Kevin sering kali membulat, ia tak bisa membayangkan jika harus tidur sekamar dengan si Gendut, oleh karena itu dia beralasan.


"Ayo, ku antar ke kamar!" mendengar penuturan Kevin yang lembut dan jarang sekali Lula temui membuat Lula bengong.


"Lula, kamu dipanggil Kevin tuh!" Santi membuyarkan lamunan Lula yang sesaat.


"I-iya Ma!" Lula pun berdiri mengikuti langkah Kevin.


"Entar jangan lupa temeni Viona belajar ya Mbak!" Viona mengingatkan. Alula membalikkan badan dan tersenyum.


Sesampainya di kamar Kevin.


"Wah, kamar kamu besar banget! Ada foto David Beckham!" sontak Alula ingin meraba poster besar di dinding.


"Is, norak banget kamu!" tangan Kevin berhasil menarik tubuh Lula hingga mundur beberapa langkah.


"Jangan pegang-pegang barang pribadiku! Dan kamu enggak usah kegeeran, aku bersikap baik padamu hanya di depan mama."


"Siapa juga yang kegeeran, lagian aku juga merasa nyaman jika tinggal di sini. Ada mama dan Viona. Dari pada di apartemen, sepi kayak di kuburan."


"Kamu ya sekarang sudah berani melawanku, senang sudah jadi perhatian, merebut mama dariku." Kevin cemburu sekali, dia baru kali ini merasakan kasih sayang mamanya berkurang.


"Aku capek, mau rebahan dulu!" tanpa menghiraukan lagi teriakan suaminya Lula langsung menjatuhkan bobot tubuhnya di kasur yang super lebar itu.


"Tidak ...! Kamu tak boleh tidur di sini!" Kevin mengepalkan tinju ke udara.


Teringat dengan ajakan Viona untuk belajar, Lula pun segera bangkit.


"Entar aja deh, aku keluar dulu!" Lula melewati Kevin yang berdiri mematung. Kevin segera mengkondisikan dirinya.

__ADS_1


Sementara Viona sudah memulai membuka buku catatannya, menyalin soal dan mulai menjawabnya. Hampir separuh sudah ia kerjakan dan sisanya ia mengalami kesulitan.


"Viona, nih cemilan buat kamu!" Lula datang menyodorkan beberapa snack dan menyimpannya di atas meja.


"Terima kasih Mbak!"


Mereka pun sibuk belajar.


Kevin membuka laptopnya dan mengerjakan tugasnya yang tertunda tadi. Sudah tiga jam dia berjibaku di kamarnya, merasa tenggorokannya kering dia keluar kamar.


Sepasang wanita tengah tertidur dengan kedua lengan sebagai bantalan.


Meski sedikit resek dengan Viona, tak tega juga melihat adiknya tidur dengan posisi seperti itu. Kevin baru saja melangkah, Lula pun segera membuka mata membangun kan Viona dan menyuruhnya pergi ke kamar. Lula mengucek kedua mata dan menguap. Segera membereskan buku dan menatanya dengan rapi. Saat ia berdiri tatapannya tertuju pada Kevin yang sejak tadi mengamatinya.


"Minuman ini untukku?" Kevin tak menyahut, matanya seolah terhipnotis dengan aura wajah Lula yang begitu cantik. Lula mengambil gelas di tangan Kevin dan meminumnya sampai habis.


"Terima kasih!" Lula mengembalikan gelas itu ke tangan Kevin dan pergi ke kamar.


Kevin menelan ludah. Ada apa dengan dirinya?


Malam ini Kevin tak bisa tidur, Lula sudah mengambil tempatnya. Terpaksa ia tidur di sofa.


Keesokan paginya, Lula sudah berada di dapur untuk praktik memasak dengan mertua. Kedua wanita itu sangat senang. Terutama dengan Lula yang sudah lama sekali tak merasakan sebahagia ini.


Selesai sarapan Kevin dan Lula pulang. Mereka berdua tak banyak bicara sampai tiba di apartemen.


Kevin sudah bersiap untuk ke kantor. Karena jam sudah siang Lula berniat ingin menumpang tapi Kevin menolak.


Lula pun memilih pergi naik taksi.


Lula teringat dengan kartu yang ia simpan. Hatinya pun tergerak untuk pergi ke suatu tempat.


Sepulang kerja Lula tak langsung ke apartemen dia pergi ke tempat fitnes.


Sudah hampir satu minggu lamanya Lula pergi ke tempat itu. Berbagai olah raga yang ia tekuni berhasil membakar kalori hingga menurunkan berat badannya.


Kini tubuhnya sangat ramping, tapi ia tak sombong tetap biasa saja pada teman -temannya, bahkan dia memberikan tips agar bisa menjadi seperti dirinya. Terlebih pada Emi yang sangat antusias agar seperti dirinya. Berbeda dengan Kiki yang sangat murka melihat tubuhnya yang lebih langsung dari dirinya.


Lula membuka lemari, memilih baju yang seukuran dengannya namun semuanya terlihat longgar. Lula pergi dari apartemen untuk belanja ke mall.


Beberapa detik kemudian ponselnya berdering. Dia segera membuka pesan itu. Kevin baru saja mentransfer uang 20 juta. Kesempatan emas ini ia gunakan untuk memborong beberapa pakaian yang sekiranya pantas untuknya.


"Aku puas sekarang!" Lula mengenakan gaun yang begitu elegan dan menatap dirinya di depan cermin.


Penampilannya sungguh memukau penghuni mall bak artis korea.


Selesai membayar di kasir Lula sedikit kewalahan membawa belanjaannya.


"Aduh, berat banget nih! Aku lupa, barang seperti ini yang dulunya hal kecil bagiku, setelah aku langsing semua ini terasa berat. Aku harus menghubungi si playboy itu untuk menjemputku."


Namun, nomor Kevin terdengar sibuk.


"Ah, pasti dia lagi asyik sama pacarnya." desah Lula seraya menenteng belanjaan.


Baru beberapa langkah ponselnya berdering.


"Hallo, ada apa, aku sedang sibuk!" suara Kevin terdengar marah.


"Tolong jemput aku di mall!" Lula berharap Kevin segera datang, jujur uang nya tipis dan pasti tak mampu untuk membayar taksi.


"Tidak bisa!" Kevin segera menutup ponselnya.


Lula ingin sekali membanting ponselnya, namun ia memeluk benda pipih itu kembali, terlalu sayang jika rusak.


"Jangan lupa bahagia, biar deh dia tak mau menjemput ku, aku naik ojek saja!" meski terlihat susah payah, Lula berhasil sampai di tepi jalan.


Matahari mulai tenggelam, satu ojek pun tak ada yang lewat dan ponselnya mati saat beralih ingin ojek on line.


Kakinya sudah kesemutan. Tiba-tiba mobil sport hitam berhenti tepat di depannya.


"Apakah ini si playboy itu? Mobilnya baru kah?" Lula tampak celingukan menyorot sosok di dalamnya.

__ADS_1


Seorang pria keren keluar dari mobil hitam itu.


"Arjun!" pekik Lula tak percaya, malaikat penolongnya datang.


"Syukurlah, kamu dari mana dan bagaimana bisa kamu melihat aku di sini?" Lula tak habis pikir dengan kedatangan Arjun yang sangat diharapkan.


"Aku baru saja merias artis di lokasi syuting, dan aku melihatmu berdiri sendirian di tempat gelap ini." Arjun reflek membuka pintu mobil depan.


"Masuklah!"


Lula sebenarnya enggan tapi karena situasi sangat mendesak dan sebentar lagi gelap dia pun memberanikan diri menerima ajakan Arjun.


"Terima kasih, aku sudah satu jam berdiri di sana, tak ada satu pun ojek yang lewat." Alula membuka obrolan saat di dalam mobil. Arjun segera melajukan mobilnya.


"Kamu bisa menaiki taksi," Lula malu untuk mengakui keadaan dompetnya.


"Iya, maksud aku ojek dan taksi, semuanya terlihat penuh." Lula memberi alasan.


"Kalau suamimu?"


"Dia sibuk dan tak bisa menjemput ku."


"Lain kali kalau ada apa-apa hubungi nomorku ya," Arjun pun menawarkan jasanya.


"Baik. Arjun kamu sangat baik, tapi sejauh kita berteman aku belum tahu siapa pacar kamu, setidaknya banyak cewek yang mengantre, kamu kan juga tampan." puji Lula tanpa merasa canggung.


Arjun tertawa, "Sebenarnya ada satu cewek yang aku suka, tapi sayangnya dia tidak tahu."


"Kamu tembak saja dia, siapa tahu jodoh dan nikah deh kayak aku,"


"Kamu senang dengan pernikahan kamu?" tanya Arjun tanpa basa-basi.


Alula terdiam seketika itu.


"Entahlah, aku belum sepenuhnya tahu alasan sebenarnya aku tetap bertahan dengan pernikahan yang aku jalani. Terkadang merasa sakit jika terlalu lama."


"Jangan lupa bahagia!" ujar Arjun mengingatkan Lula. Semboyan ini yang dulu Lula berikan, yang bisa membuat Arjun sukses dari nol hingga kini.


"Jangan lupa bahagia!" Lula menirukan.


Arjun mengantar Lula hingga di depan apartemen. Membantu membawakan belanjaan Lula.


"Terima kasih, kamu memang sahabat baikku. Jangan lupa bahagia!" ujar Lula sebelum masuk. Arjun hanya tersenyum.


Lula menenteng paper bag begitu banyak, melewati pria yang sejak tadi memperhatikan kedatangannya.


"Puas kamu?" Kevin mematikan televisi.


"Sangat amat puas sekali!" sahut Lula tegas dan sedikit kesal.


"Oh, jadi kamu sekarang senang jika berduaan dengan pria lain di belakangku," Kevin berdiri, ucapannya menghentikan langkah Lula yang hampir masuk ke kamarnya.


"Yah, seperti yang kamu rasakan saat berduaan dengan Vivi." spontan jawaban yang menampar keras kenyataan.


"Aku ini lelaki, jadi bebas mau berpasangan dengan wanita mana pun. Bahkan kalau aku mau, sekarang aku bisa berpoligami!" ucapan Kevin sungguh tak bermoral. Menyakiti hati seorang istri. Namun, Lula sekarang bukanlah Lula yang dulu yang suka menangis. Dia berani melawan dan mengambil tindakan tegas.


"Silahkan jika kamu berpoligami, aku pun bisa berpoliandri! Memangnya hanya kamu saja yang punya banyak kekasih,"


"Kamu lancang sekali!" bentak Kevin. Lula yang kini merasa lelah plus kesal lebih memilih masuk ke kamar. Pura -pura tak mendengar teriakan suaminya.


Kevin sendiri merasa aneh jika bertanya kabar tentang Lula yang sebelumnya tak pernah ia lakukan sama sekali. Tadi setelah meeting selesai, Kevin segera menyusul Lula di mall. Akan tatapi ia lebih dulu melihat Lula masuk ke dalam mobil sport hitam milik seorang yang bekerja sebagai make up artis. Kevin tahu dia tapi tak begitu kenal. Alhasil Kevin memutar balik dan melewati jalan pintas sehingga sudah sampai ke apartemen lebih dulu.


Ia seakan tak dihargai usahanya, padahal jelas tadi dia menolak untuk menjemput Lula. Sebenarnya dia sedikit gengsi untuk mengatakan iya atau baiklah. Langsung bertindak dari pada banyak berucap.


Meski seorang playboy entah mengapa ada sedikit rasa yang tak rela jika istrinya berduaan dengan pria lain.


Sementara Lula yang sudah sangat lelah duduk di pinggir ranjang seraya memijat tumitnya yang sedikit lecet akibat terlalu lama berdiri. Maklum sepatu baru, high girl.


Terdengar Kevin masih mengomel Lula yang sudah bising mendengar omelan pun membuka pintu.


"Kalau mau poligami, sana lakukan saja, enggak usah laporan segala. Emang setelah kamu bicara begitu aku akan nangis dan tak rela berbagi suami? Kamu salah, aku malah seneng banget dengan begitu aku bisa tinggal bersama mama dan Viona."

__ADS_1


Kevin seketika dibuat nya melongo, jawaban Lula di luar dugaannya. Padahal tadi niatnya hanya memanas -manasi dan membuatnya cemburu. Setahu Kevin, Lula sangat mengagumi dirinya.


Kemudian Lula menutup pintu kembali dengan kasar. Jantung nya berdegup kencang, hampir saja air matanya jatuh tapi sebisa mungkin ia tahan. Dia tak ingin terlihat lemah.


__ADS_2