Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 59


__ADS_3

Keesokan paginya, Kevin sudah bangun dan mandi. Selesai sarapan ia kembali ke kamar untuk meminum obatnya. Karena tak ingin ada orang yang tahu, Kevin meminumnya di dalam kamar mandi. Tiga butir obat harus rajin ia konsumsi untuk mempertahankan kerja jantung nya.


Alula tak merasa curiga dengan apa yang suaminya lakukan.


Kevin berpamitan dan segera berangkat ke kantor.


Hamil muda terkadang membuat dia merasa cepat lelah, jadi Alula memutuskan akan mengambil masa cuti yang panjang. Sebelum itu ia akan melakukan beberapa episode saja di lokasi syuting.


Mendengar kehamilan Alula, pihak manager dan sutradara merasa sangat senang dan bahkan sudah memberikan kontrak pada calon bayi, kelak akan menjadi seorang bintang juga. Untuk bulan berikutnya, peran Lula akan digantikan sementara oleh Naura.


Ini kesempatan bagus bagi Naura untuk lebih dekat mengenal Arjun. Meski Arjun sendiri tak begitu tertarik dengan wanita lain selain Alula, tapi ia tak bisa bersikap acuh pada seseorang yang bernama wanita.


Tak hanya dua orang itu yang bahagia, Arjun sebagai sahabat Lula juga sangat senang mendengar kabar ini. Meski di palung hatinya, terasa sakit bagai disayat sembilu. Bagaimana tidak, dengan adanya calon anak tentu membuat hubungan antara Kevin dan Lula pasti semakin tak bisa dipisahkan.


Arjun menawarkan sebotol air mineral. "Apa Kevin sudah menghubungimu?"


Alula menerima, membuka tutup botol dan meneguknya, "Semalam kami sudah banyak bicara. Mama yang membawanya pulang."


Arjun bergetar tubuhnya setelah mendengar itu dan mengangguk, "Sukurlah kalau begitu, hubungan kalian mulai membaik."


Alula memperhatikan wajah Arjun, "Iya,"


Untuk menghilangkan rasa cemburu dan sakit, Arjun mengalihkan pembahasan bertanya mengenai papanya. "Apa kamu sudah mendengar kabar dari rumah sakit?"


Alula mengernyitkan dahi dan bertanya, "Belum, siapa yang sakit?"


Arjun memakluminya, sepasang suami istri baru saja kembali bersama. Dia seharusnya tidak merusak suasana hati sahabatnya. Bagaimana pun Alula harus tahu masalah papanya. "Papa kamu masuk rumah sakit. Aku dengar dari orang suruhanku, beliau terkena penyakit struk."


Alula tak merasa kaget dan seolah mengabaikan berita itu. "Itu ganjaran yang setimpal untuk orang seperti dia."


Arjun mencoba menenangkan Lula yang memiliki dendam pada papanya. "Bagaimana pun keadaannya, beliau masih ada ikatan darah denganmu."


Alula mengingat masa remajanya dulu, selalu mendapatkan perlakuan kasar dari Gibran. "Tapi dia sudah melupakan aku. Dan setelah dia menikah lagi, bahkan aku berpikir kalau aku sudah tidak memiliki orang tua laki -laki."


Arjun memahami rasa sakit yang dialami wanita berambut panjang di samping nya itu. "Pasti ada alasan lain dia bersikap seperti itu."

__ADS_1


Alula memalingkan muka. Sebenarnya ia merasa iba dengan keadaan papanya saat ini. Namun Alula menutupinya, sementara Arjun tahu Alula tidak serius dengan ucapannya."Apapun alasannya dia sudah mencampakkan aku dan ibuku. Dia memang orang tua brengsek! Lalu bagaimana perusahan Gibran Group?"


Karena adanya masalah korupsi oleh anggota dewan di perusahaan itu, pihak yang bersangkutan sudah diselidiki dan ditahan. Hanya Gibran yang bersih dalam kasus ini.


Arjun mendesah, langkah yang ia ambil untuk melancarkan rencana Lula kini benar-benar membuat perusahaan besar menjadi tak berdaya dalam sehari saja. Lalu ia berkata, "Perusahaan itu sudah bangkrut."


Alula melengkungkan bibir, "Aku puas dengan berita ini." Alula menepuk bahu Arjun.


"Korupsi memang harus diberantas. Setidaknya tikus masyarakat itu mendapatkan ganjaran atas pekerjaannya." ujar Arjun sambil tersenyum renyah.


"Aku setuju." Alula berdiri dan berbalik.


Sebelum langkah Lula menjauh, Arjun berkata, "Jika ada waktu lenggang, datanglah untuk membesuknya."


Alula tak berhenti melangkah, tapi ia sudah cukup jelas mendengarkan saran Arjun.


Di ruangan CEO, Kevin ditodong dengan seputar pertanyaan kemana selama ini ia pergi?


"Ada apa denganmu, seharusnya kamu senang kan jika suatu saat menduduki posisi ini?" Kevin memainkan pulpen di jemari sambil tersenyum ke arah Nabil.


Nabil mendengus kesal, bagaimana tidak, sudah hampir tiga hari ia kurang tidur di malam hari. Pekerjaannya menumpuk setinggi gunung. "Aku bisa gila tahu! Ayo kita ke ruangan rapat sekarang! Setelah ini urus pekerjaan kamu sendiri!"


Mereka berdua segera beranjak ke ruangan rapat.


Setelah rapat selesai, Nabil mengajak Kevin ke kantin.


"Apa kamu sudah mendengar kabar dari Gibran Group?"


Kevin menyandarkan tubuhnya ke kursi, "Memang ada apa dengan perusahaan itu?"


Nabil mengunyah makanan terakhirnya, "Perusahaan itu bangkrut dalam waktu yang singkat. Ada seseorang yang membocorkan rahasia perusahaan tersebut. Para dewan petinggi sudah dilakukan penyelidikan dan terbukti korupsi."


Mendengar itu ekspresi Kevin datar, "Oh,"


Nabil mengernyitkan dahi, "Kamu tak simpati dengan pemilik perusahaan itu, kamu kan pernah terkait hubungan dengan anak pemilik perusahaan itu?"

__ADS_1


Kevin mencibir cuek, "Itu masa lalu. Dan masa depanku adalah istri dan anakku."


Mendengar Kevin menyebut soal anak, Nabil membelalakkan mata, "Anak? Istri kamu hamil?"


Kevin tersenyum dan mengangguk, "Iya,"


Nabil menyodorkan tangan dan disambut oleh Kevin, "Wah, selamat Bro, bakal jadi orang tua kamu!"


Kevin meremas kuat tangan Nabil, "Aku belum terlalu tua!"


Nabil meringis menahan tangannya, "Maksud aku menjadi ayah!"


Kevin melepas tangannya setelah Nabil mendesis kesakitan.


Nabil mengibas kan tangan dan bergumam, "Sakit tahu!"


Tiba-tiba di tengah obrolan, Kevin merasakan nyeri di dada, seperti ditusuk - tusuk.


Nabil segera berdiri panik dan menyentuh bahu Kevin, "Kamu kenapa?"


Kevin melambaikan tangan ,"Jangan khawatir aku tidak apa-apa!"


"Kalau kamu masih sakit, mending tidak usah dipaksakan ikut rapat tadi." omel Nabil pada atasan sekaligus sahabat kecilnya. Nabil kembali duduk.


"Apapun yang terjadi padaku suatu waktu nanti, aku titip perusahaan padamu ya,"


"Bicara apa kamu, jangan ngacau! Tidak akan ada orang lain yang menempati posisimu, jadi aku juga berharap padamu untuk segera sembuh."


"Aku tak bisa menjamin."


"Vin, kamu bilang masa depanmu adalah istri dan anakmu, jadi kamu jangan menyerah! Berjuanglah untuk tetap hidup."


"Dokter bilang ...."


"Ah, persetan dengan ucapan dokter, memangnya dia malaikat pencabut nyawa apa yang tahu umur orang!"

__ADS_1


Nabil beranjak meninggalkan Kevin.


Kevin terdiam dan mulai meresapi ucapan Nabil barusan.


__ADS_2