
3 jam sudah para dokter dan suster berada di dalam ruang operasi. Kemudian warna lampu di ruangan itu menyala berbeda, itu tandanya operasi sudah selesai.
Sejumlah alat medis yang melekat di badan Kevin sudah tak ada lagi, namun pria itu belum sadar kan diri.
Sementara jenazah Arjun segera di makamkan di area TPU sekitar. Alula beserta orang tua Kevin ikut melayat ke sana.
Setelah rangkaian pemakaman jenazah selesai, sekumpulan orang di sana mulai pergi meninggalkan TPU. Berbeda dengan Lula yang masih ingin di sana sendiri. Di atas makam yang masih merah itu, Alula sedang berdzikir dan berdoa.
Tidak ada seorangpun yang ingin kehilangan orang terdekatnya. Sebagian besar dari orang-orang di sekitarnya tidak akan siap untuk menghadapi peristiwa tersebut, meski Alula juga tahu bahwa kematian tidak akan bisa dicegah.
Kematian orang yang berharga seperti Arjun akan meninggalkan kesedihan seperti halnya ditinggal oleh saudara kandung. Meski tak punya hubungan darah, Arjun adalah keluarga lain dalam hidup yang bisa ia pilih.
Menerima kepergiannya akan menjadi sulit karena Arjun memiliki pengaruh yang kuat dalam hidup Alula.
Kemudian Alula mengadahkan kedua tangannya dan mulai berdoa "Ya Allah, ampunilah dia dan berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia dari beberapa hal yang tidak ia sukai di alam sana. Maafkanlah ia dan tempatkan ia di tempat yang terbaik, dan juga mulai yaitu surgaMu. Luaskan kuburnya dan mandikan ia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan yang telah dilakukannya. Selamat jalan, sahabatku!"
Melihat kesungguhan Alula dalam berdoa membuat Rita tak kuasa menahan air matanya lagi. Dia mendekat dan mengguncang kan bahunya, "Alula, semakin kamu di sini, aku semakin sedih melihatmu. Ayo kita pulang, biarkan Arjun beristirahat dengan tenang di alamnya!"
Alula menyapu kedua tangannya ke muka lalu mendongak menatap ibu Arjun. "Aku tahu Tante. Tapi tolong jangan larang aku untuk sering -sering mengunjungi makam Arjun!"
Rita menggeleng dan membantu Alula berdiri. "Semasa hidupnya dia tak pernah bercerita tentang dirimu. Dan di saat terakhir hidupnya, baru aku sadar kalau dia sangat menyukaimu. Pantas saja dia merelakan sebagian tubuhnya hidup dalam tubuh seseorang yang kamu cintai."
Kemudian mereka meninggalkan pemakaman itu.
***
Vivi yang seharusnya bahagia mengetahui kalau Kevin mendapatkan jantung yang sehat tapi tidak, tidak sedikitpun ia bahagia. Malah sebaliknya, ia merasa tertampar dengan sikap Arjun yang menunjukkan cinta yang cukup besar pada orang lain.
"Aku dan hatiku yang hancur telah sepakat bahwa kita tak akan pernah bisa bersama. Oleh karena itu sebaik mungkin kucoba untuk melepaskanmu." ujar Vivi sambil mengangkat kakinya meninggalkan pemakaman. Langkahnya terhenti ketika Nabil berada tepat di depannya.
"Na-bil,"
"Perpisahan hanya berlaku untuk mereka yang mencintai lewat mata. Karena untuk mereka yang mencintai dengan hati dan jiwa, tak akan ada yang namanya perpisahan. Kamu tahukan maksud kalimat ku ini?" Nabil mendekatkan payung nya agar kepala Vivi tak tersorot sinar matahari meski baru pukul 09.00.
"Apa kamu mengejekku?" protes Vivi yang merasa tersudut kan.
Nabil mengangkat bahunya, "Tidak, aku hanya berbicara saja."
__ADS_1
"Tapi ucapanmu terdengar sama,"
"Beda. Aku tahu kalau kesempatan yang kita buat akan berpihak padaku. Jadi, aku tak akan banyak komentar lagi."
"Nabil, kamu tak merasa ragu dengan hubungan kita?"
"Untuk apa ragu? Aku yakin kamu tak akan mendekati atasanku lagi."
"Bagaimana kalau tebakanmu meleset?" Sebenarnya Vivi tak serius berkata demikian, dia hanya mengetes Nabil saja.
"Berarti itu bukan rejeki aku."
Jawaban Nabil membungkam Vivi dan akhirnya Vivi menyerah untuk berdebat. "Sepertinya kulitku terasa terbakar."
"Ayo kita pergi!"
"Hem,"
Mereka menuju parkiran. Nabil membuka pintu untuk Vivi.
Saat keduanya sudah berada di dalam mobil, Vivi menahan tangan Nabil agar tak menyalakan mesin dulu. Nabil menoleh dan menatap Vivi.
Nabil tahu kalau sebenarnya Vivi adalah wanita baik yang hanya merasa iri saja. Dan dia tahu maksud Vivi bertanya demikian.
"Dia sedang berduka sekarang, dan butuh sekali seseorang yang bisa menghibur dirinya. Apalagi dia tengah hamil, sangat buruk jika mendapat banyak tekanan. Aku akan mengantarkan kamu menemui dia."
"Apa kamu yakin jika dia mau menerima ku ?"
"Aku tahu Alula, dia pasti sangat senang jika saudarinya datang berkunjung."
"Aku belum siap." Vivi masih ragu untuk bertemu Alula.
"Baiklah. Siapkan mental dan batin kamu. Kapan pun aku siap mengantar kamu jika kamu takut sendirian."
"Tidak, aku akan mencoba datang sendiri. Terima kasih Nabil!" kemudian Vivi melepaskan tangan Nabil, membiarkan pria itu menyentuh kemudi.
Nabil tak keberatan dengan keputusan Vivi. Setidaknya wanita itu sudah banyak berubah. Hingga membuat Nabil mantap dan menaruh di hatinya nama Vivi di sana, untuk menjadikan Vivi sebagai pasangan hidup.
__ADS_1
***
Perlahan Kevin membuka matanya, meraba dadanya dan terasa jelas jahitan itu di kulitnya.
"Operasinya berjalan lancar kah?" Mata Kevin beredar, namun tak satu pun orang yang menunggunya.
Kevin mencoba bangkit, namun tubuhnya masih terasa lemas. Ia menyerah dan memilih diam.
Seorang suster datang untuk mengecek keadaannya.
"Anda sudah siuman?" tanya suster itu ramah.
Kevin mengangguk, "Iya, Suster." karena merasa aneh dengan semua orang yang tak berada di dekatnya, Kevin bertanya, "Kemana istri saya, Sus?"
Suster melepas selang infus dan menggantinya yang baru, "Istri Anda sedang pergi ke pemakaman?"
Kevin mengerutkan kening dan menirukan ucapan suster itu, "Ke pemakaman?"
Suster itu hanya mengangguk dan tak banyak bicara. Menjawab jika ditanya.
"Siapa yang meninggal?"
Suster sudah tahu rangkaian kejadian yang dialami oleh pasangan ini, Arjun dan Alula. Maka dari itu suster itu sudah berjanji untuk tidak memberi tahu siapa pendonor jantungnya.
"Saya kurang tahu. Mungkin saudara nya." sahut suster itu singkat dan segera beranjak dari sana.
Namun saat suster itu membalikkan badan, Kevin memanggilnya. "Suster, siapakah orang yang sudah mendonorkan jantungnya untuk ku?"
Pertanyaan Kevin yang tentu saja mudah untuk dijawab, tapi suster itu sudah terlanjur janji dengan pihak keluarga. Lalu suster itu berbalik sambil tersenyum. "Seseorang yang mengalami kecelakaan dan tidak jelas identitasnya."
Setelah mengatakan itu, suster itu pergi.
Kevin termangu dengan jawaban suster tadi. Pertama, jika Alula pergi ke pemakaman saudaranya, lantas ke mana perginya orang -orang? Jika dirinya tengah dioperasi pasti orang terdekatnya akan berada di sisinya.
Tapi ini tidak, tak satu pun orang ada di sampingnya apalagi ia sudah sadar dan seharusnya ada orang yang menunggunya.
Kedua, kecelakaan misterius, siapa orang itu dan ada hubungan apa sehingga orang itu mau mendonorkan jantungnya?
__ADS_1
Memikirkan ini, kepala Kevin mendadak berdenyut dan pada akhirnya dia tertidur. Mungkin efek obat saat suster tadi menyuntikkan pada selang infus.