Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 66


__ADS_3

Maria akhirnya mengikuti kemauan suaminya, untuk mencari identitas Alula Farhah yang memiliki nama yang sama dengan Gibran.


Setelah suasana sepi, Maria mengetuk pintu kamar Nabil dan meminta untuk bicara berdua saja dengannya.


Nabil membuka pintu, "Ada apa Tante?"


Maria merasa canggung dan menundukkan kepala, setelah itu menatap Nabil. "Bisa kita bicara?"


Nabil mengangguk dan menggiring Maria menuju halaman belakang. Di sana ada sebuah kolam dan beberapa kursi di tepinya. Nabil mempersilahkan Maria duduk, setelah itu giliran dirinya untuk duduk.


"Bicara apa ya Tante?" Nabil membuka obrolan, dia menangkap keseriusan di wajah Maria.


"Aku mau minta tolong padamu, bisakah kamu menceritakan lebih detail lagi tentang artis bernama Alula Farhah itu!"


Nabil mengerutkan dahi, Maria bicara lagi, "Tenang, aku tidak akan menyakiti dia! Aku hanya ingin memastikan saja."


"Memastikan apa Tante?"


Nabil seakan mendesak permintaan Maria.


"Kamu ceritakan saja dulu identitas artis itu!"


"Tidak bisa Tante, jika ini menyangkut masalah privasi seseorang yang bisa merugikan dia, sebisa mungkin aku akan menjaga nya."


"Bukan begitu Nak Nabil, aku sudah mengatakan padamu bukan kalau aku tidak akan menyakitinya."


"Kalau begitu berikan aku satu alasan saja Tante, mengapa Tante memerlukan informasi tentang Alula?"


Maria merenung tampak berpikir, ternyata tak semudah yang ia bayangkan. Pada siapa lagi dia akan meminta pertolongan kalau bukan pada Nabil, seseorang yang telah menyelamatkan nyawa suaminya.


Akhirnya Maria mengaku. "Suamiku mencari putrinya. Dia menduga artis itu adalah puterinya karena memiliki nama belakang yang sama. Aku tak bisa menolak permintaannya, menyuruhku untuk mencari gadis itu. Karena kamu kenal dia, jadi aku berinisiatif bertanya padamu. Siapa tahu kamu bisa membantu ku,"


Nabil melihat kejujuran di wajah wanita di depannya, dia juga terkejut dan mendadak hatinya merasa lega. "Jadi, Alula masih memiliki ayah?"


Maria mengangguk, "Bisakah kamu menolongku? Dan satu lagi, Vivi belum tahu kalau dia memiliki saudari, aku belum berani menyampaikan kebenaran ini. Aku takut setelah tahu, dia bertindak nekat."


"Tante tenang saja, berkas Alula ada di kantor. Aku akan mengambilnya besok. Apa Tante bisa sabar menunggu?"

__ADS_1


"Iya," sontak Maria menjawab. Demi kebahagian suaminya ia rela melakukan sesuatu, meski sedikit ada duri di hati yang menancap.


"Terima kasih, kebaikan yang kamu berikan sangat banyak, aku tidak tahu bagaimana cara membalas nya!"


"Tante tidak perlu khawatir, kesehatan om Gibran adalah yang utama. Eum, soal Vivi biarkan saja dia. Jangan dikasih tahu dulu. Dia hampir saja kehilangan karirnya. Mungkin jiwanya bisa terguncang jika tahu hal ini."


Maria mengangguk lalu pergi. Sedangkan Nabil kembali ke kamarnya.


Di sisi lain, Alula dan Kevin sedang perjalanan pulang menuju apartemen.


"Mas, kamu suka anak pertama kita laki-laki atau perempuan?" tanya Alula yang duduk di samping kemudi.


Kevin menoleh sambil tersenyum, "Apa saja, yang penting mereka lahir dengan selamat."


"Iya, aku sudah mengira kalau Mas jawab nya gitu. Tapi pasti ada rasa pinginnya kan," desak Lula yang tak puas dengan jawaban suaminya.


"Cewek cowok sama aja kok." ujar Kevin sambil tetap fokus mengemudi.


Alula terlihat murung karena baginya, keinginan Kevin adalah hal yang penting.


Alula menatap suaminya tak percaya, biasanya pria lebih menyukai anak pertamanya adakah laki-laki.


"Kok cewek!" protes Lula yang tak percaya.


"Loh, salah lagi ya aku jawabnya!"


"Kenapa Mas Kevin suka anak cewek?" tanya Alula penuh selidik.


"Kalau cewek, besarnya nya nanti bisa bantuin kamu masak, Sayang, dan dia akan terlahir cantik sepertimu." Kevin berharap jawaban nya sudah tepat.


"Benar juga ya, tapi kalau cowok kan bisa bantuin kamu Mas, bekerja di perusahaan,"


"Cewek juga bisa!" timpal Kevin yang membuat Lula berpikir.


Keduanya asyik mengobrol dan di tengah perjalanan, mereka dihadang oleh sekelompok penjahat.


Alula ketakutan dan menarik lengan kemeja Kevin. "Mas, aku takut! Mereka mau apa ?"

__ADS_1


Kevin menenangkan istrinya, "Aku akan meladeni mereka!"


Kevin membuka pintu mobil. "Mau apa kalian!" Sentak nya. Para penjahat tak menyahut dan langsung menyerang Kevin.


Karena kondisi Kevin sedang tak sebagus dulu, dia kalah dan jatuh tersungkur.


Melihat itu, Alula menjerit histeris.


Alula segera keluar dan menghambur ke arah Kevin.


Jeritan Alula membuat pusat perhatian dan menyita publik.


"Tolong ...!!! Tolong ...!!"


Keberuntungan berpihak padanya, penjahat itu mengincar Alula dan hampir berhasil mencelakai Lula. Berhubung publik lebih cepat datang, para penjahat itu segera kabur.


Dengan bantuan mereka, Alula membawa Kevin ke rumah sakit. Keadaannya sangat memprihatinkan dan siapa pun tak tega melihat kondisinya yang sedang mengeluh sakit di bagian dadanya.


"Sabar Mas, aku akan membawaku ke rumah sakit! Ku mohon bertahanlah!" Alula mengambil alih kemudi dan menyalakan mesin.


Ia sangat gugup dan bingung untuk berbuat apa. Dia menghubungi Arjun untuk meminta bantuan.


Alula sudah sampai di rumah sakit. Dan Kevin segera mendapatkan pertolongan. Arjun sepuluh menit lebih baru tiba.


"Alula, kamu tak apa-apa kan?" Arjun datang dengan penuh kekhawatiran.


Alula tampak cemas, "Arjun, aku sangat takut jika terjadi sesuatu padanya!" Air matanya pun berderai. Menjatuhkan wajahnya di dada.


Arjun mengusap punggungnya pelan, "Aku pastikan, tidak akan terjadi sesuatu padanya!" hibur Arjun.


Dokter datang dan menghampiri Alula.


Alula mengangkat kepalanya dari sandaran dan melihat ke arah dokter.


Dokter Shodiq tahu kalau wanita yang sedang bersedih ini adalah istri Kevin.


"Saudara Kevin ... "

__ADS_1


__ADS_2