
Arjun membawa Kevin ke rumah sakit terdekat. Kevin merasakan nyeri di dada. Sangat sakit seperti ditusuk-tusuk. Setelah dokter melakukan pemeriksaan yang serius, ia menyarankan agar Kevin berhenti mengkonsumsi minuman beralkohol.
"Sudah saya katakan di awal kalau jantung Anda sangat tidak bagus. Detak jantung Anda juga tidak teratur. Jadi biasa kan untuk melakukan pola hidup sehat jika ingin umur Anda lebih lama lagi. Hindari minuman beralkohol juga." ujar dokter itu sebelum pergi.
Empat tahun yang lalu, Kevin pernah masuk rumah sakit karena gejala sakit jantung. Meski tergolong usia muda, tapi dokter sudah memperingatkan di awal pemeriksaan dulu. Lantas karena menyepelekan pola hidup sehat dan sering merokok apalagi menkonsumsi minuman beralkohol tentu memperparah sakitnya. Tidak ada yang tahu tentang penyakit jantung yang ia alami. Bahkan ia melarang Dokter Shodiq untuk menceritakan ini pada keluarganya.
Kevin hanya terdiam tak serius menanggapi ucapan dokter.
"Tidak lama lagi?" Gumam Kevin kemudian.
"Ya, sekitar 3 atau 4 tahun lagi." ujar dokter dengan senyuman kecil.
Begitu dokter keluar, Arjun segera masuk.
"Drama apa lagi yang ingin kamu tunjukkan padaku, jangan harap kamu bisa membuatku mundur." Arjun menatap tubuh Kevin yang terkulai lemas. Kevin tak mengatakan tentang penyakit nya. Dia hanya menanggapi dengan senyuman.
"Kalau begitu, mari kita bertaruh. Kamu lihat seperti apa aku menunjukkan padamu, makna cinta yang sebenarnya." setelah mengucapkan itu, mungkin reaksi obat, Kevin pun mulai memejamkan mata.
Arjun tersentak mendengar itu. Ia sengaja tak memberitahu hal ini pada Lula karena tak ingin membuat dia khawatir. Arjun segera pergi setelah Kevin tertidur.
Keesokan paginya.
Kevin mengirim pesan pada Arjun agar tidak menceritakan kejadian ini pada Lula.
Kevin sudah boleh keluar dari rumah sakit. Asistennya, Nabil, mencoba menghubungi sejak subuh tadi.
"Ya, Nabil." sahut Kevin sembari mengancingkan kemejanya.
"Bos, kita ada rapat hari ini. Perusahan asing ingin menanam modal. Ini kesempatan bagus untuk perusahaan kita yang sedang berkembang." ujarnya serius.
"Baik. Siapkan berkasnya. Aku akan datang satu jam lagi." sahut Kevin. Kini kondisinya sudah membaik.
Kevin menutup panggilan dulu. Padahal Nabil ingin bertanya perihal kejadian kemarin.
Kevin menyadari penyakitnya yang ia kira sudah sembuh. Nyata nya terdengar miris dan malah menyedihkan. Dokter memvonis hidupnya sudah tak lama lagi. Ini membuat dia berkecil hati untuk melawan penyakitnya.
__ADS_1
Sekarang ia bergegas menuju hotel untuk mempersiapkan diri.
Dalam diam ia merenungi nasibnya. Jika ia serius berpisah dengan Lula, tentu itu bukan solusi yang baik. Kevin mulai berpikir dengan akal sehat. Melawan penyakit sekaligus berperang melawan rasa cemburu. Ia memutuskan untuk kembali dan segera membuat Alula hamil. Dengan begitu Arjun sudah tidak bisa berkutik lagi untuk mendekati Lula.
Ia juga akan memberikan kebahagian pada Alula di sisa hidupnya.
Kevin sudah rapi sekarang dan bersiap menuju kantor.
Di sana Nabil sudah menunggu. Rasanya ingin bertanya soal kemarin bukan waktu yang tepat. Nabil berjalan mengikuti langkah bosnya.
Kevin memulai rapat dengan penuh karisma dan tanggung jawab. Semua peserta yang hadir sangat puas dengan presentase Kevin pagi ini. Lagi, perusahaan Kevin menang.
***
Di lain sisi, Gibran tengah terduduk di ruangannya. Tangannya menekan pelipisnya yang terasa sakit. Seakan merasakan beban yang menggunung. Bagaimana tidak, saham dan para kolega bisnisnya mulai berangsuran mundur dari kerjasama yang sudah ia susun sebaik mungkin.
Bahkan baru saja ia mendapat panggilan dari pihak KPK tentang kasus penggelapan uang perusahaan.
"Bagaimana ini semua bisa menimpa padaku?" gumamnya dengan pikiran tak karuan.
Gibran menggebrak meja saat asistennya datang untuk menyampaikan kabar tentang adanya demo. Asisten itu takut dan segera keluar lagi.
"Sial, siapa yang telah membocorkan rahasia perusahaanku!" teriak Gibran.
***
Maria tengah membantu Vivi turun dari taksi. Vivi sudah boleh pulang. Lututnya terasa bengkak hingga membuat dia kesulitan berjalan.
"Sayang, apa sebaiknya kamu memakai kursi roda saja?" tawar Maria sambil menuntun putrinya masuk ke dalam rumah.
"Tidak perlu Ma, dengan begini aku ingin segera cepat berjalan sempurna lagi. Tiga hari lagi akan ada festival fashion show. Aku ingin ikut. Jadi, jika aku terlalu lama duduk di kursi roda, pasti kakiku tidak bisa bergerak bebas." ujar Vivi memberi pengertian.
"Baiklah, Sayang! Setelah sarapan segera minum obatmu agar lekas kering lukamu."
"Iya, Ma!"
__ADS_1
Maria menuntun Vivi duduk di ruang makan. Seorang pembantu sudah memasak aneka menu untuk menyambut kepulangan majikan mudanya dari rumah sakit. Vivi sangat rakus dan segera minum obat. Ia tak ingin melewatkan kesempatan itu.
***
Sementara Lula baru bangun pukul 08.00 pagi. Ia terlambat untuk datang ke lokasi syuting. Jadi ia mengirim kabar mendadak pada sutradara.
Lula memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter. Ia tak ingin sakit, karena tiga hari lagi dia harus ikut festival fashion show di acara ulang tahun Jakarta. Lula bangkit dengan tubuh yang lemas. Ia mengitari Apartemen berharap menemukan suaminya di sana, tapi hasilnya nihil.
"Mas Kevin belum pulang juga." ujar Lula dengan suara bergetar.
Rencananya berantakan. Padahal hari ini ia ingin sekali belajar menyetir mobil barunya.
Terpaksa ia memanggil taksi lagi. Setelah taksi datang, Lula segera masuk dan menutup pintu dengan kasar.
"Ke rumah sakit Nirmala, Pak!" ujar Lula ketus.
"Baik, Non!" sahut sang sopir, melirik sekilas penumpang nya dan segera melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
Sesampainya di rumah sakit, Lula menyampaikan keluhannya. Perutnya terasa mual dan dokter segera memeriksa keadaannya. Mengecek suhu tubuh, denyut nadi dan tekanan darah. Dokter melakukan USG juga.
"Ibu lihat benda kecil ini di dalam rahim ibu?" ujar dokter cantik itu sambil tersenyum.
"Enggak Dok, emang apaan Dok?" sahut Lula penasaran. Mungkinkah benda kecil itu yang membuatnya terasa mual.
"Ini adalah janin berusia 6 minggu."
Lula tersentak mendengar ucapan dokter. Dia mengulang perkataan dokter itu.
"Janin berusia 6 minggu? Jadi, saya ..." Lula menggantung kalimatnya yang sudah jelas ia tahu hal itu.
"Ya, Anda sedang hamil!"
Berita ini adalah hal yang menggembirakan bagi para wanita yang sudah berumah tangga. Ia tidak menyangka secepat ini diberi tanggung jawab menjadi seorang ibu.
Alula mengusap perutnya yang masih rata. Setelah dokter mengeluarkan hasil USG, Lula berjalan ke arah apotik untuk menebus obat. Banyak obat yang harus ia konsumsi agar janinnya berkembang sehat.
__ADS_1
"Baby, terima kasih kamu sudah hadir dalam kehidupan bunda. Bunda janji akan membesarkan kamu dengan penuh kasih sayang." kemudian Lula pulang dan mencoba mengabari hal ini pada Kevin.