Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 27


__ADS_3

Siapa pria yang berani berbuat iseng padanya? Alula menyimpan ponsel ke dalam tas kecilnya. Duduknya menjadi tak tenang. Rasa takut mulai menyergap hatinya.


"Tenang, ada pengawal yang bisa melindungiku dua puluh empat jam!" batin Lula menenangkan diri. Tangannya terlihat sedikit gemetar. Untuk mengurangi rasa gugupnya ia melempar pandang ke arah kaca jendela mobil. Pemandangan yang masih segar menambah energi positif padanya.


Sepanjang perjalanan yang ia tempuh, aman terkendali hingga tiba di lokasi syuting.


Alula menyapa Arjun yang sudah datang lebih awal.


"Aku sepertinya sedang mendapat teror misterius." bisik Lula sambil membungkukkan badan. Ia tak punya banyak teman untuk sekedar bercerita kecuali Arjun.


Arjun yang sedang menata peralatan make up menghentikan pergerakan nya sejenak dan memperhatikan Lula. Ditatapnya bola mata yang indah itu sangat meneduhkan jiwa.


"Siapa, seorang pria kah?" tebak Arjun. Instingnya sangat kuat. Dari berteman sejak kecil tak satu pun pernah meleset tebakannya. Itulah mengapa Alula lebih terbuka dengannya.


"Benar, dan bahkan dia tanpa malu ingin mengajak ku kencan." ujar Lula penuh penekanan. Rasanya saat mendengar suara pria misterius itu tadi ia ingin melempar ponselnya ke laut.


"Lantas, kamu menanggapinya? Sebaiknya jangan! Zaman kini ada saja alasan seseorang untuk meminta uang, pasti ujung -ujungnya ke situ juga." tanya Arjun.


"Aku segera mematikan ponsel. Aku takut jika orang itu orang yang sama saat ingin menculik ku. Kamu benar. Uang memang segalanya, dan dunia tahu kalau aku sudah menjadi seorang superstar. Tidak bisa dipungkiri kalau ujungnya adalah pemerasan."


"Kamu sudah memberitahu suamimu?"


"Belum."


"Baik, tenang kan pikiranmu agar tak mengganggu syutingmu untuk saat ini. Mana ponselmu!" Arjun menadahkan tangan meminta ponsel Lula. Alula mengambil ponsel yang ia simpan di tas kecilnya.


"Aku akan mengecek nomor penelpon misterius itu. Kamu lakukan pekerjaanmu dengan baik." ucap Arjun sambil menerima ponsel Lula. Lula mengangguk sebelum melangkahkan kaki pergi.


Arjun sudah selesai dengan pekerjaannya. Hari ini dia sangat bersemangat sekali, entah apa penyebabnya. Selain menjadi make up artis, jasanya juga ganda, menjadi pemeran cadangan. Ha ha ha .... Kini dia mengambil tempat yang nyaman untuk membuka ponsel Lula.


Setelah tiga puluh menit lamanya mengotak atik 12 dijid, Arjun tak bisa melacak kepemilikan nomor misterius itu. Ia juga menghubung seseorang untuk membantunya, namun belum jelas kepastiannya.


"Alula, maaf, aku tak bisa melacaknya." ujar Arjun terdengar menyerah di saat Lula sedang istirahat. Sutradara memberikan waktu tiga puluh menit untuk istirahat, sholat dan makan. Alula sedang mengusap keringat di wajah dengan tisu. Meski berkeringat pun, aura kecantikannya tak luntur sedikit pun.

__ADS_1


"Terima kasih, maaf merepotkanmu. Semoga penelepon itu hanya iseng saja dan tidak serius dengan ucapannya." ujar Lula terdengar pasrah. Dia menerima kembali ponselnya.


"Atau mungkin untuk menghindari penelpon misterius itu lagi, kamu bisa mengganti kartu nomor." saran Arjun yang disetujui langsung oleh Lula. Alula meminta salah satu pengawalnya untuk membeli kartu.


Setelah Alula mengganti nomor ponselnya, orang yang pertama kali ia kabari adalah Kevin.


Kevin yang sedang memperbaiki proposal di ruang kerjanya dikejutkan dengan deringan ponselnya.


"Nomor asing, abaikan saja!" gumamnya dan melanjutkan pekerjaannya. Dia tak tertarik sama sekali untuk mengetahui siapa pemilik nomor baru itu. Sudah lima kali Alula melakukan panggilan, namun tetap saja diabaikan.


"Atau mungkin mas Kevin sedang sibuk?" batinnya menasehati. "Atau bisa jadi dia mengabaikan nomorku karena mengira aku adalah orang lain yang mengganggunya."


Merasa tak dapat respon dari sang suami Lula memutuskan untuk mengirim pesan dengan menyamatkan nama Permadani. Nama yang sering suaminya sebutkan untuk dirinya.


Begitu tahu itu, Kevin langsung memanggil kembali nomor baru milik Lula.


"Kenapa kamu mengganti nomormu, Sayang?" tanya Kevin di ujung sana sambil tangan satunya membawa berkas untuk ia baca.


"Tunggu!"


"Ada apa Mas?" Lula hampir saja akan mematikan ponselnya.


"Kamu sudah makan siang?" tanya Kevin yang begitu memperhatikannya. Perubahan yang Kevin lakukan sepenuhnya murni dari hatinya yang terdalam. Ia yang awalnya bersikap dingin kini sudah bisa lembut pada siapa saja. Mencoba hal baru seperti bersikap ramah dan menghargai orang lain.


"Sudah, baru saja tadi makan dengan menu pecel lele." ujar Lula seraya mengingat di benaknya betapa nikmatnya makanan tadi.


"Wah, enak dong! Kalau begitu kamu lanjutkan syutingnya, aku juga mau melanjutkan kerja!"


"Oke Mas!" Alula yang awalnya menyimpan kontak suami dengan nama playboy kini ia rubah menjadi mas Kevin.


Begitu pula dengan Kevin, yang awalnya nama kontak istri nya adalah gendut ia rubah menjadi Permadani.


Arjun mendengar percakapan mereka, sedikit rasa sakit mencubit hatinya.

__ADS_1


"Senangnya bisa mendapatkan gadis berhati mulia sepertimu." ucap Arjun dalam hati. Kalau bisa ia ingin membunuh rasa yang sudah lama tumbuh di hatinya. Rasa yang begitu menyakitkan jika melihat orang yang kita sukai menjadi milik orang lain. Untuk menghilangkan pemikirannya tentang gadis itu, Arjun mengemasi peralatan make up nya.


Sementara Andho sedang terlihat sibuk dengan pekerjaannya di counter.


"Andho, ada apa kamu memintaku untuk datang ke tempat kerjamu?" tanya Intan, sepupu Andho. Dia seorang mahasiswa yang baru semester 4. Wajahnya sangat imut dan postur tubuhnya tinggi semampai. Sangat cantik dan menggoda setiap pria yang menatapnya.


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Andho beranjak dari kursi dan menggiring sepupunya untuk duduk di kursi lain.


"Masalah pekerjaan?" tebak Intan seraya menjatuhkan tubuhnya di atas kursi.


"Aku tahu kamu masih sibuk kuliah, tapi setidaknya tugas ini sangat berarti untukmu."


"Baiklah, katakan!" ujar Intan terdengar pasrah. Sejauh ini kesibukannya hanya kuliah dan jika Andho membutuhkan bantuan, dia orang yang akan menjadi nomor satu untuk membantu. Jasa orang tua Andho yang membesarkan Intan membuat dia merasa memiliki sebuah balas budi.


"Bagaimana hubungan kamu dengan Kevin?" tanya Andho untuk menyetel rencana.


"Hm, sepertinya dia sudah lama tak menghubungi ku." Intan memegang dagu dengan dua jarinya, memikirkan nasib hubungan mereka.


"Dia sudah menikah." terang Andho datar hingga membuat pendengarnya seakan tidak percaya.


"Kamu bercanda? Aku selalu menolak jika dia ajak untuk menginap di hotel, apa itu alasannya hingga akhirnya memilih untuk menikah diam -diam dengan wanita lain? Apakah wanita itu salah satu dari pacarnya?"


Intan terlihat tak baik -baik saja, tapi menampakkan wajah datar meski hatinya baru saja terkena terjangan ombak.


"Aku tidak mau tahu alasan dia seperti apa, yang terpenting sekarang bantu aku untuk merusak pernikahannya!"


"Hei, kamu malah menjerumuskan aku ke arah yang sesat!" pekik Intan.


Andho terkekeh, "Kamu perlu uang berapa untuk bayar kuliah?" Dia memancing agar Intan setuju.


"Kamu ingin membiayai kuliahku?" Sontak wajah Intan berubah ceria.


"Tergantung jika kamu setuju." tawar Andho yang sudah yakin kalau sepupunya akan membantunya.

__ADS_1


__ADS_2