Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 47


__ADS_3

Kevin dan Nabil selesai mengikuti rapat, mereka berdua makan siang di sebuah restoran mahal. Tanpa sengaja ada Siska di sana. Ia sedang tidak ada tugas siang ini dan menyempatkan waktu untuk berkunjung ke restoran itu.


Selain terkenal dengan makanan yang lezat, restoran itu juga menunjukkan panorama alam sekitar yang sejuk meski udara siang terasa panas.


Siska menyadari ada Kevin di sana. Ia berpindah posisi ke meja Kevin.


"Kevin, lama tak melihatmu." ujar Siska dengan menampilkan senyum yang menawan sambil mengulurkan tangan mulusnya.


"Siapa lagi ini?" bisik Nabil di telinga Kevin. Kevin tak merespon, tatapannya masih pada wanita di depannya.


"Siska, apa kabar? Oh, iya perkenalkan ini asistenku, Nabil." ujar Kevin sambil menjabat tangan Siska lalu menunjuk ke arah Nabil.


Nabil tersenyum ringan dan mengulurkan tangan.


"Boleh aku bergabung?" ujar Siska sambil menarik kursi.


"Silahkan!" Kevin membuka telapak tangannya.


Nabil terkesima dengan paras bidan cantik ini. Ia tak sadar jika makanan dalam sendok garpu nya terjatuh di piring. Hingga yang masuk ke dalam mulutnya hanya garpu saja. Ia mengerjap sadar dari lamunan tentang kecantikan Siska yang sempurna.


"Kamu nggak ada jadwal siang ini?" tanya Kevin saat Siska sudah duduk berhadapan dengannya.


"Enggak. Masih ada satu jam lagi aku kembali ke rumah sakit." sahut Siska dengan masih tersenyum.


Nabil ingin bicara tapi suara nya tertahan di tenggorokan. Jadi ia hanya sebagai pendengar di sana.


"Bagaimana bisnis kamu? Ku dengar kamu menenangkan tender perusahaan asing," meski Siska sudah putus tapi ia tetap berharap bisa sekedar berteman dengan mantan pacarnya ini. Tidak menutup kemungkinan ia bisa merebut kembali hati Kevin.


"Kamu tahu banyak ya tentang pekerjaan ku," sahut Kevin datar, meski ia merespon dengan biasa bagi Siska ini adalah sebuah kesempatan untuk menjalin hubungan baik.


"Kevin Aluwi, kamu lupa siapa aku ya, kita pernah terhubung dengan ikatan yang kuat, aku tanpa sengaja mendengar kabar baik itu dari seseorang. Kamu memang pantas untuk menang."


"Terima kasih atas dukungan kamu!"sahut Kevin dengan reaksi biasa saja. Siska tidak terima dengan reaksi seperti itu. Jadi dia mengubah topik lain.


Banyak percakapan yang terjadi tapi selalu sama, Kevin sudah berubah tak seperti dulu yang banyak sekali bicara. Kali ini untuk menghargai pernikahannya dengan Lula saat bertemu mantan ia hanya menjawab sekedar saja dan tidak banyak bertanya. Tentu ini menjadi benteng yang kokoh yang sulit untuk Siska taklukkan.

__ADS_1


Di sisi lain, sepasang mata melihat mereka sedang asyik mengobrol. Wanita ini berusaha tegar. Tapi tanpa ia sadari kertas hasil USG yang sejak tadi ingin ia perlihatkan pada seseorang sudah menjadi gumpalan akibat terlalu keras meremas. Air mata yang sengaja ia tahan harus tumpah begitu saja. Ia segera berbalik lalu pergi dengan membawa luka di hati.


Alula mengangkat telpon setelah keluar dari rumah sakit tadi dari nomor yang tak dikenal. Memberi tahu kalau ingin mencari suaminya ada di restoran mewah. Ia bergegas ke sana dengan hati yang senang. Nyatanya setelah tiba di lokasi, ia melihat suaminya sedang makan bersama dengan wanita cantik.


Karena merasa jengah Kevin undur diri.


"Siska. Maaf, aku sedang ada urusan mendesak." sepertinya Kevin sadar diri dan mencoba menghindar.


"Nabil, tolong kamu temani nona Siska untuk makan siang!" perintah Kevin dan segera berdiri.


Siska melongo mendengar perkataan Kevin. Dia tersadar dari harapan palsunya. Ingin rasanya menahan dia agar sejenak menemani makan dan ngobrol tapi apa mau dikata. Kevin orang yang sangat sibuk.


"I-iya," sahut Nabil terbata.


Setelah Kevin menghilang dari pandangan Siska. Ia merasa sedikit sakit di hati.


Mobil Toyota Prius berwarna biru langit mulai membelah jalan. Pengemudinya tampak tak sehat. Ia berhenti sejenak di pinggir jalan untuk mengkonsumsi obat yang diberikan oleh dokter Shodiq.


Kalau bukan penyakit serius ia tak perlu repot-repot minum obat 3 kali sehari. Ini akan menjadi kebiasaan baru bagi Kevin.


Obat itu terdiri dari 3 butir yang berukuran besar. Kevin menelan semuanya kemudian meneguk air.


Jam segini Lula tidak ada di apartemen, Kevin tahu itu. Ia segera menuju dapur untuk mengambil pisau. Ia membelah buah semangka menjadi 12 potong. Menyimpan di atas loyang.


Gesekan pintu membuat Kevin terkejut dengan kedatangan seseorang.


Siapa yang datang?


Kini dua pasang mata saling berhadapan. Keduanya masih terpaku diam dan dalam kebingungan. Suasana menjadi dingin. Mengingat kejadian tadi Lula ingin sekali memaki suaminya. Dia memegang perutnya yang rata. Kevin ingin sekali meminta maaf atas ucapannya yang kemarin, tapi masih tertahan.


"Lula!"


"Mas Kevin!"


Keduanya serentak memanggil satu sama lain. Kemudian hening lagi. Keduanya benar -benar dalam kebingungan.

__ADS_1


Kevin lebih dulu menyambut kepulangan istrinya. Meski tampak ragu namun ia berusaha mencairkan suasana yang dingin.


"Lihatlah semangka yang baru aku beli ini! Merah dan begitu menggoda. Aku sengaja membelinya untukmu. Ayo kita makan bersama !" Kevin berjalan mendekat sambil membawa loyang. Potongan semangka begitu berantakan, tapi warna merahnya sungguh menggoda untuk disantap.


Tangannya mengambil satu dan menyodorkan ke depan mulut istrinya.


Lula terpaku melihat itu. Kemudian Kevin mencicipi nya. Menggigit bagian ujung.


"Manis sekali, cobalah!" Kevin mengulurkan tangan.


Dengan sedikit ragu, Lula mencondongkan kepalanya ke depan. Menggigit ujung semangka di samping gigitan Kevin. Kemudian memakannya.


"Enak kan?"


Lula hanya mengangguk.


Kevin menuntun istrinya untuk duduk dan menikmati buah semangka. Setelah keduanya selesai makan. Kevin menarik tisu dengan cepat sebelum Lula bertindak demikian. Mengusap dengan lembut bibir istrinya yang berantakan karena bekas semangka, namun tak mengurangi kecantikannya.


"Ada yang ingin aku sampaikan." ujar keduanya lagi terdengar kompak.


Alula mengarahkan tangannya memberi kode agar Kevin bicara dulu.


"Kamu duluan?"


"Sepertinya kurang sopan jika pria yang mengatakan duluan. Kamu saja!" Kevin mempersilahkan Lula.


Disaat Lula akan mengatakan sesuatu tentang kehamilannya, tiba-tiba ponsel Kevin berdering.


Sontak Kevin merogoh saku dan mengangkat panggilan itu. Ternyata dari Nabil. Kevin tak kembali ke kantor pasti terjadi sesuatu di sana. Jadi, Kevin menerima panggilan itu.


"Bos, nona Siska mengalami luka di bagian perutnya." ujar Nabil dari arah seberang.


Kevin terlihat panik, " Bagaimana bisa terjadi? Apakah Siksa baik-baik saja?"


Melihat reaksi Kevin yang berubah muram, Lula tahu itu pasti wanita di restoran tadi.

__ADS_1


"Saat kami berjalan menuju mobil, telah terjadi penjambretan dan nona Siska yang terserang." terang Nabil.


Kevin segera beranjak tanpa memikirkan perasaan istrinya.


__ADS_2