Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 35


__ADS_3

Pukul sepuluh malam, Kevin dan Lula sudah tiba di apartemen. Keduanya tak banyak bicara. Kevin segera menjatuhkan bobot tubuhnya di atas kasur dengan kasar. Sementara Lula sedang ke kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi. Lula membuka lemari dan memilih satu piyama berwarna flaminggo. Setelah berganti busana, ia menuju ranjang.


"Mas, geser!" tegur Lula saat dirinya bersiap untuk tidur juga. Kevin tak menyahut. Padahal ia mendengar.


"Ya sudah, aku kembali ke kamarku saja!" ujar Lula kesal, karena perkataannya tak diindahkan suaminya. Lula berbalik hendak pergi namun langkahnya terjeda karena Kevin menarik tangannya.


"Jangan! Kemarilah!" Kevin bangkit dan memberi tempat untuk Alula. Dia tadi belum tidur sepenuhnya.


"Besok, kita berangkat jam berapa?" tanya Kevin, karena besok ada jadwal meeting pagi.


"Jam delapan mungkin. Aku bisa berangkat sendiri. Kamu tak perlu mengantarku." sahut Lula yang peka jika suaminya sedang sibuk.


"Tidak. Aku akan mengantarmu." pangkas Kevin. Keduanya pun saling diam seperti kehabisan kata-kata. keduanya berkemelut dengan pikiran masing-masing. Hingga suara deringan ponsel Lula memecah keheningan malam.


"Siapa?" tanya Kevin penasaran tatkala melihat ekspresi Lula yang masam saat menerima pesan itu.


"Nih!" Lula memperlihatkan layar ponselnya yang ternyata itu foto Kevin bersama Intan.


"Kalian berdua pasangan yang cocok. Sama-sama menjijikkan!" umpat Lula kesal. Ini sudah menjadi resiko jika memiliki suami playboy. Rasa sakit nya yang menjalar di hati terasa menjadi kebal mulai detik itu juga. Ia tak merasa cemburu lagi.


"Siapa pengirimnya?" Kevin merebut paksa ponsel Lula dan mengecek nomor itu. Ternyata setelah ia cek di ponselnya itu adalah nomor Intan.


"Nomor Intan," ujar Kevin sambil menelan kasar salivanya. Dia menetap wajah istrinya yang datar. Seharusnya Lula marah dan mulai memakinya. Melontarkan kata-kata pedas untuknya.


"Kok kamu diam saja?" protes Kevin karena tak mendapat respon dari istrinya.


"Buat apa juga aku marah-marah, mendingan aku segera tidur." Lula segera menarik selimut hingga menutupi semua tubuhnya. Kevin jadi cemas dengan sikap cuek istri nya.


"Lula, Sayang, jangan diam in aku gitu !"


"Kalau kamu mau nikah, nikah aja! Aku nggak melarang kamu kok." ujar Lula dingin.


"What! Lula, aku nggak mau nikah sama cewek lain! Aku hanya punya satu istri, yakni kamu. Kamu harus dengerin ucapanku! Aku nggak pernah tidur sekali pun sama Intan." Kevin menarik selimut istrinya.


"Tapi, sama yang lain pasti pernah," memutar malas kedua bola matanya.

__ADS_1


"Iya, tapi aman kok. Aku jamin itu." jujur Kevin yang membuat Lula muntah udara.


"Hanya padamu, aku akan menanam benih."


"Semoga benih yang kamu tanam tak memiliki gen playboy seperti dirimu." sindir Lula yang membuat Kevin melotot.


"Aku sudah bukan playboy lagi, Lula, aku sudah berubah," ujar Kevin dengan penuh penekanan.


"Masa?" Lula menarik paksa selimut itu dan membungkus dirinya agar tak tersentuh Kevin. Berulang kali Kevin membangunkan istri nya, Lula ternyata sudah di alam mimpi.


Kevin menatap lagi layar ponsel milik Lula dan memindahkan foto tadi ke ponselnya. Ia mengirim foto itu ke kontak Nabil. Dan seketika itu juga Nabil membalas pesan Kevin.


"Gila, kamu ya, sudah menikah tapi masih tidur sama Intan!" umpat Nabil.


"Aku tidak sekotor yang ada di dalam otak kamu. Sepertinya aku sedang dijebak. Tolong, cari tahu tentang kebenaran foto ini!"


"Siapa yang berani menjebak mu?"


"Entahlah, aku tidak mau berprasangka dulu. Segera kabari aku setelah kamu mendapatkan informasi!" Kevin menegaskan agar Nabil bergerak cepat.


***


Alula sudah selesai dengan pemeriksaaan di rumah sakit. Dokter bilang dia mengidap Bulimia Nervosa. Gangguan dengan Bulimia nervosa adalah di mana pengidapnya punya keinginan mengonsumsi makanan dalam jumlah besar sekaligus. Selama episode makan ini, pengidap bulimia tidak punya kendali untuk menghentikannya. Setelah mengonsumsi makanan tersebut, pengidapnya akan merasa malu sehingga ingin melakukan segala cara untuk mengeluarkan makanan yang telah dikonsumsinya.


Alula baru tahu itu. Untuk menanggulangi gangguan ini, dokter menyarankan agar Lula mengikuti terapi pembiasaan kognitif. Terapi pembiasaan kognitif ini bertujuan untuk membantu mengembalikan pola makan penderita, serta mengubah perilaku yang tidak sehat menjadi sehat, dan pola pikir yang negatif menjadi positif.


Kevin merasa lega sekarang karena ini bukan sebuah penyakit yang serius. Meski Bulimia Nervosa bisa mengancam nyawa juga jika tak segera ditangani.


Selesai dari rumah sakit. Kevin mengantar Lula di depan apartemen dan langsung putar balik untuk menuju ke kantor.


Langkahnya terhenti, ia menatap apartemennya dan sedang menghubungi seseorang. Ia memutuskan untuk pergi tanpa memberi kabar pada suaminya.


Semenjak insiden tentang Alula yang difitnah menggunakan narkoba, Arjun tampak menjaga jarak dengannya. Setelah mendapat panggilan dari Lula, Arjun bergegas menemuinya di tempat biasa.


"Arjun, maafkan aku yang terlambat mengucapkan terima kasih waktu itu." ujar Lula setelah meneguk minuman dinginnya di sebuah cafe.

__ADS_1


"Iya, Lula, kalau kamu sibuk, kamu bisa mengucapkan itu di telepon." Arjun menatap lekat wajah cantik yang selama ini membuat detak jantungnya tak karuan.


"Tidak. Aku sengaja mengajak kamu bertemu untuk mengatakan ini secara langsung."


"Aku tidak yakin kamu mengajak ku ketemuan hanya sekedar mengucapkan terima kasih. Katakan, kamu ada masalah!" Arjun sangat pintar menebak.


"Kamu seperti bisa membaca pikiranku." Alula mendesah sebelum melanjutkan perkataannya. "Sebenarnya aku sudah mengirim berkas untuk pengajuan gugatan cerai ke pengadilan agama."


Mendengar itu Arjun seperti sedang tertawa dan melayang di atas angin sekarang. Tapi, sebisa mungkin ia menahan rasa itu.


"Dia melakukan kesalahan yang fatal padamu?"


"Kemarin, mantan pacarnya menemuiku dan mengatakan kalau dia tengah hamil anak mas Kevin." Lula tampak tenang mengatakan itu.


"Dan dia ingin menikahi wanita itu?" Arjun seakan mendapat peluang besar.


"Mas Kevin tidak percaya dan menyangkal nya. Bagaimana menurutmu, apa keputusan yang aku ambil ini sudah tepat?"


"Terkadang pria mudah sekali meminta maaf, tapi sebanyak apa pun dia menyakiti, wanita yang terlanjur mencintainya akan dengan begitu mudah menerima maaf nya. Hatimu tak seperti itu kah?" Arjun mencoba mengetahui isi hati Lula yang sebenarnya.


"Entahlah, terkadang aku masih ragu untuk tidak mengakui cinta padanya."


Di sela-sela perbincangan mereka datang sepasang muda mudi ke kafe itu dan posisi mereka membelakangi Lula. Hingga tak tahu kalau Lula juga berada di sana.


Alula sedikit membungkuk dan menutup wajahnya dengan buku menu.


"Ada apa Lula?" bisik Arjun yang mengetahui gelagat aneh padanya.


"Sttt, itu cewek yang mengaku dihamili Kevin." terang Lula dengan menunjuk namun masih berbisik.


Ternyata itu adalah Andho dengan Intan. Keduanya sibuk mengobrol untuk membahas rencana baru.


"Menurutmu aku harus ke rumah sakit kah, jika Kevin ingin mengetahui kebenaran nya?" ujar Intan membuat Lula melebarkan telinganya untuk mengorek informasi secara detail. Ia tak menyangka jika lawannya membuka kedoknya sendiri. Otak nya yang cemerlang memberikan ide agar dia merekam pembicaraan mereka. Alula mengeluarkan ponsel dan mulai merekam.


"Aku rasa harus. Itu agar terlihat menyakinkan. Aku akan membayar seorang dokter, kamu pergi saja ke rumah sakit XXX."

__ADS_1


"Hah, jadi mantan pacarnya pura -pura hamil?" pekik Lula hingga membuatnya menganga. Dengan reflek dia menutup mulut dengan kedua tangannya.


__ADS_2