
Pagi hari saat Vivi terbangun, dia tak mendapati semua orang di rumah Nabil. "Pergi ke mana semua orang?" tanya nya pada diri sendiri.
Kemudian Vivi membuka kulkas, karena tenggorokannya terasa kering ia mengambil minuman dingin lalu meneguknya.
Menutup pintu kulkas dan berjalan ke arah meja makan. Membuka tudung saji dan beberapa menu untuk sarapan ada di sana.
Perut Vivi terasa lapar, ia pun mulai untuk makan.
Setelah merasa kenyang dan hendak bangkit, tiba-tiba ponselnya berdering. Seseorang dari arah seberang mengabarkan kalau kesehatan Kevin memburuk.
Vivi merasa miris mendengar kabar kalau mantan pacarnya tengah sekarat.
"Aku harus mendapatkan pendonor jantung secepatnya." Vivi berpikir siapa yang akan menjadi sasarannya. Terbesit dalam ingatannya untuk mencelakai Andho.
Vivi segera membersihkan diri setelah menutup panggilan itu.
Dia pergi menaiki taksi untuk memastikan sendiri kesehatan Kevin. Dia juga harus tahu golongan darah Kevin sebelum mengambil jantung milik Andho.
Hanya butuh waktu satu jam, taksi itu membawa Vivi di mana Kevin di rawat.
Setelah bertanya pada bagian resepsionis, Vivi menuju kamar Kevin. Ia mendengar suara samar di dalam kamar itu. Mendekatkan telinga di balik pintu.
Sementara di dalam ruangan Kevin sedang berkumpul keluarga Gibran. Nabil yang mengantar mereka berdua untuk menemui Alula.
Gibran tak percaya jika mendapat penolakkan dari Lula. "Alula putriku, aku adalah ayah kandung mu yang selama ini mencari kamu."
Alula mengacuhkan ucapan itu. Hatinya merasa sakit. Mengapa baru sekarang orang tua itu mengaku. "Putri mu sudah mati."
Maria yang sejak tadi mendengar perseteruan itu mulai geram. "Kamu jangan keras kepala, Alula! Sejak tadi suamiku sudah berusaha menceritakan semuanya tentang hal yang ia alami dulu dan sudah mencari kamu ke pelosok Nusantara."
Alula mengendus, "Bohong!"
Kevin berusaha bangkit untuk menenangkan emosi istrinya yang hamil muda. "Alula, tidak kamu memberi pada mereka kesempatan sekali lagi, kasihan mereka sudah menderita karena kesalahan mereka."
Alula berbalik menatap suaminya dan membuka bibirnya, "Aku masih sakit hati Mas, atas apa yang dia lakukan padaku dan almarhumah ibuku dulu. Tidak ada kesempatan kedua."
"Tapi kan mereka sudah menyadari dan bukalah hatimu!"
"Hatiku sudah tertutup Mas. Aku benci mereka!"
Gibran meremas dadanya yang terasa sesak. Melihat Gibran kesakitan Maria panik, "Pa, kamu kenapa Pa?" Maria memegang bahu nya.
"Dadaku sakit Ma."
__ADS_1
"Alula, jangan sampai kamu durhaka atas perlakuan kamu hari ini! Tidakkah kamu kasihan pada papamu?"
Karena mendengar terjadi sesuatu yang tidak beres, Vivi tanpa mengetuk pintu masuk begitu saja.
"Papa! Mama ! Kenapa kalian berada di sini? Dan mengapa Alula durhaka pada Papa?"
Semua orang tercengang dengan kehadiran Vivi. Terlebih orang tua Vivi. Untuk menyakinkan Alula tentang kesungguhan Gibran meminta maaf, ia akan memberi tahu Vivi.
Alula tak percaya jika Vivi adalah saudarinya. Setiap hari saat sekolah dulu, ia selalu diperlakukan kasar oleh temannya yang tidak lain adalah saudarinya sendiri.
Alula menatap Vivi, sepenuhnya masih tak percaya.
"Vivi, sebenarnya ..." Gibran menggantung kalimatnya.
"Apa Pa, sebenarnya siapa Alula, hah!" Vivi menjadi emosi, setahunya keluarganya tidak ada urusan dengan Alula.
Maria mendekat ke arah Vivi mengambil kedua tangannya dan mengusap lembut.
Vivi semakin gusar, "Ada apa Ma?" dia bertanya pada Maria, tapi Maria bungkam, biarkan suaminya yang membongkar rahasia siapa Alula sebenarnya.
Gibran membuka mulutnya akan melanjutkan perkataan yang terjeda tadi.
Nabil sudah mewanti -wanti keadaan jika Vivi berbuat hal diluar dugaan.
"Sebenarnya, Alula Farhah adalah saudari mu. Dia lahir dari rahim istri pertamaku." akhirnya lolos juga kalimat yang mengganjal itu dari mulut Gibran Farhah.
Mata Vivi seakan merasakan panas, "Apa! Itu tidak mungkin!"
Maria mengusap bahu nya dan berkata dengan lembut, " Vi, apa yang dikatakan papamu itu benar. Wanita yang selama ini kamu benci adalah saudari mu."
Alula merasakan hal lain mendengar semua ini. Sekarang ia memilki saudara dan bahkan statusnya jelas, memiliki orang tua.
Vivi menepis kasar tangan ibunya. "Aku tak mau memiliki saudari seperti dia! Kalian orang tua jahat! Merahasiakan ini dariku." Vivi menyorot tajam ke arah Alula dan menudingkan jari. "Hebat ya kamu, sudah merebut pacarku dan sekarang orang tuaku kamu ambil juga. Terbuat dari apa sih tubuh mu itu. Cantik juga tidak, tapi semua orang seolah memujamu. Kalau bisa sudah aku lenyapkan nyawamu sejak dulu."
Mendengar umpatan Vivi yang diluar batas. Gibran sontak berdiri tegak seolah tak merasakan rasa sakit.
"Hentikan ucapanmu Vivi!"
Vivi berbalik melihat papanya. "Papa sudah berani membentak ku?"
Maria setengah berlari memegangi suaminya takut akan terjatuh. Tapi pria itu berdiri tegak dengan kedua kakinya.
"Aku tidak apa-apa, Ma."Gibran berbisik menenangkan kekhawatiran istrinya.
__ADS_1
"Vivi, kita sudah cukup lama merasakan hidup enak. Sementara Alula merasakan kesengsaraan di luar sana. Aku dulu sudah mencari di desa, tapi anak dan istriku tak kutemukan. Semenjak itu aku memutuskan untuk kembali ke kota. Sepatutnya kita bersyukur bisa bertemu dan bersatu kembali menjadi keluarga yang utuh."
"Sudah aku katakan, tidak! Aku tak mau melihat dia lagi." Vivi menghentakkan kaki lalu keluar dengan perasaan kesal.
Nabil mendapat kode dari Kevin untuk mengejar Vivi. Takut nya terjadi sesuatu karena Vivi pergi dengan emosi.
"Alula," panggil Gibran dengan lembut.
Alula tersentuh, "Iya," namun masih terasa kelu lidahnya untuk memanggil papa.
"Maafkan atas kesalahan Vivi, aku terlalu memanjakan dia."
Alula mengangguk.
Maria memegangi tangan suaminya, "Papa mau duduk kembali?" Maria menawarkan dan akan membantunya duduk.
Gibran mencoba menggerakan kakinya. Dan sudah tak merasakan sakit. "Ma, kakiku sudah bisa digerakkan!" serunya bahagia.
Maria tersenyum, "Alhamdulillah Pa, berarti Papa sudah sembuh!"
Saat akan melangkahkan kaki, keseimbangan Gibran belum sepenuhnya bagus dan hampir terhuyung.
Alula segera menangkap tubuh itu. "Hati-hati, Pa!" Alula tanpa sadar mengucapkan nya.
Gibran mendengar dan pura-pura tak tahu. Dia merasa senang meski sepenuhnya Alula belum bisa memaafkannya. Dia menyimpan kebahagian itu.
Gibran duduk kembali ke kursi roda.
Kevin merasa terharu dengan pemandangan itu. Setidaknya, ia berpikir masih ada orang lain yang akan menjaga Alula setelah sepeninggal nya nanti.
Meski umur di tangan Tuhan, tapi ia sudah terlanjur pasrah dan hanya menunggu waktu saja.
Orang tua Kevin sudah mulai bergerak mencari seseorang yang bersedia mendonorkan jantung. Itu artinya orang tersebut bersedia mati.
Tapi usaha mereka gagal. Siapa yang mau mati hanya demi orang lain?
*
Arjun seharian ini tak menemui Alula. Ia sibuk dengan pekerjaan nya di salon. Meski punya karyawan banyak, sering juga ia terjun sendiri melayani pelanggan. Dan pelanggan selalu merasa puas dengan hasil kerjanya.
Arjun mendapatkan panggilan dari seorang wanita yang tidak lain adalah Naura.
Naura meminta untuk ketemuan di sebuah cafe. Rencananya Naura ingin menyatakan rasa sukanya.
__ADS_1