Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 43


__ADS_3

Suasana jalan setelah satu jam akhirnya kembali lancar. Nabil mengendarai mobil dengan kecepatan sedang hingga membawa penumpangnya tidak terlalu malam sampai di tujuan.


Setelah memarkir mobil atasannya, Nabil pulang dengan mengendarai taksi.


Nabil sangat bersemangat hidupnya dan tak pernah sedikit pun mengeluh. Meski kadang kala ada saja tugas yang selalu dibebankan Kevin padanya.


Taksi yang ia dikendarai mendadak berhenti. Hingga membuat Nabil bertanya.


"Ada apa Pak, berhenti mendadak?"


"Maaf Tuan, ada seorang wanita yang melintas dengan tiba-tiba." sahut si sopir. Kemudian Nabil membuka pintu kaca untuk melihat wanita yang dimaksud.


"Bukankah itu Kiki, teman Lula dulu?" Gumam nya seraya melarang sopir untuk melajukan taksi.


Nabil keluar untuk memeriksa keadaan.


"Kamu Kiki kan?" tanya Nabil memastikan.


Paras Kiki tak begitu cantik. Postur tubuhnya sangat tinggi dan sejajar dengan Nabil.


"Pak Nabil?" sahut Kiki sedikit kikuk bertemu dengan atasannya.


"Kamu malam-malam begini dari mana?" selidik Nabil.


"Saya baru saja dari apotek." sahut Kiki sambil menunjuk apotik di seberang jalan.


"Siapa yang sakit?" tanya Nabil penasaran.


"Ibu saya." sahut Kiki sambil mengarahkan pandangan ke sisi lain. Seperti sedang menunggu.


"Lantas, apa yang sedang kamu tunggu?" Nabil melihat arlojinya sudah membujuk pukul 10 lewat.


"Saya sedang menunggu ojek, Pak." ujar Kiki.


"Ini sudah malam. Tidak baik wanita berada di luar rumah jam segini." Nabil menarik tangan Kiki dan menuntutnya masuk ke dalam taksi.


Perasaan Kiki jadi tak karuan. Ia berasumsi kalau perasaan ini hanya sekedar rasa kasihan seorang atasan terhadap bawahannya. Kiki sempat menolak tapi Nabil terus memaksa.


"Ibumu sakit apa? Sudah di periksakan ke dokter?" tanyanya beruntun.


"Asmanya kambuh, sudah 3 kali ini saya membawa ibu saya ke dokter." sahut Kiki dengan tertunduk malu.


Tidak ada percakapan selanjutnya hingga mobil taksi itu membawa Nabil dan Kiki berhenti di sebuah rumah kecil dan terlihat kumuh. Meski malam, cahaya rembulan yang temaram memperlihatkan dengan jelas bangunan kecil itu.


"Di sini kamu tinggal?" Nabil menyembulkan kepalanya dari jendela mobil. Melihat keadaan sekitar yang tampak temaram. Kiki mengangguk pelan. Nabil keluar terlebih dahulu baru kemudian dia membukakan pintu mobil untuk Kiki.

__ADS_1


"Terima kasih Pak, sudah mengantar saya!" ujar Kiki sambil keluar dari mobil. Keduanya tampak hening setelah tatapan mereka bertemu. Kiki segera masuk ke dalam rumah. Takut perasaannya muncul kembali. Sejauh ini Kiki menyimpan rasa dengan atasannya itu sejak ia awal masuk kerja.


Nabil memastikan Kiki masuk ke dalam rumah dengan aman, baru dia menyuruh sopir untuk melajukan taksinya.


Di apartemen Kevin.


Kevin memasuki apartemennya dengan perasaan yang berkecamuk. Sebisa mungkin ia menahan emosinya. Ia mendapati Lula tidur meringkuk di atas sofa. Televisi masih dalam keadaan menyala.


Langkah Kevin pelan dan tangannya mengambil remot untuk mematikan televisi. Ditatapnya wajah sang istri. Begitu teduh dan cantik. Dia berniat ingin memindahkan Lula ke kamar. Namun belum sempat ia mengangkat tubuh istrinya, Alula membuka mata.


"Mas, kamu sudah pulang?" Alula mengerjap, mengumpulkan semua nyawa agar bisa duduk dengan posisi tegak.


"Iya, baru saja," sahut Kevin datar. Ia teringat dengan ucapan Nabil tadi.


"Aku tak boleh gegabah." batinnya menasehati.


"Kamu sudah makan, Mas?" Alula mendongak menatap suaminya. Kevin hanya menggeleng pelan.


"Sore tadi sudah, tapi entah mengapa malam ini aku lapar lagi."


"Baiklah, aku akan menghangatkan makanan dulu!" Alula berdiri dan melangkah menuju dapur.


Kevin menatap punggung istri nya. Di lihatnya pergerakan Lula seakan tak percaya dengan foto di ponselnya. Lula tengah menyalakan kompor. Dan menyiapkan piring.


"Mau teh panas!" teriak Lula yang membuat Kevin tersentak dari lamunan.


"Ah, rasanya tidak mungkin jika istriku selingkuh. Itu pasti akal-akalan orang lain untuk merusak rumah tanggaku." Kevin segera menuju di mana Lula berada sekarang.


"Sayang, kamu temani aku juga ya," Kevin menarik kursi saat Lula mengambil nasi di atas piringnya.


Lula sedikit cemberut mendengar itu.


"Ntar kalau aku gendut lagi bagaimana?" elak Lula.


"Tidak akan."


"Baiklah, ntar kamu yang tanggung jawab loh!" protes nya. Kevin hanya tersenyum menimpali.


Keduanya makan dengan suasana tenang.


"Bagaimana tadi, apa ada yang cocok mobilnya?" Kevin memulai obrolan.


Lula mengangguk cepat, "Iya, bahkan tadi ada seorang ibu-ibu yang memaksakan diri juga untuk membeli mobil yang aku pilih duluan."


"Oh ya, lantas kamu mengalah?" Lula menggeleng.

__ADS_1


"Tidak. Karena uang mereka tak cukup."


"Memangnya berapa harga mobil yang kamu pilih?"


"Sekitar 7 milyar."


"7 milyar?" pekik Kevin tak percaya jika istrinya mampu membeli dengan harga selangit.


"Itu kamu beli dengan uang kamu sendiri?" seolah Kevin tak percaya. Padahal dia juga mampu memberinya uang, tapi belum sempat memberikannya pada Lula, Lula sudah dulu membelinya secara tunai.


"Aku kira kamu mau melihat -lihat dulu tadi. Ya sudah, besok uang kamu aku ganti."


"Tidak perlu, Mas! Kamu tenang saja, uang bulanan yang kemarin saja masih utuh."


Mendengar itu Kevin sedikit malu, karena Alula begitu mandiri tak pernah meminta uang nya sedikit pun. Malahan Kevin sendiri yang memaksa Lula untuk menerima uangnya.


Kevin ingin menanyakan kegiatan Lula sore tadi. Tapi terkesan curiga Kevin mengurungkan niatnya. Keduanya selesai makan langsung masuk kamar.


Keesokan paginya.


Mobil Lula sudah ada di tempat parkir. Kevin memuji pilihan istri nya.


"Sangat bagus, cocok dengan kamu yang suka sekali warna merah."


Lula ingin belajar menyetir setelah pulang dari studio nanti. Hari ini dia ada jadwal pemotretan untuk sampul majalah.


Kevin mencium kening istrinya sebelum berangkat. Ia tak ingin membahas tentang foto itu. Bisa saja merusak mood istrinya yang terlihat begitu ceria pagi ini. Ia juga berjanji sepulang kerja akan mengajari Lula menyetir mobil barunya.


Karena tak terkena macet. Lula sudah sampai di lokasi tepat waktu. Dia segera menemui sang fotografer. Selesai acara pemotretan Lula segera pulang. Ia tak sabar untuk mengemudi.


Kini Lula sudah sampai di depan apartemen, menunggu Kevin yang katanya akan pulang cepat.


Seseorang menepuk bahunya dari belakang, membuat ia menoleh.


"Arjun!" sapa Lula sedikit kaget.


"Ini." Arjun menyerahkan map.


"Apa ini?"


"Bukalah, dengan begitu kamu akan tahu!" Alula segera membuka dan membaca sekilas. Itu adalah catatan kekayaan dan saham milih perusahaan Gibran.


"Hebat!" reflek Alula memeluk Arjun sangking senangnya. Arjun tak percaya dengan reaksi Lula yang berlebihan seperti ini.


Alula melepaskan pelukannya saat suara pria meneriaki namanya dari arah belakang. Alula membulat sempurna.

__ADS_1


"Ini tidak seperti yang kamu kira. Aku dan dia hanya ...."


__ADS_2