
Vivi berdecak kesal. Hari ini nasib tak memihak padanya. Usaha nya mencelakai Alula gagal. Dan malah Kevin terpuruk di rumah sakit. Ia tahu kalau Kevin membutuhkan jantung. Ia berharap bisa menggantikan jantung Alula untuk Kevin. Rencananya berantakan. Ia masuk ke kamar dan membanting pintu dengan kasar.
"Alula, kali ini nasibmu beruntung. Kita lihat seperti apa endingnya nanti."
Karena lelah, Vivi pun terpejam dan menyambangi alam mimpi.
Maria menemui suaminya.
"Pa, aku sudah menemukan identitas Alula Farhah yang sebenarnya." Maria menyodorkan map pada Gibran.
Gibran yang hampir tertidur setelah meminum obat segera mengerjap. Menggosok matanya yang renta.
Menerima map dan membuka nya. Maria menyerahkan kacamata sebagai alat mempermudah memahami isi dari map tersebut. Baru sekali membuka, manik matanya menyorot foto tertempel di pojok. Bibirnya bergetar dan bersuara. "Putri ku, Alula!"
Maria tercengang, jadi gadis yang pernah berseteru dengannya adalah putri kandung suaminya.
"Jadi benar Pa, dia adalah putrimu?"
Gibran mengusap matanya yang mulai berair, lalu mengangguk pelan.
Maria menghibur suaminya. Meski terkadang egois, ternyata Maria memiliki sisi lembut juga. Pada akhirnya ia menerima masa lalu Gibran dan tak mempermasalahkan hadirnya Alula.
"Bawa aku padanya, Ma!"
"Besok ya Pa, kita akan atur jadwalnya. Sekarang sudah malam, sebaiknya Papa segera tidur."
Gibran membaringkan tubuhnya, sebelumnya dia melepas kacamata dan menyerahkan pada Maria untuk disimpan. Maria membenahi selimut dan menyusul tidur.
Sementara di kediaman Aluwi.
Viona tiba dan membuat seisi rumah heboh.
"Papa! Mama!"
Santi yang baru selesai dari urusan dapur segera menuju sumber suara. " Pelankan suaramu! Ini sudah malam, dan dari mana saja kamu, jam segini baru pulang ?" omel Santi sambil menatap Viona yang masih mengenakan seragam putih abu-abu.
Viona mengambil tangan ibunya. "Ma, kak Kevin Ma," raut Viona berubah muram membuat Santi khawatir.
"Ada apa dengan anak itu?"
"Di mana papa? Papa juga harus tahu hal ini." Viona berkeliling menatap tangga.
"Papa baru saja pergi tidur. Badannya capek semua." ujar Santi memberi tahu keadaan suaminya.
Viona melepas tangannya dan menarik ibunya menaiki tangga. "Ayo Ma, kita ke atas!"
Santi semakin gusar, ada apa sebenarnya? Dia pasrah mengikuti si bungsu.
Setelah tiba di kamar Satria.
__ADS_1
"Pa bangun, Pa," Viona menggoyangkan bahu Satria.
Satria mengerjap dan mengeluh, "Cih, anak ini mengganggu saja, ini sudah malam, dan mengapa kamu masih memakai seragam?"
Viona tak menggubris pertanyaan itu dan berkata, "Kak Kevin masuk rumah sakit."
Satria sontak langsung bangkit, "Masuk rumah sakit!" menggosok mata dan mengumpulkan sisa tenaganya setelah seharian bekerja.
Viona mengangguk lalu menoleh ke arah Santi.
"Masya Allah, anak itu! Ayo Pa, kita ke rumah sakit sekarang!"
Satria mengangsur kan selimut dan mengenakan sandal. "Dari mana kamu tahu kabar ini?"
"Viona sudah melihat sendiri keadaan kak Kevin. Kak Nabil yang mengantarkan ku tadi."
Satria menuju lemari untuk mencari baju ganti.
"Bagaimana keadaannya sekarang, apa tubuhnya penuh luka?" Santi mengira kalau Kevin mengalami kecelakaan saat berkendara.
"Wajahnya aman kok!"
"Lantas apa ada luka serius yang di perban?"
"Tidak Ma, kak Kevin masuk rumah sakit bukan karena kecelakaan!"
Satria sudah siap, dia mengerutkan alisnya mendengar itu. "Kalau begitu , dia sakit apa?"
Satria dan Santi saling melempar pandang, kemudian menggeleng.
"Kak Kevin sakit jantung, dan dokter bilang nyawanya susah tak lama lagi."
"Apa!" Satria dan Santi kaget mendengar itu.
Mereka segera menuju rumah sakit.
Viona yang baru tiba segera masuk kamar, mandi dan berganti pakaian. Ia tidak ikut ke rumah sakit. Segera tidur agar besok bisa lebih fress. Rencananya setelah pulang sekolah ia akan menjenguk saudaranya.
Sesampai nya di rumah sakit. Satria dan Santi menuju ruangan Kevin. Alula yang terpejam seketika membuka mata setelah mendengar pintu terbuka.
"Mama! Papa!" Alula berdiri menyambut kedatangan mertuanya.
Santi memberikan pelukan hangat pada menantu kesayangannya. "Kenapa kamu tak mengabari mama sebelumnya?"
Alula melepas pelukan mertuanya, menatap mata wanita itu. "Alula sendiri juga baru tahu, Ma. Mas Kevin sangat pandai menyembunyikan penyakitnya. Alula bingung harus berbuat apa."
"Bagaimana dengan kandunganmu?" Santi mengusap perut Alula yang sedikit membuncit.
"Alhamdulillah sehat Ma, kemarin sempat kram, tapi sudah lebih baik sekarang."
__ADS_1
"Jaga kesehatan kamu juga, jaga pola makan agar bayimu sehat."
"Iya Ma,"
Santi dan Satria mendekat ke arah Kevin yang terbaring.
"Kevin, putraku!" Satria tak kuasa menitikkan air mata, begitu pula dengan Santi yang sejak dari rumah sudah berurai air mata.
Kevin dengan perlahan membuka kelopak matanya. "Ma, Pa," ujarnya lirih.
"Maafkan Kevin, selama ini belum menjadi anak yang berbakti dan belum bisa membanggakan kalian. Maafkan aku Ma, jika selama ini selalu membangkang perkataan Mama."
Satria mengusap matanya, "Tidak Nak, kamu tidak pernah mengecewakan kami. Kamu adalah anak kebanggaan kami. Kami yakin kamu pasti segera sembuh."
"Kevin, jangan bicara seperti itu pada mama. Mama sakit mendengarnya. Kamu selalu patuh pada semua perintah mama dan kamu jangan pergi meninggalkan mama. Kamu harus kuat. Apa perlu kita bawa kamu keluar negeri untuk berobat?"
"Semua dokter pasti sama pendapatnya. Aku lelah,"
"Jangan bicara begitu Vin! Ingat apa yang ada di dalam perut istrimu. Kamu harus kuat. Kamu sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Kamu harus semangat untuk hidup." Satria menunjuk Alula.
"Apa yang dikatakan papa kamu benar, kamu tega jika meninggalkan Alula hidup sendirian?" Santi mengusap bahu Kevin.
Kevin menggeleng pelan.
"Nah, dari itu kamu harus sembuh. Kita akan membantu kamu untuk mencari pendonor jantung secepatnya, iya kan Pa,"
"Iya, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan kamu."
"Terima kasih Pa, Ma!"
"Sudahlah, sekarang kamu tidur lagi!"
Kevin mengangguk dan tak begitu lama ia terpejam. Terdengar dengkuran halus setelah itu.
Santi menawarkan Alula untuk pulang, tapi Alula menolak dan lebih memilih tidur di sini menemani suaminya.
"Baiklah, kalau begitu papa dan mama pulang dulu! Kalau ada apa-apa segera hubungi kami."
Alula mengangguk, "Iya, Ma. Papa dan Mama hati-hati di jalan. Ini sudah terlalu malam untuk kalian."
Santi dan Satria segera meninggalkan rumah sakit.
Arjun datang setelah orang tua Kevin pergi.
"Alula, aku bawakan nasi goreng. Ayo dimakan!"
"Aku nggak lapar." tolak Alula yang sudah tak begitu berselera.
"Aku tahu kamu pasti lapar, jangan menyiksa dirimu. Perhatikan juga bayi di perutmu yang butuh makan juga. Karena di usia ini, bayi lebih membutuhkan asupan yang banyak."
__ADS_1
Mendengar penuturan Arjun, Alula pun patuh juga dan menghabiskan nasi goreng itu.