Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 58


__ADS_3

Sekelompok orang dengan memakai jas hitam dan salah satu diantara mereka membawa tas hitam.


Maria mempersilahkan masuk dan menanyakan siapa dan mau apa mereka datang malam-malam.


Ternyata sekelompok orang itu adalah penagih hutang dan calon pembeli rumah yang Gibran tempati.


Mendengar kabar itu Gibran merasakan sesak dan tangannya menekan dadanya. Dia mendadak pusing dan seakan semesta memanggilnya, kemudian dia jatuh ke lantai tak sadarkan diri. Melihat suaminya tak berdaya, Maria berteriak histeris.


"Tolong ...! Papa, apa yang terjadi denganmu!" Maria menghambur ke arah Gibran dan menggoyangkan tubuhnya.


Vivi yang baru pulang juga kaget melihat apa yang terjadi. Dia segera menghambur ke arah papanya yang tergeletak di atas lantai.


Vivi mengedarkan pandang menatap sekelompok orang itu dan bertanya, "Kalian siapa dan mengapa sampai bisa membuat papaku begini?"


Seseorang yang membawa tas mengeluarkan catatan dari dalam dan menunjukkan pada Vivi. "Ini, kami penagih hutang."


Mata Vivi membulat merah melihat nominal angka di kertas tersebut.


Maria merebut kertas itu dan membacanya. Setelah itu berteriak. "Ini pasti salah! Suami saya tidak pernah berhutang pada orang yang tidak jelas seperti kalian!"


"Terserah, Anda percaya atau tidak. Segera Anda melunasi hutang tersebut atau kalian semua angkat kaki dari rumah ini. Karena sesuai perjanjian, jika pak Gibran tidak sanggup melunasi hutang tersebut, maka rumah beserta isinya menjadi milikku dan akan aku jual." terang seseorang yang membawa tas hitam itu dengan acuh.


Vivi mulai geram dan dari mana dia bisa mendapatkan uang sebanyak 500 juta malam ini juga. Sedangkan penghasilannya menjadi model semakin sepi bahkan sama sekali tidak ada masukan.


Karena Vivi dan Maria tak memiliki banyak uang, mereka terpaksa meninggalkan rumah itu tanpa membawa barang berharga lainya, kecuali pakaian.


Vivi menghubungi Andho untuk meminta bantuan dan menceritakan kejadian malang yang menimpa keluarga nya.


"Maaf, aku sedang sibuk dan jangan pernah menganggu aku lagi!" ujar Andho dari arah seberang dan memutus saluran telepon tanpa memberi kesempatan pada si penelpon. Dia lepas tangan setelah tahu keluarga Vivi bangkrut. Dia juga memutuskan untuk melupakan Vivi dan mulai menata hidupnya sendiri tanpa peduli lagi keadaan Vivi yang ia rasa sudah tidak menguntungkan lagi.


"Tolong beri kesempatan pada kami!" rengek Vivi pada orang itu seraya mengatupkan kedua tangannya memohon belas kasihan.


"Itu kalimat satu minggu yang lalu yang papa kamu ucapkan padaku. Dan malam ini jatuh temponya, kesabaranku sudah habis untuk menunggu lagi."


"Sial!" umpat Vivi kesal, tangannya mengepal, kukunya menancap pada telapak tangannya. Dia merutuki nasib naas yang menimpa nya malam ini.

__ADS_1


"Vivi, kita harus membawa papa kamu ke rumah sakit!" Maria mengguncang bahunya dan terus terisak. Tubuh Gibran yang tergeletak sangat memprihatinkan. Sekelompok orang tadi menggotong tubuh Gibran sebelum pergi dan meletakkan begitu saja di teras. Sungguh tak berperikemanusiaan.


"Vivi nggak punya banyak uang untuk bawa papa ke rumah sakit, Ma!" terang Vivi jujur.


Maria terus saja meraung. "Kasihan papa kamu, kemana uang yang kamu miliki selama ini? Pasti kamu boros!"


"Tentu sudah habis untuk keperluan Vivi lah! Kenapa Mama malah salah kan Vivi sih, justru Mama yang seharusnya pegang uang kan!"


"Kamu bukannya minta bantuan malah bentak mama!"


"Bentar Ma, Vivi mau mencoba cari pinjaman ke teman-teman Vivi." Vivi mengeluarkan ponselnya.


Vivi mencoba menghubungi orang -orang yang pernah dekat dengannya termasuk Kevin. Tapi Kevin sudah lama menghapus kontak nomornya dan tak menghiraukan lagi nomor asing.


Ia teringat Nabil dan seketika itu juga sambungan terhubung.


"Ya, ada apa Vi, malam-malam begini menghubungiku?" tanya Nabil yang baru saja akan memejamkan mata. Meski baru pukul 9 malam tapi matanya terasa di lem dan ngantuk sekali.


"Nabil, sesuatu telah terjadi padaku dan aku sangat membutuhkan kamu sekarang juga!" ujar Vivi terdengar panik dan suaranya serak.


"Papaku pingsan, nanti saja aku ceritakan kelanjutannya."


"Baik. Kamu tenang dulu. Aku segera datang." Kemudian Nabil mencuci muka untuk menghilangkan rasa kantuk, berlari mengambil jaket di lemari dan mengambil kunci mobil. Mengeluarkan dari garasi dan melaju menuju rumah Vivi.


Tidak sampai setengah jam, Nabil sudah tiba di kediaman Gibran.


"Tolong, bawa papaku ke rumah sakit!" Nabil mengangkat tubuh pria paruh baya itu ke mobil.


"Apa yang terjadi?" tanya Nabil setelah semua orang masuk ke dalam mobil. Nabil melajukan kendaraannya.


"Kami terjerat hutang hingga kami di usir dari rumah. Saat aku pulang tadi, papa sudah pingsan. Papa mungkin shock dan kaget mendengar ini hingga jantungnya melemah. Aku tidak tahu lagi harus pergi ke mana setelah ini." ujar Vivi sendu.


"Nak Nabil, terima kasih sudah mau datang setelah Vivi menelepon. Tadi Vivi juga mencoba menghubungi Andho, sepertinya Andho sudah tidak perduli dengan kehidupan Vivi setelah tahu papanya bangkrut." terang Maria yang berada di jok belakang sambil mengusap kepala suaminya.


Nabil tertegun sejenak mendengar keterangan dua wanita itu.

__ADS_1


"Sudahlah Ma, tidak perlu membahas itu. Vivi akan cari kontrakan, masih ada beberapa sisa uang yang aku punya."


Entah yang Nabil lakukan ini suatu kebijakan atau bukan, ia menawarkan untuk tinggal sementara di rumahnya.


"Sudah malam, sebaiknya untuk sementara waktu kalian tinggal saja di rumahku." ujar Nabil yang tidak mungkin juga membiarkan mereka menjadi gelandangan di jalan.


Mendengar itu Maria berbinar, "Terima kasih Nak Nabil, kamu orang yang sangat baik. Berbeda dengan Andho."


Merasa tak enak dengan kebaikan Nabil, Vivi berkata, "Aku akan menebus kebaikan kamu suatu waktu nanti."


Nabil tersenyum dan berkata, "Sudahlah, yang paling utama adalah kesehatan papa kamu."


Tanpa terasa mereka sudah tiba di rumah sakit. Gibran segera mendapatkan pertolongan.


Sementara Alula sudah berada di kamar Kevin. Keduanya terdiam cukup lama di atas kasur dengan duduk saling membelakangi. Gara-gara cicak jatuh membuat Alula kaget. Dia berdiri dan berjingkrak. Memeluk Kevin juga.


"Ah, cicak!" teriaknya sambil melompat.


Kevin segera menyapu cicak dengan bantal di tangan. Cicak itu jatuh lalu pergi.


"Tenang, sudah aman sekarang."


Alula melirik ke arah jatuhnya cicak tadi dan segera merapikan rambut nya yang sedikit berantakan.


Alula menarik nafasnya dalam -dalam, "Syukurlah!"


Karena suasana sudah mencair sekarang, Kevin memulai obrolan. "Apa kamu masih marah padaku?" tanya nya terdengar ragu.


Alula menatap suaminya dan mengerucutkan bibir. "Sedikit."


Kevin sedikit marah mendengar sahutan itu, lalu mengontrol emosi nya, "Maafkan aku Lula. Aku tidak tahu harus menjelaskan apa padamu. Mungkin selama ini kamu tersiksa dengan hubungan ini. Tapi, cobalah mengerti, kita sebentar lagi akan menjadi sepasang orang tua. Ku harap kamu tidak menuntutku."


Alula tak mengerti ke arah mana pembicaraan suaminya, "Maksud kamu?"


Kevin menarik Lula dalam pelukan. Mengecup ujung kepalanya, "Mulai sekarang, apa pun yang terjadi, ku ingin selalu bersamamu."

__ADS_1


Alula mendongak menatap suaminya, "Aku juga."


__ADS_2