Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 44


__ADS_3

"Jadi benar, kamu selingkuh di belakang ku!" Kevin menatap penuh kebencian. Kedua tangannya mengepal tapi masih lurus sejajar.


"Mas Kevin," Lula dengan cepat menurunkan tangannya. Dia ingin menjelaskan tapi bingung memulainya dari mana. Tidak mungkin Lula menceritakan kondisi keluarganya yang dulu. Cukup menjadi Lula yang sendirian saja setahu Kevin. Lula melirik Arjun untuk meminta pertolongan. Sepertinya Arjun senang dengan kondisi seperti ini.


Kevin menata nafasnya yang beradu. Sebelum berujar lagi dia menarik nafas dalam-dalam.


"Jika perceraian yang kamu inginkan, baik. Aku akan mempermudah nya." kalimat Kevin yang membuat Lula dalam masalah besar. Sebenarnya ia tak tulus mengucapkan itu.


"Tidak. Jangan! Apa pun jangan berpikir ke arah sana lagi. Aku dan Arjun tidak berselingkuh. Kami sedang membahas suatu perkara yang cukup kami saja yang tahu." Sulit baginya untuk jujur. Alula sungguh tersudutkan dalam posisi seperti ini.


"Tidak selingkuh?" Kevin tersenyum kecut, dengan tatapan dingin. Kemudian dia berbalik. "Aku pikir aku bisa sabar menghadapimu. Tapi ternyata aku keliru. Sudah berapa kali aku memperingatkanmu agar tak terlalu dekat dengan dia. Kamu malah memeluk pria lain di saat aku melihatmu. Aku akan bicara dengan mama." Kevin memejamkan mata. Tak disangka setetes air jatuh di pipinya. Terus melangkah pergi dan tak mau mendengar seruan istrinya lagi. Terlihat tangannya mengepal menahan emosi. Bisa saja tadi ia langsung memberikan bogem mentah ke arah pria tadi. Kevin merasakan hati yang pedih, ia segera masuk ke dalam mobil.


"Arjun, mengapa kamu tak menjelaskan kesalahpahaman ini padanya?" Lula menatap Arjun yang bersikap acuh padahal dia merasa kemenangan berpihak padanya.


"Aku tidak ingin ikut campur urusan kalian. Meskipun aku menjelaskan hingga puluhan kali pun dia akan sama, tak mau mendengar ku." Apa yang dikatakan Arjun ada benarnya.


Lula menangisi kepergian Kevin. Di awal dia lah yang menginginkan perceraian tapi setelah melihat perubahan Kevin dirinya melunak. Saat Kevin yang menginginkan perceraian, entah mengapa hatinya terasa sakit sekali.


Arjun menenangkan hati Lula, mengajak bicara untuk mengalihkan perhatiannya. Alula mulai sedikit tenang dan mengesampingkan dulu masalah perceraian.


***


Hari yang sangat menjengkelkan bagi dua pasangan yang dilanda asmara. Kevin sudah menceritakan semuanya pada Santi. Wanita separuh abad itu menangis tak karuan. Satria mengusap punggung istrinya agar sabar.


"Ini kan yang Papa suka?" Kevin mencium bau kemenangan atas Satria.


"Kamu salah Nak, aku tidak setuju jika kamu bercerai dengan istri mu karena hanya masalah sepele. Oke, papa akui memang tidak suka dengan kebiasaan makannya yang buruk. Setidaknya aku sudah memberi kesempatan dia untuk lebih baik lagi." ujar Satria.

__ADS_1


"Masalah sepele yang Papa bilang? Lula selingkuh Pa, bahkan di depanku dia memeluk pria lain!" sanggah Kevin.


"Kamu terlalu cemburu. Apa kamu mendengar penjelasan istrimu tentang itu, pasti tidak. Kevin, papa tahu kamu sangat mencintai dia. Dan papa sangat yakin kalau Lula tidak pernah selingkuh darimu."


"Dari mana Papa tahu dan begitu yakin?"


"Aku Satria Aluwi, jangan meremehkan aku. Aku sudah menyuruh seseorang untuk menyelidiki asal usul dia. Dia masih memiliki orang tua laki-laki. Ayah nya menikah lagi. Dan Alula memilki sahabat kecil yang bernama Arjun. Kamu pasti juga tahu itu kan ...." Kevin mengangguk dan setengah tak percaya dengan apa yang ia dengar.


Setelah mendapat masukan dari Satria, Kevin sedikit lebih tenang dan menimbang keputusan untuk berpisah dengan istri tercinta.


Kevin pergi sekedar ingin mencari udara segar. Dia menuju cafe. Saat melangkah dia merasa curiga kalau ada seseorang yang sedang mengikutinya.


Kevin buru -buru kabur dan bersembunyi. Pengintai itu kehilangan Kevin.


"Andho?" batin Kevin saat melihat dari persembunyian.


Andho berjalan menuju di tempat gelap. Mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. Setelah itu ia pergi.


Kevin menangkap kecurigaan terhadap Andho. Dengan langkah mengendap ia membuntuti Andho, ingin tahu dia bekerja untuk siapa.


Andho berjalan ke arah depan cafe. Menuju tempat parkir dan menaiki motor. Merogoh saku lalu menyalakan mesin. Kevin melihat itu bergegas menuju mobilnya yang tak jauh darinya. Segera menghidupkan mesin dan mengejar Andho.


Kurang lebih seperempat jam membuntuti Andho, Kevin mengurangi kecepatan mobilnya.


"Rumah sakit, siapa yang sakit?" Gumam Kevin yang segera memarkir mobilnya setelah Andho mematikan mesin motornya. Andho turun dan tampak mengambil sesuatu dari ponselnya.


Kevin buru-buru berjalan mendekat. Ternyata Andho sedang menerima panggilan telepon dari seseorang.

__ADS_1


"Baik. Kurasa itu cukup untuk membayar kekurangan kamu yang kemarin." ujar Andho lalu mematikan ponsel dan segera masuk ke dalam rumah sakit.


Setiap langkah Andho tak luput dari intaian Kevin. Ia seperti seorang intel yang sedang melakukan tugas negara.


Andho berhenti di depan kamar Melati nomor 3. Terlihat senyuman yang menakutkan sebelum ia masuk.


"Siapa yang ia kunjungi di kamar itu? Ah, aku semakin penasaran saja." Belum lama Kevin bergumam. Andho sudah keluar dari kamar pasien. Sambil menepuk sebuah map cokelat yang bisa ditebak itu berisi segepok uang. Kevin buru-buru pergi menuju ruang administrasi untuk bertanya pasien di kamar Melati nomor 3 itu.


Setelah mengorek sedikit informasi, Kevin mendesah.


"Vivi," gumamnya lirih sambil terus berputar otaknya untuk memikirkan rentetan masalah yang akhir ini menimpanya.


Kevin masih ingat saat Vivi bersama Andho menempati ruangan CEO dulu. Setahunnya, Andho hanya sebagai operator saja selama Vivi memerintah. Kevin belum tahu kalau Andho menyukai mantan pacarnya.


Kevin menghubungi Nabil untuk meminta bantuan agar menyelidiki tentang Andho. Dia juga meminta untuk mengurus pekerjaan, karena beberapa hari ia ingin cuti.


Udara malam semakin mengikis kulit. Kevin sedikit dilema dengan keputusan siang tadi tentang perceraian. Haruskah ia benar -benar menceraikan istrinya yang amat ia cintai?


Untuk meredam otak nya yang sedang kalut, ia lebih memilih untuk menyendiri beberapa waktu kedepan. Ia pergi dari rumah sakit mencari sebuah hotel yang cukup dekat dengan apartemen nya. Selain dekat tujuannya juga ingin mengamati Lula. Sejauh mana ia jika berselingkuh sungguhan.


Sementara Lula sedikit frustasi dengan kesalah pahaman siang tadi. Ia menunggu suaminya pulang. Sengaja tidur di sofa, siapa tahu suaminya pulang ia bisa mendengar dan segera menyambutnya.


Pukul 12 malam, Lula terjaga. Ia segera bangkit dan mengecek ke dalam kamar, siapa tahu suaminya sudah pulang. Namun nyatanya, kamar itu kosong. Lula menangis sesenggukan.


"Mas Kevin, kamu di mana sekarang?" gumamnya di tengah-tengah isak tangis. Hampir satu box tisu ia habiskan untuk mengelap air mata.


Karena kelelahan menangis, hampir subuh ia baru tertidur. Lula beranggapan Kevin berada di rumah Santi. Siang nanti ia akan ke sana. Menjelaskan masalah ini pada mertuanya.

__ADS_1


__ADS_2