Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 42


__ADS_3

Selesai dari dealer Alula segera langsung pulang ke apartemennya. Sambil menunggu pihak dealer datang mengantar mobil barunya, ia menuangkan teh panas ke cangkir. Membawanya ke ruang depan. Selang kemudian ponselnya berdering. Ternyata panggilan itu dari suaminya. Kevin memberi tahu Lula kalau ia akan telat pulang malam ini.


Alula meletakkan kembali ponselnya dan mulai menyeruput teh panas. Pikirannya kini melayang kejadian siang tadi saat ia bertemu ayahnya. Sungguh, ayahnya tak mengenali Lula sedikit pun. Ini membuat Lula merasakan benci yang amat mendalam.


Jam sudah menunjukkan pukul 18.00. Selesai makan malam Alula keluar dari Apartemen, ia sudah janji bertemu Arjun di bawah.


Arjun mengenakan setelan kaos dan celana pendek. Kebetulan warna pakaiannya senada dengan yang dikenakan Alula. Jika ada orang lewat pasti mengira kalau mereka berdua pasangan kekasih yang sedang berkencan.


Alula mulai menceritakan tentang pertemuannya dengan Gibran. Arjun menyimak dengan seksama. Sesekali ia mengangguk paham dengan apa yang Alula katakan. Sejauh ini Alula belum tahu kalau Vivi adalah anak dari Gibran dengan istri kedua.


"Apa kamu tak merindukan ayahmu?"


"Ayah macam apa yang kamu tanyakan. Sejak dia keluar dari hidupku, aku sudah menganggapnya tiada. Pantaskah dia ku sebut ayah, setelah penderitaan ia torehkan selama 7 tahun ini?"


"Paling tidak, kamu memberikan kesempatan lagi pada ayahmu untuk berbuat baik padamu. Sejauh ini ia pasti tak mengetahui keberadaan mu."


"Jika dia berminat, sudah sejak dulu ia mencariku. Bahkan di saat ibuku masuk ke liang lahat pun, ia tak hadir di sana."


Hati Lula benar -benar sakit jika mengingat itu. Akhirnya Arjun ikut juga dalam rencana jahat Lula.


"Aku bisa membantu kamu." ujar Arjun, dengan satu kalimat saja ia sudah bisa membuat Alula merasa lega.


"Bagus." Lula mengangguk lega.


"Apa yang kamu inginkan?"

__ADS_1


"Aku ingin mereka menderita agar bisa merasakan seperti yang ibu aku rasakan dulu. Buat perusahaan Gibran hancur. Dengan begitu mereka akan jatuh miskin dan merasa serba kekurangan dalam hal ekonomi." Arjun manggut -manggut.


"Aku dengar ayahmu memiliki satu anak dengan istri keduanya. Kamu bisa mendekati dia untuk masuk dalam keluarga Gibran."


"Tidak. Aku sama sekali tak mau berhubungan dengan keluarga barunya itu. Satu saja yang ingin aku lihat. Keluarga Gibran hancur."


Setelah melakukan percakapan panjang, mereka berdua menyudahi perjumpaan itu.


"Sampai ketemu besok. Kamu tunggu kabar baik selanjutnya." ujar Arjun sebelum beranjak pergi duluan.


"Iya. Aku pasti menunggu kabar baik itu." Lula pun ikut beranjak.


Tanpa mereka sadari, seseorang telah berhasil mengambil gambar mereka.


Sementara Kevin tengah terjebak macet bersama Nabil. Kedua rekan kerja itu baru saja melihat proyek di luar kota. Butuh waktu 4 jam untuk perjalanan pulang. Suasana malam sangat dingin. Ditambah hujan deras mengguyur kemacetan kota.


"Kamu tanya aku, lantas aku tanya siapa?" sahut Kevin yang duduk disebelah kemudi.


"Aku sudah bosan di sini terus. Andai saja kita tak menerima tawaran mereka tadi untuk makan, pasti kita sudah sampai di tujuan."


"Iya, lantas saat kamu menyetir pasti merengek minta isi tenaga. Dan ujung -ujungnya aku kamu suruh buat menggantikan menyetir. Kalau begitu, mending gaji kamu aku potong saja. Atau sekalian nggak usah digaji."


"Jangan begitu dong Bos. Aku butuh banyak biaya nih buat menyusun masa depan!" Nabil mengeluh de akan masa depannya suram.


"Masa depan apaan?" ledek Kevin.

__ADS_1


"Makanya bantu aku buat dapetin jodoh, katanya jodoh itu tak perlu dikejar, dan bakal datang sendiri. Mana buktinya?" lagi, Nabil mengeluh.


"Hus, berarti kamu nggak percaya takdir Tuhan dong! Selain berdoa kamu juga harus berusaha dong!" protes Kevin tak suka.


"Kenal kan aku dong! Yang cantik dan bisa masak pokoknya. Yang kayak istri kamu juga boleh!" ucapan Nabil yang terakhir membuat Kevin melotot dan mengarahkan bogem.


"Heh, istriku cuma ada satu di dunia ini, awas kalau kamu macam-macam!"


"Ampun Bos, bercanda!" Nabil menunjukkan dua jarinya tanda damai.


Ponsel Kevin bergetar tanda ada satu pesan masuk. Dari nomor yang tak dikenal. Kevin awal nya mengabaikan pesan itu. Ponselnya bergetar lagi, sebuah icon kamera tertera di layarnya yang membuat Kevin penasaran.


Alangkah kagetnya ia mendapati foto itu adalah istri nya dengan pria lain tengah duduk berjejer. Kevin menggenggam erat ponselnya hingga tangannya bergetar. Nabil yang mengetahui gelagat atasannya kalau ia sedang marah. Ingin bertanya takut ia kena damprat. Ia memutuskan untuk diam saja, dan menunggu kalau atasannya itu mau berbagi keluh kesah.


"Sial!" umpat Kevin begitu kesalnya.


"Ada apa Bro?" Nabil tak tahan lagi untuk bertanya.


"Istriku selingkuh." sahut Kevin datar tapi penuh kecemburuan.


"Tenang. Jangan terpancing emosi dulu. Keadaan rumah tanggamu kan baru saja kembali harmonis. Siapa tahu ada seseorang yang sedang mengadu domba kalian hingga membuat rumah tanggamu pecah. Sebaiknya kamu simpan dulu amarahmu dan mencari kebenaran sendiri. Dari pada kamu langsung menebak yang sebenarnya tidak istri mu lakukan, kamu malah membuka kunci permasalahan yang baru." terang Nabil menasehati.


"Tapi aku sudah tak tahan dan ingin sekali memergoki mereka berdua."


"Belum tentu istri mu selingkuh sungguhan. Bicarakan baik -baik nanti di apartemen, jangan langsung menuduhnya. Lebih baik mengalah dari pada timbul masalah baru."

__ADS_1


Kevin terdiam menyelami masukan sahabatnya yang ada benarnya juga.


__ADS_2