
Malam menjelang, Alula baru tersadar. Matanya mengerjap dan melihat sekelilingnya. "Di mana aku?" ujarnya lirih. Memegangi pelipis yang sedikit pusing.
Arjun yang terpejam sambil duduk di kursi seberang segera bangkit. Rasa cemas yang ia rasakan sejak tadi berangsur menghilang. "Syukurlah, kamu sudah sadar!"
Alula mengulang pertanyan nya, "Arjun, di mana aku?"
Arjun membantu Lula bangkit untuk bersandar. "Kamu pingsan tadi, dan dokter membawamu ke ruangan ini." terang Arjun sambil menyodorkan minuman. "Minumlah dulu!"
Alula menerima gelas itu dan meneguknya. Selesai minum ia mengingat apa saja yang telah terjadi padanya. "Mas Kevin?"
Arjun tahu perasaan Lula dan mencoba menenangkan untuk yang kesekian kali. "Sebenarnya aku juga sudah tahu mengenai penyakit Kevin. Tapi, dia melarangku untuk memberi tahukan padamu."
Alula membelalakkan mata tak percaya, sahabat yang amat ia percayai ternyata juga pandai menipu.
"Kamu menipu ku selama ini? Kenapa kamu tak kasih tahu aku sejak dulu?" Alula menatap sahabatnya masih tak percaya.
"Maafkan aku Lula. Kesehatan Kevin semakin menurun dan dia menyimpan kuat rahasia ini darimu. Kau tahu, kenapa dia melakukan ini padamu?"
Alula menggeleng, kemudian Arjun membuka bibirnya. "Karena dia sangat mencintai kamu dan tak ingin melihat kamu sedih. Meski dulu dia pernah melukai hatimu, dengan cara inilah dia menebus kesalahannya yang dulu."
Mendengar itu, Alula menangis lagi. Mengusap pipinya dan berkata, "Aku ingin menemui mas Kevin."
Arjun paham dan membantu Lula turun dari ranjang.
Sesampainya di kamar Kevin. Alula menatap tubuh yang lemas itu. Matanya berkaca -kaca dan dia perlahan berjalan ke arah ranjang Kevin.
Saat akan membuka bibirnya, seorang suster masuk.
"Permisi, saya akan mengganti infus pasien dengan yang baru!" ujar sister itu.
Alula mengangguk dan memperhatikan cara kerja suster itu.
Selesai sudah memasang infus, suster itu pergi.
"Mas Kevin, cepat sembuh ya, aku sangat rindu padamu. Kita akan bersama-sama membesarkan bayi kita. Apakah kamu tak ingin menggendong bayi kita jika dia sudah lahir nanti?" Alula meraih tangan Kevin dan menggenggam nya. Kevin bereaksi dan membuka mata. Tanpa ia sadari, air matanya pun menitik.
__ADS_1
Kevin membuka mulutnya dan berkata lirih. "Alula, maafkan aku. Aku juga merindukanmu."
Alula menutup mulutnya, menahan agar tangisannya tak terdengar. Terlihat jelas, bahunya berguncang menandakan tangisannya sangat pilu.
Setelah agak reda Alula bertanya, "Apa orang tuamu tahu hal ini?"
Kevin menyahut dengan lirih. "Tidak. Mereka tidak tahu dan aku tak berniat memberi tahu mereka."
Alula paham dengan maksud suaminya, agar tak menyakiti hati orang tuanya, ia rela menahan sakit seorang diri. Tapi Alula tak boleh egois, ia harus memberi tahu orang tuanya agar segera mendapatkan pertolongan. Siapa tahu dengan begitu, ada info untuk pendonor jantung.
Alula tersenyum, "Kamu jangan khawatir Mas. Aku dan calon anak kita akan selalu mendoakan kamu."
Mendengar itu Kevin merasa lega dan berkata, "Terima kasih Lula, meski keadaan ku seperti ini, kamu masih mau menemuiku."
Alula mencibir, "Tentu saja, aku kan istrimu Mas!"
Di balik kaca, Arjun merasakan nyeri di hatinya, bagaimana tidak? Wanita yang mengisi hatinya sedang bersedih. Tapi Arjun tak boleh egois, ia sebisa mungkin menekan rasa itu. Meski ia tahu wanita yang melekat di hatinya adalah istri orang lain.
Arjun menyandarkan kepalanya di tembok, dan tiba-tiba ponselnya berdering membuyarkan lamunan nya. Setelah melihat kontak di layar ponsel, ia segera mengangkat panggilan itu.
"Iya, Ma, ada apa?" ternyata itu dari ibunya.
Orang tua Arjun sudah lama menginginkan seorang menantu karena dia hanya anak tunggal, selain itu untuk penerus dari keluarnya.
Dan Arjun selalu menolak pilihan orang tuanya. Dengan berbagai alasan. Tentu ia masih menunggu seseorang.
Mamanya menyerah dan akhirnya memutus sambungan telepon.
Di sisi lain, Nabil sudah berada di kantor sejak pagi tadi. Dia heran, setelah melihat jam di ponselnya menunjuk pukul sembilan lewat tapi belum bertemu dengan atasannya.
"Kemana dia, jam segini belum muncul?" tergerak hatinya untuk menghubungi nomor Kevin.
Karena ponsel Kevin mati, Nabil mencoba menghubungi nomor Lula.
Lula tengah menikmati sarapan di kantin bersama Arjun.
__ADS_1
Alula mengangkat ponselnya dan berkata, "Hallo, Nabil!"
Nabil tersenyum karena terhubung juga, "Hallo, Lula, di mana Kevin? Hari sudah siang, kalian berdua enak-enak saja di rumah!" tuduh Nabil yang membuat hati Lula kembali sedih.
Alula mendesah kasar, "Dia ... masuk rumah sakit,"
Mendengar itu, Nabil terperangah dan seketika itu juga ia tersadar dengan penyakit yang Kevin sembunyikan dari semua orang. Apakah Lula sudah tahu? Nabil segera menelan ludahnya yang tertahan di tenggorokan.
Bukannya kaget, Nabil seolah bersikap biasa saja, "Oh, bagaimana keadaan nya?"
Alula merasa curiga, kenapa sahabatnya tak merasa kaget. "Apa kamu juga sudah tahu sebelumnya, jika dia sakit?" tanya Alula balik.
Nabil tak bisa berbohong lagi, "I-iya Lula, tapi kamu jangan menyalahkan aku sepenuhnya tentang rahasia yang sudah terbongkar ini, aku sudah berjanji padanya untuk tidak memberi tahumu." Nabil terdengar gugup.
Alula segera menutup ponselnya karena kesal.
Melihat itu, Arjun yang sudah menelan makanan berkata, "Siapa yang baru saja meneleponmu?"
Alula mencibir, "Dia seorang pembohong, sama sepertimu."
Arjun tak terima dan menyangkal, "Hei, jangan samakan aku dengan orang lain!"
"Kalian para pria, mudah sekali berbohong dan menutupi kesalahan kalian dengan bersikap seolah tak terjadi apa-apa, dan sekarang kalian mau menyangkal ?"
Alula menghentikan makannya dan melipat tangan di dada.
"Lula, sudah berapa kali aku jelaskan padamu, kalau yang aku lakukan ini semua demi kebaikan kamu juga,"
"Kebaikan apa yang kamu harapkan? Jika saja aku tahu keadaan suamiku sejak awal, tentu aku melarangnya untuk bekerja dan aku sudah berhenti syuting juga. Dan aku prioritaskan hidupku untuk merawatnya. Sekarang, aku baru tahu kalau suamiku sangat membutuhkan donor jantung."
Mendengar ceramah Lula, Arjun merasa bersalah, " Maafkan aku, jika saja aku bisa membantu mu, tapi jujur, aku tidak bermaksud untuk membohongi kamu."
Melihat sikap Arjun, Alula melunak, "Sudahlah, aku sudah kenyang, aku mau melihat mas Kevin dulu." kemudian Alula bangkit dan pergi.
***
__ADS_1
Nabil mencari sendiri berkas Lula di tumpukan map. Menarik laci satu persatu. Jika dia bertanya pada Kevin, tentu sudah satu jam yang lalu ia bisa keluar dari ruangan CEO.
Hampir saja Nabil putus asa, tangannya sudah lelah membuka dan menutup map, saat giliran map terakhir, wajah nya kembali berseri. "Nah, ketemu!"