Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 41


__ADS_3

Musim ini musim penghujan. Jalanan terlihat sangat becek pagi ini, bahkan banyak orang lebih memilih untuk tetap tinggal di rumah setelah hujan reda. Berbeda dengan pria berusia 50 tahunan ini. Ia segera menyalakan mesin mobil setelah mendapat panggilan dari pihak rumah sakit.


Gibran Farhah namanya, pebisnis yang akhir -akhir ini melejit namanya karena perusahannya mendapatkan keuntungan besar dari para konsumen. Ia sedang melaju ke sebuah rumah sakit di mana puterinya dirawat.


"Cepet Pa, mama nggak mau terjadi apa-apa dengan Vivi! Aku sangat menyayanginya, akan aku berikan seluruh hidupku jika bisa membuatnya selamat." ujar Maria yang terlihat sangat terpukul dengan kabar kecelakaan yang dialami Vivi.


Sejak malam Vivi tidak langsung pulang ke rumah. Ia mampir dulu ke club malam. Minum-minuman beralkohol. Dan setelah pikirannya merasa tenang ia pulang, ia berjalan sempoyongan hingga tak tahu arah. Sebuah sedan menabraknya hingga membuatnya tak sadar kan diri.


Di rumah sakit Metropolitan Vivi dirawat. Tidak ada luka serius, hanya cidera ringan saja.


Tidak ada setengah jam, mobil Gibran sudah sampai di halaman rumah sakit. Kedua pasangan paruh baya itu setengah berlari menuju ruangan Vivi.


"Vivi, Sayang, bagaimana keadaanmu Nak, mana yang sakit?" Maria begitu masuk langsung memeluk putrinya, seakan tak mau berpisah.


"Mama, aku baik. Tidak ada luka serius." sahut Vivi yang sedikit mendesis karena lututnya terlihat memar. Maria melihat seksama luka memar di bagian lutut dan siku.


"Syukurlah kalau begitu, Mama kamu tak berhenti menangis sejak mendengar kamu kecelakaan. Bagaimana dengan mobil kamu?" Gibran lega mendapati putri nya tak apa. Bukannya keadaan Vivi yang ditanyakan, malah besi roda empat yang ia khawatirkan.


Karena alkohol pikirannya sedikit kacau. Ia baru ingat jika mobilnya telah di curi. Bingung, tentu saja yang ia pikirkan sekarang. Mau tidak mau ia harus berkata jujur pada papanya. Mobil itu pemberian Kevin, tentu Vivi merasa kehilangan yang sangat.


"Mobilku di curi orang." sahut Vivi datar.


"Hah, di curi? Bagaimana bisa kamu seteledor itu!" Gibran meninggikan suaranya.


"Pa, mobil melulu yang dipikirkan! Yang penting anak kita selamat." protes Maria sembari melotot ke arah suaminya.


"Iya, Ma, papa tahu, tapi kan Vivi harus bisa menghargai barang pemberian orang lain."


"Sudahlah Pa, mama enggak mau berdebat lagi!" Maria menoleh ke arah Vivi dan menurunkan nada bicaranya. "Oh iya, Sayang, kamu pasti lapar, coba katakan pada mama, pagi ini kamu mau sarapan apa?"

__ADS_1


Karena luka Vivi tidak cukup parah, jadi tidak ada pantangan untuk makan apa pun. Vivi menyebutkan keinginannya untuk makan menu sea food pagi ini. Setelah hari menjelang siang. Vivi diperbolehkan pulang.


Kendaraan cukup macet siang ini. Ditambah hari ini hari libur jadi banyak pengendara sepeda motor yang berlalu lalang.


Maria menyarankan pada Gibran agar membeli kan mobil baru untuk Vivi. Gibran menyetujui usul istri nya. Maria ingin memilihkan sendiri mobil untuk putri kesayangan nya. Jadi ia pergi sendiri ke dealer mobil.


Sementara Alula sudah rapi dengan dandanannya yang cukup sederhana. Karena Kevin sedang ada urusan, Alula pergi sendiri ke dealer mobil.


Alula melihat mobil sport merah yang sudah lama ia impikan. Dengan tabungannya sendiri ia ingin membeli mobil itu. Pemilik dealer sangat mengagumi artis cantik ini dan sebelum terjadi transaksi, pemilik dealer ingin meminta foto bersama. Bersamaan dengan itu, Maria datang dan langsung jatuh hati dengan mobil sport merah yang hanya tinggal satu pilihan itu.


"Aku ingin membeli mobil ini untuk hadiah putri ku." ujar Maria serambi menyentuh body mobil.


"Maaf Nyonya, mobil ini sudah ada yang pesan." sahut pelayan dengan sopan.


"Aku tidak mau tahu, aku ingin mobil ini menjadi milikku. Berapa pun harganya aku akan membayarnya." ujar Maria dengan nada angkuh.


Alula yang tadinya sedang melihat-lihat mobil lain mengetahui perdebatan antara Maria dengan salah satu karyawan. Dia mendekat.


Pemilik dealer hadir juga dalam perdebatan itu.


"Mungkin Nyonya mau melihat pilihan mobil lain dan terbaru di sini?" tawarnya dengan sopan.


"Tidak mau. Aku hanya ingin mobil ini!" Maria tetep kokoh dengan tekadnya.


"Tapi, aku yang pertama kali datang dan melihat mobil ini." ujar Lula tak mau kalah.


"Heleh, tampang model sepertimu mana mampu membelinya. Suamiku punya perusahaan besar dan kaya. Sudah pasti mampu untuk membeli mobil ini. Kamu menyingkir sana!" Maria mendorong bahu Lula dengan perasaan jijik.


"Anda jangan salah menilai saya." Alula mencoba sabar meladeni wanita paruh baya itu.

__ADS_1


"Paling juga kredit belinya." sindir Maria yang segera mengangkat telepon ketika ada panggilan masuk.


"Iya Pa, mama sudah memilih satu mobil yang sangat cocok untuk anak kita. Papa segera ke sini ya," Maria mematikan ponselnya dan menyimpannya di dalam tas.


Ia tampak tak suka dengan penampilan Alula yang terlihat sederhana. Alula hanya mengenakan kaos lengan pendek dan celana jeans. Maria belum tahu kalau gadis yang berpenampilan sederhana itu adalah artis papan atas.


Tak lama kemudian Gibran datang menghampiri Maria. Maria dengan senang menunjuk mobil itu. Alula kagetnya bukan main. Ayahnya ternyata suami dari wanita ini.


"Ayah," Gumam Lula seakan ingin menangis. Meratapi nasib yang ternyata ayahnya meninggalkan dia dan almarhumah ibunya demi wanita angkuh seperti ini.


"Ma, ini mobil mahal, mana cukup uang papa untuk membeli ini," keluh Gibran dengan nada berbisik.


"Bukan nya Papa banyak duit bulan ini!" pekik Maria tak terima.


"Iya, tapi sudah papa bayar buat asuransi."


Maria sedikit kecewa dengan jawaban suaminya.


"Berapa Mas harga mobil ini?" tanya Gibran basa basi seraya mempertimbangkan uang di ATM nya.


"7 milyar." sahut karyawan itu.


"Hah, 7 milyar?" sahut kedua pasangan paruh baya itu dengan tersentak kaget.


"Tuh kan Ma, papa mana ada uang sebanyak itu. Pilih yang lain saja." usul Gibran yang membuat Maria malu setengah mati menatap Lula.


"Nah begitu," ujar Lula datar tapi terlihat menyindir kedua pasangan itu. Alula yang tadinya sempat gemetar menguatkan diri. Ia yang tak ingin melihat lebih lama dia pasangan itu segera meberikan ATM nya dan memilih segera pergi dengan membawa kenangan pahit.


"Awas, ayah. Aku akan membalas sakit hati ibuku yang telah engkau hianati." batin Lula panas.

__ADS_1


Alula menghubungi Arjun untuk minta bantuan. Ia lah satu-satunya orang yang bisa membantunya.


__ADS_2