
"Kevin, kamu sadar dengan apa yang barusan kamu katakan! Kamu menolakku berarti kamu sekarang sudah hancur !" bentak Vivi dengan amarah yang membludak. Matanya terasa memanas, ia mencoba kuat di depan Kevin. Sudah lama berpacaran tapi gagal menikah. Betapa terpukulnya ia saat mendengar keputusan Kevin.
Kevin sudah 7 tahun menjabat menjadi CEO dari perusahaan yang ayah nya berikan. Tidak mudah merintis dan memperjuangkan hingga sesukses ini. Dia yakin dengan seiringnya waktu dan perubahan yang ia alami bahwa harta dan jabatan akan berpihak padanya lagi, namun kali ini dia harus merelakan semuanya itu untuk mempertahankan hubungannya dengan Lula. Untuk membuktikan keseriusannya pada Alula, Kevin berani mengambil resiko dipecat dari jabatannya sebagai CEO.
"Jika kamu ambil aset perusahaan, silahkan! Tapi, selamanya kamu tidak akan pernah mendapatkan cinta dariku meski kamu menghancurkan aku sehancur-hancurnya." Kevin lalu pergi meninggalkan Vivi yang mematung.
Air mata Vivi tak kuat terbendung dan akhirnya tumpah. Dia menyapu semua benda yang ada di meja depannya sambil berteriak histeris.
"Lula, kamu akan mendapatkan pembalasan yang setimpal. Luka yang kamu torehkan padaku harus kamu bayar mahal!" Vivi segera keluar dan pergi untuk melakukan rencana baru.
Sementara Kevin yang bersama Nabil kini sedang berada di kantin.
"Bro, tidak begini juga caranya dalam mengambil keputusan. Kamu harus mempertimbangkan juga semua bawahan yang sudah setia bersamamu. Mereka tak kan bisa maksimal dalam bekerja, hanya kamu pemimpin yang menjadi panutan dari mereka." Nabil seakan tak rela jika Kevin melakukan pengunduran diri.
"Emangnya kamu punya rencana? Enggak kan? Sudahlah, setelah ini aku akan bicara dengan ayahku." pangkas Kevin.
"Setelah ini apa yang ingin kamu lakukan?"
"Menjadi suami yang baik."
"Hah, aku enggak salah mendengarnya? Jika nanti ada wanita yang lebih cantik lagi kamu pasti bakalan ninggalin Lula, dan kesempatan itu bagus buatku. Aku orang pertama yang akan menjadi penggantimu." Nabil berkelakar tanpa sadar telah membuat Kevin tersinggung, dia mengepalkan tinju dan siap melayangkan jika sahabatnya ini berpikir negatif lagi.
"Setan kamu, temen sendiri di doa in jelek. Kamu nggak bestie! Mau kamu aku kasih bogem?" Kevin memperlihatkan kepalan tangannya sambil berdiri.
Nabil mengangkat tangan, "Sabar Bro, aku hanya bercanda, ya tentu saja aku bahagia jika kamu bahagia, janganlah marah, kita tetep bestie kok!" Nabil terkekeh.
Karena Kevin yang tak berhati -hati saat duduk, pergerakannya membuat dadanya menatap meja hingga dia mendesis.
"Kenapa Vin?" wajah Nabil berubah khawatir.
"Aku baru saja mengalami jahitan di dadaku. Kemarin kena serangan benda tajam saat nolongin Lula mau diculik preman." terang Kevin seraya mengusap dadanya. Nabil berdiri dan membantu Kevin duduk, seraya mengecek kondisinya badannya.
__ADS_1
"Parah banget kamu. Memang semua orang yang berhati jahat pasti sangat menginginkan Lula. Secara selain dia cantik, dia kan seorang bintang sekarang."
"Lula sudah punya pengawal sekarang, dan gara-gara aku cidera aku tereliminasi jadi bodyguardnya."
Mendengar itu Nabil tertawa lepas."Suami sendiri kalah, payah kamu!"
Kevin tak menghiraukan ejekan temannya dan memilih menikmati makanan nya.
Setelah selesai berbincang dan makan siang, Kevin menemui Satria.
"Pa, mungkin jabatan CEO tidak cocok untuk ku saat ini," ujar Kevin saat mengunjungi kantor ayah nya yang hanya beberapa blok dari kantornya. Ia duduk sambil memainkan pulpen, sedangkan tangan satunya menopang kepala. Seakan ada beban berat yang ia sangga.
"Ada masalah apa?" Satria bukannya marah, dia sekedar memahami masalah yang dihadapi putra nya. Kevin pun membenarkan posisi duduknya dan mulai menceritakan semua yang ia alami tanpa menambahi apa-apa.
"Lantas, setelah kamu turun dari jabatan ini, apa pengganti dirimu sudah ada?"
Kevin menggeleng pelan sambil menarik nafasnya dalam-dalam.
"Papa sangat menghargai keputusanmu, tapi sepenuhnya papa tak yakin jika mantan pacarmu yang akan menggantikan kamu. Dia bisa apa, model receh seperti dia tidak pantas duduk di posisi itu." ucap Satria menunjukkan dia tak suka dengan model itu. Mengingat Vivi memiliki karakter yang kurang sopan dalam berperilaku, saat keduanya berpacaran dulu Satria juga tahu kalau Vivi bukan wanita yang baik. Hanya saja Satria tak punya banyak bukti untuk menjatuhkan dia dihadapan Kevin. Ia bersyukur kalau Kevin tak jadi menikah dengan Vivi. Meski Lula berasal dari keluarga miskin, setidaknya memiliki hati yang mulia.
"Entahlah Pa, sampai urusan ini belum selesai aku akan rehat dalam dunia bisnis dulu. Semua urusan kantor, biar Nabil yang memegang. Aku tahu dia orang yang baik."
"Kamu akan jadi pengangguran?"
"Tidak Pa, aku sedang berusaha menjadi suami yang baik untuk mengembalikan kepercayaan Lula. Aku akan membuka cafe, biar pun bisnis kecil setidaknya aku masih punya usaha."
"Terserah kamu. Pesan papa, pertahankan dirimu agar perahu yang kamu tumpangi tidak karam."
"Rumah tangga yang bahagia tak selalu tentang berlimpah materi. Makna sesungguhnya pernikahan adalah tentang kebersamaan, bersama menghadapi suka dan duka."
"Iya Pa, aku ingin membangun bahtera rumah tangga yang harmonis dan bahagia." ujar Kevin.
__ADS_1
"Membangun rumah tangga yang harmonis merupakan kewajiban bagi setiap pasangan yang telah mengikat tali pernikahan. Agar cita-cita hidup bahagia berumah tangga bisa didapatkan, jalinan hubungan keduanya harus dilandasi dengan keterbukaan, kejujuran, kepercayaan, perhatian, pengertian, menerima kekurangan dan kelebihan, dan saling mendukung satu sama lain." imbuh Satria panjang lebar. Sudah lama ia tak memberikan nasehat, mumpung Kevin ada di sana Satria tak lupa berpesan agar segera memberinya seorang cucu.
Kevin tersenyum tipis mendapati ucapan itu. Pria mana yang tak ingin anak, tentu dia juga berpikir ke arah sana.
"Baik Pa, terima kasih atas semua nasehat yang Papa berikan. Doa kan Kevin ya Pa!"
Satria hanya mengangguk dan membuka kembali berkas yang akan ia tanda tangani.
Setelah menemui Satria, tidak ada tujuan lain untuk pergi kemana. Dia memilih untuk pulang ke apartemen. Beristirahat pilihan yang tepat untuk menghilangkan semua kepenatan yang ada.
Saat membuka pintu apartemen, Lula sudah ada di depannya.
"Lula, sedang apa kamu berdiri di sini?" tanya Kevin ragu-ragu. Sorotan mata Lula terlihat tak bersahabat.
Lula masih diam dan menuntun suaminya agar duduk terlebih dahulu.
"Kamu pikir aku ini apa, hah ! Membiarkan masalah datang padamu tanpa berkompromi terlebih dulu denganku." nada bicara Lula terdengar marah.
"Lula ...."
"Kamu pikir aku senang jika kamu kehilangan pekerjaan yang seharusnya harus dipertahankan dari pada memilih aku yang tak ada apa-apa nya dalam hidupmu. Aku ini hanya buih!"
Kevin tersadar ke arah mana pembicaraan ini.
"Kamu sudah tahu semuanya? Aku melakukan ini untuk menyelamatkan rumah tangga kita. Bukankah aku sudah mengatakan padamu untuk membuktikan bahwa aku cinta padamu."
"Cih, cinta ? Mana ada cinta yang membiarkan istri nya melihat pria bermesraan di depannya?"
"Lula, sudah berapa kali aku katakan padamu. Aku sudah sadar dan minta maaf. Aku sudah berubah dan tidak melakukan hubungan apa pun dengan wanita lain! Apa usahaku barusan tak menyentuh hatimu untuk menerima ku kembali?"
Sebenarnya Lula tersentuh, namun menyadari siapalah dirinya dulu seakan tidak mungkin.
__ADS_1