Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 22


__ADS_3

"Laki -laki playboy sepertimu sangat manis berkata, hanya wanita lemah yang bisa terkena bujuk rayu mu. Tapi aku, aku ingatkan padamu, bahwa aku sekarang bukanlah Lula yang dulu yang dengan mudahnya tergoda olehmu!" sentak Lula.


Kevin mencoba menenangkan Lula yang sudah emosi. Dia berdiri dan memegang kedua pundaknya.


"Lula, harus bagaimana lagi aku membuktikan kalau aku ini sudah berubah, jangan memanggilku dengan sebutan playboy lagi, itu terlihat seolah betapa buruknya aku dimatamu."


"Kamu memang buruk. Sangat buruk dan menjijikkan!"


"Oke, aku bisa memahami perasaanmu yang pernah terluka atas perlakuan ku dulu padamu. Jujur, aku sangat mencintaimu, Lula."


"Sekarang aku baru sadar, setelah aku berubah menjadi cantik kamu menjadi cinta padaku? Cih, dan di luar sana masih banyak gadis yang lebih cantik dariku, dan dipastikan seketika itu juga kamu akan mengatakan cinta juga pada dia." sanggah Lula yang masih ragu, seolah kejujuran Kevin perlu dipertanyakan.


"Tidak Lula, kamu jangan berpikir negatif padaku. Sebelum kamu berubah cantik, aku sudah memiliki rasa padamu."


"Bohong!"


"Aku berkata benar. Kamu ingat, saat kita bermalam di rumah mama?"


Alula tak menyahut, dan memutar kembali rekaman di otaknya beberapa minggu yang lalu.


"Yah, saat kamu sedang membantu Viona belajar. Adikku itu sangat pendiam. Dan aku tak sering tahu dia punya teman sekedar untuk diajaknya ngobrol. Hanya kamu yang bisa membuatnya berubah. Tidak hanya Viona, mama juga. Mama adalah tipikal orang yang sulit sekali bisa mempercayai orang lain. Tapi denganmu, mama terlihat enjoy dan bahkan dia menyanyangi mu melebihi sayangnya pada anak kandung, termasuk aku. Dari situlah aku mengetahui sisi baik darimu." terang Kevin panjang lebar.


Lula menepis tangan suaminya. Dia beranjak dan berdiri. Tak ada kata yang bisa menyangkal ucapan Kevin. Tiba -tiba ponselnya berdering dan tertera dalam layar ponselnya nama Arjun. Lula segera mengangkat panggilan itu.


"Ya, Arjun, ada apa?"


Mendengar pria lain yang disebut membuat hati Kevin bergemuruh dan terasa sesak.


"Sudah dua hari kamu tidak ada di lokasi syuting, apa kamu sakit?" tanya Arjun yang sedang mengkhawatirkan keadaan Lula. Ia sempat mendengar kabar kalau Lula hampir diculik.


"Aku baik. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku."


"Lantas kenapa kamu tidak bisa datang ke sini?"


"Aku sedang ada urusan. Besok aku sudah bisa datang." sahut Lula, merasa pembicaraannya diamati Kevin, Lula tak menceritakan yang sebenarnya.


Arjun sendiri juga tak memaksa Lula untuk bercerita. Sahabatnya itu hanya akan menjadi pendengar yang baik semua keluh kesah Lula.


"Baiklah, sampai jumpa besok!"


Lula tak membalas dan segera mematikan ponselnya. Lula hendak melangkah kan kaki pergi ke kamar, salah satu tempat favorit nya. Langkahnya terhenti.


"Setelah pria lain bertanya, kamu menunjukkan ekspresi dengan wajah ceria. Atau mungkin itu alasan kuat mengapa kamu bersikukuh tetap ingin menggugatku?" pertanyaan Kevin tak enak didengar. Lula masih memunggunginya dan enggan berbalik.

__ADS_1


"Itu bukan urusanmu!"


"Oh, jadi benar, selain jago akting sekarang kamu juga jago bermain cinta dengan pria lain?" Kevin sengaja memancing emosi Lula. Karena dengan begitu Lula tak bersikap dingin padanya. Meski Lula mengomel, entah mengapa justru Kevin bahagia.


Seketika itu juga Lula berbalik dan melotot tak suka dengan apa yang barusan didengarnya.


"Jaga ucapanmu, aku sangat profesional dalam bekerja, jadi aku bisa menempatkan diri disaat aku berada di mana pun!"


"Benarkah? Sekarang coba kita lihat, seprofesional apa kamu di atas ranjang bersamaku." Kevin menarik kasar lengan Lula dan mengarahkan menuju kamar Kevin.


"Lepas kan tanganku! Dasar pria playboy! Aku takkan memaafkan kamu jika kamu menyentuhku sedikit pun!" bentak Lula.


Kevin tak ingin menggubris teriakan Lula, namun Lula terus mengulang kalimatnya hingga Kevin merasa jengah.


"Sudah ku katakan padamu, jangan sebut aku dengan ucapan itu! Sudah seharusnya aku mencumbumu agar kamu tak bermain dengan pria lain di luar sana."


Hampir mendekati pintu kamar Kevin, Lula bertindak. Menggigit telapak tangan dan mendorong dada Kevin hingga terbentur meja makan yang kebetulan dekat dengan kamarnya.


Kevin mendesis karena merasakan luka jahitannya robek. Panas dan perih. Kevin tersungkur dan mengaduh seraya memegang dadanya. Darah segar terlihat jelas di balik kaos putih yang ia kenakan.


Mengetahui perbuatan brutalnya tadi, Lula menjadi takut sendiri jika terjadi sesuatu dengan suaminya. Bagaimana pun dia lah pria yang telah menyelamatkan nyawanya dari para preman.


Lula sontak menghambur dan terlihat jelas kepanikan di wajahnya.


"Mas Kevin, maafkan aku! Aku tak bermaksud melukai kamu. Apa yang harus aku lakukan?" Sangking paniknya Lula pun menangis.


"Sudah lepaskan! Aku bisa berjalan sendiri." Kevin berjalan terseok menuju kamarnya.


Lula buru -buru berlari dan memeluk Kevin dari belakang. Menyembunyikan wajah di punggung suaminya, entah ada apa dengan hatinya yang sebentar melunak dan sebentar mengeras.


Kevin terhenti, menatap dua tangan putih yang memeluk perutnya. Kevin tersenyum tipis.


"Maaf kan aku, jangan marah!"


"Aku tidak marah, aku ingin mengganti kaos dan merendamnya agar noda darahnya cepat luntur."


Lula buru-buru melepas pelukannya.


"Aku akan membantu untuk melepas kaosmu."


Kevin mengangguk dan memposisikan tubuhnya, duduk di kursi yang juga dekat dengannya.


Lula mendekat lagi, tiba-tiba jantungnya berdegub kencang seperti genderang saat tangannya yang lincah melepas kaos yang bernoda itu. Terlihat jelas dada bidangnya yang menggoda. Bisa saja Lula memeluk tubuh itu. Tapi dia bisa mengkondisikan itu.

__ADS_1


Lula membawa kaos itu ke belakang dan merendamnya di bak. Dia kembali dengan baskom yang berisi air hangat dan lap.


"Biar aku seka lukamu!" Kevin tak menolak mendapat layanan manis seperti ini.


Perlahan Lula membersihkan luka itu, terlihat sesekali Kevin mendesis.


"Apa terlalu sakit?" tanya Lula dengan wajah begitu pucat sangking takut nya jika luka yang ia sebabkan ini serius.


"Tidak ada yang lebih menyakitkan jika kamu bersikap dingin padaku." Lula menurunkan tangannya dan enggan menatap wajah Kevin yang begitu memukau jika dilihat dari dekat.


Kevin membawa tangan Lula berada dalam dekapan. Tangan sebelahnya memegang dagu dan mengarahkan wajah Lula hingga keduanya berada dalam jarak yang begitu dekat.


"Aku ingin mendengar kamu tadi memanggil ku apa?" Kevin memancing emosi yang sekian kali. Dia tak tahu apa betapa malunya Lula. Karena ini kali dia memanggil nama suaminya, biasanya langsung menyebut dengan kata kamu.


"Tidak ada siaran ulang!"


"Ku mohon sekali saja, kamu ulangi tadi!"


"Tidak mau!"


"Apa yang harus kulakukan agar kamu mau?"


"Tidak ada."


Setelah Lula tak melawan dan hanya keheningan yang tercipta di apartemen itu. Kevin memberanikan diri untuk menikmati bibir yang ranum itu. Dia mendekat, dan terasa jelas hembusan hangat di ujung hidungnya.


Dan ketika tak ada jarak, Lula menempelkan jari telunjuknya tepat di mulut Kevin yang siap melahap.


"Ada apa?"


"Aku belum siap."


"Baik, aku takkan memaksa mu."


"Sampai kapan aku harus menunggumu?"


"Sampai aku benar -benar bisa menerima kamu, Mas!"


"Apa tadi, coba aku ingin mendengar yang paling terakhir tadi apa?" Kevin merasakan tubuhnya membumbung ke awan.


"Tidak ada siaran ulang!"


"Ada dong, ayolah, please ...!"

__ADS_1


Karena merasa jengah Lula pun beranjak ke kamar dengan menahan rasa seribu malu.


"Akh, aku bodoh banget, ngapain juga manggil dia dengan sebutan mas." rutuk Lula setelah ia merebahkan diri di kasur. Sambil meraba dada yang jantungnya ternyata belum tenang.


__ADS_2