CEO Dan Ustadzah Tomboy

CEO Dan Ustadzah Tomboy
Menghapus Jejak


__ADS_3

"Sudah mbak ! Sudah, jangan sakiti dia, dia sepupuku !" Arini pun melepaskan tangan Mirna.


"Sama saudara sendiri kok jahat, awas lo, jika gue lihat lo jahat lagi sama sepupumu ini, Aku plintir lebih keras lagi tangan loh..!" Ucap Arini sangat geram , sambil melemparkan tendangan kosong sebagai ancaman pada Mirna yang langsung kabur, berikut kedua temannya.


"Terimakasih mbak "Gadis berjilbab itu mengibas-ngibas kan rok nya yang kotor karna terjatuh tadi.


"Kamu tidak apa-apa ?" Tanya Arini, lalu mengajaknya duduk di kursi yang tersedia di bawah pohon dekat trotoar tadi.


"Tidak mbak , sekali lagi saya ucapkan terimakasih, perkenalkan, nama saya Rania "gadis itu memperkenalkan diri, mengulurkan tangan pada Arini.


"Oh iya, nama saya Arini , kamu kuliyah disini ? Tanya Arini.


"Iya mbak, saya kuliyah karna Beasiswa, saya kuliyah sambil jualan, nenek saya yang buat kuenya, tapi hasilnya diambil oleh tante saya, Ibunya Mirna yang memaksa minta uang tadi " terang Rania.


"Sepupu kamu dan tante kamu jahat banget ya , memang orang tua kamu kemana" ditanya seperti itu , Rania menunduk sedih .


"Ayah dan ibu saya sudah tiada, saya tinggal bersama nenek dan om saya, juga tante dan sepupu saya, tapi hanya nenek yang menyayangiku" entah mengapa Rania ingin bercerita pada Arini, padahal baru ia kenal .


"Maaf mbak, Aku kok tiba-tiba jadi curhat gini , maaf ya mbak " Rania merasa malu.


"Tidak apa-apa kok, saya justru senang, krna bisa punya teman di kota ini, karna saya dari kampung, belum punya teman di kota ini. Oh iya, kita sekarang berteman yuk !" Arini mengulurkan tangan lagi, Rania pun menyambutnya dengan hangat , mereka pun akhirnya berteman dan saling bertukar nomer telfon.


"Eh Ran, nomermu ini nomer pertama loh yang ada di kontakku, karna Aku baru beli kartu perdananya tadi, karna Aku juga baru dibelikan hape sama majikanku." Tak sengaja Rania menatap hape yang dipegang Arini.


"Ini beneran dibelikan majikan mbak, gak salah mbak, ini kan harga nya di atas 15 juta "Rania takjub.


"Entahlah , majikanku itu royal banget, Aku mintanya yang harga 1juta an malah dibelikan ini "


"Sultan kali ya majikan mbak "


"Iya sih, Sultan, tapi Sultan Galak, seperti Singa padang pasir yang hoby nya marah-marah terus hahaha " Arini dan Rania tertawa.


Namun karna Sore, keakraban mereka harus berakhir. Keduanya pun kini berpisah, Arini akhirnya pulang nya kesorean .


Di Rumah, Arfan sudah menerkam Arini dengan Amarahnya.


"Kenapa lama banget sampe sore gini ke counternya, emang counternya pindah ke jakarta ya " Arfan dengan nada keras.


"Maaf tuan, saya gak lama kok, cuma sebentar, orang counternya saja yang lama, antri " Arfan diam, ketika Arini sudah hendak berajak ke kamarnya, Arfan menyahut.


"Besok Ustad Fuad Hilmi mau datang, kamu temui dia "


Arini pun menoleh prasaannya sangat bahagia, karna nyonya nya akan segera di obati.

__ADS_1


"Benarkah ? Alhamdulillah akhirnya nyonya akan di obati "gumannya dan langsung menghilang dari pandangan Arfan.


'Entahlah, kenapa Aku marah karna dia pulang telat, Apa peduliku, dia kan cuma pelayan , tapi dia manis juga sih kalau sedang tersenyum bahagia seperti tadi' guman Arfan dalam hati.


**


Di ruang tengah, setelah adzzn maghrib.


Arini menggelar sajadah untuk tuang besar, dan Nyonya Ningsih sudah memakai mukena sama halnya dengan Arini. Opah mulai mengerjakan sholat, suaranya di perkeras agar bisa di titeni / diteliti oleh Arini, agar bisa diperbaiki bacaan yang salah.


Mula-mula opah membaca niat, kemudian alfatihah dan surat pendek, ternyata lancar meski ada bacaan yang kurang tepat panjang pendeknya, kemudian ketika ruku' opah salah baca bacaan sujud, hingga selesai salam, opah berhasil mengerjakan sholat untuk pertamakalinya sejak bertahun-tahun absen, sedangkan Arini hanya memperbaiki yang lupa dan salah saja, begitu juga Ningsih, dia hanya lupa sebagian bacaan dan gerakan, namun karna Ningsih belum bisa bergerak, dan hanya duduk di kurdi roda, dia hanya membaca bacaannya saja hingga selesai.


"Alhamdulillah , ternyata Nyonya sama Tuan masih ingat semua bacaan dan gerakannya, mungkin cuma ada beberapa bacaan saja yang salah tadi, terutama bacaan saat sujud Akhir, tapi ini adalah awal yang baik untuk nyonya dan Tuan. " terang Arini.


"Sekarang titeni saya mengaji " pinta opah.


"Baik opah " Arini penuh semangat.


Opah Hadi pun membacakan surat al baqarah ayat 1 sampe 10 , dengan masih banyak kekurangan pada pelafalan nya dan tajwid nya. Begitu juga Ningsih, yang hanya lupa panjang pendeknya , namun tidak lupa huruf-hurufnya, karna memang sejatinya mereka sudah bisa mengaji tapi karna sudah bertahun-tahun tidak mengaji dan tidak sholat, jadi masih banyak yang perlu diperbaiki.


"Sekarang saya merasa menjadi seperti orang baru , hati ini merasa nyaman saat membaca ayat Al quran ini " ucap Ningsih.


"Ustadzah, ternyata dari tadi ada yang memperhatikan kita , rupanya dia juga pingin belajar ngaji kayaknya " Sahut Opah , sehingga Arfan merasa salah tingkah karna memang dari tadi dia mengintip mereka.


"Sudahlah kesini, jangan malu, belajarlah sebelum terlambat seperti opah, Ustadzah, Ayo ajarkan dia mengaji , dia sekarang bukan majikanmu, tapi muridmu " Opah terkekeh, seraya memberikan Al qur an untuk Arfan, Arfan dengan terpaksa ikut mengaji, sekarang dia sudah siap meski terpaksa , duduk berhadapan dengan Ustadzah Arini sedangkan Al qur annya ditengah mereka yang ditaruh di atas bantal.


"Ayo di baca "perintah Arini. Tampak Arfan ragu.


"Alif , ba' , ta' ,tsa' ,jim , ha', kho' dal, dzal ,ro' "sampai disitu Arfan berhenti, seperti tambah ketegangannya.


"Sudah, sampai disitu saja , karna Aku terakhir kali mengaji waktu TK, dan hanya itu yang Aku tahu dan ku ingat " Arfan jujur


"Ya sudah , sekarang ikuti saya, ya tuan " pinta Arini.


Arfan pun mengikuti ucapan Arini yang menuntunnya agar menglafadz kan huruf hijaiyah , agar hafal dulu.


Tak lama kemudian mereka pun sudah selesai belajar ngajinya, Arfan pun merasa bebas. seperti Anak TPQ Paud yang mendengar Bel pulang berbunyi


**


Arini sedang mengurusi hape nya, dia hanya menginstal aplikasi warna hijau, sedangkan untuk Sosmed lainnya, dia belum berani , karna memang dia sedang menghindari sesuatu.


Mengajari Arfan mengaji barusan, membuat dia merindukan Tpq dan kampung halamannya .

__ADS_1


(Flashback )


"Ayo ..sekarang waktunya kita berdoa bersama, karna sebentar lagi waktunya pulang " ucap Ustadzah arini di depan anak didik nya yang rata-rata masih berusia Paud.


"Hore....waktunya pulang !" Ucap anak-anak berbarengan karna senang, sambil menabuh-nabuh kan meja di depan mereka.


Setelah mereka selesai dengan doanya, Arini pun mengucapkan salam, mereka pun menjawabnya dengan serempak , mereka yang hendak keluar dari kelas, satu persatu mencium punggung tangan Arini, tampak dari mereka ada beberapa yang masih keluar ingus, sehingga ingusnya menempel di tangan Arini. Namun Arini hanya terkekeh mengelapkan nya ke bajunya , Mereka berjumlah sekitar 25 anak, begitu juga di kelas lainnya anak-anak terlihat sedang beranjak pulang .


Tampak dari kelas yang murid-muridnya lebih besar, yang sedang di ajar oleh Ustad Yusuf, juga sudah hendak pulang, etelah semua murid-murid bubar, Ustad Yusuf menghampiri Arini.


"Assalamualaikum ustadzah Arini." ucapnya sangat sopan.


"Waalaikumussalam " jawab Arini datar.


"Seperti yang sudah saya katakan kemarin, selama sebulan kita ber taarruf ini, besok saya dan orang tua saya akan ke rumah Ustadzah Arini, apakah Ustadzah sudah siap " guman Yusuf dengan berseri-seri dengan senyum bahagia tersungging di suduh bibirnya itu.Yusuf berprawakan tinggi, kulitnya tidak putih juga tidak hitam, tapi wajahnya manis , dan ditumbuhi janggut tipis di pinggir wajahnya seolah membingkai indah wajah teduh itu.


"Maaf Ustadz, Saya belum membicarakan ini dengan orang tua saya, jadi tunggu kabar dari saya dulu ya Ustadz " pinta Arini seraya berlalu dari hadapan Ustadz Yusuf.


Secara penampilan Yusuf memang menawan, secara pendidikan , ia lulusan pesantren ternama di daerah Kota Bangil, dari keluarga yang lumayan kaya di kampungnya , usianya masih 27tahun , kalau di visualkan , Ustad Yusuf itu seperti Aktor Reza Rahardian dan banyak para gadis mengidolakan Ustad Yusuf itu, termasuk Laila, putri kepala desa yang cantik dan berpengaruh di Kampung itu.


Hari itu, setelah pulang dari mengajar, Arini mampir ke sebuah tempat, kedai Bakso yang tidak jauh dari tempat Arini mengajar, dia sudah janjian dengan Laila , yang merupakan sahabat Arini.


"Arini, saya tidak tahu lagi harus bagaimana , sebenarnya Aku malu mengatakan ini padamu, tapi kamu tahu sendiri kan, kalau Aku sangat mencintai dan mengharapkan Ustadz Yusuf , namun rupanya Dia lebih tertarik padamu " lirih Laila.


"Tapi dari dulu saya tidak menyukainya, tenang , saya pasti akan melepasnya untukmu " ucap Arini sembari menggenggam tangan sahabat nya itu. Laila pun tersenyum bahagia mendengar itu, dan mereka berpelukan.


Di Rumah Arini yang tampak sederhana namun terasa nyaman dan asri karna di halamannya banyak tanaman hiasnya.


"Assalamualaikum " ucap Arini saat memasuki Rumahnya.


"Waalaikumsalam " kedua orang tuanya menyahut.


"Kebetulan kamu datang nduk, sini duduk bersama kami , ada yang mau kami bicarakan , penting " pinta Halimah, Ibu Arini.


"Iya, ada apa bu, kayaknya serius banget "Arini penasaran.


"Begini nak, Ayah sedang tidak sehat, dan butuk banyak uang, hasil dari warung kita pun masih kurang, jadi jika boleh Ayah meminta, Kamu tolong ringankan beban kami, gantilah Bi Sum bekerja di rumah majikannya , kerjaannya cuma merawat oran lumpuh nak, tapi bayarannya lumayan besar, jadi cukup untuk berobat " guman khair Ali khan, Ayah Arini.


"Saya berpikir dulu ya Yah, bu "ucap Arini sembari masuk ke kamarnya.


'Sebenarnya ini kesempatan untuk ku, menghindari Ustadz Yusuf, demi Laila, tapi Aku tidak akan mengis dengan semua ini, dalam kamusku, Aku tidak perlu menangis hanya urusan cowok, toh Aku juga tidak terlalu suka pada Yusuf.' pikir Arini.


Dia akhirnya memilih ikuti permintaan Ayahnya agar ikut Bi Sumi agar bisa menghindari Yusuf demi sahabatnya, Laila.

__ADS_1


[Assalamualaikum, sebelumnya saya minta maaf ustad, sepertinya Taarruf kita selesai sampai disini, tidak harus berlanjut, karna saya sedang berjuang untuk ekonomi keluarga saya, ada yang sangat urgent , jadi saya mohon minta maaf, jika khitbah kita harus dibatalkan ]


Begitu pesan centang dua, dan sepertinya langsung berwarna biru, terlihat Usta Yusuf menelfon, namun Arini segera mematikan hapenya, lalu membuang kartunya serta memberikan hapenya pada adiknya. inilah cara Arini menghapus jejaknya, dan besok pagi-pagi ia harus ke kota .


__ADS_2