
Arfan dan Arini yang sejak pagi betah di kamar sebagai pengantin baru, kini sudah keluar dan bersikap normal meski keduanya masih malu-malu , terutama Arfan yang merasa malu pada mertua nya, apalagi banyak jejak cinta Arini dileher Arfan, sebenarnya Arini juga tak kalah banyaknya, mendapatkan jejak cinta Arfan, hanya saja Arini mrngenakan jilbal, sehingga tidak kelihatan.
Rencananya, setelah maghrib mereka akan kembali ke Rumah Arfan.
Maka di sore hari, Arini meminta ijin untuk mengunjungi Tpq tempatnya nya mengajar dulu untuk berpamitan kepada para guru.
Tpq itu memang memulai pelajaran mulai jam 2 sampai jam 5 sore, karna paginya anak-anak sekolah di Sekolah Dasar.
"Assalamualaikum Ustadzah, bagaimana kabar nya jenengan?" Sapa Arini pada Ustadzah Nur yang merupakan kepala TPQ nya, kemudian Arini mencium Punggung tangan Ustadzah yang menjadi guru ngajinya sejak Arini kecil. Beliau sudah berumur 55tahun , tapi semangat mengajarnya tidak pernah padam.
"Waalaikumsalam, Arini, masyaalloh pengantin baru, makin cantik saja anakku ini" Ustadzah Nur menyambut hangat kedatangan Arini.
"Suami kamu mana kok gak dibawa kesini, Aku mau kenal juga loh " tanya nya lagi.
"Dia sedang sibuk mempersiapkan untuk kembali ke Surabaya nanti setelah Maghrib, jadi Saya kesini mau pamit ke Ustadzah dan lainnya" ucap Arini dengan nada sedih karna hendak pamit.
"Loh...kok disini nya sebentar sih , Aku kan masih kangen, anak-anak juga loh, sejak Kamu tiba-tiba keluar dari sini, Ustadzah sudah mulai merasa kehilangan, tapi orang tuamu sudah menceritakan semuanya." Saat itu Ustadzah Nur sedang sendiri, karna asatidz yang lain sedang mengajar.
"Iya Ustadzah, mengenai dulu itu, Saya minta maaf jika tidak sempat pamit sama Ustadzah, karna ada satu hal, "ucap Arini merasa bersalah .
"Tidak apa-apa, Saya maklum kok, kegiatan kamu di sana gimana?"
"Mohon doa dan restunya Ustadzah, sekarang setelah menikah Saya berniat ingin membangun TPQ di dekat Rumah Suami, Tapi ini niat dan rencanaku saja, Suamiku belum tahu, Saya mohon doa dan restu panjenengan " pinta Arini.
"Saya akan selalu berdoa untuk kebaikanmu, dan Saya merestui niat dan rencanamu, oh iya , Saya harap setelah sudah menjadi seorang Istri, kamu harus mau dandan ya, biar menjadi pahala untukmu, se tomboy-tomboynya wanita kalau sudah menikah, ya tetap harus jadi istri yang pandai menyenangkan suaminya " Ustadzah Nur memeluk Arini sebagai anak didik yang disayang nya dari dulu, mendengar nasehat Ustadzahnya, dia hanya tersenyum dan tersipu malu.
"Ustadzah, ini Saya ada sedikit rizki" Arini melepas pelukan itu perlahan dan mengambil sesuatu dari dalam tas yang di bawanya agak besar dan berat.
"Apa ini?" Ustadzah Nur penasaran.
"Ini sebagian dari mas kawin yang di berikan suamiku, yang ini khusus untuk Ustadzah ku yang sangat sabar dan telaten mengajarku dan anak-anak lainnya dari dulu" Arini menyerahkan Amplop khusus untuk Ustadzah Nur yang berisi uang sekitar 30 juta, karna Ustadzah Nur sekarang seorang janda dengan 3 anak yatim.
"Masyaalloh, ini terlalu banyak Rin "Ustadzah Nur tidak percaya.
"Itu tidak seberapa dibanding perjuangan Ustadzah selama ini dalam mendidik anak-anak ini dikampung ini" tambah Arini.
__ADS_1
"Yang ini untuk asatidz lainnya, tapi untuk Asatidz lainnya jangan bilang-bilang kalau ini dari Saya, bilang saja Bisyaroh bulan ini dapat rizki dari mr x gitu." Pinta nya saat menyerahkan uang 15 juta untuk 3 orang pengajar, termasuk Ustadz Yusuf dan Ustadzah Laila.
"Iya, Saya faham maksudmu" guman Ustadzah Nur
"Dan yang ini untuk sekolahan, Saya tahu dari dulu, sekolah kita ini sangat membutuhkan dana untuk membaiki bangunan yang mulai menua ini , yang bocor lah yang kursi-kursi pada rusak lah, Saya jadi teringat waktu Saya ngajar, Saya Sampe basah semua dan ada anak yang jatuh karna licin karna bocor " ucap Arini terharu dan menangis.
"Ustadzah Nur, benar-benar teladan yang sangat baik untuk Kami, Sabar dalam segala hal dan penyayang, bahkan meski sekolah ini kondisinya sangat memprihatinkan begini, jenengan tetap Ikhlas dan sabar, kelak Saya ingin menjadi Ustadzah seperti panjenegan " lagi-lagi Arini menangis terharu mengenang perjuangan Ustadzah Nur selama ini.
"Kalau kita berjuang di jalan Alloh, kita memang harus ikhlas," ucapan Ustadzah Nur teduh.
"Ustadzah, Ini Saya serahkan dana untuk memperbaiki sekolahan kita, semoga cukup "Arini menyerahkan uang dalam Tas nya, yang berjumlah sekitar 100 juta untuk TPq kepada Ustadzah Nur.
"Ini...?, ini semuanya ?" Ustadza Nur tidak percaya
"Iya, Ustadzah"
"Memangnya berapa Mahar yang diberikan suamimu?"
"Mmm....3 Milyar, sebenarnya Saya minta nya 300 ribu, eh malah dikasih 3 Milyar saat Ijab qobul"
"Assalamualaikum" tiba-tiba Ustad Yusuf mengucapkan salam, berikut Ustadzah Laila dan ustadzah Rahma, yang telah selesai mengajar , Arini dan Ustadzah Nur pun sontak menjawab salam nya.
"Arini...kamu disini ? kamu nikah kok gak ngundang sih " guman Laila seraya memeluk Arini, begitu juga Rahma.
"Selamat ya, semoga Rumah tanggamu Samawa ya Rin.." ucap Rahma.
"Selamat juga ya Rin, semoga segera punya momongan" Laila juga.
Merekapun saling melepas kangen, sementara Yusuf yang sejak tadi melihat Arini seakan ada yang nyeri yang menghujam di ulu hatinya, apalagi saat mereka membahas pernikahan Arini, Yusuf yang sejatinya laki-laki biasa yang jatuh cinta dan ingin menikahi Arini, tidak akan bisa move on begitu saja hanya dalam hitungan hari meski kini Dia sudah akan siap menikahi Laila.
Bukan pelarian, tapi sedang mencoba belajar untuk mencintai orang yang selama ini mencintainya, entah apakah suatu saat Dia akan bisa mencintai Laila atau tidak, yang jelas saat ini , Yusuf membutuhkan seseorang yang akan menyembuhkan luka akibat ditinggal nikah oleh pujaan hatinya,selama ini.
Yusuf berusaha untuk tidak terlihat patah hati di hadapan semua orang, terutama dihadapan Arini dan tak ingin Laila sedih bila Dia masih memikirkan Arini yang sekarang sudah menjadi istri orang.
"Ustadz Yusuf, Aku minta maaf atas dosa-dosaku selama ini ya, Saya kesini mau pamit dari TPQ ini, " Arini membuyarkan lamunan Yusuf.
__ADS_1
"Apah..oh...iya...Aku juga minta maaf " Yusuf glagapan karna disapa Arini.
"Untuk semuanya Saya juga minta maaf, Saya permisi,Assalamualaikum " Arini pamit.
"Waalaikumsalam" semuanya pun menjawab dengan sedih karna harus melepas Arini.
Kemudian Laila mengejar Arini saat Arini sudah jauh dari ruangan guru.
"Rin, Aku mau bicara" pinta Laila, Arini pun menoleh, kemudian Laila memeluk Arini.
"Terimakasih ya atas semua yang kau lakukan untukku, terutama pengorbananmu, kau rela menjauh dari Yusuf saat Dia mau melamarmu, dan itu demi diriku, terimakasih Arini, kau memang sahabat terbaikku, sebentar lagi, Yusuf akan melamarku, doakan Aku agar pernikahan kami lancar ya " Laila terlihat sangat bahagia.
"Alhamdulillah kalau begitu, semoga dia menjadi jodohmu dunia Akhirat, oh iya maaf ya Laila, suamiku menungguku suruh Aku cepat pulang, maaf ya tidak bisa lama-lama ngobrolnya" ucap Arini merasa tidak enak karna di suruh cepat pulang oleh Arfan.
"Ciye...ciye.....yang pengantin baru, gak bisa ditinggal lama dikit, bucin banget suamimu" goda Laila.
"Apaan sih kamu "Arini tersipu malu, dan Dia pun segera berlalu dari hadapan Laila. Laila pun segera kembali ke ruangan guru.
"Ini dana untuk sekolahan kita, 100 juta, dari Arini, untuk masalah dana Saya ingin transparan, untuk pembangunan dan renovasi sekolah ini Saya serahkan tanggung jawabnya pada Ustadz Yusuf" ucap Ustadza nur.
Semua terkejut dan hanya bisa menelan saliva nya masing-masing.
"Dari mana Arini dapat uang sebanyak itu ?" Tanya Laila.
"Itu sebagian Mas kawin Arini dari suaminya yang jumlahnya kalau tidak salah katanya 3 Milyar" jawab ustadzah Nur .
"Apahhh " semua kaget bersamaan.
"Iya ,Aku dengar semalam sepupu ku di undang ke pernikahannya, semua undangan heboh karna maharnya 3 M."timpal Rahma.
"Enak ya punya suami Sultan" cletuk Laila.
Yusuf lebih syok.
"Pantas saja Aku ditolak, Lah Dia bisa memberi mahar 3 Milyar, apalah dayaku yang hanya mampu memberi mahar 300 ribu " batinya.
__ADS_1
Tapi sesuai musyawarah, Yusuf menolak memegang uang itu, sehingga Ustadzah nur akan segera menggunakan uang itu untuk pembangunan, agar uang itu tidak menjadi fitnah baginya.