CEO Dan Ustadzah Tomboy

CEO Dan Ustadzah Tomboy
Arini dan Rania


__ADS_3

Arfan ingin mengetahui respon Opah Hadi dan mamanya tentang kabar Rania yang telah diceritakan Andi pada nya.


"Mama justru ingin tahu, bagaimana prasaanmu, mengetahui adikmu hidupnya teraniaya seperti itu ?" Ningsih malah balik bertanya pada Arfan, karna opah Hadi maupun Ningsih sebelumnya sudah tahu tentang kabar Rania dari orang suruhan Opah.


"Sa-ya..., sebenarnya jujur, saya masih mempunyai hati nurani, andaikan dia bukan anak dari Papa pun , saya juga akan kasihan dengan nasibnya, Apa lagi dia masih sedarah denganku, saya merasa tidak rela Adikku diperlakukan seperti itu" jawab Arfan.


"Lalu, bagaimana dengan prasaan Mama ?" Arfan juga bertanya pada mamanya


"Mungkin sebagai seorang wanita, Aku sangat marah pada Dewi, tapi kenyataan mengajarkan Aku tentang sebuah keikhlasan, apalagi Dewi sudah tiada, mama ikhlas memaafkan Dewi, dan mama akan menrima Rania sebagai anak mama sendiri, bukankah Rania itu tidak tahu apa-apa atas perbuatan orang tuanya, apalagi sekarang kondisinya dia sedang di dzolimi oleh pamannya sendiri selama bertahun-tahun, justru mama merasa bersalah pada Rania, kasihan anak itu" sebenarnya Ningsih sedang meraba prasaannya sendiri, bisakah dia ikhlas menerima Rania.


"Jadi jawaban kalian sama, akan menerima Rania sebagai bagian keluarga Hadiningrat ?Opah akan mengurus Gunawan agar secepatnya dia dipenjara dan bisa membawa Rania ke rumah ini secepatnya."


"Arfan juga sudah meminta, Andi untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut dan mengumpulkan bukti " ucap Arfan pada opahnya,


" kalau begitu bekerja samalah dengan orang suruhanku " pinta opa,


"Oke pa, nanti saya beritahu Andi" guman Arfan, matanya yang sedang mencari-cari sosok yang sedari tadi belum nampak batang hidung mancung nya, siapa lagi kalau bukan Arini.


"Arini tadi ijin ke Mama, mumpung hari ini hari Minggu, dia janjian sama temannya mau jalan-jalan ke Monomen Tugu Pahlawan katanya "


Ningsih langsung mengerti maksud Arfan.


"Sama teman ? Memang dia sudah punya teman, gayanya sok jalan-jalan, kenapa Mama kasih ijin sih ?" Arfan seolah marah dan salah tingkah.


"Tenang, Arini di Anter sama Sony, dan temannya juga cewek kok, biarkan dia jalan-jalan, kasihan anak itu , sibuk ngurusin Mama terus, sekalian biar dia tahu kota Surabaya " Ningsih mengerti kegundahan putranya, Ningsih melirik opah Hadi , sambil senyum-senyum melihat tingkah Arfan, yang sepertinya mulai menyukai Arini.


"Oh iya Ma, Arfan keluar dulu ," Arfan segera beranjak seraya mencium kening ibunya.


"Pah, kayaknya usaha kita menjodohkan Arfan dan Arini secara diam-diam, mulai membuahkan hasil, tuh lihat wajahnya seperti kepiting rebus saat salah tingkah tadi "ujar Ningsih tertawa, begitu juga opah Hadi.


"Syukurlah kalau begitu, tapi lucu juga ya tingkah anak itu ha ha " opah Hadi mentertawakan cucunya yang sekarang sudah pergi.


**


Di Monumen Tugu Pahlawan.


Arini dan Rania menyusuri Monumen Tugu Pahlawan dengan prasaan senang, karna masing-masing merasa telah menemukan sahabat baru.


Rania mengajak Arini memasuki museum sepuluh November, duduk-duduk di bawah Tugu setinggi 41,15 meter itu sambil berfoto ria, mereka juga tidak lupa mengirimkan surat Al fatihah di makam pahlawan tidak di kenal saat pristiwa sepuluh November,disekitar Tugu pahlawan itu. dan setelah puas mengelilingi Monumen Tugu Pahlawan yang di Resmikan pada 10 November 1952 itu, Rania mengajak Arini duduk di Taman di sekitar Tugu.

__ADS_1


"Mbak Arini, boleh Aku nanya ?" Rania mengawali obrolannya.


"Iya, memang nya mau nanya Apa ?" Guman Arini sambil menutup botol air Mineral sesaat setelah selesai meminum isinya itu.


"Mbak kok kayak bukan orang indonesia, Mbak Aslinya orang mana ?" Tanya Rania polos. Sementara Arini hanya tertawa merasa lucu dengan pertanyaan sahabat barunya itu,


"Kamu itu ada-ada saja, Aku Asli Indonesia , Aku berasal dari kota Malang, Ibuku Asli Malang, sedangkan Ayahku memang bukan orang Indonesia, tapi Pakistan"


"Benarkah ! Wau..pantes , Mbak terlihat seperti orang India-Pakistan gitu, hidungnya Mancung, matanya agak kebiru-biruan, Mbak Sudah pernah ke Pakistan?" Tanya Rania lagi,


"Pernah sih , waktu Aku berumur 10 tahun, selebihnya gak pernah kesana lagi, karna kakek nenekku sudah tidak ada disana , kamu , gimana, apakah kamu tidak punya kakek dari Ayahmu ?" Arini balik bertanya, Rania tampak sedih.


"Ayahku meninggal saat Aku masih kecil, Ibuku meninggal saat usiaku 10 tahun, dan Aku belum pernah tahu kakekku, pernah sih waktu Ibu masih hidup, Ibu membawaku ke sebuah Rumah besar, kata Ibuku itu Rumah kakek, tapi Aku tidak pernah dipanggilnya cucu." Rania semakin sedih, sementara Arini menepuk-nepuk pundak Rania.


"Maafkan Aku, membuatmu sedih "


"Tidak kok, Aku sedih karna mengingat Almarhum kedua orang tuaku, tapi Aku bersyukur masih punya Nenek Saidah, Nenek yang selalu membelaku saat paman dan Tante memarahiku, Nenek juga yang membimbingku untuk menjadi wanita yang Sholihah, karna hanya dengan menjadi wanita yang sholihah Aku akan bisa membahagiakan kedua orang tuaku di Alam sana, kata Nek Saidah " gadis yang berusia 20 tahun itu tersenyum kembali .


"Kamu beruntung masih mempunyai Nenek yang menyayangimu"


"Iya, Aku beruntung, oh iya Mbak, di kota Malang, Mbak sudah punya calon belum?" Rania basa basi .


"Mbak ini bisa aja, Aku jadi malu, dari tadi sedih terus " pipi Rania memerah, karna malu, persahabatan yang baru mereka jalin itu terasa begitu hanyat, namun dari jauh, ada sepasang mata yang tak terlepas memperhatikan mereka.


Drtttt...


Gawai Arini tiba-tiba berbunyi, tertera di layar dengan nama "Tuan Galak"


"Sebentar ya Ran, Tuan Galakku nelfon., Halo..."


"Kemana saja kamu, gayanya pergi jalan-jalan, kamu itu disini kerja, ijin keluar jangan lama-lama " suara Arfan menggelegar, karna Arini sengaja mengkeraskan volumenya, agar Rania tahu, betapa Galaknya Tuannya itu.


"Ada perlu Apa Tuan menghubungi saya?" Tanya Arini geram.


"Cepat pulang , temani Saya , Saya ada perlu !" ucapnya lagi dengan suara yang masih keras.


"Harus sekarang tuan?"


"Memang nya kapan ?" Arfan seperti sedang marah.

__ADS_1


"Aku belum makan Tuan, Aku beli makan dulu ya, takut pingsan lagi !" pinta Arini.


"Ya sudah, makan dulu sana , nanti Saya jemput di depan Tugu pahlawan"


"Memangnya tuan ada dimana sekarang ?" Arini merasa heran.


"Udah, jangan nanya-nanya terus, sudah sana cepat makan, nanti Aku telfon lagi Arfan langsung menutup sambungan telponnya.


"Mbak, Ayo kita makan lontong balap saja "ajak Rania.


"Lontong balap ?"


"Iya, makanan khas sini, ya udah yuk cepet, biar gak dimarahi tuan galaknya lagi. merekapun akhirnya membeli Lontong balap, dan makan dengan lahap, setelah itu Arini secepatnya ke Parkiran.


Tak berapa lama, mobil Ferrari datang mendekati Arini yang sedang mencari mobil yang dibawa Sony.


"Sony sudah Saya suruh pulang, Ayo cepat naik !" Tiba-tiba Arfan datang dengan mengemudikan sendiri mobilnya, sementara Arini yang masih bersama Rania merasa berat jika harus berpisah.


"Ran, maafkan Aku ya, kita berpisah sampai disini dulu ya," Arini dan Rania cipika cipiki, kedua gadis yang sama-sama berjilbab itu terasa berat untuk berpisah.


"Kapan-kapan ajak Aku jalan-jalan lagi ya Ran?" Ucap Arini saat sudah masuk ke Mobil, dikursi belakang.


Tatapan Arfan kali ini tertuju kepada Rania, entah ada prasaan aneh apa yang membuat dia begitu lekat memperhatikan wajah Rania, yang seolah-olah wajah itu tidak asing bagi Arfan, Rania pun tampaknya juga merasakan sesuatu , saat menatap Arfan tapi entah dia sendiri tidak tahu prasaan yang bagaimana.


"Baru kerja belum sebulan sudah punya teman dan gaya-gaya an pake acara jalan-jalan segala " Arfan memarahi Arini, sambil mengemudikan mobilnya. sementara di belakang mobilnya, Bodyguardnya mengikuti dengan mobil lain.


"Memangnya tidak boleh, saya kan sudah minta ijin sama nyonya " bantah Arini ."Terus...ini kita mau kemana Tuan ?" sambungnya lagi.


"Pokoknya ikut aja dulu !" suara Arfan masih keras.


"Oh iya, makeup yang Aku belikan kemarin kok tidak dipakai?" tanya Arfan dengan nada suara yang sedikit melunak.


"Dari dulu saya memang sangat males pake makeup tuan, ribet, " jawab Arini enteng.


"Pokoknya dipake, biar tidak mubadzir " perintah Arfan.


"Hmmm...Nunggu kalau Aku sudah punya suami saja Tuan, karna gak baik bila seorang gadis berdandan, sebab Islam menganjurkan bagi seorang wanita itu untuk berdandan atau tampil cantik hanya didepan suaminya" papar Arini, sedangkan Arfan bungkam. karna selama ini yang ia ketahui, karyawati nya di kantornya, maupun di beberapa Hotel miliknya, karyawati wajib berpenampilan menarik demi menarik pelanggan.


"Memangnya kamu kapan mau menikah " tanya Arfan, tapi yang di tanyain sudah tertidur.

__ADS_1


__ADS_2