
Sebenarnya dari awal Arini memang sudah dapat menduga dan melihat, kalau Zidan memang punya perasaan yang Ia tuangkan dalam bentuk perhatiannya pada Azzura dulu, yang bahkan Arini pun sempat marah saat Zidan sangat perhatian pada Azzura kala itu, sebab Zidan hendak di jodohkan dengan Ameera.
"Sayang, Apakah kau juga mencintai Zidan?" Arini menatap lekat pada anak gadis yang baru ditemukannya itu , seoalah menyelami hati terdalam Azzura melalui pancaran di matanya, Azzura tampak tergugu untuk menjawab pertanyaan Ummanya.
"Awalnya dulu Aku tidak menerima saat Zidan memintaku untuk menjadi istrinya, karna Aku belum mengenalnya, namun untuk menjawab bagaimana prasaanku sekarang , sebaiknya Aku harus shalat istikharah dulu " jawab Azzura, meski sebenarnya Ia tahu, di sudut hatinya ada cinta untuk Zidan sebagai kekasih, bukan sebagai seorang kakak.
"Umma juga tidak berani mengambil keputusan, Akan Umma bicarakan ini dengan Abi kalian dulu " Arini juga belum mengambil keputusan, sebelum bertanya pada suaminya.
Sementara prasaan Zidan sekarang jadi lebih tak menentu, apakah sikapnya mengungkapkan prasaan cintanya itu benar atau keputusannya itu justru malah akan merusak kehangatan keluarga mereka, kecemasan kini meliputi Zidan.
***
"Halo Zam, Elo ada di kantor ?" Tanya Hafsah melalui sambungan ponselnya.
"Iya, Aku di Kantor, Kok masih panggil elo, kan kemarin kita sepakat mau panggil Aku kamu" jawab Azzam,
"Iya iya, Aku ada perlu sama kamu, penting banget, Aku kesitu sekarang ya" Sahut Hafsah.
"Oke "jawab Azzam, yang saat itu sedang sibuk di kantornya.
"Aku Otw." padahal sebenarnya Hafsah masih mau mandi.
Setiba nya di Kantor Azzam, Hafsah segera masuk dan duduk tanpa di suruh, Ia meletakkan tasnya di kursi.
"Zam, sekarang mama sama Papa sudah membatasi travelingku, karna kemarin yang ke Turki Aku tidak pamit sama mereka " ucap Hafsah terus terang.
"Ya sudah tidak usah ke luar negri, di Indonesia saja, banyak destinasi wisata yang keren keren, yang di kota maupun plosok, ngapain jauh-jauh ke negri orang"
"Masalah nya bukan itu, tapiiii mereka menjodohkanku, Aku juga tidak boleh traveling lagi ke luar maupun dalam negri, kamu kan tahu Aku sangat suka traveling demi konten-kontenku" ucap Hafsah sedikit manja sambil bersedekap.
"Apa hanya itu yang membuatku resah?" tanya Azzam dengan tatapan menyelidik sembari memegsng kedua ujung pundak Hafsah.
"Maksudmu?"
"Apa hanya hoby mu atau ada yang lain yang kau beratkan bila di jodohkan ?" Azzam bertanya lagi.
"Emang nya apa lagi?, hari gini di jodohin itu bukan jamannya zam, Aku gak mau di jodohin, Aku bukan Siti Nurbaya" kini Hafsan menghentakkan kakinya seperti anak kecil yang sedang merajuk.
"Memangnya Calon suamimu tua kayak datuk maringgih?"
__ADS_1
" katanya...Dia lulusan Al Azhar Kairo, usia nya sudah 27 tahun, dari fotonya sih ganteng, tapi gimana ya Zam Aku merasa gak sreg aja, dan gak ada hati untuknya." Keluh Hafsah.
"Terus kamu kesini mau minta saran atau hanya curhat atau memintaku untuk membawamu lari gitu ?"
"Tiga-tiga nya, curhat , minta saran dan bawa Aku kabur, karna Aku tidak mauu di jodohkan" ucap Hafsah dengan cepat.
"Memangnya kamu gak mau nikah?"
"Aku mau nya nikah sama kamu aja "
"Hahaha, sudah gak usah nge prank Aku segala"
"Aku serius !!!"
"Ceritanya kamu mau balas dendam karna Aku pernah nge prank kamu waktu itu" Azzam terkekeh.
Cup, tiba-tiba
Satu kecupan mendarat di pipi kanan Azzam.
"Astaghfirullohal adzim, Hafsah, kita ini bukan mahram "
"Kau ke kanak kanakan, malu sama jilbabmu, kau tadi menciumku, itu dosa !" Gertak Azzam.
"Iya Aku tahu, itu dosa, Aku melakukan itu agar kau percaya, kalau Aku memang mengharapkan kita menikah, selama ini satu-satunya cowok yang Dekat denganku cuma kamu, sahabatku sekaligus sepupuku, "Suara Hafsah bergetar.
"Tenangkan dulu hatimu, bicarakan baik-baik pada orang tuamu kalau kau tidak mau di jodohkan, jangan lampiaskan seperti ini "
"Kamu yang harusnya bicara pada orang tuaku setelah itu lamar Aku pada mereka" Hafsah menangis.
"Aku tunggu jawabanmu nanti malam " tambah Hafsah lagi, kemudian Iapun segera berlalu dari hadapan Azzam dan menghilang di balik pintu yang terbuat dari kaca itu.
Sementara Azzam masih termangu, menghayati apa yang dilakukan Hafsah barusan, degup jantungnya berdesir kencang seiring letupan prasaan yang di gaungkan Hafsah yang masih tertinggal di pipinya itu.
'Apakah benar Hafsah ingin menikah denganku? Hingga Ia nekat seperti ini' batinnya
Saat makan malam di kediaman keluarga Arfan, semuanya tampak berbeda. Azzam tampak diam dan tatapan seperti tatapan kosong, makanan nya hanya di aduk-aduk saja, kadang juga di suapkan ke mulutnya dengan rasa malas.
Sementara Zidan dan Azzura juga tampak sedang tak baik-bakk saja, mereka memang sedang menunggu keputusan orang tua mereka.
__ADS_1
"Kalian ini kenapa sih, kok tidak seperti biasanya, lagi mikirin apa sih ?" Tanya Arfan pada anak-anak nya.
"Makanlah dulu setelah ini kita bicara hal penting di ruang keluarga, kamu juga Zam, Ayo cepat makan makanannya, kayak anak kecil aja, makanan nya di mainin" pinta Arini
Taklama kemudian setelah makan, mereka berkumpul di ruang keluarga.
"Setelah kami pertimbangkan, Kami setuju dan merestui Zidan dan Azzura menikah, sejak dulu bagi kami Zidan adalah bagian dari kelarga kami, kalau Dia menikah dengan Azzura, maka Zidan akan tetap menjadi bagian dari keluarga ini seterusnya" ucap Arfan.
"Maksudnya , kak Zidan mau menikah dengan Azzura?" Azzam terkejut.
"Iya, karna Zidan adalah anak angkat, jadi Dia boleh menikah dengan Azzura" jelas Arfan.
"Ya gak seru bi, masak adik iparku adalah kakakku malah jadi kayak judul FTV , terus nanti kalau acara lamaran, siraman, sungkeman dan unduh mantu di Rumah dan tempat yang sama, kan aneh ma" celetuk Azzam.
"Kamu ini mikirnya kok kesitu "Arini menimpali.
"Ya iya lah, memangnya mereka tidak di adakan acara pernikahan yang mewah kayak artis-artis gitu, yang bahkan disiarkan secara live di TV berhari-hari ?"
"Pernikahan itu yang penting Sah dulu, urusan pesta itu bisa nyusul" jawab Arini.
"Ah gak seru, kakakku adalah adik iparku , adik iparku adalah kakaku, hahaha" goda Azzam, kemudian Ia pun ijin pergi menuju kamarnya.
Dan mereka pun akhirnya membicarakan pernikahan Zidan dan Azzura, karna memang tidak ada besan sebab yang menikah anak kandung dan anak angkat, masalah Ameera, Arini akan membicarakan baik-baik untuk membatalkan perjodohan mereka.
Arini dan Arfan sepakat mengambil keputusan itu karna dikawatirkan jika tidak di restui, itu tidak baik untuk mereka kedepan, sebab mereka tinggal di rumah yang sama, jadi semakin takut terjadi hal yang tidak diinginkan.
Seminggu kemudian akhirnya Azzura dan Azzam menikah, acaranya sederhana, dan tamu undangan pun terbatas. Di antara tamu undangan itu, Hafsah hadir dengan wajah yang tidak seramah biasanya saat pesta berlangsung, Hafsah menarik tangan Azzam, menuju kamar Azzam di lantai atas,dan mengajak Azzam berbicara berdua.
"Azzam, kenapa kemarin kamu tidak menjawab permintaanku dan tidak melamarku pada orang tuaku, hingga Mereka akhirnya benar-benar akan menikahkanku dengan pilihan mereka bulan depan, kamu jahat Zam !" Hafsah merutuki Azzam, memukul-mukuli dadanya sambil memangis, kemudian Hafsah pun bersandar di dada itu menuntaskan tangisannya.
"A-ku...Bisa apa, kau itu sepupuku , Aku sudah menganggapmu adikku sendiri, mana mungkin Aku akan menikahimu, Aku tak punya keberanian untuk mengatakannya pada Abi dan Umma" Azzam tergugu.
"Kamu lihat sekarang kak Azzura dan Kak Zidan menikah, mereka Adik dan kakak angkat, tapi di restui oleh orang tuamu"
"Itu karna hubungan mereka terjalin sebelum kak Zidan tahu kalau Azzura adalah adiknya. Dan..."
Namun Azzam langsung terdiam tatkala Hafsah mencium Azzam, seketika Azzam bungkam, karna bibirnya yang jadi sasaran Hafsah kali ini, seketika Iapun tenggelam dalam ciuman itu, namun tak lama kemudian, Hafsah menghentikan dan menangis tanpa suara di depan wajah Azzam dengan jarak yang begitu dekat.
"Kamu masih tidak percaya Aku mencintaimu hanya karna kita bersahabat dan sepupuan, sebentar lagi Aku akan menikah, tolong hentikan pernikahanku, Aku tidak mau menikah dengan yang lain, Aku hanya inginkan kamu " kemudian Hafsan berlalu dari pandangannya lagi, kali ini sentuhan Hafsah mampu menembus inti hati terdalam Azzam, Ia akui Ia juga mencintai Hafsah, tapi Ia tidak berdaya menyatakannya pada orang tuanya.
__ADS_1