CEO Dan Ustadzah Tomboy

CEO Dan Ustadzah Tomboy
Titipan Sahabat Arfan


__ADS_3

Warga masih belum membubarkan diri usai acara penyerahan tanah wakaf oleh Arfan pada warga , mereka juga menunggu keputusan Arfan mengenai hubungannya dengan Zahra, bagaimanapun juga Zahra seorang janda, dan kurang pantas jika sering dikunjungi seorang laki-laki yang bukan mahram nya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, sehubungan dengan adanya opini warga tentang Saya yang sering mengunjungi Mbak Zahra, Saya mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Mumpung kita masih di beri kesempatan berkumpul di tempat ini, ijinkanlah saya mengklarifikasi tentang hubungan saya dan Zahra yang sebenarnya" Arfan menarik nafas dulu untuk melanjutkan ucapannya.


"Awalnya, karna ketidak sengajaan, Saya menabrak Zahra hingga Zahra mengalami luka yang lumayan parah yang menyebabkan kakinya belum bisa berjalan sampai sekarang, sehingga Saya meminta Bu Fatma merawat Zahra, ketika Saya ke Rumah Zahra, Saya tidak berdua an dengan Zahra, tapi disitu selalu ada Bu Fatma, untuk hal ini silahkan tanya ada Bu Fatma, mumpung orang nya ada disini.


dan yang Saya temui adalah Zidan, bukan Zahra. Karna Saya memang tidak mempunyai hubungan khusus dengan Zahra, kecuali hanya rasa tanggung jawab saja atas kesalahan saya" mendengar itu para warga Diam.


"Iya Bapak-Bapak, Pak Arfan mengunjungi Rumah Zahra semata-mata karna Zidan, Zidan itu kan anak yatim, Zidan juga menganggap Tuan Arfan sebagai Ayahnya, Saya saksinya kalau tuan Arfan tidak ada apa-apa dan tidak berbuat yang macam-macam dengan Zahra" terang Bi Fatma.


Tiba-tiba, ada warga yang baru datang setengah berlari dan langsung menghampiri dan berbisik ke telinga Pak kades, semua warga fokus pada orang itu dan Pak Kades , wajah Pak Kades seketika berubah duka setelah dibisiki. Semua yang melihatnya merasa penasaran


"Siapa yang meninggal Pak?" Tanya salah seorang warga.


"Orang yang sedang kita bicarakan" ujar pa Kades dengan wajah menunduk, merasa sedih.


"Maksudnya Zahra ?" Terka Bi Fatma.


" iya "mendengar itu sontak para warga terutama Arfan sangat terkejut dan tidak meyangka, Zahra yang masih muda itu telah di panggil Allah lebih dulu. Para warga pun segera menuju ke Rumah Zahra.


Di rumah Zahra yang sederhana itu tampak sanak saudara dan warga lainnya berkumpul, yang perempuan, sebagian sedang mengurusi janazah, sebagian lagi sibuk di belakang . Sementara tangisan Zidan semakin lama semakin mengiris hati siapa pun yang mendengarnya.


"Bunda....bunda., Zidan mau maem, suapin Zidan !" Tangisnya saat melihat tubuh Ibunya terbujur kaku tak berdaya Sementara warga yang biasa bertugas mengurus jenazah mulai melakukan tugasnya, mulai dari memandikan dan mengkafaninya.

__ADS_1


"Bunda....Bunda...Zidan ikut Bunda" Zidan semakin histeris dalam gendongan Salma saat melihat Ibunya hendak di usung dengan keranda untuk dimakamkan.


Siapa yang tidak pilu, anak sekecil Zidan sudah harus menjadi yatim piatu dan menanggung beban sendiria di tinggal kedua orang tuanya, tangisan Zidan tak berhenti, Ia terus saja menangis, kemudian Arfan mengambil Alihnya dari gendongan Salma.


"Zidan sayang.., jangan menangis lagi ya ! kita beli es krim saja yuk !" Arfan mencoba merayunya.


"Tidak ! Zidan mau ikut Bunda , Bunda , bunda !" Zidan masih menangis, hingga akhirnya Dia berhenti menangis karna kelelahan dan tertidur dalam gendongan Arfan, Arfan kemudian menidurkannya di kamar Zahra. Kini, Zidan sudah tertidur di kasur milik ibunya dengan pulas, saat Arfan hendak beranjak keluar dari kamar itu, kakinya terhenti saat pandangannya terfokus pada sebuah pigura usang yang membingkai foto keluarga, Ayah , Ibu dan anak kecil yang tergantung di dinding kamar sempit itu.


Arfan tak berhenti memperhatikan sosok laki-laki yang sedang menggendong Zidan saat Zidan kecil itu, dan juga diapit oleh Zahra. Melihat itu, Arfan segera keluar menemui keluarga Zahra.


"Tadi, Tidak sengaja Aku melihat foto keluarga Zahra, Apakah Ayah Zidan itu bernama Rifki?" Tanya Arfan penuh harap. Mereka tampak mengangguk. Lutut Arfan Luruh ke lantai, Dia tampak mengangis.


"Ternyata Zidan adalah anak dari sahabatku" gumannya lirih, Orang-orang yang berada di ruangan itu menatap Arfan heran.


"Ijinkanlah Aku merawat Zidan dan menjadikan nya anakku" pinta Arfan pada kakak dari Rifki. Hambali, kakak rifki mengetahui Arfan adalah orang yang menabrak Zahra, namun bertanggung jawab, di mata keluarga Hambali, Arfan adalah orang kaya yang dermawan. Tapi Dia tidak tahu kalau Arfan ternyata mengenal Rifki, bahkan bersahabat.


"Iya, Dia sahabatku sejak SMA hingga kuliah, Kami memang sudah lama tidak berkomunikasi, karna itu Aku tidak mengetahui kalau Dia sudah tiada" Arfan tersedu.


"Baiklah !" Guman Hambali setelah menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. "Baiklah, Kami sebagai wali dari Zidan mengijinkan kau merawat dan mengasuh Zidan sebagai anak Asuhmu" Hambali menatap Salma, seakan mengatakan bahwa Dia harus sepakat dengan keputusan itu.


"Terimakasih kak !" Arfan memeluk Hambali dengan kebahagiaan , begitu juga Hambali, Dia merasa senang karna merasa Arfan adalah orang yang tepat untuk Zidan. Hambali yakin, jika adiknya bisa bersahabat dengannya, berarti Arfan adalah orang yang baik. Mungkin ini sudah jalan NYA, Arfan ditaqdirkan bertemu dengan Zidan. karna di dunia ini tidak ada yang kebetulan.


"Kalau boleh tahu, apa penyebab kenapa Rifki meninggal kak ?"Arfan bertanya serius, meski sebenarnya itu dirasa kurang sopan.

__ADS_1


"Sebenarnya dulu Dia menikah dengan salah seorang teman kerjanya, kemudian Mereka dikaruniai seorang anak, karna suatu hal mereka bercerai di lima tahun pernikahannya, anak mereka ikut Ibunya .


Kemudian Rifki menikah lagi dengan Zahra, meski usia mereka jauh, tapi Zahra lebih memilih Zahra dibandinkan mantan pacar nya saat Rifki melamar Zahra, dari situlah Rifki sering mendapat ancaman dan bahkan mantan pacar Zahra itu berkali-kali men-sabotase pekerjaan Rifki agar Rifki di pecat, hingga akhirnya Rifki meninggal di tangan nya dengan cara ditikam" menceritakan itu Hambali menangis, Arfan pun tampak sedih.


***


"Zidan sayang...sekarang kita akan pulang ke rumah Ayah Arfan ya, Zidan mau gak ?" Ucap Arfan pada Zidan saat mengemudikan mobilnya menuju rumahnya.


"Aku yakin, Arini pasti bisa menerimamu, Dia kan suka dengan anak-anak. Dan maafkan Aku yang selama ini tidak memberitahukan tentang Zidan dan Zahra padamu, hal itu karna Aku tidak mau kau cemburu"


"Ayah...Ayah...di Rumah Ayah Ayfan ada mainan gak?" Zidan membuyarkan lamunan Arfan.


"Hmmm...belum ada sih, tapi kita mampir di toko mainan dulu yuk! "Ajak Arfan.


"Hole...kita beli mainan , Asyik...yang banyak ya yah !" Zidan kegirangan. Melihat Zidan bahagia, Arfanpun bahagia. Anak yatim piatu itupun terus mengoceh sepanjang perjalanan.


Rifki adalah sahabatnya yang menerimanya apa ada nya, dulu waktu SMA keluarganya pernah bangkrut, dan hanya Rifkilah yang masih mau berteman dengannya dan selalu memberi support untuknya, kini Arfan bertekat akan merawat Zidan dengan baik seperti anaknya sendiri.


Kejadian saat Dia menabrak Zahra ternyata merupakan jalan Arfan untuk bisa bertemu dengan Zidan , dan srcara tidak langsung, Rifki menitipkan Zidan padanya saat kedua orang tuanya telah tiada, Taqdir dan rencana Allah itu memang luar biasa, dan tidak ada yang menerka nya.


Dalam perjalanan , Arfan kemudian mampir di salah satu toko mainan yang ada di pinggir jalan. Arfan membiarkan Zidan memilih sendiri semua mainan yang Ia suka, sebagai mana anak kecil, mungkin akan memilih semua mainan yang Ia suka, tapi Dia hanya memilih satu mainan yaitu mobil-mobilan Tayo kesukaan nya.


"Loh...Zidan kok cuma pilih satu mainan saja?" Tanya Arfan heran.

__ADS_1


"Uang bunda cuma dikit " jawabnya polos, Arfan terenyuh, mungkin selama ini Zidan hidup dalam kekurangan , sehingga Dia takut uangnya tidak cukup.


"Zida anak pintar, Zidan anak baik." Gumannya, kemudian Arfan membeli mainan lain nya tanpa sepengetahuan Zidan, biarlah sifat Zidan yang bersahaja itu tetap melekat pada dirinya.


__ADS_2