CEO Dan Ustadzah Tomboy

CEO Dan Ustadzah Tomboy
Mendadak Nikah


__ADS_3

Mendengar ucapan Ayahnya yang merestui nya dengan Arfan, Arini merasa lega karna bisa lepas dari Ustadz Yusuf , Tapi, saat dia sadar kalau Arfan melamarnya, apakah ini serius atau hanya pura-pura untuk menolongnya agar dia bisa lepas dari Yusuf, Dia ingin segera membicarakan ini pada Tuan galaknya itu, Tapi entah mengapa Arini melihat Tuan galaknya dipeluk oleh Ayahnya dengan Hangat.


'kenapa Ayah terlihat Sangat bahagia, seolah Ayah sangat mengharapkan nya sebagai menantunya' batin Arini bertanya-tanya.


"Tuan, maaf, bisa kita bicara dulu ?" Pinta Arini. Arfan mengiyakan, Dia keluar mengikuti Arini dengan wajah sumringah.


"Tuan, apa maksud tuan dengan mengatakan kalau tuan adalah calon suami ku dan meminta restu pada Ayahku, dan kenapa tuan tiba-tiba ada disini, semua ini hanya sandiwara bukan ?" Pertanyaan Arini beruntun.


"Aku kesini memang ingin menemuimu, mau meminta maaf atas kesalahanku di Mall, karna Aku lihat kamu sangat marah padaku, saat Aku menyentuhmu, dan untuk yang tadi, Aku merasa tidak senang kau di dekati laki-laki lain, jadi Aku putuskan untuk mengatakan kalau Aku calon suamimu dan meminta restu dari Ayahmu, dan itu bukan sandiwara,


Tapi tulus dari Hatiku yang paling dalam, " Ucapan Arfan membuat Arini semakin salah tingkah, kenapa Dia harus terjebak cinta seperti ini, pikirnya.


Arfan kemudian mengeluarkan kotak kecil dari sakunya, dan memberikannya pada Arini. Tadi, selama perjalanan dari Surabaya ke Malang itu, selain Dia sibuk menghafal lafadz untuk Ijab Qobul, Dia juga menyempatkan untuk membeli cincin, meski Dia belum tahu ukuran jari Arini.


"Tadi Ayahmu sudah merestui ku, sekarang Aku ingin melamarmu. Ijinkanlah Aku menjadi Imam mu, meski sebenarnya Aku belum pantas untuk itu, karna Aku memang seperti seorang Muallaf yang baru belajar agama, sebenarnya Aku ingin melamarmu ketika Aku sudah banyak belajar tentang agama dari Ustad Firman, namun Aku takut kehilanganmu, aku takut Aku didahului laki-laki lain. jika Kau tidak keberatan, Ajari Aku menjadi Imam mu, ustadzah Arini "ucapnya sembari menyerahkan kotak cincin yang telah terbuka itu.


Arfan sengaja tidak berlutut seperti adegan Romantis di Film-Film , Karna itu hanya diklakukan orang-orang yang bucin, pikir Arfan.


sedangkan dia saat ini hanya merasa sedang terjebak cinta Ustadzah Arini, terjebak oleh prasaannya sendiri yang takut kehilangan Ustadzah Arini, apalagi keduluan oleh Yusuf.


"Apakah tuan serius ? Apakah Tuan mencintaiku ? Tuan bukan sedang nge prank Aku kan?"Arini masih melempari Arfan dengan pertanyaan lagi


"Aku tidak tahu sejak kapan Aku mencintaimu, Aku juga tidak tahu apa itu cinta, tapi yang mendorongku untuk melamarmu adalah ketika kau menangis saat tanpa sengaja Aku melihat helaian Rambutmu, dan saat Aku merangkulmu di Mall itu, membuat Aku ingin menghalalkanmu, agar kau tidak menangis lagi saat tanpa sengaja Aku melihat rambutmu lagi, atau tanpa sengaja menyentuh tanganmu, jadi kata Ustadz Firman, Aku harus menghalalkanmu " Arfan berhenti.


"Hanya itu alasan Tuan" Arini tidak percaya dengan yang dilihatnya saat ini, Tuannya itu seperti bukan tuan nya yang seperti biasanya, yang galak dan angkuh, yang untuk mengucapkan terimakasih saja tidak bisa.


"Aku bukan laki-laki yang pandai bersikap romantis atau pandai melayangkan rayuan untuk wanita, tapi prasaan itulah yang ada hatiku, apa adanya prasaanku" Arfan kehabisan kata-kata.


"Kamu mau terima gak cincin ini, capek juga loh pegang gini sambil nunggu jawaban" umpat Arfan. Arini hanya tersenyum geli dengan sikap tuannya itu , ia pun menerima kotak cincinnya tapi, belum sempat Arini menjawab, dia panik ketika ada dokter masuk ke kamar Ayahnya di rawat, buru-buru iapun masuk, begitu juga dengan Arfan .


"Ada apa dengan Ayah saya dok ?" Arini kawatir.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Ayah anda hanya mau minta pulang sekarang, padahal asam lambungnya masih belum stabil" ucap sang dokter.


"Ayah mau cepat-cepat pulang, ada urusan dadakan di Rumah " guman Ali khan.


Arini tidak bisa protes, Ia pun mempersiapkan kepulangan Ayahnya dari Rumah sakit, Arfan pun juga ikut sibuk membawa barang calon mertuanya ke mobil Yang di supiri Sony, sedangkan Dia sendiri naik mobil yang di supiri Pak Rudi.


Sebenar nya sewaktu Arini dan Arfan keluar, Pak Ali khan tengah sibuk menelpon Pak Hadi, kemudian menelpon anak buahnya yang sedang mengurusi kedai makanan khas timur tengah milik nya, agar semua makanannya di bawa ke Rumahnya berikut juga seluruh karyawannya yang terdiri dari tujuh orang karyawan yang kesemuanya masih saudaranya dari Negaranya, Pakistan . begitu juga Halimah yang juga sibuk menelfon bi Sumi, juga menghubungi MUA terbaik dikampungnya.


Mereka sampai di Rumah saat Maghrib, Arini segera melaksanakan sholat begitu juga yang lain, Pak Ali khan yang meng imami mereka. Rumah Pak Ali lumayan besar untuk ukuran di Kampung nya, disamping kanan Rumahnya juga terdapat deretan kamar sekitar 10 kamar yang di gunakan untuk menampung saudara nya dari Pakistan yang ikut merantau ke Indonesia, bisa di sebut Ali khan sedang merekrut saudaranya untuk sukses bersamanya di Indonesia yang kini menjadi negaranya ini.


Beberapa Karyawan yang ditunggu nya sudah datang membawa makanan., begitu juga Bi Sumi yang akan membantu menyiapkan bagian konsumsi, kemudia MUA pun datang, mereka tidak punya waktu lama, Arini yang masih bingung, terpaksa langsung bersiap-siap untuk di make up in, saat Ibunya menyuruhnya.


"Ini kok ada MUA segala sih bu, ada apa, siapa yang mau menikah ?" Tanya Arini, dikiranya di dandanin karna akan menghadiri pernikahan saudaranya.


"Yang menikah itu kamu sama nak Arfan " jawab Ibunya enteng.


"Apah ? menikah ? sekarang juga? Ini terlalu cepat bu A.." belum sempat menyelesaikan bicaranya, Ayahnya datang .


"Hmmm....pake umumnya di sini saja Yah, 300 ribu saja " jawab Arini yang sedang di makeup in itu, meski sebenarnya dia ragu apakah dia benar-benar akan menikah , pokoknya dia menjawab pertanyaan Ayahnya.


Semuanya sudah siap, Arini sudah di makeup in, meski tipis-tipis, Dia mengenakan gaun putih dan makhkota indah di jilbab nya, laksana bidadari yang baru turun dari kayangan, dan kini dia sedang menunggu di kamar yang sudah di rombak oleh Ahmed, adiknya sendiri, dalam penantiannya di kamar itu, jantung nya berdetak tak karuan saat menunggu tuan galak nya membacakan lafadz ijab qobul untuknya., bahkan kadang, Arini tidak merasa yakin jika itu benar-benar terjadi, siapa yang bisa mengartikan kegelisan Arini saat itu, yang mendadak nikah.


Sementara di Ruang tamu, yang sudah tergelar karpet dan sudah tersedia makanan khas timur tengahnya, para tetangga berdatangan sesuai undangan untuk walimah ury dan menyaksikan akad nikah itu. Arfan yang duduk bersama Ali khan di antara tetamu semakin tegang, dia kawatir hafalannya tidak lancar, tapi calon mertuanya selalu memberinya semangat agar tenang.


Akhirnya setelah Pak penghulu datang, dan semua Saksi serta para undangan sudah datang semua termasuk Andi yang datang membawa mas kawinnya. Akad nikah pun segera di mulai, sedangkan mempelai pengantin perempuan masih menunggu di kamar, mula-mula penghulu menggunakan bahasa Arab, tapi karna Arfan tidak mengerti, Ijab qobul menggunakan bahasa Indonesia.


"Wahai Arfan Syahreza Hadiningrat bin Aryo Hadiningrat Aku nikahkan, dan Aku kawinkan Engkau dengan Anakku yang bernama Arini Khairani Khan binti Khair Ali khan dengan Mas kawin Tiga milyar Rupiah di bayar Tunai"


"Saya terima nikah dan kawinnya Arini Khairani Khan binti Khair Ali khan dengan Mas kawin tersebut Tunai " Arfan ternyata lancar mengucapkan nya dengan satu tarikan nafas...


Semua yang hadir terperangah dengan nominal mas kawinnya yang wah...,dan semua tamu undangan yang merupakan tetangga itu heboh.

__ADS_1


Arini yang mendengar dari kamarnya juga terkejut, karna mereka sepakat mas kawin 300 ribu saja.


"Bagaimana para saksi, sahh...?"


"Sahhhh..."


Penghulu membacakan doa untuk kedua mempelai, setelah itu pengantin pria di antar oleh Ayah mertua dan beberapa orang menuju kamar pengantin wanita di iringi bacaan sholawat...


Arfan baru melihat Arini yang berpakaian gaun pengantin berwarna putih itu, seperti seorang putri yang cantiknya kelewatan, baru sampai di pintu kamar, Arfan lemes, karna terkesima dan terpana dengan kecantikan wanita yang kini sah menjadi istrinya, mengetahui hal itu, orang-orang yang mendampingi Arfan menuju kamar kamar pengantin tadi tertawa menggoda Arfan.


"Belum juga malam pertama sudah lemes melihat kecantikan istrinya, wah....kalah sebelum berperang nih...!" semua orang tertawa, karna semua juga terpesona dengan kecantikan Arini, karna selama ini Arini memang cantik, meski tidak pernah pakai makeup.


Sesampainya di Kamar, Bi Sumi membawa sepiring nasi Biryani yang sudah di doakan setelah ijab qobul tadi, kemudian menyuruh Arfan untuk saling menyuapi, setelah itu, Arfan meletakkan tangannya di atas ubun-ubun Arini yang duduk di tepi Ranjangnya, Arfan belum hafal doanya, tapi dia melihat gawainya untuk membaca doa nya yang dikirimi Firman, meski tidak terlalu lancar dan terbata-bata, Arini merasa terharu dengan Tuannya nya yang kini menjadi suaminya telah bersusah payah untuk menghafal doa itu.


Andi , membawakan mas kawinnya berupa tabungan atas nama Arini, ke kamar pengantin. sedangkan Soni dan Para pengawal Arfan sedari tadi sibuk meng dokumentasikan prosesi sakral tersebut, bahkan sejak tadi Sony vidio call dengan Tuan Hadi , dan prosesi ijab qobul itupun juga bisa disaksikan langsung oleh keluarga Hadi, di sana semua ikut bahagia, mereka saling berpelukan karna terharu, berikut juga semua pelayan ikut menyaksikan nya dan bahagia karna Tuannya akhirnya menikah.


Tampak Pak Hadi menangis terharu dengan memeluk Rania, melihat itu Rania juga sangat bahagia.


"Opah, Rania minta ijin, besok teman Rania, namanya Randi, Aku undang untuk acara syukuran besok, sekaligus untuk memperkenalkan nya pada keluargaku" Rania berbicara dengan opahnya di Kamar opah nya secara serius


"Maksudnya?" Pak Hadi belum mengerti.


"Dia mau melamarku, tapi belum secara resmi, karna mau bertanya dulu padaku dan keluargaku, baru setelah itu Dia akan membawa keluarganya"


"Tapi...apakah kamu sudah siap untuk menikah muda?" tanya opah ragu.


"Dan apakah Randy itu juga siap, ?" Rania mengangguk dengan pertanyaan opah.


"Opah setuju, asal calonmu itu laki-laki yang baik dan mampu menjadi imam untukmu, Tapi maaf, opah maupun Arfan tidak bisa menjadi walimu. karna kalau kau menikah ,harus dengan wali hakim"


Ucapan Opah seketika itu menghujam hati Rania.

__ADS_1


"Maksudnya ,...jadi ,benar, seperti yang dikatakan paman dan Tante ku selama ini kalau Aku ini anak haram" Rania menangis, karna selama ini dia tidak tahu kalau ibunya hamil di luar nikah, Rania pun berlari dari kamar Opah nya menuju kamar Nenek Saidah, dan hendak menanyakan hal tersebut.


__ADS_2