CEO Dan Ustadzah Tomboy

CEO Dan Ustadzah Tomboy
Kerpergian Syifa ke kota


__ADS_3

Sore harinya, Pak Somad meminta Syifa untuk segera pergi ke kota untuk mencari orang tuanya dan juga agar tidak di ganggu juragan Broto.


Dengan menaiki Bus di terminal Joyo boyo, Syifa tiada hentinya menangis di dalam Bus, hingga kedua matanya sembab , Dia duduk di kursi yang dekat jendela, agar saat menangis, Ia akan menoleh ke arah keluar dan agar tidak terlihat orang yang lalu lalang.


Ia menuju ke Rumah Budhe nya di kota, tepatnya Kakak dari Pak Somad, sebelum berangkat tadi, Pak Somad memberikan alamat Kakak perempuannya yang tinggal di perumahan padat penduduk , di kota Surabaya.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya Syifa langsung menuju Rumah Budhe nya, disana Syifa disambut baik, oleh Budhe Nur yang baik hati seperti Pak Somad, Budhe Nur sangat senang dengan kedatangan Syifa, karna Dia tinggal sendirian, sebab kedua anak nya ikut suaminya masing-masing.


Syifa menceritakan yang terjadi antara Bu Dahlia dan Pak Somad, serta menceritakan tentang nya pada Budhe Nur.


"Adikku itu memang tudak beruntung karna mempunyai istri durhaka seperti Dahlia itu, tapi Budhe melihat, sejak Dia menemukan mu, hidupnya berubah menjadi lebih ceria, Dia se olah telah menemukan kehidupan barunya , dan Dia memang sayang padamu sejak kecil, dan menganggap mu sebagai anaknya sendiri" guman Budhe Nur.


"Iya Budhe, Syifa bisa merasakan kalau selama ini cinta Bapak sangat tulus untuk Syifa " Syifa sedih mengingat kenangan masa kecilnya saat Dia yang selalu di sayangi dan diperhatikan dengan sungguh-sungguh meski Bapaknya hidup dalam kekurangan.


"Oh iya, besok pagi kamu ikut Budhe Saja, bantu-bantu Budhe jualan nasi Di Pasar Turi," pinta Budhe Nur.


"Iya Budhe, Syifa juga pingin belajar masak sama Budhe, masakan Budhe memang terkenal enak " Syifa merasa mendapatkan semangat lagi setelah curhat pada Budhe nya.


***


Zidan kebingungan, saat Dia menyadari kalau Ustadzah Yang telah mampu membuatnya tak bisa tidur, kini tidak Ia jumpai di sekolahan.


"Tuan Zidan, maaf, Jika Tuan tidak bisa lagi bertemu Syifa disini, karna kemarin sore Dia pamit keluar dari TPQ ini, kata nya Dia mau Bekerja ke kota untuk membantu perekonomian keluarganya." Mendengar penuturan Ustadz Anwar, Zidan merasa lemas, entah mengapa Dia merasa kehilangan saat mengetahui Syifa pergi.


"Ustadz, panggil Saya Zidan Saja "pinta nya sembari membuka jas dan dasi nya, sehingga tersisa kemeja putih , lalu Dia meminta Ustadz Anwar untuk mengantarnya ke Rumah orang tua Syifa, dengan berjalan kaki.

__ADS_1


Karna Rumah Pak Somad memang dekat dari sekolahan itu, mereka pun cepat sampai, tampak di depan Rumah Pak Somad, juragan Broto sedang marah-marah, anak buah nya pun sedang mengobrak abrik isi rumah Pak Somad, Zidan dan Ustaz Anwar pun segera mendekati Rumah Pak Somad.


"Hentikan, kenapa kalian merusak rumah Pak Somad seperti ini !" Ucap Ustadz Anwar.


Juragan Broto menoleh, dengan senyuman sinisnya, Dia memicingkan matanya, memperhatikan kedatangan Zidan dan Ustadz Anwar.


"Siapa lo, berani ikut campur urusanku Hah !" Gertak Broto.


"Kalau tuan bermain kekerasan pada orang lemah seperti Pak Somad, maka ini jadi urusan kita " Sahut Zidan. Anak buah Broto langsung menarik kerah Zidan dengan kasar.


"Berani lo sama Bos Broto!" Ancamnya, sementara Zidan tidak gentar.


"Jangan lukai Dia juragan, urusan juragan dengan Saya, ku mohon jangan lukai siapa pun" Pak Somad mencoba melerai anak buah Broto agar tidak memukul Zidan. Tampak di sudut bibir Pak Somad, mengeluarkan sedikit darah, rupanya Pak Somad sudah di hajar oleh anak buah Broto.


"Kenapa kau menghajar orang tua seperti Pak Somad ini?" Tanya Zidan.


Mendengar anak gadisnya Pak Somad di sebut sebagai jaminan, yang berarti adalah Syifa, seketika membuat Zidan naik pitam , Ia ingin menghajar Broto saat itu juga, tapi di cegah oleh Ustadz Anwar.


"Oke, Aku akan bayar hutang Istri Pak Somad sekarang, karna Aku sedang tidak bawa uang tunai, mana ! Berikan nomer rekening mu !" Mendengar penuturan Zidan, Juragan Broto kegirangan dan segera memberikan nomer rekeningnya.


"Sekarang hutang Istri Pak Somad sudah lunas 10 juta, dan ini akan dijadikan bukti jika nanti kamu masih macam-macam sama Pak Somad, ingat itu !" Juragan Broto tidak bertingkah lagi, Ia segera meninggalkan Rumah Pak Somad.


"Bapak tidak apa-apa ?" Zidan langsung menanyakan keadaan Pak Somad.


"Anak muda ini siapa, kok tiba-tiba membayar hutang istri Saya, " Pak Somad keheranan.

__ADS_1


"Nama Saya Zidan Pak, saya teman nya Syifa, Saya hanya ingin membantu orang yang sedang teraniaya seperti Bapak tadi" Jawab Zidan.


Sambil membereskan barang-barang di dalam rumahnya yang di berantakin oleh anak buah nya juragan Broto.


"Oh iya, katanya Syifa ke kota, apa itu sengaja Ia lakukan untuk menghindari renternir itu?" Tanya Ustadz Anwar.


Sebelum menjawab, Pak Somad mengatur nafas , serta membenarkan posisi duduk nya.


"Iya, Syifa Aku suruh pergi ke kota agar bisa terhindar dari renternir itu dan juga untuk membantu perekonomian kami" jawab Pak Somad yang terpaksa berbohong.


"Kalau boleh tahu, ke mana Syifa pergi Pak?" Bujuk Zidan.


"Siapa sebenarnya anak muda ini ? Rasanya tidak mungkin kalau anak muda ini hanya sekedar berteman dengan Syifa, dan dengan mudah nya mengeluarkan uang 10 juta begitu saja" ujar Pak Somad penasaran dengan suara pelan.


"Beliau ini adalah..."Ustadz Anwar ingin menjelaskan tentang Zidan, tapi di larang oleh Zidan.


"Saya hanya temannya Syifa pak, kalau masalah uang itu, Bapak tidak usah memikirnya, atau merasa takut Saya minta ganti, dalam keluarga Kami, orang tua kami selalu mengajarkan anak-anaknya untuk gemar sedekah dan menolong pada orang yang membutuhkan."guman Zidan dengan hati-hati karna takut terjerumus pada kesombongan.


"Kalau begitu Saya mengucapkan banyak terimakasih atas kebaikan tuan, semoga Allah senantiasa memberikan RahmatNya dan melancarkan Rizki tuan" Pak Somad hendak mencium tangan Zidan , tapi Zidan menepisnya dengan lembut karna tidak mau dihormati berlebihan.


"Sudahlah Pak, ini memang sudah kewajiban kita sebagai sesama manusia. Kalau boleh tahu, Syifa kerja Apa di kota ?" Zidan masih terus berusaha menanyakan keberadaan Syifa.


"Sebenarnya Syifa tidak tahu disana mau bekerja Apa, apalagi Dia hanya lulusan SMA, untuk sementara, Dia tinggal di Rumah Mbak ku dan membantunya, dan kebetulan mbakku buka warung nasi Di Pasar Turi." Ucap Pak Somad, tanpa berterus terang tentang tujuan sebenarnya menyuruh Syifa ke kota.


"Tolong, beritahukan padaku alamat Budhe nya Syifa, kebetulan Saya ini juga dari kota, insya Allah, Saya akan memberikan pekerjaan yang layak untuk Syifa " bujuk Zidan pada Pak Somad yang sedari tadi merasa ragu, karna memang Pak Somad belum pernah tahu tentang pemuda yang sudah membantunya itu

__ADS_1


"Baik lah akan Saya beri tahukan Alamatnya, tapi Saya mohon, Andai tuan sudah bertemu dengannya dan memberi pekerjaan padanya, maka Saya mohon, tolong jaga Dia , Dia belum pernah ke tempat yang jauh sendirian."pinta Pak Somad penuh harap.


"Terimakasih atas kepercayaan Bapak, " Zidan mencium punggung tangan Pak Somad.


__ADS_2