
Sebenarnya sudah seminggu ini, Arini berusaha untuk tidak berurusan dengan tuannya yang galak , tapi karna tadi ada masalah besar tentang nyonya Ningsih, mau tidak mau Arini terpaksa harus berintraksi dengan tuan galaknya, dan kali ini justru harus belanja bersama , itu membuat Arini semakin kesal.
"Mimpi apa Aku semalam hingga harus bersama singa padang pasir itu, Aku tidak akan lupa dengan kejadian kemarin, hanya karna bau ikan asin saja, dia sampe keluar tanduknya, pake nge hukum aku segala, untungnya Aku memang suka olahraga, jadi hukuman itu tidak berarti apa-apa buatku, tapi harga diriku serasa diinjak-injak, dasar tuan galak ! sombong !Arogan ! Juga tidak tahu ber terimakasih , padahal opah sudah bilang padaku, kalau tuan galak itu sudah tahu kalau Aku yang menolongnya saat dia diserang. itu berarti dia memang tidak tahu berterimakasih " grutu Arini, saat siap-siap untuk berangkat belanja, Ustadzah juga manusia, bisa merasakan kesal juga loh.
"Arini... ayo kita harus cepetan ke mall nya, dasar pelayan lelet " teriak Arfan yang sudah menunggu di dalam mobil Ferrari 599 GTO miliknya itu, dia hendak pergi berbelanja bulanan bersama Arini atas suruhan opah nya, dan ia pun terpaksa menuruti opahnya. Sedangkan 4 bodyguard nya naik mobik lainnya di belakang.
"Memangnya kamu dandan giman sih, prasaan , muka lo ya gitu-gitu aja " oceh Arfan sembari melirik kedatangan Arini, ia memperhatikannya dari ujung kepala sampai kaki. Elegan meski dengan model baju yang itu-itu saja, tanpa polesan make up sedikitpun, namun mampu membuat Arfan tersepona eh, terpesona , namun ia segera menepis rasa kagumnya itu dengan ocehan kemarahan.
"Cepat masuk , ngapain saja sih kok lama banget, kamu duduk di belakang sana,!" Perintah Arfan dengan nada keras, sementara dia duduk di depan bersama supir, sengaja dia tidak menyuruh nya duduk di depan karna merasa takut Arini dilirik supirnya.
"Saya kan sudah bilang, tadi sholat maghrib dulu, terus dzikir sebentar, jadi tidak ada acara dandan tuan muda !" jawab Arini dengan suara agak ditekan karna kesal.
"Ngomong nya biasa aja kali jangan ditekan gitu, marah ? Aku ini tuanmu loh, gak boleh ngelawan !"
"Iya tuan galak "pura-pura melembutkan suaranya, padahal lehernya gondok.
"Apa kamu bilang ?"Arfan semakin marah.
"Tidak, saya hanya bilang iya tuan, oh iya, tadi opah sama nyonya nitip perlengkapan sholat dan iqro' hmmm ... tuan dulu, kapan terakhir kali mengaji, maksud ku sampai juz berapa mengajinya biar nanti Aku belikan iqro' juga " Arini mencoba mengalihkan pembicaraannya.
"Ti-dak usah !"Arfan mulai glagapan. Arini pun faham dengan tuan galaknya yang merasa malu karna tidak bisa mengaji, Akhirnya mereka diam, hingga 40 menit kemudian, mereka sudah sampai ke tempat tujuan mereka.
Di Swalayan terbesar di kota Surabaya itu, Arfan dan Arini yang didampingi 4 bodyguard nya mulai berjalan menaiki eskalator. Meski dari kampung, tapi Arini seperti sudah terbiasa dengan sarana di sana.
Data belanjaan yang harus di beli dipegang Arini, jadi dia yang sibuk memilih, sedangkan Arfan yang terpaksa mengekor.
"Loh...ini kok ada daftar make up sama baju untuk Abg , Apa ini untuk Bi Ana ? Atau mungkin nyonya? tapi kan , Bi Ana agak gemuk, lah...ini di daftar, bajunya ukuran L, terus ini punya siapa ya... ,ya udah beli aja dulu, mungkin punya Ruhi atau pelayan lainnya mungkin." batin Arini
"Kok kita ke toko make up" tanya Arfan.
"Ini ada di daftar belnja an, mungkin nyonya yang minta tuan " Arini menunjukkan daftar belanja yang diberikan Pak Rudi.
"Owh....."
"Selamat malam tuan, nyonya, mau pilih lipstik yang warna apa ? Istri Anda sangat cantik, kulitnya juga putih, warna apa saja pasti cocok " seorang Pramuniaga yang bermake up lumayan tebal itu menawarkan pada Arfan dan Arini, seketika mereka pun saling pandang karna merasa risih di bilang suami istri.
"Dia bukan istri saya "Arfan dengan suara ketus.
__ADS_1
"Maaf...padahal kalian sangat serasi loh..."sambung Pramuniaga sambil memilihkan alat kecantikan lainnya.
"Mana ada, gadis yang mau menikah dengan nya mbak, dia ini galak, pake banget, sombong, ngeselin, Arogan . " Arini berbisik pada Pramuniaga tersebut .
"Apa yang kamu bisikkan " Arfan mulai keluar tanduknya., namun tiba-tiba telponnya berdering.
"Halo Pah "ternyata opah nya yang menelpon.
"Fan, untuk make up dan baju yang ada di daftar belanjaan itu, untuk Arini, jadi biarkan Arini yang pilih yang cocok untuk dirinya "
"ngapain repot-repot segala sih Pah, "Arfan mau protes.
"Arini itu berjasa pada mama kamu, juga berjasa menyelamatkan nyawamu kemarin, jadi dia pantas mendapatkan itu, lagi pula Arini memang tdk punya banyak baju disini apalagi make up, biar dia nanti belajar dandan sama mama kamu " jelas Opah.
"Iya , iya ,"Arfan meng iyakan dengan nada terpaksa, kemudia menutup telponnya.
"Mbak, pilihkan semua perlengkapan make up nya yang cocok untuk nya, yang bagus mbak,biar dia tidak crewet, cepetan tidak usah lama-lama " guman Arfan pada pramuniaga .
"Baik tuan " pramuniaganya kesenangan " ternyata calon suami mbak sultan royal ya, ganteng lagi , kayak siwon choi,"bisiknya pada Arini.
"Memang nya Siwon itu siapa ?" Arini heran.
Dikasir khusus make up, Arfan membayar make up yang dibeli untuk Arini tadi.
"Total lima juta tujuh ratus duapuluh ribu tuan "dengan tenang Arfan membayarkan dengan kartu, sementara Arini , jangan ditanya, matanya membulat , mulutnya menganga , seakan tidak percaya atas apa yang di dengarnya barusan.
'Make up saja sampe lima juta lebih...itu bisa jadi uang makanku dikampung selama 3 bulan , padal se umur-umur Aku gak pernah beli make up, karna males make nya, paling Ibu yang selama ini beliin dan maksa Aku untuk pake bedak,' jiwa misquin Arini meradang.
"Sudah, jangan norak gitu , ayo kita ke toko baju !" Arfan memerintahkan Bodyguard nya untuk membawa barang belanjaan mereka.
Di toko baju, Arini di suruh memilih baju yang cocok untuknya.
Hanya celana dan baju yang ia tuju, dia memilih rok plisket, rok celana, celana kulot, pokoknya yang berbau celana tapi yang longgar , sedang untuk atasan, dia lebih suka kemeja biasa, atau tunik atau kaos oblong dengan cardigan, setelah memilih lima baju dan celana yang dia pilih, kemudian dia ter sadar , ternyata harga yang tertera di bandrolnya membuat jiwa misquinnya meradang lagi.
"Ya alloh...padahal ini semua kesukaanku, tapi kok mehong banget, tunik model biasa gini aja harganya 500 ribu, kalau dikampung ini cuma 75 ribu. Aku kembalikan lagi saja deh "pikir Arini.
"Coba sekali-kali beli baju jangan lihat-lihat harganya, mumpung di traktir sama opah " ucap Arfan dengan suara agak mengejek.
__ADS_1
"Ya sudah, beneran ya di bayarin "Arini pun ambil kesempatan itu. Arini juga tidak lupa membeli perlengkapan alat sholat untuk nyonya dan opah.
Tak lama kemudian mereka sudah di Kasir, dan Arfan terpaksa antri karna dia yang membayarnya.
"Males banget antri, memangnya mereka tidak tahu siapa Aku ini , Arini...Arini..."Arfan celingak celinguk mencari arini yang dikira ada di belakang nya, niatnya agar Arini saja yang mengantri.tapi ternyata Arini menghilang, para Bodyguard nya juga sibuk mencari Arini.
"Kurang ajar ! mengapa pake ngilang segala sih..."Arfan mencoba menelponnya, tapi Ia sadar, kalau Arini tidak punya hape. Arfan dan Bodyguardnya pun kebingungan mencari-cari keberadaan Arini, hingga akhirnya Arfan memutuskan untuk mencarinya melalui pengumuman di pos keamanan.
Tak lama kemudian Arini datang ketempat Arfan , dengan prasaan kawatir dimarahin.
"Kamu itu udik banget , gitu aja sampe tersesat kayak anak kecil saja " Arini sudah menduga
Tuan galak nya akan memarahinya.
"Anu tuan, maaf, tadi saya melihat ada anak kecil ganteng banget kayak bule, sedang menangis mencari ibunya, terus saya bantu dia mencari ibunya, setelah muter-muter akhirnya ketemulah Ibunya, kami pun akhirnya berkenalan, Ibunya itu ternyata orang indonesia yang menikah dengan orang Australia, namanya Amora." Arini menjelaskan keterlambatannya, agar tuan galak nya tidak marah.
Deg.
Arfan terkejut mendengar nama yang Arini sebut barusan, tapi ia mencoba mengalihkan keterkejutannya dihadapan Arini.
"Oh iya, sebaiknya kamu juga harus beli hape, karna kalau ada apa-apa kayak tadi , kamunya susah dihubungi, Arini hanya mengangguk.
Di counter hape, Arfan berdiri melihat Arini yang sedang kebingungan memilih hape yang paling murah seperti yang dia punya dulu.
"Mas, bungkus yang ini, cepat tidak usah lama-lama, " Arfan menunjuk sebuah hape keluaran terbaru seharga tujuh belas juta, lagi-lagi jiwa misquin Arini meradang.
"Tuan, itu terlalu mahal tuan, tidak pantas untukku , sebaiknya ganti yang seharga satu juta an saja tuan." Pinta Arini.
"terserah saya "Arfan ketus, Arini pun tidak bisa protes lagi.
Akhirnya, pukul 22.00 acara belanja mereka pun selesai, setelah hendak pulang, di mobil yang ditumpangi Arfan dan Arini penuh dengan belanjaan, karna di bagasi nya sudah penuh, begitu juga di bagasi mobil yang yang dinaiki bodyguard nya, dan mobil mereka pun melaju pulang.
"Ternyata belanja annya banyak banget ya, hmmm...kira-kira habis berapa semua nya tuan " Arini yang penasaran , mencoba bertanya pada Arfan.
"Limapuluh juta " jawab Arfan.
Kali ini Arini benar-benar pingsan , karna syok dengan nominal struk belanjaan yang dia dengar barusan, juga karna Arini tengah lapar, bayangkan, belanja mulai dari jam 6 sore sampe jam 10 malam, tapi tuannya tidak berinisiatif membelikannya makanan, sehingga Arini pingsan, ustadzah juga manusia, dia juga bisa lapar dan syok , tuan galak.
__ADS_1
"Dasar norak ! gitu aja pingsan " Arfan tidak merasa kawatir, justru merasa bangga karna bisa menunjukkan kekayaannya di depan Arini.