
"Umma sayang..., ternyata kamu disini, acara sudah selesai bukan, kita pulang yuk !" Arfan hadir ditengah mereka, langsung menggelayutkan tangannya di pinggang serta mengusap perut istrinya yang mulai buncit itu, dengan niat memamerkan kemesraan pada Yusuf dan agar Yusuf tidak mendekati istrinya lagi, sebab dari tadi Arfan memperhatikan sikap Yusuf yang sedang berbicara pada Arini.
"Kok buru-buru bi, Ini Aku sedang melepas rindu pada teman-temanku dan anak-anak ..." ujar Arini sambil melepaskan tangan suaminya di pinggang nya, karna merasa malu di lihat orang banyak, apalagi di depan Yusuf.
"Termasuk melepas rindu dengan Yusuf" kali ini suara Arfan terdengar menakutkan bagi Arini.
"Ya tidak bi, ini tadi Yusuf memberitahukan kalau istrinya , sedang Hamil, yang kondisinya lemah kayak Aku dulu, istrinya kan sahabatku bi " Arini mencoba menjelaskan agar suaminya tidak marah.
"Sekarang sudah kan ?, Ayo kita pulang, ikut Aku, Aku ada urusan !" Pintanya lagi dengan suara yang sedikit ditekan, Arini merasa takut, karna jika suaminya berbicara seperti itu berarti Ia sedang marah.
"Iya bi, sudah selesai, Kalau begitu, Aku pamit dulu sama Ustadza Nur dan Zainab." pinta Arini, dengan hati yang deg-degan karna intonasi bicara suaminya mulai berbeda, dan Arini pun segan. Segera Ia berpamitan dan lagsung mengikuti suaminya.
Di dalam mobil, Arini dapat merasakan perubahan suaminya karna cemburu pada Yusuf, sementara Arfan , sikapnya masih kaku.
"Kita mau kemana Bi, kok tidak ke rumah Ibu ?" Tanya Arini saat menyadari mobilnya menuju jalan lain.
"Kita ke suatu tempat dulu, mencari lahan untuk dijadikan Masjid untuk menunaikan keinginan Opah" ucapnya sambil menyetir, karna supir nya sedang tidak ada.
"Owh...kiarin mau kemana, oh iya bi, Tadi Abi kenapa sikap Abi pas di depan Yusuf kayak gitu, malu tau gak bi ?" Melihat suaminya sudah melunak, Ia memberanikan diri bertanya.
"Memang nya kenapa sikapku, biasa saja tuh..." jawab Arfan enteng.
"Beneran tidak ada apa-apa ?" Arini belum yakin dengan jawaban suaminya.
"Iya beneran tidak ada apa-apa, "Arfan merasa sedikit tergugu karna merasa malu jika harus mengakui kalau sebenarnya Dia sedang cemburu pada Yusuf.
"Aku hanya tidak suka Yusuf berbicara denganmu" akhirnya munculah kalimat itu dari mulut Arfan.
"Owalah...ceritanya ada yang cemburu nih !!" Ledek Arini pada suaminy.
"Enggak, siapa yang cemburu?" Arfan masih mengelak.
"Ya sudah kalau tidak cemburu, Aku akan menghubungi Yusuf, karna tadi Aku belum selesai yang bahas Laila" goda Arini.
"Jangan ! Ngapain ngubungin Dia kan bisa langsung ke nomer Laila nya" suara Arfan tinggi lagi.
"Tapi Aku tidak punya nomernya Laila " ucap Arini sengaja memancing.
"Jadii kamu punya nomernya Yusuf ?" Arfan makin meninggikan nada suaranya.
Arini menggeleng, mengetahui istrinya hanya menggodanya, Arfan merasa gemas dan menarik hidung mancung sang istri.
" jadi kamu hanya menggodaku ? nakal ya" ujar Arfan yang mencubit hidung istrinya lagi.
***
Arfan sudah sampai di tempat tujuan, Ia hendak men survey tanah sesuai yang dilihat nya di iklan tanah yang akan di dibelinya, tampak Ia berbincang dengan seorang pemilik tanah, tanah yang masih ditanami tebu oleh pemiliknya itu menarik perhatian Arfan.
__ADS_1
Arfan mensurvey sendiri sedangkan Arini memilih diam di mobil, dan memandang suaminya dari jauh.
"Tuan mau nya yang luasnya berapa dan rencana mau dibangun Apa" tanya Pemilik tanah yang dipanggil haji Hamdan itu.
"Rencananya Saya mau membangun Masjid " guman Arfan sambil melihat-lihat sekelilingnya, tanpa melihat orang yang bertanya. Mendengar jawaban Arfan, Haji Hamdan terkesiap kagum.
"Tuan mau membangun Masjid atas nama yayasan mana ?"
"Atas Nama Saya pribadi " jawab Arfan singkat.
"Masya Allah...luar biasa tuan, masih muda, kaya, ganteng dan masih mementingkan Akhirat" Haji Hamdan semakin kagum.
"Ah, Saya hanya menjalankan Amanat Kakek Saya"
"Itu juga luar biasa "ujar Haji Hamdan lagi.
"Abah, ini kopinya !" Tiba-tiba, tampak seorang gadis memanggil Haji Hamdan, yang merupakan putri dari Haji Hamdan, Dia terkesima dengan ketampanan Arfan, meski Arfan tidak melihatnya karna sibuk mensurvey.
"Tuan, mari kita duduk dulu sambil minum kopi" ajak Haji Hamdan ke teras Rumahnya, tanah yang di jualnya memang berada di samping rumahnya.
"Tuan, perkenalkan ini anak gadis saya, nama nya Nurul, Dia masih kuliah " Haji Hamdan memperkenalkan Anaknya, tampak Nurul langsung mengulurkan tangan , Arfan pun memperkenalkan diri dan menyambut uluran tangan Nurul tanpa ada prasaan apa-apa, sedangkan Nurul sengaja memperlama pegangan tangan nya, menyadari hal itu, Arfan segera melepasnya.
Tampak dari jauh, mata elang Arini mengamatinya dengan prasaan panas, mau langsung keluar dan melarang nya, takut dianggap tidak sopan, Akhirnya Arini hanya mengamatinya dari jauh sambil mengepal-ngepal kan tangan nya sendiri, sambil mengucapkan grutuan pada suaminya.
"Bagaimana tuan, apakah anda cocok ?" Tanya Haji Hamdan
"Jadi , Tuan gak jadi beli tanahnya ?" Haji Hamdan tampak sedikit kecewa.
"Sepertinya begitu" sahut Arfan.
"Oh iya, silahkan diminum dulu kopinya" ucap Nurul dengan suara mendayu, yang sedari tadi duduk ikut bergabung dengan mereka.
"Memang nya berapa luas yang tuan butuhkan ? Biar nanti kalau yang ini tidak cocok, Saya tunjukkan tanah yang lain, teman saya ada yang mau menjual tanahnya, siapa Tahu cocok" Haji .Hamdan mencoba memberi tawaran.
Sementara Nurul terus saja menatap Arfan tanpa kedip.
"Sekitar 100 sampai 200 meter " guman Arfan.
"Kebetulan, Aku punya yang tuan ingin kan , tapi lokasinya agak jauh dari sini, apakah tuan mau melihatnya?"
"Boleh " jawab Arfan singkat
"Ayo sekarang !"Haji Hamdan kegirangan.
"Sekarang? " Arfan memastikan
"Ia, tapi boleh Saya menumpang Mobil tuan?"pinta Haji Hamdan tanpa merasa sungkan.
__ADS_1
"Boleh, silahkan !" Arfan segera beranjak
"Abah, Aku ikut, Aku takut sendirian di rumah" ucap Nurul dengan manja.
Arfan belum mengiyakan, H.Hamdan langsung mengajaknya.
"Kalau mau ikut, Ayo cepat " Ujar Haji Hamdan kegirangan.
"Tapi..."Arfan tercekat.
"Gakpapa kan tuan, sekali-kali kami juga ingin naik mobil mewah " Arfan pun hanya bisa diam melihat tingkah Ayah dan anak itu.
Mereka berjalan mendekati mobil mewah Arfan, Saat itu Arfan menyetirnya sendiri mobilnya .
"Abah, Aku di depan ya , kalau dibelakang Aku takut nantinya mabuk " ucap Nurul, sambil membuka pintu mobil bagian depan, setelah duduk , Nurul tidak menyadari kalau di kursi belakang ada orang nya.
"Kalau Aku jadi istrinya, Aku pasti akan sering-sering naik mobil mewah ini."guman Nurul dengan suara pelannya.
"Hem..hem..., " Arini kemudian berdehem, seketika Nurul melonjat kaget.
"Si-siapa kamu ? Kok ada di sini ?" tanya Nurul. Gugup
"Perkenalkan Saya istri nya tuan Arfan" guman Arini dengan tenangnya. Seketika Nurul langsung keluar dari mobil, melihat anaknya keluar dengan wajah di tekuk, Haji Hamdan bingung.
"Loh ..kenapa keluar ?"tanya nya Heran.
"Aku gak jadi ikut "Jawab Nurul yang langsung cepat-cepat masuk ke rumah nya, kesal bercampur malu.
"Ayo Pak Haji, anda duduk di depan saja, karna di belakang ada istri saya" H.Hamdan pun tak kalah terkejutnya mengetahui ternyata Arfan bersama istrinya.
Sebenarnya H.Hamdan malu dengan sikapnya yang seolah menawarkan anak nya untuk berkenalan lebih jauh, tapi karna itu masalah tanah yang artinya urusan uang besar, maka urusan malu di kesampingkannya dulu.
Hampir 45 menit proses survey lokasi hingga mengantarkan Haji Hamdan kembali ke rumahnya , kini Arfan dan Arini menuju pulang.
"Enak ya...berjabat tangan dengan anak gadis orang , kan Abi sudah tahu, kita tidak boleh bersentuhan denganbyang bulan mahram nya" ucap Arini sambil menjewer telinga Arfan dari belakang.
"Aduh...aduh...Sakit sayang...maaf, Aku khilaf " guman Arfan sambil menahan sakit jeweran sayang yang dilakukan istrinya.
"Khilaf tapi sampe keterusan ngajak naik mobil" Arini mulai melepas jewerannya tapi mulai memasang wajah marah penuh aura kecemburuan.
"Iya maafkan Abi , sayang, Sungguh Abi benar khilaf tadi, dan kenapa dia mau ikut, karna Ayahnya yang ngajak , padahal Aku belum mengijinkannya"guman Arfan sambil memulai melajukan mobilnya., sambil melirik melalui kaca mobilnya .
"Ternyata istriku ini cantik banget kalau lagi cemburu ya.." Arfann menggoda istrinya.
"Siapa yang cemburu ." Arini berkilah
Arfan semakin melebarkan senyumnya merasa senang melihat istrinya cemburu.
__ADS_1