CEO Dan Ustadzah Tomboy

CEO Dan Ustadzah Tomboy
Jadikan Aku Mahrom mu !


__ADS_3

Mobil Ferarri milik Arfan berhenti di Parkiran tempat wisata Hutan kota, Pakal yang terletak di Bagian barat Kota Surabaya. Sementara Arini masih tertidur di kursi bagian belakang. Arfan ingin membangunkannya, tapi diurungkannya, setelah Arfan terkesima melihat begitu cantiknya Arini saat tertidur, dada Arfan bergemuruh , desiran nafasnya seolah melamban, dari belakang kemudi itu, Arfan mencoba membangunkannya, namun Belum sempat membangunkannya, Arini nampak terbangun.


"Kita sudah nyampe Tuan?" Tanya nya sambil mengucek-ngucek matanya yang masih belum terbuka lebar.


"Iya, kita sudah nyampe di Hutan " jawab Arfan enteng.


"Apah...? Hutan ?, ngapain kita ke Hutan , Tuan mau membuang saya ke Hutan?" Arini melonjak Panik.


"Ini tuh Tempat wisata, namanya Hutan kota, bukan Hutan Rimba, memangnya kamu mau nikah sama Tarzan , ha ha ha.."Arfan mentertawakan Arini yang panik. Arini pun Akhirnya diam sebab malu.


Mereka pun turun, Arini Tampak sudah segar kembali saat melihat pemandangan indah pepohonan yang tertata rapi...sejuk tapi juga ramai pengunjung, ia berjalan dibelakang Arfan.


Arfan mengajak Arini menyelusuri kawasan itu dengan pandangan terfokus pada pemandangan disekelilingnya.


"Kenapa jalannya dibelakang terus sih ?"Tanya Arfan dengan gaya galaknya.


"Seorang gadis itu lebih afdhol atau lebih baik nya bila berjalan dibelakang pria " Arfan belum mengerti yang dikatakan Arini.


"Pasangan itu jalannya malah dempetan gitu , padahal wanita nya berjilbab " tanya Arfan lagi, sambil menunjuk dua sejoli yang sepertinya sedang dimabuk Asmara.


"Kita harus husnudzon, siapa tahu mereka sudah halal dan pengantin baru" ujar Arini.


Dan Mereka memilih untuk duduk di gazebo , mereka duduk agak berjauhan, sedangkan tak jauh dari mereka duduk, empat Bodyguard Arfan sedang berdiri, mengawasi keamanan Tuan nya.


"Sebaiknya Tuan ajak mereka duduk disini juga, biar tidak dilihat aneh oleh orang-orang " saran Arini. Mereka pun Akhirnya duduk santai juga di gazebo yang lain, tapi tetap bisa memantau Tuan Arfan.


"Memangnya kenapa Tuan mengajak ku kesini, ?" tanya Arini


"Sebenarnya Aku ingin membicarakan sesuatu " Arfan mulai bicara agak serius. Tiba-tiba Arini curiga 'apa jangan-jangan Tuan mau bilang kalau dia menyukaiku, tidak , ini tidak mungkin' batin Arini ke pe-de-an.


"A-ku....sebelumnya Aku sudah bilang , kan kalau Aku ingin belajar sholat, Aku ingin mendalami agama , Arini, tolong ajari Aku Islam "Arfan mulai memberanikan diri. Sementara Arini yang tadi merasa ke pe-de-an merasa malu sendiri.

__ADS_1


"Sebaiknya Tuan belajar dari seorang Ustad, atau lihat-lihat dulu di youtube , sebagai pengantar pencerahan untuk hati Tuan, coba cari ceramahnya Ustad-Ustad terkenal di youtube , entah itu Ustad Adi hidayat, Ustad Abdul somad, Ustadz Hanan Attaqi, atau Ustadz-lainnya yang akan bisa membuka hati tuan tentang ajaran Islam . dan Untuk belajar sholat, belajar lah dari seorang Ustad laki-laki secara langsung, bukan ke saya, karna saya seorang perempuan, jadi kurang etis bila Tuan belajar dari saya " guman Arini.


"Kenapa? Bukankah kamu seorang Ustadzah ?" Arfan bingung.


"Karna Aku perempuan, kalau Aku laki-laki, Aku dengan senang hati akan mengajari tuan, jika Aku mengajari tuan banyak hal tentang Agama, otomatis kita akan sering berdua an atau tatap-tatapan dan itu bisa menimbulkan Fitnah, misalkan ini dari pandangan ya...jika suatu saat Aku mengajar Tuan dengan serius, namun tiba-tiba Fitnah dari syetan datang dengan mempertemukan pandangan kita, yang lama-lama Akan timbul sebuah panah yang mana akan menimbulkan hal yang tidak diinginkan ke depannya , soalnya syetan sering menggunakan pandangan sebagai senjata untuk mengelabui dua orang berlainan jenis" terang Arini.


"Jadi, solusinya bagaimana ? kalau dari youtube, Aku kurang begitu faham, Aku ingin diajari secara langsung "


"Seperti yang sudah Aku katakan tadi, carilah seorang Ustad yang bijaksana dalam mengajari orang dewasa seperti tuan, karna jujur, mengajari anak-anak itu lebih mudah dibanding mengajari orang yang sudah dewasa " tambah lagi Arini.


"Hmmmm...kalau begitu, Aku akan segera mencari seorang Ustad " guman Arfan sembari berikir siapa gerangan yang bisa.


"Oh iya, Aku kesana dulu ya, kayaknya pemandangan disitu bagus banget" guman Arini menuju tempat seperti sebuah jembatan dari kayu dimana dibawahnya terpampang pemandangan pepohonan yang sangat memanjakan mata, Angin nya sangat sejuk di sore itu, membuat kerudung Arini sedikit berantakan, dan Rambutnya terlihat ada helaian yang keluar dari jilbabnya. mengetahui hal itu, Arini segera memperbaiki jilbanya agar rambutnya tidak berhambur keluar, sementara Arfan berada di belakang Arini, namun Arini tidak mengetahuinya. Arfan mengangkat gawainya hendak memotret Arini dengan gawainya.


"Arini " panggilnya mengisyaratkan agar Arini menoleh, refleks Arini menoleh disaat jilbabnya masih berantakan dan jarum pentolnya masih belum terpasang, maka wajah Arini dengan helaian rambut bagian poninya yang masih berantakan terlihat oleh Arfan dan tertangkap kamera gawainya.


Seketika Arfan terpana lagi, seakan waktu tiba-tiba terhenti , kecantikan Arini yang tertimpa Angin lembut di Alam bebas itu, seolah menyiratkan bahwa kecantikan yang terpancar itu benar-benar alami. namun Arini segera berbalik secepatnya, kemudian segera mengaitkan jarum pentol nya agar jilbabnya rapi lagi, kemudian dia berlari menjahui Arfan, menuju mobil diparkiran, Arfanpun segera mengejarnya.


"Kamu kenapa ?"suara Arfan seketika lembut.


Arfan segera membuka kunci pintu mobil dan segera melajukan nya, dengan prasaan penuh tanda tanya dengan apa yang terjadi pada Arini saat ini.


"Kamu kenapa tiba-tiba diam begitu, tidak seperti biasanya" Arfan bertanya sambil mengintip Arini dari kaca depan . dan Arfan menangkap bayangan di kaca itu, kalau Arini ternyata sedang menangis. Reflek ia menepikan mobil nya kemudian berhenti.


"Kamu menangis? Kenapa ,ada apa? Apakah Aku menyakitimu ?"tanya Arfan.


"Tidak Tuan, Anda tidak salah, Aku yang salah, karna ceroboh, sehingga helaian rambutku terlihat oleh Tuan " Arini menangis.


"Kan hanya rambut itupun cuma beberapa helai, bukan sesuatu yang lain, kenapa kamu sampai sesedih itu ?" Arfan semakin kebingungan.


"Sehelai rambut wanita yang terlihat laki-laki yang bukan mahramnya, maka baginya di neraka selam 70ribu tahun, bagaimana mungkin Aku bisa tenang, sedangkan Tuan sudah melihatnya bahkan bukan sehelai " Arini semakin menangis

__ADS_1


"Mahrom ? apa maksud nya mahrom itu ?" tanya Arfan.


"Orang-orang yang boleh melihat rambutku " Arini hanya menjawab singkat, sebab penjelasan mahrom yang sebenarnya akan sulit dipahami oleh Arfan. juga karna Arini sedang menangis.


"Kalau begitu, jadikan Aku mahrom mu, agar Aku boleh melihat Rambutmu, agar kau tidak menangis lagi " Arini tercekat mendengar penuturan Arfan, sementara Arfan kurang mengerti dengan Apa yang diucapkannya barusan.


"Apa maksud Tuan ?" Tangisannya tertahan dengan ucapan Arfan tadi.


"Iya, jadikan Aku mahrommu agar Aku bisa menjadi termasuk orang yang boleh melihat rambutmu, agar kau terbebas dari ancaman neraka itu " jawab Arfan polos.


"Tuan mengerti dengan apa yang Tuan katakan barusan ?" Arini bertanya lagi dengan prasaan yang berkecamuk.


"Memang nya ada yang salah dengan yang ku bicarakan ?" Arfan pun merasa bingung.


"Ya sudah sebaiknya kita segera kembali ke rumah " Arini menyeka air matanya, kemudian berhenti menangis dan diam seribu bahasa sembari melempar pandangan ke arah luar jendela mobil tuannya itu.


Sementara Arfan, pun diam seribu satu bahasa sambil kembali melajukan mobilnya. Dalam hatinya ia masih bertanya-tanya , apakah ada yang salah dengan ucapannya.


'Memang nya ada yang salah dengan ucapanku tadi, Aku kan hanya ingin agar Arini tidak merasa berdosa dengan ancaman neraka itu hanya karna beberapa helai rambutnya yang terlihat olehku, apa ada yang salah ya ' batin Arfan bertanya-tanya tentang perkataannya pada Arini tadi, bahkan dia merasa takut apa yang dikatakannya benar-benar salah.


Sementara dari tadi hati Arini semakin tak menentu setelah mendengar apa yang dikatakan Arfan.


'Sebenarnya Apa yang dimaksud Tuan Arfan, dengan mengatakan ingin menjadi mahromku, Apa dia ingin menikahiku ? Ah, tapi sepertinya bahkan dia tidak mengerti yang dia katakan, dia kan memang belum banyak mengerti tentang Islam , dia itu seperti seorang Muallaf yang butuh banyak tuntunan tentang ajaran Islam, jadi mana mungkin dia tahu tentang arti mahrom yang dia katakan barusan , andai dia mengatakan seperti itu karna memang bermaksud ingin menikahiku bagaimana ? Ya Alloh..kenapa Aku jadi dilema seperti ini' batin Arini semakin kalut.


Sesampainya di Rumah, mereka masih saling diam, dengan pikiran masing-masing. saat di kamar, Arfan segera menelpon Andi.


"Halo Andi, tolong kamu carikan dan Rekomendasikan padaku seorang Ustad yang mau mengajariku sholat, mengaji atau yg lain nya." Arfan langsung memerintahkan Andi melalui telfon, sementara Andi belum menjawab, terdengar sahutan monyet-monyet dari sebrang telfon.


"Oke Tuan, nanti Aku usahakan, sekarang Aku sedang menggendong anakku yang kecil, sedang melihat monyet ,tuan " suara Andi seperti sedang kewalahan menggendong anak nya yang kecil.


"Jadi kamu sekarang sedang di KBS,? , pokoknya segera carikan Aku Ustad ya "perintah Arfan .

__ADS_1


"Baik tuan"


Ternyata Andi memang sedang momong anak nya yang kecil, Laili, sedang yang besar, laila 4,5tahun di jaga Aisyah, mereka tampak sedang ribet, karna anak-anak sedang ketakutan dengan monyet - monyet yang bergelantungan kesana kemari di sebuah taman khusus monyet di dalam Kebun Binatang Surabaya itu, mereka memang keluarga kecil yang bahagia.


__ADS_2