CEO Dan Ustadzah Tomboy

CEO Dan Ustadzah Tomboy
Rania dan Nenek Saidah


__ADS_3

Arfan mengambil minuman dan meminumnya dengan nafas ter engah-engah, dan mengambil gawainya di atas nakas dan hendak menelfon Arini.


Tapi ia mengurungkannya, karna ia tahu, Arini sedang tidur di kamar mamanya , takut mengganggu tidur mamanya nanti, iapun memutuskan untuk mengirim pesan.


[Aku ingin belajar sholat dan mengaji, tolong bantu Aku ]dan chat nya masih centang satu, mungkin Arini mematikannya, pikir Arfan.


Jam menunjukkan pukul 02.00 tapi dia belum tidur lagi , dia merasa takut bermimpi buruk lagi .


'Mama sakit bertahun-tahun, tidak bisa di obati dengan dokter hebat mznapun, bahkan berobat ke luar negri pun tidak membuahkan hasil, tapi ketika mama untuk pertamakali mendengar ayat Al qur an, mama sudah bisa merasakan perbedaan dan bahkan bisa bicara, dan sekarang juga sedang mengikuti proses penyembuhan dengan metode Alqur an, sungguh hebat Al qur an itu, Aku ingin sekali bisa membaca nya ,agar Rumah ini tidak di kuasai jin lagi, sebenarnya awalnya Aku tidak percaya dengan yang begituan, tapi tadi Aku merasakan seperti melihat nya sendiri ' batin Arfan berkecamuk, hatinya sedang berperang antara ego dan hidayah.


***


Bangun tidur, langsung sholat kemudian melayani nyonyanya yang masih belum bisa berjalan, hingga agak siang, dia belum sempat membuka gawai nya, Arfan yang mengetahui pesan nya masih centang satu mengerti dengan kesibukan Arini, karna dia mengintip Arini ke kamar mamanya yang sedang sibuk membersihkan badan mamanya.


Arfan pun segera beranjak dan pergi menuju kantornya.


Di jalan, dia dihadapkan dengan jalan yang macet karna meski masih pagi, banyak supporter Persebaya dan supoter Arema Malang sedang memenuhi jalanan ibu kota Surabaya itu menuju lapangan Glora 10 November karna akan diadakan pertandingan antara Persebaya dan Arema nanti siang.


Di sudut lain di kota Surabaya, sekitar pukul 15.00 seorang wanita berjilbab warna pink soft, sedang menenteng kotak kue basah, keluar dari Kampus sendirian, tidak beriringan dengan teman-temannya seperti kebanyakan mahasiswi yang suka berkelompok denga teman-temannya. Sedangkan di jalanan tanpa di ketahui siapa pun tiba-tiba terjadi keributan antara Bonek dan Arema, supporter club Persebaya Dan Arema .


Tambak dari keributan sudah tidak bisa dikendalikan, para polisi pun seakan kewalahan menghalau keributan yang ditimbulkan akibat kedua supporter yang dikenal dengan musuh bebuyutan itu, tampak ada sekelompok pemuda , entah dari pihak Bonek atau Arema, yang sedang menjarah sebuah minimarket, dan orang-orang yang berada disekitar itu tidak bisa melarangnya, sedangkan polisi masih sibuk dengan menghalau supporter yang tengah membakar ban di jalan raya yang agak jauh dari lokasi minimarket itu.

__ADS_1


Sementara, Rania, gadis berjilbab pink soft tadi terjebak dalam keributan itu, tampak dua orang pemuda yang baru selesai menjarah , hendak mendekati Rania dan ingin sepertinya hendak ingin melecehkan Rania, menarik paksa tangan Rania dan menariknya menuju gang yang sedang sepi.


Rania, brontak dan berusaha melepas diri berteriak-teriak meminta pertolongan, namun sepertinya tidak ada yang mendengar karna keadaan sedang genting dan riuh, sehingga tidak ada yang menyadari kalau ada yang sedang teriak minta tolong.


Dua pemuda yang entah dari Supporter Bonek atau Arema itu terus marik tangan Rania, tapi kedua pemuda itu tidak memakai kaos supporter Bonek maupun Arema, kemungkinan pemuda tersebut hanya anak jalanan yang sedang memanfaatkan situasi tersebut untuk menjarah.


Rania sudah mulai kehabisan tenaga memberontak, saat pemuda kurung yang memegan tangan kanan Rania hendak mencium paksa Rania tiba-tiba sebuah tinjuan mendarat di pipinya, seketika ambruk, sedangka pemuda yang memegang tangan kirinya hendak melawan orang yang meninju teman nya pun seketika rubuh karna ia juga terkena tinjunya, kemudian keduanya hendak menyerang bersamaan, namun keduanya pun sama-sama Ambruk bersamaan.


Pemuda yan berpakaian kemeja kotak warna hitam dengan setelan jeans dan sneaker shoes itu tampak sangat mengkhawatirkan Rania.


"Kamu tidak apa-apa? "


"Tidak , Randy ?, terimakasih ya sudah menolongku "


Tanpa banyak bertanya lagi, Rania mengikuti ajakan Randy, masuk ke dalam mobil sport miliknya. Kemudian Randy segera melajukan mobilnya menjahui tempat yang sedan terkena huru hara tersebut.


Rania masih tampak syok, dia seperti sedang ketakutan. Melihat itu Randy tidak banyak bicara, agar Rania merasa nyaman.


Taklama kemudian, mobil sport milik Randy sampai di depan rumah Rania, rumah yang tidak terlalu besar, tapi lumayan bagus dibandingkan dengan rumah disekitarnya.


Dari dalam rumah, tiba-tiba Mirna keluar , karna dia tahu mobil yang baru saja terparkir itu milik Randi, mahasiswa populer di kampusnya. Tapi Mirna teihat dengan yang dilihatnya, karna Randy terlihat membukakan pintu untuk Rania.

__ADS_1


"Duh...kenapa Rania yang beruntung naik mobilnya sih, kenapa bukan Aku" Mirna menggrutu kesal.


Dari teras samping, tampak nenek saidah segera menghampiri cucunya yang terlihat berantakan.


"Rania...kamu kenapa Nak ?" tanya nya dengan prasaan kawatir.


Rania segera menghamburkan ke pelukan neneknya, Rania terlihat masih syok dan seakan belum bisa bicara.


"Tadi Rania terjebak kerusuhan yang terjadi di dekat Kampus nek " ujar Randy membantu menjawab pertanyaan nenek Saidah.


"Astaghfirullohal adzim, tapi kamu tidak apa-apa kan nak ?" nenek Saidah semakin kawatir.


"Alhamdulillah tidak apa-apa nek, tadi Randy datang menolong Rania" akhirnya Rania menjawab.


"Terimakasih ya Nak sudah menolong cucuku " ucap nenek yang memakai daster lusuh dan mengenakan jilbab kurung itu.


"Sama-sama nek, oh iya saya pamit mau segera pulang nek, " Randy pamit.


"Loh...gak masuk dulu nak ?"


"Tidak nek, kapan-kapan saja nek , " jawab Randy dengan sopan, namun tiba-tiba Mirna mendekati Randi .

__ADS_1


"Ren...masuk dulu yuk, jarang-jarang loh kamu kesini, mumpung kesini ayuk masuk dulu " MirnaMirna yang merupakan teman se jurusan dengan Randy, membuat Randy tahu sikap Mirna


__ADS_2