CEO Dan Ustadzah Tomboy

CEO Dan Ustadzah Tomboy
Arfan dan Zahra


__ADS_3

Zahra meminta pulang meski dokter melarangnya, sebab Zahra mengkhawatirkan Zidan, anak nya. Dengan perdebatan yang alot, Akhirnya Arfan pun mengantarkan Zahra ke Rumah nya.


"Mbak Zahra, Saya minta maaf , Saya kurang hati-hati, hingga tidak sengaja menabrakmu, hingga jadi seperti ini, sekali lagi Saya minta maaf "Arfan mengucapkan permintaan maaf pada Zahra.


Wanita yang baru setahun menjadi janda itu hanya tersenyum.


"Iya, tidak apa-apa, namanya juga musibah" guman Zahra dengan suara khas nya yang memang lemah lembut , jawaban itu membuat hati Arfan berdesir, senyum wanita cantik dengan rambut panjang sebahu yang terurai itu seakan mampu menyihir Arfan.


Takut ketahuan kalau Dia sedang terkesima dengan kecantikan Zahra, Arfan melempar pandangan nya pada subjek lain, Dia memperhatikan kondisi Rumah Zahra yang sangat sederhana, kursi di ruang tamu yang terbuat dari anyaman rotan pun terlihat sudah lusuh.


"Hem.. hem..." Fatma berdehem, membuyarkan pikiran antara Arfan dan Zahra , yang seolah mengerti sikap mereka yang salah tingkah saat mereka saling bertatapan.


"Oh iya Ra, kamu jangan kawatir, Aku di tugaskan oleh tuan Arfan ini untuk menjaga dan merawatmu sampai kau sembuh, Aku juga yang akan menjaga Zidan" ucap Fatma, yang merupakan tetangga Zahra, namun Dia tidak akan memberi tahu pada Zahra kalau Dia di bayar oleh Arfan.


"Tidak usah repot-repot Bi, "Guman Zahra pada Fatma.


"Gak usah repot-repot gimana, kamu itu tidak bisa jalan, siapa yang akan ngurus Zidan, sudah ! pokoknya Kamu tenang, jangan merasa merepotkan Bibi, Bibi Ikhlas kok !" Guman Fatma seraya bersorak gembira di dalam hatinya karna akan mendapatkan uang 2 juta perminggunya.


"Bunda....Zidan Kangen Bunda, Bunda dayi mana aja !" Tiba-tiba Zidan datang bersama Salma, kakak ipar Zahra, Zidan pun langsung berhambur ke pelukan Ibunya.


"Bunda tidak kemana-mana kok, Bunda disini, Bunda juga kangen Zidan" Zahra yang sedang duduk di kursi roda itu menciumi anak nya. Melihat adegan itu, Arfan menjadi terharu.


"Zidan sayang, Zidan jaga Bunda baik-baik ya, jangan nakal ya, soalnya kaki Bunda sedang sakit" ucap Arfan pada Zidan. Zidan memandang Arfan aneh, karna belum mengenal Arfan.


"Perkenalkan, Saya om Arfan " Arfan memperkenalkan diri seraya menggendong Zidan, Dan Zidan pun menurut .


"Om Ayfan" ucap Zidan yang belum bisa mengucapkan huruf R.


"Ha ha...iya, anak pinter " Arfan merasa gemas dengan Zidan yang memang ganteng, yang mirip dengan ibu nya.


"Jadi Kamu yang menabrak Zahra " suara Salma sedikit keras.


"Iya , tapi Tuan Arfan bertanggung jawab kok, jangan kawatir, semuanya sudah di jamin oleh Tuan Arfan," Fatma langsung menenangkan Salma agar kemarahan nya tidak menghilangkan pencaharian nya.

__ADS_1


Akhirnya Salma pun terdiam, Karna waktu sudah mulai gelap, Arfan pamit untuk pulang.


***


Selama masa penyembuhan, Arfan sering mengunjungi Zahra, ada semacam rindu yang tersembunyi di hati Arfan pada Zidan, anak yatim itu telah mampu mencuri hatinya, hingga membuatnya sering melupakan kalau istrinya sedang hamil besar.


"Mas Arfan kok sering kesini, dicariin istrinya nanti ?" Ucap Zahra saat Arfan menggendong Zidan.


"Aku sudah bilang padanya kalau mau kesini?" Jawab Arfan yang sedang fokus bercanda dengan Zidan.


"Ajak saja istri Mas kesini, Aku juga ingin kenal dengannya" pinta Zahra. Arfan gelagapan, sebab tadi Dia berbohong , karna sebenarnya Dia tidak memberitahukan pada Arini.


"Istriku sedang hamil besar, jadi pergerakan nya tidak bebas kalau di ajak kemana-mana. Oh iya dari tadi kok sepi , bi Fatma mana?" Arfan mengalihkan pembicaraan.


"Tadi habis nyuci, Dia ijin pulang sebentar," jawab Zahra, wanita yang berusia sekitar 25 tahun itu merasa sudah terbiasa dengan Arfan, seolah Arfan adalah kakaknya.


"Apakah selama kamu sakit, Dia memperlakukanmu dengan baik?" Selidik Arfan.


"Iya, tidak seperti biasanya, selama bertetangga dengan nya, sikapnya baik dan ramah sama seperti tetangga pada umumnya, tapi kali ini Aku merasa Dia aneh, Dia melakukan semua pekerjaan rumah ku dengan ikhlas, menyiapkan makanku dan Zidan, sampai Aku melihatnya kecapek an , tapi Dia tetap tidak bergeming., nanggung katanya." Terang Zahra.


'sebab kemarin , Aku memperingatkannya agar lebih sungguh-sungguh dalam melayani Zahra dan Zidan, kalau mau di bayar cepat' batin Arfan


"Ayah...Ayah...Aku mau es krim," rengek Zidan, sontak Arfan terkejut.


"Ayah?" Zahra juga ikut terkejut, melihat Zidan memanggil Arfan dengan sebutan Ayah .


"Bunda, Aku mau minta es krim sama Ayah Ayfan" sahut Zidan polos, Zidan sudah merasa terbiasa dengan kehadiran Arfan, sehingga anak itu menganggap Arfan adalah Ayahnya.


"maafkan Zidan ya Mas Arfan, " Zahra merasa tidak enak hati


"Tidak apa-apa kok, Aku malah senang jika Zidan memanggilku Ayah, karna Dia sudah ku anggap seperti anakku sendiri. " ucapan Arfan itu sontak membuat Zahra merasa semakin tidak menentu, buru buru ia mengalihkan pandangan pada yang lainnya.


Arfan kemudian keluar menggendong Zidan untuk beli es krim di toko klontong rumah tetangga sebelah, yang juga menjual es krim buatan lokal, karna dekat, jadi Arfan hanya berjalan, begitu Arfan berjalan dengan menggendong Zidan, banyak pasang mata yang menatap penuh kepo, apalagi emak-emak berdaster yang biasa duduk-duduk di emperan tetangganya untuk melakukan ritual petan atau mencari kutu di rambut.

__ADS_1


"Duh... Zidan di gendong siapa nih" sapa pemilik toko, setelah Arfan sampai di toko yang di tuju.


"Ini Ayah Zidan, Bik." Zidan menjawab polos.


"Loh...memang nya kapan Zahra yang nikah lagi, kok Aku gak dengar "Jiwa keponya langsung bangkit.


"Saya bukan suami Zahra, Zidah memanggilku Ayah hanya karna Dia ingin mmanggilku dengan panggghilan Ayah" Arfan menjawab ke kepoan Ibu pemilik toko itu.


"Jadi ,tuan sering ke Rumah Zahra meski tidak punya hubungan apapun ?" Tanya nya lagi.


"Zahra sedang sakit, Ada bu Fatma yang merawatnya, Aku ke Rumah Zahra hanya untuk Bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpanya yang membuat kakinya tidak bisa berjalan" setelah es krim sudah di tangan, Arfan segera pergi agar tidak ada pertanyaan lagi.


Sejak saat itu Arfan dan Zahra menjadi perbincangan hangat warga desa, dan timbulah fitnah bahwa Arfan ada main sama Zahra.


Sudah lebih dua minggu, tapi kaki Zahra belum ada kemajuan, bahkan saat kontrol ke Dokter pun belum ada kabar baik. Bu Fatma masih tetap berkerja merawat Zahra, dan dua hari sekali Arfan mengunjungi mereka, tanpa sepengatahuan Arini maupun Andi yang biasanya tahu segala aktivitas nya.


Lahan yang di cari Arfan sudah ketemu, Yaitu di kampung Zahra atas rekomendasi bi Fatma, dan ini merupakan durian runtuh bagi Bi Fatma, sudah dapat 2 juta perminggunya jyga ditambah hasil komisi dari menjadi makelar tanah ysng di beli Arfan.


Arfan sudah deal dengan pihak desa bahwa tanah itu akan di wakafkan atas nama Almarhum Hadiningrat pada warga dan akan di bangun sebuah Masjid dan nanti nya juga akan di bangun TPQ.


"Sekali lagi , kami semua para warga mengucapkan banyak terimakasih atas kebaikan tuan, di kampung ini memang tidak ada Masjid, jika mau ke Masjid, kita biasa ke Masjid desa sebelah, semoga amal ibadah Almarhum Pak Hadiningrat diterima dan berikan tempat yang tinggi disisinya" ucap kepala Desa Sumber Makmur itu kepada Arfan di hadapan para warga lainnya yang menjadi saksi.


"Sama-sama Pak, Saya hanya menjalankan amanat Opah saya, dan sesuai kesepakatan kita, Desai Arsitek nya dari pihak kami, sedang untuk kuli, kami minta dari warga yang nganggur disini " guman Arfan. Selain memberi tanah wakaf, Arfan juga menciptakan peluang untuk para warga sekitar.


"Tuan, boleh Aku bicara serius dengan Anda?" Ucap kepala desa dengan suara setengah berbisik.


"Iya, ada apa Pak ?"


"Para warga mempertanyakan hubungan Anda dengan Zahra, apa tidak sebaiknya, tuan meresmikan hubungan kalian agar tidak menjadi fitnah?" Pak Kades beranggapan Arfan dan Zahra mempunyai hubungan khusus, mendengar itu Arfan hanya bisa menelan Salivanya dan salah tingkah.


"Tapi, Saya dan Zahra tidak punya hubungan apapun"


"Tapi dalam pandangan warga desa beda Tuan, karna Tuan sering mengunjungi Zahra, apalagi tuan bukan apa-apa nya"

__ADS_1


Arfan merasa serba salah, Dia dan Zahra memang tidak mempunyai hubungan, Dia hanya menyayangi Zidan, dan hanya menganggap Zahra seperti adiknya sendiri.


__ADS_2